NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dendam yang terlambat 2 tahun

Badai besar datang bawa angin puting beliung.

Bersamaan dengan hentakan kaki Chindy yang masuk ke dalam rumah. _Dak. Dak. Dak._ Lantainya marmer, tapi berasa kayak mau retak.

Wajahnya mendung. Gaun _pink_ yang 2 jam lalu kelihatan manis, sekarang kelihatan gak lucu lagi. Kusut, lecek, kena angin malam. _Heels_-nya dia tenteng di tangan, kaki telanjang.

Langkahnya terhenti di tengah rumah. Di ruang tengah, Eric lagi scroll HP, Cika lagi umpetin surat Andre, Vivian lagi pura-pura ngemil anggur.

Tatapan tajam Chindy langsung terlempar. Menancap tepat di dada Vivian. Dingin. Tajam. Kayak _cutter_ yang biasa dia pake motong bahan.

Tak bilang apa-apa. Tak sapa Eric. Tak lirik Cika. Chindy langsung naik ke lantai 2 dengan raut wajah yang makin kesal. Punggungnya tegak, tapi seluruh badannya nahan gempa.

Vivian tersentak. Nelen anggur aja hampir keselek. Ini adegan bahaya. Tanda bahaya level tsunami.

"Jangan pernah kasih surat itu ke Chindy. Bahaya," ucap Vivian pelan ke Cika, sambil bangkit dari duduknya. Surat Andre langsung dia sita, selipin ke pinggang _cardigan_.

Berjalan sedikit cepat ke arah tangga, hendak menyusul Chindy. Eric ngangkat alis, tapi gak nanya.

Di kamar, Chindy langsung banting tasnya ke ranjang. _Bugh_. Tas _Hermès_ yang harganya 2 digit, dibanting kayak karung beras. Sepatu _heels_-nya ia lepas di jalan tadi, di koridor lantai 2. Tak seperti biasanya si harus rapi dan presisi. Sekarang berantakan.

Dengan satu gerakan kasar, Chindy gulung rambut panjangnya. Ditusuk pakai pensil 2B biar tak lepas. _Jleb_. Rambutnya dia hukum karena _date_ gagal total.

Matanya langsung tertuju pada meja kerja. Di atasnya ada desain pakaian di kertas A3, sketsa gaun _wedding_ yang belum kelar. Selain punya butik, Chindy juga perancang busana terkenal. Jenius. Galak. Perfeksionis.

Biarpun kasar, tangannya menggambar pola dengan cepat. _Sret. Sret. Sret_. Garisnya tegas, marah, patah-patah. Mengalihkan perhatian dari Andre. Dari Andre yang peduli Vivian. Dari Andre yang cuma nanya, "Siapa nama wanita bergaun biru muda yang berdansa dengan Pak Eric?"

Tiba-tiba ketukan lembut mendarat di pintu, bebarengan dengan pintu yang perlahan dibuka. _Klek_.

"Chindy, kenapa pulang makan malam wajahmu murung?" Tanya Vivian. Masuk, bersikap seolah tak tahu apa-apa. Padahal udah baca surat. Padahal udah tau penyebabnya dari raut Cika.

Vivian duduk di tepi ranjang. Kasur Chindy keras, gak kayak kamarnya yang _king size_. Matanya natap Chindy yang fokus ke gambar, punggungin dia. "Di antara semuanya, kamu yang paling tak suka aku. Kenapa?" Tanyanya lagi. Lembut. Netral. Gak ngegas.

Chindy mencoret gambarnya brutal. _JREET_. Ujung pensil patah. Kertas sobek. "Karena kamu ambil semua punyaku," sahutnya sambil menghentikan pensil di kertas. Napasnya terengah, menahan amarah yang selama 2 tahun ini ia tahan. 730 hari. Dada naik turun.

"Apa salahku?" Tanya Vivian bingung. Di novel, Chindy cuma ditulis "kaka ipar galak dan benci Vivian". Gak ada sebab. Gak ada _backstory_.

"Kamu tanya apa salahmu?" Chindy membalikkan badan. Menatap wajah Vivian dengan nanar. Mata Chindy merah. Bukan nangis. Marah yang udah mendidih. "Sebelum ada kamu, hidupku sangat bahagia. Aku anak pertama perempuan Wijaya. Kesayangan Papa. Nilai bagus, dipuji. Butik baru buka, dipuji. Tapi kamu datang. Perhatian Ayah terbagi. Kasih sayang Ibu lebih ke kamu, dengan alasan karena kamu gak punya keluarga. Aku yang dari kecil juara satu, tiba-tiba jadi pembanding. 'Lihat Vivian, pinter. Lihat Vivian, anggun. Lihat Vivian, pantes jadi menantu'."

Tak jauh berbeda dari Cika. Chindy juga merasakan hal yang sama. Menganggap Vivian adalah orang yang merebut kasih sayang orang tuanya. Bedanya, Cika nangis di pojokan. Chindy membangun tembok.

Chindy narik napas. Panjang. Terus ngeluarin peluru kedua. Yang lebih mematikan.

"Satu hal lagi. Doni itu pacarku."

_DJUAR_.

Petir terasa nyambar kepala Vivian. Jantungnya berhenti sedetik.

_Apa?_

Ini gak ada di novel. Di novel gak ada yang jelasin kalau Doni pacaran sama Chindy sebelum Vivian. Di novel, Doni cuma muncul sebagai _brondong_ kaya raya yang dipake Vivian lama buat pamer ke Eric. _Background_ Doni kosong. Status _single_.

Alasan kebencian Chindy lebih beralasan sekarang. Dia bukan cuman marah karena perhatian yang terbagi. Tapi cintanya direbut. Pacarnya diserobot. Oleh kakak iparnya sendiri.

Pantas saja. Pantas sama ini Vivian tak pernah dipandang baik oleh Chindy. Dendamnya kesumat. 2 tahun bukan waktu singkat.

Chindy memalingkan wajahnya, membelakangi Vivian lagi. Nadanya bicara datar, tapi hancur. Kayak gelas kristal jatuh ke lantai. "Setelah 2 tahun, aku akhirnya bertemu laki-laki yang buat aku tertarik. Andre. Dia beda. Sopan. Gak neko-neko. Gak liat aku karena Wijaya. Tapi sayang... dia bukan suka aku. Yang dia suka itu kamu. *Kakak iparku sendiri*. Sama seperti 2 tahun lalu. Kamu rebut Doni dari aku. Sekarang kamu rebut Andre juga. Hebat."

Vivian diem. Otaknya nge-_loading_ ulang semua _chapter_. _Doni mantan Chindy. Andre naksir aku. Chindy benci aku karena 2 cowok. Dan aku... gak tau apa-apa._

"Aku sama sekali tak tahu Doni itu pacarmu," ucap Vivian. Jujur. Memberi penjelasan. Suaranya pelan, tapi tegas. "Sumpah demi anakku. Doni gak pernah cerita. Dia bilang dia _single_. Dan tentang Andre... aku bahkan tak tahu dia suka aku. Aku baru tau dari suratnya 10 menit lalu. Aku kira dia suka kamu, Chindy. Sumpah."

"Cih, bohong," potong Chindy. Ketawa. Pahit banget. "Kamu memang lebih cantik dari aku. Semua orang tahu itu. Lulusan Swiss dengan nilai di atas rata-rata. Pinter. Tajir. Kamu bangga kan bisa dapat semua pria? Pertama Doni. Sekarang Andre. Besok siapa? Papaku?"

Vivian natap punggung Chindy. Punggung yang tegang. Bahu yang naik. Cewek ini luka. Dalam. Dua tahun.

Vivian berdiri. Jalan pelan ke meja Chindy.

"Kalau aku terlihat sebagus itu di matamu," sahut Vivian. Nadanya berubah. Gak lembut lagi. Gak minta maaf lagi. Bisnis. "Kenapa tidak minta ajari? Aku bisa buat semua laki-laki di dunia tunduk padamu. Mau Andre? Gampang. Aku kasih _step-by-step_."

Negosiasi dengan CEO. _To the point_ tanpa menye-menye. Chindy gak butuh dipeluk. Chindy gak butuh "sabar ya". Chindy butuh _deal_.

Chindy nengok. Kaget. "Maksudmu?"

"Chindy," ucap Vivian. Mutlak. Tegas. Matanya natap Chindy lurus. "Cinta itu diperjuangkan, bukan ditahan. Bukan juga kemarahannya kamu lampiaskan ke orang lain. Ke aku. Ke Cika. Ke karyawan butikmu. Kamu diem 2 tahun, nunggu Doni balik? Nunggu Andre nembak kamu duluan? Dunia gak kerja gitu. Kamu CEO. Kamu harusnya paham soal _take action_."

Cara menghadapi Chindy jauh berbeda dengan yang dibutuhkan Cika. Cika butuh dipeluk, ditenangin, dikasih permen. Chindy lebih tegas. Dia harus diajari dengan logika, bukan kasih sayang. Kasih sayang cuma dia anggap hinaan.

"Andre suka 'Vivian gaun biru' yang dia liat 5 menit," lanjut Vivian. "Dia gak kenal aku. Kalau dia kenal kamu... Chindy Wijaya yang jenius, yang galak tapi setia, yang lembur demi karyawan, yang diam-diam transfer beasiswa buat anak OB... dia bakal milih kamu. Tapi dia belum liat itu. Karena kamu sembunyi di balik tembok. Kamu buka temboknya, atau aku yang ledakin."

Chindy diem. Pensil patah di tangannya jatoh. _Tuk_. Matanya berkedip. Cepat.

Tanpa bicara lagi, Vivian balik badan. Jalan ke pintu. Dia tahu Chindy orang pintar. Tak mungkin gegabah mengambil keputusan. Gak perlu dipaksa nangis atau minta maaf. Kasih _data_, kasih _insight_, kasih _challenge_. Biar dia mikir sendiri.

Pintu ditutup pelan. _Klik_.

Di luar, Vivian sandaran ke dinding koridor. Baru napas. Panjang. Jantungnya masih _dug-dug-an_.

Tersungging senyum tipis di bibirnya. Biarpun dunia novel ini makin ngaco, makin melenceng dari _script_ asli, tapi dia pegang kendali.

Cika selesai. Udah gak benci dia, udah jadi tim _gosip_.

Chindy sedang dalam proses. Kasih waktu 1x24 jam, pasti _reboot_.

Akhirnya dia bisa pecahkan misteri Chindy yang tak menikah sampai tua di novel asli.

Bukan karena sibuk cari jodoh. Bukan karena gak laku.

Tapi malah sibuk ajak ribut Vivian. Sibuk pelihara dendam sama kakak iparnya sendiri. Sibuk jadi _bodyguard_ kebencian sampai lupa hidup, lupa cinta, lupa kalau dia juga berhak bahagia.

"Satu-satu," gumam Vivian sambil turun tangga. "Tinggal Eric yang paling susah."

Di kamar, Chindy masih diem. Natap kertas sobek di depannya.

Untuk pertama kalinya setelah 2 tahun, nama "Vivian" di kepalanya gak cuma identik sama kata "pencuri".

Tapi... "lawan yang pantes".

gimananih kira-kira, bikin Chindy tunduk atau jangan?, komen ya...

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!