Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Batas Wilayah Luar
Episode 9
Aku berdiri di sebuah langkan sempit yang menjorok keluar dari dinding Tebing Ratapan. Ketinggian ku sekarang mungkin sudah mencapai hampir seribu meter dari dasar rawa yang ku lewati sebelumnya. Angin di sini bertiup dengan sangat liar seolah olah ribuan tangan raksasa sedang mencoba mendorongku jatuh kembali ke dalam jurang kehampaan. Namun tubuhku sekarang tidak lagi seringan dulu. Dengan otot otot padat yang kini membungkus hampir seluruh kerangka tubuhku aku memiliki berat yang cukup untuk menahan terjangan angin tersebut.
Aku menatap tangan kiriku yang masih menyisakan struktur tulang putih pada bagian punggung tangan dan jari jarinya. Meskipun lengan atas dan bawahnya sudah berotot namun bagian telapak ini masih terlihat sangat kontras. Aku mengepalkan tangan kiri itu berulang ulang merasakan bagaimana tendon dan syaraf baru yang menjuntai di sana mencoba berinteraksi dengan struktur kalsium yang kaku.
Sedikit lagi. Hanya tinggal sedikit lagi maka tubuh luarku akan lengkap sepenuhnya. Tapi aku mulai merasakan rasa sakit yang aneh di dalam rongga dadaku. Rasanya kosong sekaligus panas. Seolah olah daging di luar ini membutuhkan sesuatu di dalam untuk menopang sirkulasi energinya.
Aku mencoba mengambil napas dalam dalam menggunakan paru paru semu yang baru saja tumbuh di bab sebelumnya. Udara Gehenna yang panas masuk ke dalam dadaku memberikan sensasi hangat namun aku menyadari bahwa aku belum memiliki organ untuk menyaring energi ini dengan sempurna. Aku butuh organ dalam. Aku butuh jantung yang bisa memompa esensi ke seluruh ujung ototku.
"Kenapa kau berhenti lagi Goma. Kita sudah hampir sampai di puncak tebing ini. Di atas sana adalah dataran tinggi yang membatasi wilayah luar dengan wilayah tengah Gehenna. Jika kau berhenti sekarang mahluk mahluk di dalam gua ini akan keluar untuk mengeroyokku."
Kharis terbang di sekitarku dengan gerakan yang terlihat agak cemas. Cahaya ungu dari tubuhnya tampak sedikit meredup karena tekanan atmosfer di ketinggian ini yang semakin pekat.
"Aku merasa dadaku sesak Kharis. Otot otot ini membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tarikan napas. Aku merasa jiwaku tidak bisa mendistribusikan energi esensi ke seluruh bagian dagingku dengan merata."
Kharis hinggap di bahuku yang sekarang sudah tertutup kulit abu abu tebal. "Itu karena kau belum memiliki jantung esensi Goma. Kau membangun rumah yang sangat mewah dengan dinding otot yang kuat namun kau lupa memasang mesin pusat untuk mengalirkan air dan listriknya. Jiwamu adalah listriknya namun kau butuh jantung sebagai pompanya."
Aku mengangguk paham. Aku melihat ke arah atas menggunakan mata kuning keemasan ku yang baru. Dengan penglihatan Eyes of the Abyss aku bisa melihat aliran energi yang mengalir di sepanjang dinding tebing. Ada sebuah titik energi berwarna merah terang yang berdenyut di dalam sebuah gua besar tepat di bawah puncak tebing.
[ SISTEM: ANALISIS ORGAN DALAM DIMULAI ]
[ SISTEM: KEKURANGAN KRITIS TERDETEKSI: JANTUNG DAN SIRKULASI ESENSI ]
[ SISTEM: TARGET TERDETEKSI: BLOOD VULTURE GUARDIAN ]
[ SISTEM: MAHLUK TERSEBUT MEMILIKI INTI JANTUNG YANG SANGAT KUAT DAN SISTEM PERNAPASAN GANDA ]
Blood Vulture. Burung bangkai darah. Jika mahluk itu memiliki jantung yang kuat maka dialah yang harus ku jadikan tumbal untuk menyempurnakan bagian dalam dadaku.
Aku mulai memanjat kembali dengan teknik yang lebih agresif. Aku tidak lagi mencari tumpuan yang aman namun aku menciptakan tumpuan sendiri dengan cara menusukkan jari jari tangan kiriku ke dalam permukaan tulang tebing yang mulai melapuk. Kekuatan otot bahuku sekarang mampu mengangkat beban tubuhku dengan sangat mudah bahkan hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
Satu tarikan satu dorongan. Pindahkan beban ke otot perut. Jaga ritme napas.
Aku merangkak naik seperti predator yang sedang mengincar mangsanya. Aku bisa merasakan setiap kontraksi otot di punggungku saat aku menarik badan ke atas. Setelah mendaki selama hampir tiga puluh menit aku sampai di bibir gua yang sangat besar. Bau darah yang sangat anyir tercium dari dalam sana. Bau itu sangat kuat hingga membuat indera prasaku sedikit mual.
Tiba tiba dari dalam kegelapan gua muncul kepakan sayap yang sangat lambat namun bertenaga.
Kepak... kepak... kepak...
Seekor mahluk raksasa dengan rentang sayap mencapai lima meter keluar dari kegelapan. Ia memiliki tubuh yang dipenuhi oleh daging merah tanpa bulu. Kepalanya menyerupai tengkorak burung pemakan bangkai dengan paruh yang sangat tajam dan bergerigi. Di tengah dadanya yang terekspos aku bisa melihat sebuah organ besar yang berdenyut dengan cahaya merah yang sangat terang. Itulah jantungnya.
"Sssshhhhaaaaakkkkk!"
Mahluk itu mengeluarkan suara pekikan yang lebih rendah daripada Shrieking Bat namun jauh lebih berwibawa. Ia menatapku dengan mata merahnya yang penuh dengan kebencian. Mahluk ini adalah penjaga ambang batas yang tidak akan membiarkan siapa pun lewat tanpa memberikan persembahan darah.
[ SISTEM: PERTEMUAN DENGAN BOSS WILAYAH LUAR: BLOOD VULTURE ]
[ SISTEM: ANALISIS STRUKTUR: MEMILIKI KECEPATAN UDARA TINGGI DAN SERANGAN PARUH PENGHANCUR TULANG ]
[ SISTEM: REKOMENDASI: KUNCI PERGERAKAN SAYAPNYA DAN INCAR BAGIAN JANTUNGNYA SECARA LANGSUNG ]
"Kharis tetaplah di belakang. Mahluk ini berbeda dengan yang sebelumnya. Aku bisa merasakan tekanan energi yang sangat besar darinya."
Aku melepaskan belati kristal ku dari pinggang. Aku berdiri tegak di ambang gua yang sempit. Aku tidak memiliki ruang untuk menghindar maka satu satunya jalan adalah dengan menyerang lebih dulu.
Mahluk itu melesat ke arahku dengan paruhnya yang tajam mengincar kepalaku. Aku segera merendahkan posisi tubuhku menggunakan kekuatan otot perut dan pahaku. Saat paruhnya melewati kepalaku aku melompat ke arah lehernya yang panjang.
Grep.
Aku mencengkeram leher mahluk itu menggunakan tangan kananku yang sangat kuat. Namun mahluk itu tidak tinggal diam. Ia mengepakkan sayapnya dengan sangat kencang mencoba membawaku terbang keluar dari tebing agar aku jatuh ke jurang.
"Kau pikir aku takut ketinggian. Aku adalah raja di ketinggian ini mahluk bodoh!"
Aku menggunakan tangan kiriku untuk menusuk bagian sayapnya yang lunak. Cairan merah panas menyembur ke arah wajahku. Aku bisa merasakan denyut jantung mahluk itu yang bergetar hebat melalui tubuhnya yang menempel padaku. Getaran itu sangat kuat seolah olah mahluk ini adalah sebuah mesin esensi yang berjalan.
Kami berdua bergelut di udara sesaat sebelum akhirnya kami jatuh kembali ke lantai gua yang keras.
Brak.
Benturan itu sangat keras hingga aku merasakan beberapa tulang rusukku retak kembali. Namun adrenalin dan kekuatan regenerasi ku menahan rasa sakit itu. Aku segera menindih tubuh mahluk itu. Aku mengarahkan belati kristal ku tepat ke arah dadanya yang berdenyut merah.
"Berikan jantungmu padaku!"
Mahluk itu mencoba mematuk lenganku namun aku menahan kepalanya menggunakan kaki bawahku yang sudah sangat kuat. Dengan satu dorongan penuh tenaga aku menghujamkan belati kristal itu ke dalam jantungnya yang bercahaya.
Jleb... CRASH!
Cahaya merah yang luar biasa terang meledak dari dalam dada mahluk tersebut. Energi esensi murni yang sangat panas menyapu seluruh tubuhku. Aku merasa seolah olah sedang memegang matahari kecil. Energi itu tidak menguap namun ia mengalir melalui belati kristal masuk ke dalam telapak tanganku lalu merambat menuju pusat dadaku.
[ SISTEM: MENGEKSTRAKSI JANTUNG ESENSI BLOOD VULTURE ]
[ SISTEM: MEMULAI PROSES TRANSPLANTASI ORGAN DALAM: JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH ]
[ SISTEM: PERINGATAN: PROSES INI AKAN MENGUBAH SIRKULASI JIWA ANDA SECARA PERMANEN ]
Aku jatuh telentang di lantai gua. Seluruh tubuhku gemetar hebat. Di dalam rongga dadaku aku merasakan adanya pertumbuhan daging yang sangat masif. Sebuah organ besar mulai terbentuk di tengah dada merajut dirinya sendiri dengan syaraf syaraf dan otot rusukku. Rasa sakitnya luar biasa seolah olah ada seseorang yang sedang memompa udara panas ke seluruh pembuluh darahku.
Dug... dug... dug...
Untuk pertama kalinya setelah kematianku aku mendengar suara itu lagi. Suara detak jantung.
Suara itu terdengar sangat keras di telingaku. Setiap detakan nya mengirimkan gelombang panas yang menyegarkan ke seluruh ujung jari tangan dan kakiku. Darah hitam yang tadinya hanya diam kini mulai mengalir dengan sangat cepat di dalam jaringan ototku. Kulit abu abuku yang tadinya kusam kini mulai memiliki rona yang lebih sehat dan berkilau.
[ SISTEM: EVOLUSI JANTUNG DAN SISTEM SIRKULASI SELESAI ]
[ SISTEM: ANDA SEKARANG MEMILIKI STAMINA YANG JAUH LEBIH BESAR ]
[ SISTEM: SINKRONISASI JIWA MENINGKAT 40 % ]
Aku berdiri perlahan lahan. Sekarang aku merasa benar benar utuh di bagian dalam. Setiap gerakan yang kuambil terasa lebih bertenaga karena jantungku memompa energi ke otot yang membutuhkannya secara otomatis. Aku menatap tangan kiriku. Keajaiban kembali terjadi. Karena sirkulasi darah dan esensi sudah sempurna jaringan otot mulai tumbuh dengan sangat cepat menutupi bagian punggung tangan dan jari jari kiriku yang tadi masih berupa tulang.
Kini tanganku sudah tertutup kulit sepenuhnya lengkap dengan kuku kuku hitam yang tajam.
"Tuan Goma... kau... kau memiliki detak jantung," bisik Kharis dengan nada bicara yang penuh dengan ketakutan sekaligus rasa hormat yang mendalam. "Kau bukan lagi Skeleton. Kau adalah Demon sejati sekarang."
Aku melihat ke arah cermin alami dari kristal di dinding gua. Wajahku sekarang sudah memiliki bentuk yang hampir sempurna sebagai pria muda dengan kulit abu abu yang tangguh. Rambut hitamku terurai panjang memberikan kesan yang sangat liar. Mata kuning keemasan ku bersinar dengan cahaya yang lebih tenang namun jauh lebih mematikan.
"Aku merasa... sangat kuat Kharis," ucapku dengan suara yang bergetar karena kekuatan baru. "Sekarang aku sudah siap untuk meninggalkan wilayah luar ini."
Aku berjalan menuju ujung gua yang menghadap ke arah puncak tebing. Aku melihat ke bawah melihat jalan panjang penuh penderitaan yang telah ku lewati. Dari seonggok tulang putih yang rapuh hingga menjadi mahluk berdaging yang memiliki jantung berdetak.
Ibu Widya aku sudah melangkah sejauh ini. Aku sudah memiliki tubuh yang lengkap. Sekarang saatnya aku masuk ke wilayah para penguasa untuk mencari jalan pulang yang sebenarnya.
Aku melompat keluar dari gua menuju ke arah puncak tebing yang tinggal beberapa puluh meter lagi. Gerakanku sekarang sangat cepat menyerupai bayangan hitam yang melesat di antara bebatuan. Aku sampai di puncak tebing tepat saat badai ungu di langit Gehenna mereda.
Di depanku terbentang sebuah wilayah baru yang jauh lebih megah. Ada bangunan bangunan dari tulang hitam yang menyerupai kota kuno di kejauhan. Itulah Wilayah Tengah tempat para bangsawan iblis tinggal.
"Selamat datang di Wilayah Tengah Goma. Di sini permainanmu yang sebenarnya baru saja dimulai," kata Kharis sambil terbang di sisiku.
Aku menatap ke depan dengan tatapan yang sangat tajam. Aku mengepalkan kedua tanganku yang sekarang sudah sempurna. Aku adalah Goma sang pendaki yang telah menaklukkan ambang batas kematian. Dan wilayah tengah ini hanyalah satu lagi tebing yang akan ku buat berlutut di bawah kakiku.
Perjalanan berdarah ini akan terus berlanjut dan aku akan memakan siapa saja yang mencoba menghentikan detak jantung baruku ini.