NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Malam di Mansion Mettond terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan yang turun rintik-rintik di luar jendela menciptakan simfoni monoton yang seolah mengisolasi kamar bertema hitam itu dari dunia luar.

Liam duduk di sofa beludru di sudut ruangan, mencoba memfokuskan pikirannya pada buku biografi tokoh bisnis yang ia pegang. Namun, sudah lima belas menit berlalu dan ia masih terjebak di halaman yang sama.

Pikirannya sedang tidak sinkron dengan matanya. Pendengarannya justru menajam, menangkap suara gemericik air dari kamar mandi yang perlahan berhenti, diikuti oleh suara pintu yang terbuka.

Liam mendongak, dan seketika dunianya seakan melambat.

Angelina keluar dari kamar mandi dengan uap tipis yang masih menyelimuti tubuhnya. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna hitam—pilihan Liam—yang memiliki tali tipis di bahu dan potongan rendah di bagian punggung.

Bahan satin itu jatuh dengan sempurna, mengikuti lekuk tubuh Angelina yang selama enam belas tahun ini diam-diam telah bertransformasi dari seorang gadis kecil menjadi seorang wanita muda yang mempesona.

Kulit Angelina yang putih bersih nampak kontras dengan kain gelap itu, dan rambutnya yang masih sedikit basah tersampir di satu bahu, mengekspos leher jenjang yang selama ini sering Liam ciumi secara spontan sebagai tanda kasih sayang seorang kakak.

Deg.

Liam merasakan dentuman aneh di dadanya. Itu bukan debaran kasih sayang yang biasa. Itu adalah desiran panas yang naik dari perutnya, membuat tenggorokannya mendadak kering. Ia segera mengalihkan pandangan kembali ke buku, namun bayangan siluet Angelina tetap tertanam di retinanya.

"Liam? Kenapa kau belum tidur?" tanya Angelina lembut.

Ia melangkah mendekat, aroma sabun lili yang segar menyengat indra penciuman Liam. Angelina duduk di tepi ranjang, tepat di depan sofa tempat Liam berada. Posisi itu membuat gaun tidurnya sedikit tersingkap, mengekspos paha mulusnya.

Liam menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa seperti seorang pengkhianat. Bagaimana mungkin ia, yang selama ini bersumpah akan menjadi pelindung utama Angelina, kini justru menatapnya dengan tatapan yang jauh dari kata suci?

"Aku... aku belum mengantuk, Angel. Masih banyak yang harus kupikirkan," jawab Liam, suaranya terdengar lebih berat dan parau dari biasanya.

Angelina memperhatikan perubahan nada suara itu. Ia merangkak sedikit di atas ranjang, mendekati Liam hingga jarak mereka hanya terpisah oleh meja kecil. "Kau masih memikirkan Clarissa? Maafkan aku, Liam. Gara-gara aku, hubunganmu jadi berantakan."

Liam menutup bukunya dengan sentakan kecil. Ia menatap mata Angelina. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, mata gadis itu nampak begitu jernih dan penuh perhatian.

"Berhenti menyalahkan dirimu, Angel. Clarissa tidak mengerti siapa kau bagiku. Dan jika dia tidak bisa menerimamu, maka dia tidak pantas berada di sisiku," ucap Liam tegas.

Namun, di balik ketegasannya, Liam sedang berjuang keras. Saat Angelina sedikit membungkuk untuk meraih ponselnya di atas meja, garis leher gaun tidurnya yang longgar membuat Liam bisa melihat lebih banyak dari yang seharusnya. Liam segera memalingkan wajah, tangannya mengepal di atas lutut hingga buku-buku jarinya memutih.

Sial, Liam. Dia adikmu. Dia Angelina, batinnya berteriak, mencoba memanggil kembali nalar pelindungnya.

Tapi sisi lain dari dirinya, sisi pria dewasa yang mulai bangkit, membisikkan sesuatu yang berbeda. Bahwa Angelina bukanlah adiknya. Bahwa mereka tidak berbagi darah. Bahwa kehangatan yang ia rasakan saat memeluk Angelina semalam bukan hanya sekadar rasa nyaman, tapi sebuah gairah yang haus akan lebih banyak sentuhan.

"Liam, kau baik-baik saja? Wajahmu merah," Angelina meletakkan tangannya di dahi Liam, mencoba memeriksa suhu tubuhnya.

Sentuhan jemari Angelina yang dingin justru terasa seperti percikan api di kulit Liam. Secara impulsif, Liam meraih pergelangan tangan Angelina, menghentikan gerakannya. Jantung mereka berdua berpacu cepat dalam keheningan yang menyesakkan.

"Angel... jangan," bisik Liam, matanya menatap dalam ke netra Angelina.

"Jangan apa?" Angelina bertanya dengan polos, meski hatinya sudah berdegup kencang karena intensitas tatapan Liam yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Liam menarik napas panjang, mencoba mengendalikan dorongan dalam dirinya yang ingin sekali merengkuh tubuh itu dan mencium bibir yang sering ia lihat dihiasi senyum manis. Ia tahu, satu langkah salah malam ini akan mengubah segalanya selamanya. Ia belum siap merusak kesucian hubungan mereka dengan gairah yang mungkin belum bisa ia kendalikan.

Dengan perlahan, Liam melepaskan pergelangan tangan Angelina. Ia berdiri dari sofa, membuat Angelina harus mendongak untuk menatapnya.

"Kau terlalu cantik malam ini, Angel. Dan itu membuatku sulit untuk menjadi 'kakak' yang baik," ucap Liam sejujur mungkin, meskipun ia membungkusnya dengan nada sedikit bercanda agar suasana tidak terlalu tegang.

Angelina terpaku. "Benarkah?"

Liam tersenyum miring, sebuah senyum yang mengandung sejuta arti. Ia mendekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Angelina. Ia bisa mencium napas Angelina yang harum. Alih-alih melakukan apa yang dipikirkan oleh insting liarnya, Liam justru menangkup wajah Angelina dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.

Ia menarik napas dalam, lalu mendaratkan sebuah ciuman di kening Angelina.

Bukan kecupan singkat seperti biasanya. Ini adalah ciuman yang lama, dalam, dan penuh penekanan. Liam memejamkan matanya, menyalurkan semua gejolak, rasa protektif, yang tersembunyinya lewat sentuhan bibirnya di kening gadis itu. Ia menahan posisi itu selama beberapa detik, seolah sedang menyegel sebuah janji suci di sana.

Ciuman itu terasa begitu khidmat hingga Angelina bisa merasakan getaran di tubuh Liam. Ia menutup matanya, menikmati kehangatan yang mengalir ke seluruh sarafnya. Bagi Liam, ini adalah caranya untuk meredam gairah, menggantinya dengan pemujaan yang lebih sopan namun tetap intim.

Setelah melepaskan ciumannya, Liam tetap menempelkan dahinya pada dahi Angelina.

"Tidurlah, Little Angel," bisik Liam rendah. "Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang akan membuat Om Adrian mengusirku dari rumah ini."

Angelina terkekeh kecil, meski pipinya sudah merah merona. "Daddy Adrian tidak akan pernah mengusirmu, Liam. Kau tahu itu."

"Jangan menantangku, Angel," Liam mengacak rambut Angelina dengan gemas, sebuah upaya untuk mengembalikan suasana ke zona nyaman mereka. "Sekarang masuk ke balik selimut. Aku akan di sini sampai kau tertidur."

Angelina menurut, ia masuk ke bawah selimut hitamnya yang dingin, sementara Liam kembali ke sofanya. Meskipun mereka kini berjarak beberapa meter, sisa-sisa ciuman di kening tadi masih terasa membekas di kulit Angelina, memberikan kedamaian sekaligus gelombang harapan baru.

Di sudut ruangan, Liam kembali membuka bukunya. Ia tahu, rasa protektif itu sudah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dan berbahaya.

Gairah itu ada, nyata, dan sedang mengetuk pintu kesadarannya. Namun untuk saat ini, Liam memilih untuk menjadi penjaga gawang bagi hati Angelina, setidaknya sampai waktu yang tepat tiba.

Malam itu, di balik selimut sutra dan cahaya temaram, dua remaja itu tertidur dengan satu rahasia baru yang tidak terucapkan: bahwa batasan antara 'kakak-adik' dan 'lelaki-perempuan' di antara mereka telah resmi retak, dan hanya tinggal menunggu waktu sampai batasan itu runtuh sepenuhnya.

1
Ita Putri
ternyata Adrian badly injured
Azura 👑👑👑👑: apa itu kak 🤭🙏
total 1 replies
Ita Putri
marvelous Thor🤩
Azura 👑👑👑👑: ma'aciw kak😍
total 1 replies
Desi Defila
cerita nya 👍
Azura 👑👑👑👑: ma'aciw jejaknya kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!