NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Bima

Bab 20 – Bima

Selesai wawancara dengan banyak reporter, panita memberitahukan aku bahwa pertunjukan akan segera dimulai. “Kak Bima bisa duduk di dalam,” kata panitia padaku.

Tapi tiba-tiba terdengar suara teriakkan keras dari arah lobi. Suara perempuan cempreng yang aku langsung tahu bahwa telingaku menolak mendengarnya, “Bimaaaa!”

Aku tidak mau menoleh, maunya langsung masuk ke dalam gedung, tapi perempuan dan suara itu semakin mendekat dan menarik tanganku, “Bima!” katanya lagi.

“Oh, hei!” kataku sambil menoleh ke arah Mutia yang seperti habis lari dikejar kereta. Make upnya sedikit luntur kena keringat.

“Katanya aku dapet tiket undangan, kan?” Mutia menatapku dengan memelas.

“Iya, dapet dong!” sial, aku lupa nyisihin tiket undangan buat dia. “Sebentar ya, aku tanya panitia dulu.”

Aku mendatangi pantia ticketing, “Guys, tiket vip masih ada?”

“Nggak ada, Kak,” jawab mereka.

“Satu aja?”

“Nggak ada, kak. Undangan udah dateng semua,” jawab mereka.

Dari kejauhan Mutia tampak kesal melihat orang-orang menyenggolnya, karena menghalangi pintu masuk ke gedung theater. Aku lalu mendekati salah seorang sekuriti, “Kak, tolong anterin mbak-mbak itu, ke kursi VIP atas nama aku.”

“Mbak-mbak yang pake make up menor itu?” tanya sekuriti.

“Iya.”

“Siap.” Sekuriti lalu menghampiri Mutia.

Mutia menatap ke arahku. Aku mengacungkan jempol. Mutia tersenyum, lalu ikut masuk bersama sekuriti. Aku menghela napas lega.

--

Aku duduk di sebelah Celsi yang duduk di kursi media di lantai dua. Celsi menoleh ke arahku, dengan kaget. “Kok elu duduk di sini?”

“Biar enak, liat dari atas!”

“Kenapa nggak sama Naya?” Celsi melihat ke bawah, kursi deretan Naya ternyata diisi oleh Mutia. “Loh kok ada dia?”

Aku mengangkat kedua bahuku, “Aku lupa ngasih udangan buat Mutia, jadi ya udah aku kasih aja kursi aku.”

Celsi menggelengkan kepala sambil menghela napas.

Pementasan dimulai.

Celsi berbisik, “Kasih tau Naya, biar dia nggak bingung kok bukan kamu yang duduk di situ.”

“Iya, ntar.”

--

Aku bermaksud untuk melakukannya. Sungguh. Tapi ketika pementasan berlangsung, aku diminta masuk ke belakang panggung, untuk bersiap memberikan sambutan penutup di akhir pementasan. Kegaduhan belakang panggung, membuatku tidak bisa liat ponsel.

Ketika pementasan selesai, para kru diminta naik ke atas panggung. Begitu juga aku. Aku bisa melihat Naya yang tampak kebingungan dengan orang yang ada di sampingnya. Mutia bergerak heboh dadah-dadah ke arahku. Aku agak terima kasih juga sih, karena Mutia dadah-dadah, aku jadi tahu letak Naya duduk ada di mana.

“Terima kasih untuk produser kami, Bima Dewantara!” kata sutradara membungkuk ke arahku. Aku memberikan hormat balik, lalu melambaikan tangan ke arah penonton.

Aku mengedipkan mata ke arah Naya, seperti yang aku lakukan ketika tadi kami berpapasan di lobi. Tapi sepertinya aku salah langkah.

Malam harinya, Celsi heboh meneleponku, “Elu liat medsos nggak?”

“Nggak.”

“Liat makanya!”

“Ada apa?”

“Liat aja sendiri!”

“Astaga. Ada apa sih?” kataku kesal. “Aku nggak bisa liat medsos, kan lagi teleponan sama elu!”

“Mutia upload video elu ngedipin mata ke arah dia. Jadi viral tuh! Dia dapet banyak komen nanyain, kapan nikah sama elu!”

Aku menepuk jidatku.

“Jelasin sama Naya!” kata Celsi lagi. “Kalau elu nggak mau berantem lagi.”

“Iya, bu!” kataku kesal.

Selesai teleponan dengan Celsi, aku menekan nama Naya di ponselku. Aku ingin meneleponnya, tapi ini sudah jam satu malam. Dia pasti sudah tidur. Dia dan teman-temannya pulang ketika pertunjukan pertama selesai. Sementara aku, masih tinggal di gedung theater sampai pertunjukan kedua selesai.

Telepon sekarang atau besok?

Akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya besok.

--

“Jadi elu belum jelasin ke Naya?” tanya Celsi padaku di ruang kerjanya.

“Emang harus ya? Naya nggak marah tuh, nggak ngomongin itu juga.”

“Diem bukan berarti nggak marah, lah! Elu mah nunggu orang marah deh!” Celsi mengambil ponselku, menekan nomor Naya lalu menelepon. “Nih, ngomong!”

“Ngomong apa?” tanyaku pada Celsi, tapi suara Naya terdengar di telepon, “Halo?” katanya.

“Halo, Nay!” jawabku.

“Ada apa, Mas?”

“Kamu liat medsos?” tanyaku sambil menatap Celsi.

“Nggak. Aku lagi sibuk cari gedung, ada klien dadakan. Emang ada apa?”

“Oh, ya udah kalau nggak liat. Nggak apa-apa.”

Celsi memukul lenganku.

“Eh, Nay,” kataku menahan sakit.

“Ada apa?”

“Aku mau jelasin soal medsos itu. Video Mutia viral, dan aku cuma pengen mastiin kalau kamu nggak akan marah atau gimana…,”

“Oh. Viral kenapa?”

“Ya dia bilang, aku ngedipin mata buat dia. Padahal buat kamu.”

“Oh gitu.”

“Kamu nggak marah kan?”

“Nggak.”

“Oke,” kataku sambil melet ke Celsi.

“Tapi…,” kata Naya lagi.

“Kenapa?”

“Tapi aku jadi kepikiran. Kamu udah kasih tau dia, kalau kamu sama aku?” tanya Naya, membuatku sedikit gugup. Baru pertama kali aku mendengar kalimat itu. Kamu sama aku.

“Hem, belum sih,” kataku sambil masih kesenengan karena kalimat itu, kamu sama aku.

“Mending kamu kasih tau dia. Daripada dia mikir yang nggak-nggak.”

“Iya ya. Oke.”

“Ya udah.”

“Daaah,” aku menutup telepon lalu menatap Celsi. “Aman kan?”

“Apanya yang aman, dia minta kamu kasih tau Mutia, kalau kamu sama Naya!” Celsi menegaskan apa yang dikatakan Naya.

“Gampang lah itu,” kataku sambil jalan ke pintu.

“Sekarang!”

“Aku ada reading lagi, pemain yang kemaren nggak cocok, kata Bang Jaka!” kataku pada Celsi.

Celsi hanya menghela napas, “Terserah lah, kalau ada masalah sama Naya lagi, jangan minta gue urusin!”

“Cel! Jangan gitu dong. Iya, ntar gue bilang sama Mutia!”

“Oke!” Celsi duduk di kursinya, lalu membuka laptop.

Aku keluar dari ruangan, lalu naik ke mobil. Di jalan aku termenung, gimana caranya mutusin orang? Apa lagi ini anak dari kenalannya ibu aku. Nanti dia ngadu ke ibunya, terus ngadu ke ibu aku, aku bakal kena semprot. Apa biarin aja ya? Toh kan nanti juga akhirnya dia tahu kalau aku hanya memilih Naya.

“Kamu sama aku!” kata-kata Naya terngiang di telingaku. Aku terkekeh malu sendiri.

“Kenapa, Dan?” tanya Pak Mardi.

“Nggak apa-apa, Pak!” jawabku sambil tersenyum senang.

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!