Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Lampu meja di studio pribadi Aeryn masih menyala meski jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Di atas layar monitor berukuran besar, sebuah sketsa digital tiga dimensi berpendar dengan detail yang luar biasa. Perhiasan itu diberi nama "The Eternal Heart". Itu bukan sekadar perhiasan; itu adalah rekaman rasa sakit, harapan, dan cinta terlarang Maryam yang diterjemahkan Aeryn ke dalam garis-garis emas putih dan jalinan rubi merah darah.
Aeryn mengusap matanya yang perih. Di samping laptopnya, buku harian tua milik ibunya terbuka pada sebuah sketsa kasar yang belum sempat diselesaikan Maryam sebelum maut menjemput.
"Sedikit lagi, Ibu," bisik Aeryn parau. "Dunia akan tahu bahwa kau bukan pencuri. Kau adalah sang pencipta."
Tiba-tiba, pintu studio terbuka tanpa ketukan. Aeryn tersentak dan refleks menutup buku harian itu dengan beberapa lembar kertas sketsa lain.
Xavier berdiri di ambang pintu. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya, namun dasinya sudah dilepas dan lengan kemejanya digulung kasar. Matanya menyipit, menatap tumpukan kertas di meja Aeryn, lalu beralih ke wajah istrinya yang pucat.
"Kau belum tidur," ucap Xavier. Suaranya datar, namun ada nada interogasi di dalamnya.
"Aku harus menyelesaikan ini untuk kompetisi Asia bulan depan. Kau tahu betapa pentingnya ini bagi Valerine’s Secret," jawab Aeryn, mencoba menstabilkan napasnya.
Xavier melangkah masuk, setiap langkahnya terasa berat di lantai kayu. Ia berhenti tepat di depan meja kerja Aeryn, tangannya bertumpu pada sandaran kursi. "Kau sering keluar malam belakangan ini. Tanpa pengawalan Hugo. Tanpa sopir mansion. Ke mana kau pergi?"
Aeryn membeku. Ia tidak menyangka Xavier memantau gerak-geriknya sedetail itu. "Aku hanya mencari inspirasi. Menemui beberapa pemasok batu permata independen yang tidak ingin diketahui publik."
"Jangan berbohong padaku, Aeryn," desis Xavier. Ia mencondongkan tubuh, membuat jarak di antara mereka menghilang. "Aku tidak suka bau hotel tua di pakaianmu saat kau pulang kemarin siang. Dan aku tidak suka kau menyimpan rahasia di rumahku."
"Rumahmu?" Aeryn tertawa getir, meski jantungnya berdebar kencang karena takut. "Tentu saja. Ini selalu tentang rumahmu, asetmu, dan kendalimu. Aku tidak bertanya ke mana kau pergi saat kau menghilang ke Singapura, Xavier. Jadi jangan tanya urusan pribadiku."
Xavier menatap Aeryn dengan tajam, seolah sedang membedah isi kepala wanita itu. Tangannya bergerak, hampir menyentuh tumpukan kertas yang menyembunyikan buku harian Maryam, namun ia menghentikan gerakannya.
"Jika rahasiamu membahayakan posisi Arkananta, aku tidak akan segan-segan menghentikan semua ini," ucap Xavier dingin. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. "Tidurlah. Kau terlihat seperti mayat hidup."
Setelah Xavier pergi, Aeryn menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia merasa terjepit. Di satu sisi, ia harus mengungkap kebenaran tentang ayahnya, di sisi lain, ia harus menjaga rahasia itu dari Xavier yang motifnya masih menjadi misteri. Tanpa sadar, karena kelelahan yang luar biasa, mata Aeryn perlahan terpejam. Kepalanya terkulai di atas lengannya di samping keyboard laptop yang masih menyala.
Di koridor luar, sebuah bayangan bergerak dalam kesunyian. Maya berdiri mematung di balik pilar, memegang ponselnya yang terus bergetar. Sebuah pesan dari Kaelan masuk: “Sekarang atau tidak sama sekali. Uang sudah ada di bagasi mobilmu. Kirim file itu atau ibumu tidak akan bangun besok pagi.”
Maya menggigit bibirnya hingga berdarah. Air mata membasahi pipinya. Ia melihat melalui celah pintu studio yang sedikit terbuka. Aeryn sudah tertidur pulas.
Dengan langkah yang nyaris tak terdengar, Maya menyelinap masuk. Jantungnya terasa seperti ingin melompat keluar dari dadanya. Ia mendekati meja kerja, matanya terpaku pada layar yang menampilkan "The Eternal Heart". Desain itu begitu indah, begitu murni, hingga Maya merasa seperti sedang menusuk jantungnya sendiri.
"Maafkan aku, Nyonya... Maafkan aku," bisik Maya dengan suara yang pecah.
Ia mengeluarkan flashdisk hitam dari saku seragamnya dan mencolokannya ke port USB. Jarinya gemetar hebat saat mengarahkan kursor untuk menyalin file utama desain tersebut. Indikator progres di layar bergerak lambat, seolah-olah waktu sedang mencoba menahan pengkhianatan ini.
90%... 95%... 100%.
Setelah selesai, Maya tidak berhenti di sana. Instruksi Kaelan jelas: Hancurkan aslinya.
Dengan satu tarikan napas panjang, Maya menekan tombol Delete pada file utama di server lokal dan mengosongkan Recycle Bin. Ia tahu Aeryn tidak sempat melakukan backup ke server Arkananta karena ketakutannya pada Xavier belakangan ini.
Maya mencabut flashdisk itu, menatap Aeryn yang masih terlelap untuk terakhir kalinya, lalu menghilang ke dalam kegelapan lorong.
Sinar matahari pagi menembus jendela studio, menyilaukan mata Aeryn. Ia terbangun dengan leher yang kaku dan rasa pening yang menusuk. Ia mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya.
Ia melihat ke arah monitor. Layarnya kosong. Hanya menampilkan wallpaper standar. Aeryn mengernyit. Ia merasa semalam ia tidak mematikan aplikasinya. Ia mencoba membuka folder proyek "The Eternal Heart".
Kosong.
Aeryn mulai panik. Ia memeriksa folder backup, folder sementara, bahkan folder sampah. Semuanya bersih. Seolah-olah desain yang ia kerjakan selama berbulan-bulan itu tidak pernah ada.
"Tidak mungkin... Maya! Maya!" teriak Aeryn.
Tidak ada jawaban. Pintu studionya sedikit terbuka. Di lantai, dekat kaki meja, ia menemukan sebuah benda kecil yang tertinggal: tutup flashdisk berwarna hitam yang bukan miliknya.
Seketika, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Itu adalah berita utama dari Business Daily Update.
"KEJUTAN INDUSTRI: Dirgantara Group Daftarkan Hak Cipta 'The Heart of Eternity'. Kaelan Dirgantara Klaim Desain Ini Sebagai Mahakarya Orisinal Terakhir Keluarga Valerine."
Aeryn membuka berita itu dengan tangan yang gemetar hebat. Di sana, terpampang gambar desain yang identik dengan miliknya. Setiap lekukan, setiap jalinan rubi, bahkan detail terkecil yang ia ambil dari buku harian ibunya. Kaelan bukan hanya mencuri desainnya; ia mencuri warisan ibunya dan mengklaimnya sebagai milik keluarga yang telah menghancurkan ibunya.
"Nyonya? Ada apa?"
Hugo muncul di pintu dengan wajah cemas, diikuti oleh beberapa staf keamanan.
Aeryn menjatuhkan ponselnya ke lantai. Wajahnya pucat pasi, namun matanya yang tadi penuh ketakutan perlahan berubah menjadi sesuatu yang sangat dingin. Ia melihat ke arah laptopnya, lalu ke arah tutup flashdisk di lantai.
Aeryn berdiri perlahan, memegangi pinggiran meja agar tidak jatuh. Ia menarik napas dalam, mencoba meredam amarah yang membara di dadanya.
"Hugo," suara Aeryn terdengar sangat tenang, ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan. "Kumpulkan semua tim legal. Dan panggil Maya ke sini. Sekarang."
"Nyonya... Maya tidak masuk hari ini. Dia mengirim pesan pengunduran diri satu jam yang lalu," jawab Hugo pelan.
Aeryn terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil—sebuah tawa yang kering dan mengerikan. Ia berjalan menuju jendela besar, menatap gedung Dirgantara Group yang terlihat di kejauhan.
"Dia pikir dia sudah menang," bisik Aeryn. "Kaelan pikir dia sudah memegang jantungku."
Tiba-tiba, pintu studio terbanting terbuka lagi. Xavier masuk dengan wajah yang gelap, memegang tablet yang menampilkan berita plagiarisme tersebut.
"Jelaskan padaku, Aeryn! Bagaimana bisa desain rahasia Arkananta ada di tangan Kaelan dalam waktu semalam?!" bentak Xavier.
Aeryn tidak menoleh. Ia hanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Jangan khawatir, Xavier. Perisaimu tidak akan retak. Karena apa yang dicuri Kaelan semalam... bukan hanya sebuah desain. Itu adalah tali gantungan yang aku siapkan sendiri untuk lehernya."
Xavier tertegun, amarahnya tertahan oleh sorot mata Aeryn yang kini terlihat persis seperti matanya sendiri: dingin, licik, dan penuh dengan rencana pembalasan yang mematikan.