"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kebenaran
Jakarta pagi ini tidak menawarkan keramahan. Langitnya berwarna abu-abu pekat, menyerupai timah cair yang siap tumpah membasahi bumi. Hujan rintik-rintik mulai turun, menciptakan irama monoton di kaca jendela mobil yang membawaku menembus kemacetan Gatot Subroto. Di sampingku, Bastian duduk dengan punggung tegak, namun tangannya yang bertumpu di lutut sesekali mengetuk pelan—sebuah tanda kecemasan yang hanya bisa tertangkap oleh mata yang sudah terbiasa memperhatikannya.
Aku memeluk tas laptopku erat-erat. Di dalamnya tersimpan sebuah "bom" yang siap meledakkan narasi yang telah dibangun Elena dan Kaivan dengan begitu rapi. Data asli tahun 2022. Catatan yang membuktikan bahwa setiap angka yang mereka gunakan untuk menyudutkan Bastian adalah hasil rekayasa yang dilakukan Kaivan saat ia masih menjabat sebagai analis logistik.
"Kamu siap?" suara Bastian memecah keheningan kabin mobil yang kedap suara.
Aku menoleh, menatap mata hitamnya yang kini terlihat lelah namun penuh determinasi. "Aku sudah menunggu momen ini selama tujuh tahun, Bastian. Bukan hanya untuk membelamu, tapi untuk membersihkan namaku sendiri dari bayang-bayang pekerjaan kotor Kaivan."
Bastian meraih tanganku, menggenggamnya dengan kekuatan yang seolah ingin memindahkan seluruh keberaniannya padaku. "Hari ini, kita tidak hanya mencari keadilan. Kita akan menjemput kebenaran."
Kantor Direktorat Reserse Kriminal Khusus itu terasa begitu dingin. Aroma disinfektan bercampur dengan bau kertas lama dan kopi instan yang menyengat. Kami diarahkan menuju sebuah ruang pertemuan yang lebih luas, tempat para penyidik dan tim legal dari kedua belah pihak sudah berkumpul.
Begitu pintu terbuka, aku langsung merasakan tatapan tajam yang seolah ingin menguliti kulitku. Di sana, duduk pengacara senior Elena—seorang pria berambut perak dengan setelan jas yang harganya mungkin setara dengan gaji analis juniorku selama setahun. Dan di sudut ruangan, melalui sambungan video dari ruang tahanan sementara, wajah Kaivan muncul di layar besar.
Wajah itu. Wajah yang dulu pernah menjadi alasan bagiku untuk bangun setiap pagi. Kini, wajah itu tampak kusam, dengan kantung mata yang menghitam dan sorot mata yang penuh dengan keputusasaan yang berubah menjadi kebencian.
"Silakan duduk, Bapak Bastian, Nona Arelia," ucap salah satu penyidik senior. "Kami telah menerima bukti tambahan yang diajukan oleh pihak saudara Kaivan melalui tim legal Nona Elena. Bukti ini menunjukkan adanya aliran dana tidak wajar dan manipulasi laporan keuangan di Adhitama Group pada periode 2022."
Pengacara Elena berdehem, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Klien kami hanya ingin memastikan bahwa integritas pasar tetap terjaga. Dokumen yang diserahkan saudara Kaivan sangat jelas. Ada tanda tangan digital Nona Arelia di sana sebagai analis pemeriksa. Ini menunjukkan bahwa pimpinan Adhitama Group mengetahui dan menyetujui praktik ini."
Aku merasakan darahku berdesir. Mereka mencoba menjadikanku "peluru" untuk menembak Bastian.
"Boleh saya melihat dokumen tersebut?" suaraku terdengar stabil, mengejutkan beberapa orang di ruangan itu.
Penyidik menyerahkan tablet yang menampilkan dokumen tersebut. Aku memperhatikannya dengan saksama. Barisan angka, kode proyek, dan tanda tangan digital di pojok kanan bawah. Secara visual, ini terlihat sempurna. Kaivan memang muridku yang paling pintar; dia tahu persis bagaimana cara membuat kebohongan terlihat seperti fakta.
"Ini adalah laporan logistik sektor B tahun 2022," kataku sambil menatap layar video ke arah Kaivan. "Kaivan, kamu ingat saat kita mengerjakan ini? Kamu bilang ada 'bug' di sistem dan memintaku untuk melakukan tanda tangan manual melalui override admin?"
Di layar, Kaivan hanya terdiam, namun rahangnya mengeras.
"Penyidik yang terhormat," aku berdiri, membuka laptopku dan menghubungkannya ke proyektor ruangan. "Dokumen yang diajukan pihak Elena adalah dokumen yang telah melalui proses re-encoding. Di permukaan, angkanya terlihat merugikan perusahaan. Namun, jika kita melihat ke dalam metadata dan audit trail yang asli—sesuatu yang saya simpan di server cadangan pribadi saya karena kecurigaan saya saat itu—kebenarannya akan sangat berbeda."
Aku mulai memasukkan barisan kode ke layar. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya terdengar suara ketikan jari-jariku yang menari cepat di atas papan ketik.
"Lihat di baris 4.502," aku menunjuk ke arah layar proyektor. "Ada sebuah 'pintu belakang' atau backdoor yang ditanam dalam skrip laporan ini. Skrip ini secara otomatis mengubah nilai desimal pada setiap transaksi logistik di atas satu miliar rupiah. Dokumen yang dipegang Elena adalah hasil dari skrip ini. Namun, di bawah ini..."
Aku menekan tombol enter, dan sebuah tabel baru muncul di samping tabel lama.
"Ini adalah data transaksi murni yang tercatat di blockchain internal vendor kita. Angkanya tidak cocok dengan laporan Kaivan. Selisihnya bukan masuk ke kantong Adhitama Group atau Pak Bastian, melainkan dialihkan ke sebuah rekening cangkang di luar negeri yang terdaftar atas nama perusahaan konsultan milik... saudara Nadine."
Ledakan bisik-bisik memenuhi ruangan. Pengacara Elena tampak terperangah, ia segera memeriksa dokumen di mejanya dengan panik. Di layar video, Kaivan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kaivan tidak memberikan bukti untuk menjatuhkan Bastian," lanjutku, suaraku kini bergetar karena emosi yang tertahan. "Dia memberikan bukti kejahatannya sendiri yang selama ini ia sembunyikan dariku. Dia pikir, dengan menggunakan namaku dan menyerang Bastian, dia bisa mendapatkan perlindungan dari Elena. Tapi dia lupa... aku adalah orang yang membangun sistem itu. Dan aku tidak pernah membiarkan kebohongan memiliki tempat di dalam kode-kodeku."
Bastian berdiri di sampingku, ia tidak mengatakan apa pun, namun kehadirannya memberikan bobot pada setiap kalimatku.
Penyidik senior mengangguk, ia tampak terkesan. "Nona Arelia, apakah Anda bisa membuktikan bahwa data cadangan Anda ini autentik dan tidak dimodifikasi baru-baru ini?"
"Tentu. Timestamp enkripsinya terkunci secara permanen pada tanggal 12 Desember 2022. Ini adalah data yang belum pernah dibuka selama dua tahun. Saya menyimpannya sebagai asuransi diri jika suatu saat kejanggalan yang saya temukan saat itu meledak."
Aku menatap Kaivan di layar. "Tujuh tahun, Van. Tujuh tahun aku menutup mata atas ketidakefisienanmu karena aku percaya padamu. Tapi mencoba menghancurkan orang yang memberiku kesempatan untuk bangkit... itu adalah batas yang tidak seharusnya kamu lewati."
Kaivan tiba-tiba mendongak, matanya merah karena tangis. "Rel, aku dipaksa! Nadine... dia mengancam akan meninggalkanku kalau aku tidak punya uang! Elena menjanjikan semua tuntutanku dicabut kalau aku bisa menjatuhkan Bastian!"
"Dan sekarang, kamu kehilangan keduanya, Kaivan," kata Bastian dingin. "Nadine sudah tidak bisa dihubungi sejak kemarin, dan Elena... saya ragu dia akan mengenalimu setelah kegagalan ini."
Pertemuan itu berakhir dengan kemenangan mutlak bagi kami. Penyidik menyatakan bahwa bukti yang diajukan pihak Elena tidak valid dan justru akan memperberat hukuman Kaivan dengan pasal tambahan mengenai pemalsuan data otentik dan pencucian uang.
Kami keluar dari kantor polisi saat hujan sudah mulai reda, menyisakan aroma tanah yang basah dan segar—aroma yang selalu kunikmati setiap kali sebuah beban berat terangkat dari pundakku.
"Arelia," panggil Bastian saat kami sampai di depan mobil.
Aku berhenti, menatapnya. Ia tidak langsung masuk ke mobil. Ia berdiri di sana, di bawah langit yang perlahan mulai cerah, menatapku dengan tatapan yang sulit kujelaskan. Ada rasa hormat, ada kekaguman, dan ada sesuatu yang jauh lebih dalam.
"Terima kasih," bisiknya. "Kamu tidak hanya menyelamatkan perusahaan, kamu menyelamatkan martabatku."
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang analis, Bastian," jawabku, mencoba bersikap profesional meskipun jantungku berdebar kencang.
"Tidak. Seorang analis hanya bekerja dengan data. Kamu bekerja dengan hati," Bastian melangkah mendekat, ia meraih wajahku dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap pipiku lembut. "Hari ini, dunia melihat siapa Arelia yang sebenarnya. Dan aku... aku merasa menjadi pria paling beruntung karena memiliki wanita sepertimu di sisiku."
Ia mengecup keningku lama. Di tengah hiruk-pikuk suara klakson Jakarta dan sisa-sisa hujan, aku merasa waktu berhenti. Selama tujuh tahun aku mencari pengakuan ini dari Kaivan, dan aku tidak pernah mendapatkannya. Kini, di depan pria yang baru kukenal dalam hitungan minggu, aku merasa menjadi wanita yang paling dihargai di dunia.
"Apakah kita masih akan pergi ke Paris?" tanyaku pelan setelah ia melepaskan kecupannya.
Bastian tersenyum, senyum yang begitu cerah hingga mampu mengalahkan mendung yang tersisa. "Tentu saja. Tapi kali ini, bukan sebagai pelarian. Kita akan pergi ke sana untuk menunjukkan pada Elena bahwa Adhitama Group—dan Arelia—adalah kekuatan yang tidak bisa ia hancurkan."
Malam harinya, aku kembali ke apartemenku. Sunyi, namun kali ini kesunyian itu terasa damai. Aku duduk di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkelap-kelip.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Maya.
Maya: "Rel! Lu gila! Beritanya sudah menyebar di kalangan internal. Elena dikabarkan langsung terbang kembali ke Singapura malam ini. Dia benar-benar malu. Dan Kaivan... pengacaranya mengundurkan diri. Lu beneran 'membunuh' mereka dengan data, Rel. Proud of you!"
Aku meletakkan ponselku. Tidak ada rasa ingin membalas. Aku hanya ingin menikmati momen ini. Momen di mana kebenaran akhirnya menemukan jalannya pulang.
Namun, di tengah kedamaian itu, aku teringat satu hal. Elena bukan tipe wanita yang akan menyerah begitu saja. Kegagalannya di Jakarta mungkin hanya akan membuatnya semakin haus akan pembalasan di Paris. Aristhoteles Group memiliki jaringan yang sangat luas di Eropa, dan aku tahu, tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Aku berdiri, masuk ke dalam kamar, dan melihat koperku yang masih setengah terbuka. Di sampingnya, ada kontrak baru dari Bastian—kontrak yang memberiku wewenang penuh atas riset global.
Nyaris jadi kita?
Kalimat itu terngiang kembali di kepalaku. Dulu, kalimat itu bermakna kegagalan hubunganku dengan Kaivan. Sekarang, kalimat itu bermakna sesuatu yang lain. Kami—aku dan Bastian—nyaris dihancurkan oleh badai hari ini, namun justru badai itulah yang mengukuhkan posisi kami.
Aku adalah Arelia. Dan aku bukan lagi bayangan bagi siapapun.
Aku menutup koperku dengan bunyi klik yang mantap. Paris, aku datang. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan cahayaku redup oleh apapun. Kebenaran telah membebaskanku, dan kebebasan inilah yang akan kubawa hingga ke ujung dunia.
Jakarta, terima kasih atas lukanya. Karena tanpa luka itu, aku tidak akan pernah tahu seberapa kuat aku bisa berdiri. Dan Kaivan... terima kasih telah melepaskanku, meskipun dengan cara yang menyakitkan. Karena tanpamu, aku tidak akan pernah menemukan jalan menuju kebenaran yang sesungguhnya.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain