Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Malam di apartemen pribadi Jeff Feel-Lizzie tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik dinding yang kedap suara dan pencahayaan temaram yang dirancang untuk menenangkan saraf, detak jarum jam dinding terdengar seperti palu yang menghantam paku. Jeff duduk di kursi kebesarannya, sebuah kursi kulit hitam yang menghadap ke arah dinding utama kamarnya.
Tangannya menggenggam ponsel yang baru saja menampilkan layar gelap setelah Elowen memutuskan sambungan secara sepihak. Ekspresi hangat dan penuh kesabaran yang selalu ia tunjukkan di kampus kini luruh, berganti dengan raut wajah yang dingin, datar, dan tajam—seperti pisau bedah yang siap menguliti subjeknya.
Ia mendongak. Di depannya, dinding itu tidak dihiasi oleh lukisan abstrak atau piagam penghargaan. Dinding itu adalah kuil bagi satu nama: Elowen Valerio.
Ratusan foto tertempel di sana. Ada foto Elowen yang sedang tertawa canggung saat pertama kali mereka bertemu di orientasi kampus, foto Elowen yang sedang membaca buku di perpustakaan, hingga foto Elowen yang sedang memandang kosong ke arah jendela kelas. Jeff ingat setiap detailnya. Ia ingat hari di mana ia memutuskan bahwa gadis rapuh dengan mata penuh luka itu adalah "proyek" terbesarnya. Tidak, lebih tepatnya, miliknya yang paling berharga.
"Kau ingin memutuskan ku, Sayang?" bisik Jeff. Suaranya tidak terdengar sedih. Suaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya yang melakukan kesalahan sepele.
Ia berdiri, melangkah mendekat ke arah dinding itu, lalu jemarinya mengusap permukaan salah satu foto terbaru Elowen. "Setelah semua yang kulakukan untuk menjagamu tetap hidup? Setelah setahun penuh aku menjadi satu-satunya alasan kau tidak hancur?"
Selama ini, dunia mengenal Jeff Feel-Lizzie sebagai kekasih idaman. Mahasiswa Psikologi yang cerdas, sabar, dan penuh empati. Namun, tidak ada yang tahu bahwa pilihan jurusannya bukanlah untuk menyembuhkan orang lain, melainkan untuk mempelajari bagaimana cara mengendalikan mereka.
Bagi Jeff, cinta adalah kontrol. Dan Elowen Valerio adalah subjek yang sempurna karena kerapuhannya. Ia sengaja menciptakan ketergantungan. Ia membiarkan Elowen merasa bahwa hanya Jeff-lah pelabuhan tenangnya, hanya Jeff-lah yang bisa menerimanya apa adanya. Jeff tidak pernah keberatan dengan depresi Elowen; ia justru menikmatinya. Karena saat Elowen berada di titik terendah, gadis itu tidak akan punya kekuatan untuk pergi.
Prinsip Jeff sederhana: Jika tidak denganku, maka tidak dengan siapa pun.
Ia pernah bergumam pada dirinya sendiri saat melihat Elowen menangis di pelukannya, "Aku lebih baik menghadiri pemakamanmu setiap hari daripada harus menghadiri pernikahanmu dengan pria lain meskipun hanya sekali."
Baginya, kematian Elowen adalah akhir yang bisa ia terima, namun kehilangan kepemilikan atas Elowen adalah penghinaan yang tak termaafkan.
Namun malam ini, kesabaran Jeff mulai diuji. Elowen sudah berulang kali meminta putus dalam sebulan terakhir. Ada sesuatu yang berubah. Gadis itu mulai menunjukkan tanda-tanda "pemberontakan" yang tidak biasa. Frekuensi permintaan putusnya meningkat, dan ada gairah—entah itu kemarahan atau ketakutan—yang kembali muncul di mata Elowen. Sesuatu telah memicu percikan hidup dalam diri Elowen, dan Jeff merasa tidak senang karena bukan dia yang menyalakan api itu.
Jeff kembali duduk, kali ini ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Di dalamnya, ia mencatat setiap interaksi Elowen dengan orang lain. Dan satu nama belakangan ini sering muncul di bawah pengamatannya: Ezzra Velasquez.
Jeff bukanlah pria bodoh. Ia memang tidak tahu tentang malam di penthouse itu, ia tidak tahu tentang tanda di leher Elowen yang disembunyikan concealer, dan ia tidak tahu tentang pesan-pesan gila Ezzra. Tapi ia punya insting seorang predator.
Beberapa hari ini, di setiap perkumpulan mereka, Jeff menyadari sesuatu yang menggangu pikirannya. Ezzra, sahabatnya sendiri yang dikenal sebagai playboy tak berperasaan, selalu mencuri pandang pada Elowen. Tatapan Ezzra bukan tatapan biasa. Itu adalah tatapan lapar yang biasanya pria itu berikan pada wanita-wanita murahan yang mungkin ia tiduri hanya untuk satu malam.
Apa si berandal itu berpikir Elowen sama dengan koleksi wanitanya? batin Jeff, rahangnya mengeras.
Namun, alih-alih menjauhkan Elowen dari grup itu, sisi gelap Jeff justru merasa tertantang. Ada rasa haus akan validasi yang muncul di dadanya. Ia ingin menguji "proyek"-nya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa kontrolnya atas Elowen jauh lebih kuat daripada pesona murahan seorang Ezzra Velasquez.
"Kau pikir kau bisa mengambilnya dariku, Ez?" Jeff terkekeh, suara tawanya terdengar hampa dan dingin di ruangan itu. "Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa mencoba."
Jeff memutuskan untuk lebih sering mengajak teman-temannya berkumpul. Ia ingin menempatkan Elowen di tengah-tengah mereka, di bawah tatapan lapar Ezzra, hanya untuk melihat bagaimana Elowen akan tetap "setia" padanya karena rasa bersalah dan ketergantungan. Ia ingin melihat Ezzra gagal. Ia ingin melihat Ezzra frustrasi karena tidak bisa menyentuh milik Jeff Feel-Lizzie.
Jeff tidak menyadari bahwa ia sedang bermain api. Ia menganggap Elowen adalah miliknya yang pasif, sebuah objek yang bisa ia taruh di mana saja tanpa takut kehilangan warnanya. Ia tidak menyadari bahwa di balik punggungnya, Ezzra sudah bergerak jauh lebih dalam daripada yang bisa ia bayangkan.
"Kau tidak akan ke mana-mana, El," ucap Jeff sambil mematikan lampu kamarnya, membiarkan foto-foto Elowen di dinding perlahan menghilang ditelan kegelapan, menyisakan sepasang mata Jeff yang bersinar dalam sisa cahaya bulan.
"Jika kau mencoba lari lagi, aku akan memastikan kakimu tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari mansion itu tanpa seizinku."
Elowen Valerio benar-benar tidak sadar. Ia merasa tercekik oleh kebaikan Jeff dan terancam oleh kegilaan Ezzra. Ia merasa sedang berada di antara dua pilihan: pelabuhan yang tenang atau badai yang menghancurkan. Namun kenyataannya, kedua pria ini adalah dua sisi dari mata pisau yang sama.
Jika Ezzra adalah api yang ingin membakarnya secara terang-terangan, maka Jeff adalah gas karbon monoksida—tidak berbau, tidak terlihat, namun perlahan-lahan membunuhnya dalam tidur yang panjang. Elowen tidak sedang memilih antara keselamatan dan kehancuran. Ia sedang memilih jenis kematian mana yang ingin ia jalani.
Dan malam itu, saat Jeff akhirnya memejamkan mata, ia membayangkan rencana besar untuk akhir pekan nanti.
Sebuah rencana untuk "mengikat" Elowen lebih kuat lagi di depan mata semua orang, terutama di depan mata Ezzra Velasquez. Permainan obsesi ini baru saja dimulai, dan Jeff merasa ia masih memegang kendali penuh atas papan caturnya.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...