NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meyakinkan Gao Rui

Gao Rui langsung menoleh cepat. Matanya sedikit membesar, jelas tak menyangka ajakan itu keluar begitu saja.

“Aku?”

Nada suaranya penuh keterkejutan. Bocah itu bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. Ia menatap Lan Suya beberapa saat lalu mengerutkan kening tipis.

“Bibi Ya… kau sedang bercanda?”

Lan Suya tertawa kecil. Tawa lembutnya pecah bersama desir angin.

“Menurutmu aku terlihat seperti sedang bercanda?”

Gao Rui menatap wajah wanita itu lebih saksama. Namun ekspresi Lan Suya tenang bahkan terlalu tenang. Tak ada sedikit pun tanda main-main.

Wanita itu lalu menyandarkan tubuhnya santai di tiang teras. Sorot matanya menatap jauh ke arah pegunungan.

“Aku memang harus pergi ke ibu kota besok,” katanya pelan. “Kelompok Dagang Harta Langit sudah berkembang terlalu besar. Kantor utama kita di sana sekarang sudah terlalu sempit.”

Ia tersenyum tipis.

“Aku berniat membeli tempat yang baru. Tempat yang lebih besar… lebih luas… lebih layak untuk menjadi pusat perdagangan kita.”

Gao Rui mendengar itu namun wajahnya tetap datar. Ia menatap kotak bekal di pangkuannya lalu menggeleng pelan.

“Kalau soal bisnis… aku tidak mengerti apa-apa.”

Nada suaranya jujur. Tidak ada minat sedikit pun.

“Urusan jual beli… kantor dagang… itu bukan hal yang kupikirkan.”

Lan Suya meliriknya. Sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Jadi… kau menolak?”

Gao Rui mengangguk ringan.

“Aku rasa… aku tidak perlu ikut.”

Lan Suya tak tampak kecewa. Justru senyumnya semakin samar seperti seseorang yang sudah menduga jawaban itu sejak awal.

Ia lalu mencondongkan tubuh sedikit. Nada suaranya berubah lebih santai namun mengandung umpan yang tajam.

“Kalau begitu… bagaimana kalau perjalanan ini bukan cuma soal kelompok dagang?”

Gao Rui mengangkat alis tipis.

Lan Suya menatapnya lurus.

“Dalam perjalanan ke ibu kota… aku juga akan mampir ke beberapa tempat yang pernah disebut gurumu.”

Tubuh Gao Rui langsung sedikit menegang.

Lan Suya menangkap perubahan kecil itu dan dalam hati tersenyum.

“Gurumu, Boqin Changing, pernah memberitahuku… ada beberapa wilayah tersembunyi yang menyimpan sumber daya luar biasa. Tempat-tempat yang jarang diketahui orang.”

Angin sore kembali berembus. Namun kali ini hati Gao Rui justru terasa sedikit bergetar. Nama gurunya selalu punya bobot tersendiri di hatinya.

Lan Suya melanjutkan dengan tenang,

“Aku memang berniat memeriksa tempat-tempat itu. Siapa tahu… informasi gurumu benar.”

Ia lalu menoleh penuh arti.

“Bagaimana, Rui’er?”

Tatapannya lembut namun menusuk tepat ke rasa ingin tahu Gao Rui.

“Apa kau tidak ingin melihat sendiri… apakah yang dikatakan gurumu itu nyata?”

Gao Rui terdiam. Tangannya yang memegang tutup kotak bekal perlahan mengencang. Dalam benaknya bayangan Boqin Changing muncul begitu jelas. Sosok guru yang misterius, tenang, namun tak pernah bicara tanpa alasan.

Kalau gurunya sampai menyebut tempat-tempat itu pasti ada sesuatu yang penting di sana. Namun ia masih diam. Masih menimbang.

Lan Suya memperhatikannya beberapa saat. Lalu ia tiba-tiba menghela napas kecil pura-pura kecewa.

“Hmm… jadi begitu.”

Gao Rui menoleh.

Lan Suya menatap langit lalu berkata dengan nada seolah biasa saja,

“Kurasa… kau memang tidak terlalu yakin pada ucapan gurumu.”

Alis Gao Rui langsung berkerut. Lan Suya pura-pura tak melihat reaksinya.

“Mungkin… kau takut kalau ternyata tempat-tempat itu kosong. Tak ada apa-apa di sana. Dan semua yang dikatakan gurumu… hanya salah perkiraan.”

Kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau tenang. Riak besar langsung muncul di hati Gao Rui. Bocah itu menoleh tajam. Sorot matanya yang tenang kini memancarkan keyakinan keras.

“Guru tidak mungkin salah.”

Nada suaranya tegas. Tanpa ragu.

Lan Suya menoleh perlahan. Wajahnya masih tampak tenang namun dalam hati ia nyaris tertawa puas.

“Oh?”

Gao Rui menatap lurus ke depan.

“Guru tidak pernah bicara sembarangan. Kalau ia bilang tempat itu punya sesuatu… maka pasti ada.”

Lan Suya tersenyum kecil. Senyum yang kali ini sulit disembunyikan.

“Nah… itu baru murid Boqin Changing.”

Ia lalu berdiri perlahan dari tempat duduknya. Jubahnya berkibar lembut diterpa angin.

“Kalau kau seyakin itu…”

Lan Suya mengulurkan tangan ke arah Gao Rui. Matanya berbinar penuh kelicikan yang manis.

“Ayo ikut denganku.”

Suaranya terdengar ringan namun penuh tantangan.

“Kita buktikan bersama… apakah ucapan gurumu benar.”

Gao Rui terdiam sesaat. Sorot matanya berubah pelan. Dari ragu menjadi mantap. Rasa penasaran yang sejak tadi menyesak di dadanya kini tak bisa lagi ia abaikan. Akhirnya ia mengangguk.

“Baik.”

Satu kata itu keluar mantap.

“Aku ikut.”

Lan Suya tersenyum lebar. Wajahnya tampak puas bahkan sedikit bangga.

“Bagus.”

Gao Rui menatapnya.

“Besok pagi?”

Lan Suya mengangguk.

“Besok pagi.”

Gao Rui menarik napas pelan. Ada rasa aneh yang muncul di dadanya. Sedikit gugup, sedikit antusias dan lebih banyak rasa penasaran.

Sementara itu Lan Suya menatap bocah di hadapannya lalu menahan tawa kecil dalam hati.

“Meyakinkan Rui’er ternyata jauh lebih mudah daripada meyakinkan kakak ipar itu…”

Namun tentu sajanpikiran itu hanya ia simpan sendiri. Wanita itu lalu tersenyum lembut. Menatap langit kembali.

Besok perjalanan mereka akan dimulai. Tanpa disadari siapa pun roda takdir Gao Rui telah mulai bergerak semakin jauh.

...******...

Keesokan harinya langit pagi di Sekte Bukit Bintang tampak begitu jernih. Embun masih menempel di pucuk-pucuk rumput. Kabut tipis menggantung di lereng gunung membuat seluruh sekte terlihat tenang dan damai seperti biasanya. Namun pagi itu, hati Gao Rui tidak setenang biasanya.

Sejak fajar menyingsing, ia sudah bangun dan bersiap. Jubah latihannya telah ia ganti dengan pakaian perjalanan sederhana berwarna gelap.

Hari ini ia akan meninggalkan sekte. Ia akan pergi jauh. Bukan hanya turun gunung untuk beberapa hari melainkan menempuh perjalanan panjang ke ibu kota bersama Lan Suya.

Kemarin, rasa penasaran akan petunjuk gurunya membuatnya mengangguk tanpa pikir panjang. Namun pagi ini setelah semua benar-benar terasa nyata barulah satu hal penting terlintas di benaknya. Ia bahkan belum meminta izin.

Gao Rui berdiri diam di tengah kamar. Alisnya sedikit berkerut.

“Aku belum bicara pada tetua sekte…”

Ia menghela napas pelan. Kalau pergi diam-diam jelas itu tidak pantas. Apalagi Tetua Agung Xu Qung selama ini begitu banyak membimbingnya. Namun semuanya sudah terlanjur disepakati.

Gao Rui menatap keluar jendela. Matahari pagi mulai menembus sela pepohonan. Waktu pertemuan dengan Lan Suya sebentar lagi tiba.

Setelah berpikir sejenak ia akhirnya mengambil keputusan.

“Nanti saat bertemu Bibi Ya… aku akan memintanya bicara lebih dulu dengan Tetua Agung.”

Bagaimanapun Lan Suya lebih dekat dengan Xu Qung. Jika wanita itu yang bicara tentu semuanya akan lebih mudah.

Setelah merasa sedikit tenang Gao Rui melangkah keluar rumah perlahan.

Pagi di halaman rumahnya terasa begitu sunyi. Angin gunung berembus lembut mengibaskan ujung rambutnya. Gao Rui berdiri sejenak di depan pintu. Tatapannya menyapu rumah kecil yang selama ini menjadi tempat ia tinggal, tempat ia berlatih, tempat ia mengenang gurunya.

Untuk sesaat ada rasa asing yang menyelinap di dadanya. Bukan takut. Hanya perasaan seperti seseorang yang tahu bahwa setelah melangkah pergi hari ini, hidupnya tak akan pernah benar-benar sama lagi.

Gao Rui menatap rumah itu untuk terakhir kalinya pagi itu. Lalu perlahan ia berbalik. Tanpa ragu lagi, langkahnya bergerak menuruni jalan batu menuju tempat yang telah disepakati dengan Lan Suya.

Tempat itu masih berada di wilayah Sekte Bukit Bintang, sebuah dataran lapang di dekat tebing timur. Tempat itu cukup sepi jauh dari keramaian murid-murid yang biasanya mulai berlatih pagi hari.

Sepanjang perjalanan Gao Rui memikirkan apa yang akan ia katakan nanti. Dalam benaknya ia bahkan sudah membayangkan ekspresi Tetua Agung Xu Qung jika mendengar dirinya hendak pergi jauh.

“Semoga Bibi Ya bisa membantuku menjelaskan…”

Tak lama kemudian ia pun tiba di dataran lapang itu. Namun begitu langkahnya berhenti di tepi lapangan, tubuh Gao Rui langsung membeku. Matanya sedikit membesar.

Di sana Lan Suya memang sudah berdiri menunggunya. Wanita itu tampak santai seperti biasa. Mengenakan jubah perjalanan berwarna biru muda, rambutnya terikat rapi, wajahnya tenang dengan senyum samar.

Namun bukan itu yang membuat Gao Rui terkejut. Di samping Lan Suya berdiri seseorang yang sangat ia kenal. Jubah tetua berwarna abu tua berkibar pelan tertiup angin pagi. Tangan pria tua itu bersedekap di depan dada. Wajahnya tampak tenang tapi sorot matanya jelas sedang menatap Gao Rui dengan penuh arti. Tetua Agung Xu Qung.

Jantung Gao Rui seolah berhenti sesaat. Ia bahkan sempat refleks memeriksa langkahnya sendiri seolah takut datang ke tempat yang salah. Namun tidak. Ini memang tempat perjanjian mereka.

Lan Suya melihat ekspresi kaget di wajah bocah itu lalu tak bisa menahan tawa kecil.

“Rui’er…” katanya santai. “Kau datang tepat waktu.”

Gao Rui masih berdiri kaku. Tatapannya berpindah dari Lan Suya ke Xu Qung lalu kembali lagi. Untuk pertama kalinya pagi itu bocah yang biasanya tenang itu tampak benar-benar bingung.

“Tetua Agung kau di sini…?”

Nada suaranya pelan penuh keterkejutan.

Xu Qung mendengus ringan. Sudut bibirnya sedikit terangkat entah geli atau kesal.

“Kenapa?” katanya datar. “Melihatku di sini… kau seperti melihat hantu.”

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
Hadi Wahyono
hadiah 1 mawar dan vote
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
Andi Heryadi
sepertinya Gao Rui akan memberi ginseng seribu tahu buat tuan Shou,agar tuan Shou bisa perkasa dlm mantap2🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!