Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
"Thanks." Vania baru saja kembali dari sekolahan Sesil, ia nampak mengembalikan kunci mobil Cika.
"Sama-sama."
Vania mengernyitkan dahi melihat Cika menekuk wajahnya. Seperti sedang kesal.
"Are you okey?."
"Hm."
Tentunya Vania tak percaya begitu saja dengan jawaban Cika.
"Apa kamu habis dimarahi sama atasanmu?." Tebak Vania.
Cika menggelengkan kepalanya.
"Lantas?."
"Kamu masih ingat nggak dengan cerita aku tentang pria di cafe tadi?." Tanya Cika dan Vania mengangguk, mengiyakan. "Ternyata pria itu adalah tuan Bara, sahabatnya tuan Sandi."
"APA?." Saking terkejutnya, Vania sampai terbelalak. "Jadi, pria yang kau siram dengan segelas minuman di cafe tadi, tuan Bara?." Tanya Vania memastikan.
Cika mengangguk lemah.
"Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan! Lagian, sebagai seorang gadis wajar kamu melakukannya demi menjaga harta diri, walaupun kenyataannya kamu salah paham." Vania tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang nantinya justru semakin membuat Cika merasa tertekan, mengingat Bara adalah sahabat baik bos mereka.
"Apa mungkin suami kamu akan memecat aku karena masalah ini, Vania?." Cika khawatir Sandi memecatnya karena dianggap telah melakukan tindakan kurang menyenangkan pada sahabatnya.
"Jangan khawatir, mas Sandi bukan tipikal pimpinan seperti itu. Mas Sandi tidak mungkin sampai memecat kamu hanya karena masalah seperti ini." Balas Vania.
"Tapi, Vania.... Saat aku mengantarkan kopi ke ruangan tuan Sandi, nampaknya tuan Bara sangat murka dengan perbuatanku di cafe tadi." adu Cika.
Vania menghela napas mendengarnya. Ia sendiri bingung, bagaimana cara untuk berbicara dengan suaminya agar tidak sampai berpikir untuk memecat sahabat baiknya itu, mengingat sedekat apa persahabatan yang terjalin antara suaminya dan Bara.
*
"Tumben kamu bersikap seperti itu pada seorang gadis." Ujar Sandi sembari mendudukkan tubuhnya pada kursi kerjanya.
"Gadis itu berbeda, dia tidak punya etika sama sekali." Bara masih saja terlihat kesal.
Sandi menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyuman tipis di sana. "Bukannya tidak punya etika, Kawan. Tindakan seperti itu biasanya spontan dilakukan oleh gadis baik-baik yang merasa direndahkan harga dirinya." Bukannya karena Cika adalah sahabat baik istrinya lalu Sandi memihak pada gadis itu, Sandi hanya ingin mengemukakan pendapatnya.
"Semua kembali lagi pada penilaianmu kawan, mungkin kamu lebih pro pada tipikal gadis yang tidak keberatan disentuh sana-sini." Lanjut Sandi.
*
Malam harinya.
Sandi beranjak ke kamar Sesil.
"Anak cantiknya papah lagi menggambar apa?." Sandi menghampiri Sesil yang sedang sibuk menggambar.
"Sesil sedang menggambar wajah papah, mamah dan juga Sesil." Bocah itu menunjukan hasil gambarnya yang hampir selesai.
Sandi terpaku menatap hasil gambar tangan Sesil. Sandi jadi teringat pada dirinya ketika masih sekolah dulu, di mana hasil gambarnya selalu mendapat nilai paling bagus di antara teman sekelasnya. Bahkan, dulu Sandi sempat berpikir untuk melanjutkan pendidikannya sebagai arsitek, namun ayahnya kurang setuju hingga akhirnya Sandi melanjutkan pendidikannya di bidang ilmu bisnis. Jika dilihat-lihat, hasil gambar Sesil termasuk dalam kategori diatas rata-rata untuk anak seusianya. Apa mungkin kreativitas menggambar yang dimiliki oleh Sesil menurun darinya? Pertanyaan itu terbesit di benak Sandi.
"Cantik banget hasil gambar anak mamah." Puji Vania yang baru saja menghampiri. "Padahal mamah nggak terlalu pandai menggambar loh."
"Bisa jadi bakat menggambar Sesil menurun dari papahnya." Balas Sandi sambil melirik pada Vania.
Deg.
"Mungkin saja." Vania sontak memalingkan wajahnya dari Sandi, sengaja menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Vania....."
"Iya, mas."
"Mungkin sampai dengan seminggu ke depan aku akan jarang berkegiatan di hotel, karena baru-baru ini perusahaan memenangkan tender untuk proyek pembangunan jembatan di pulau Kalimantan. Aku akan meminta pak Ujang untuk mengantar jemput kamu bekerja." Tutur Sandi.
"Nggak perlu mas, aku bisa menyetir mobil sendiri selama mas sibuk di perusahaan." Sebelum menikah dengan Sandi, ia sudah terbiasa menyetir sendiri kemana-mana, termasuk berangkat kerja. Jika suaminya sedang sibuk dengan urusan pekerjaan di perusahaan, lalu apa salahnya jika ia kembali menyetir sendiri, begitu pikir Vania.
"Aku tahu kamu wanita mandiri, tapi tetap saja aku mau kamu diantar jemput sama pak Ujang selama seminggu ini. Biar aku juga bisa tenang." Sandi tetap kekeuh dengan keputusannya. Selama ia sibuk di perusahaan, Vania akan diantar jemput oleh sopir pribadi keluarga.
Vania terpaku, sikap Sandi yang seperti ini yang selalu membuat Vania merasa diperhatikan serta disayangi oleh pria itu.
"Jangan terlalu geer Vania, bisa jadi mas Sandi melakukan itu karena perintah dari mamah." Batin Vania, tak ingin berangan tinggi tentang perasaan Sandi terhadap dirinya.
"Baiklah." Pada akhirnya Vania pasrah dengan keputusan suaminya itu.
Mengingat saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Vania lantas meminta Sesil menyudahi kegiatan menggambar nya dan mencuci kaki lalu naik ke tempat tidur.
Malam ini Sesil ditidurkan oleh ayah dan ibunya. Sandi nampak membacakan buku cerita sebagai pengantar tidur, sedangkan Vania memberikan usapan lembut pada punggung bocah itu. Tak sampai setengah jam Sesil pun tertidur.
"Ya Tuhan, jika benar bocah perempuan menggemaskan ini adalah putri kandungku, da-rah dagingku sendiri, betapa bersyukurnya hatiku karena engkau telah mempertemukan aku dengannya." Batin Sandi. Tanpa sadar kedua bola mata Sandi sudah berkaca-kaca dan hal itu tak luput dari perhatian Vania. Namun, Vania bersikap seolah tidak menyadarinya.
Sandi berlalu meninggalkan kamar Sesil tanpa mengajak serta Vania, ia tak ingin sampai sudut matanya yang kini telah basah oleh air mata terlihat oleh wanita itu.
"Ya Tuhan....Apa keputusanku ini salah? Apa terus menyembunyikan kebenaran tentang Sesil dari papah kandungnya sendiri adalah keputusan yang salah?." Vania dilema. Sebagai seorang ibu tentunya Vania menginginkan kebahagiaan yang sempurna untuk putrinya, mungkin salah satunya dengan memberitahu yang sebenarnya. Tetapi, bagaimana jika nantinya Sandi justru merebut Sesil dan menceraikannya begitu saja setelah mengetahui yang sebenarnya, mengingat hingga detik ini Vania tak tahu pasti apakah Sandi sudah sepenuhnya menerima pernikahan mereka atau justru menjalani kehidupan bersamanya dalam kondisi terpaksa.
"Ya Tuhan.... Aku tidak siap jika harus kehilangan putriku." Batin Vania.
*
Dua hari kemudian.
Seperti pesan dari saudari sepupunya dua hari lalu, siang ini Sandi kembali mendatangi rumah sakit tempat Nindi bekerja. Sandi sengaja datang di saat jam istirahat makan siang, biar tidak mengganggu kerjaan Nindi.
Di ruang praktiknya, di sinilah Nindi, Sandi serta dua orang rekan sejawat Nindi berada sekarang ini. Ya, selain dengan Nindi, Sandi pun berkonsultasi dengan dua orang dokter tersebut di ruang praktik Nindi dua hari lalu.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan DNA milik tuan Sandi dan seorang anak perempuan bernama Sesilia putri. Untuk hasil pemeriksaan ini, kami dapat menjamin keakuratannya. Dan hasilnya pun masih tersegel dengan rapi di dalam amplop ini." Salah seorang dokter menunjukkan amplop besar berwarna putih dengan logo rumah sakit.
Sandi serta Nindi mengangguk paham.
"Baiklah, saya akan membuka amplop ini dan kita akan segera tahu bersama hasilnya." Pria berjas putih tersebut lantas membuka segel pada amplop besar dengan logo rumah sakit tersebut kemudian mulai membaca hasilnya.
"Untuk hasil pemeriksaan DNA antara tuan Sandi Admodjo dan nona Sesilia putri dinyatakan sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen memiliki kemiripan."
Air mata yang sejak tadi susah payah dibendung oleh Sandi akhirnya jatuh juga setelah mendengar dokter membacakan hasil pemeriksaan DNA antara dirinya dan putri Vania, itu artinya Sesil adalah putri kandungnya, da-rah daging dari seorang Sandi Admodjo.
Nindi yang baru pertama kali melihat saudara sepupunya itu menitihkan air mata, akhirnya ikut menitihkan air mata haru. Rupanya insting seorang ayah tidak meleset.
Mana dukungannya sayang-sayangku.....😘😍🥰
alahaayyy mereka tu smsm mauu tp msih bingung ajaa mengungkapkannya🤭🤭
lah lah bagus sandi kamu bilang gitu sama siapa sih mamahnya vania namanya pokonya dia we ...biar dia sadar kalu dia telah menukar vania dengsn uang 20 miliar 👍 amnesia kali tih orang masih menyebut dirinya ibu mertua 🤭🤭🤭
cie cie bara ke gep jadi kelimpungan kan buat jelasin 🤭🤭
cie cie vania yang melongo karna tingkah kedua nya 🤣🤣🤣