Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Ezra di Telinga Lana
Makan malam yang penuh dengan tawa dan godaan Jeno perlahan usai. Satu per satu penghuni penthouse mulai membubarkan diri menuju ruang kerja atau kamar masing-masing untuk menyelesaikan sisa urusan hari itu. Lana, yang masih merasa hatinya membumbung tinggi akibat perhatian Jeno, memutuskan untuk membantu membereskan beberapa piring kecil di meja, sebuah kebiasaan dari desa yang sulit ia hilangkan meskipun Arka sudah melarangnya berkali-kali.
"Biarkan pelayan yang melakukannya, Lana. Tugasmu hanya belajar dan beristirahat."
Suara itu lembut, sangat tenang, namun memiliki wibawa yang membuat Lana seketika berhenti bergerak. Ia menoleh dan mendapati Ezra berdiri di dekat pintu menuju balkon indoor. Ezra tampak sangat elegan dengan kemeja putih berbahan sutra yang lengannya digulung rapi, memperlihatkan jam tangan kronograf perak yang berkilau mewah. Ezra adalah sosok yang paling jarang bicara, namun setiap katanya selalu memiliki bobot yang besar.
Lana meletakkan kembali piring yang ia pegang. "Maaf, Kak Ezra. Lana cuma terbiasa..."
Ezra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan isyarat dengan jarinya agar Lana mendekat. Ezra sedang berdiri di dekat rak buku kayu ek yang berisi koleksi literatur klasik dan majalah arsitektur ternama. Pencahayaan di sudut itu sedikit lebih redup, memberikan nuansa yang lebih intim dibandingkan meja makan yang terang benderang tadi.
Lana melangkah mendekat dengan jantung yang kembali berdegup kencang. Di antara ketujuh pria itu, Ezra adalah yang paling sulit ditebak. Standar estetikanya sangat tinggi; ia adalah kurator dalam hidupnya sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak simetris atau tidak indah di matanya, ia tidak akan segan untuk mengoreksinya.
Saat Lana sampai di hadapannya, Ezra tidak langsung bicara. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Lana dari atas ke bawah. Pandangannya sangat teknis, seperti seorang arsitek yang sedang memeriksa cetak biru sebuah mahakarya. Ia memperhatikan bagaimana dress krem itu jatuh di tubuh Lana, bagaimana rambutnya ditata, dan tentu saja, bagaimana wajah Lana dipoles.
"Mendekatlah sedikit lagi," perintah Ezra pelan.
Lana maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya tersisa tiga puluh sentimeter. Lana bisa mencium aroma khas Ezra—wangi oud yang mahal bercampur dengan aroma buku lama. Tiba-tiba, Ezra membungkukkan badannya sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Lana.
Lana membeku. Ia menahan napasnya saat Ezra mengamati detail riasannya dalam jarak yang sangat dekat. Ezra kemudian mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh pipi, melainkan untuk merapikan sedikit helai rambut Lana yang keluar dari barisan di dekat telinganya. Jemarinya yang dingin namun halus bersentuhan sejenak dengan kulit leher Lana, mengirimkan sensasi listrik yang membuatnya merinding.
Lalu, Ezra mendekatkan bibirnya ke telinga Lana. Lana bisa merasakan embusan napas Ezra yang hangat dan teratur di kulit lehernya.
"Pilihan warna lipbalm itu..." Ezra berbisik, suaranya rendah dan serak, menciptakan resonansi yang menggetarkan dada Lana. "...sangat tepat. Alami, namun memukau. Kamu tahu gak kenapa?"
Lana menggeleng pelan, ia merasa lidahnya mendadak kelu.
"Karena warna itu tidak mencoba menutupi dirimu yang asli," lanjut Ezra, bisikannya semakin lembut namun penuh penekanan. "Warna itu hanya menonjolkan kelembutan yang selama ini kamu sembunyikan. Di mataku, kamu sekarang tampak seperti sketsa yang baru saja diberi warna paling sempurna. Sangat... indah."
Lana merasakan wajahnya memanas hebat. Pujian Ezra terasa berbeda dengan godaan Kenzo yang blak-blakan atau pujian Jeno yang antusias. Pujian Ezra terasa seperti sebuah pengakuan dari otoritas tertinggi kecantikan. Kata "memukau" yang dibisikkan tepat di telinganya itu terasa seperti sebuah stempel legalitas atas perubahannya.
Ezra menjauhkan wajahnya, namun matanya tetap terkunci pada mata Lana. "Jangan biarkan siapa pun di kampus itu meragukan nilaimu lagi, Lana. Seseorang dengan estetika sepertimu tidak seharusnya mendengarkan bisingnya orang-orang yang tidak mengerti seni. Mereka hanya terlalu meremehkan orang lain yang ada di sekitar mereka, padahal orang lain yang dimaksud itu belum tentu lebih buruk dari yang mereka pikirkan. Bisa jadi mereka yang membicarakan yang lebih buruk."
Lana menelan ludah, mencoba mencari suaranya kembali. "Terima kasih, Kak Ezra. Lana... Lana senang kalau Kakak suka."
"Suka?" Ezra tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat langka dan mahal harganya. "Aku lebih dari sekadar suka. Aku menghargai perubahanmu. Malam ini, kamu adalah elemen paling estetis di ruangan ini."
Ezra menepuk bahu Lana sekali, sebuah gerakan yang sangat formal namun terasa sangat protektif. "Sekarang pergilah tidur. Simpan energi dan kecantikanmu untuk besok. Dunia perlu melihatmu dengan lebih jelas."
Lana mengangguk patuh, merasa seolah kakinya tidak lagi menyentuh lantai saat ia berjalan menuju kamarnya. Bisikan Ezra masih terngiang-ngiang di telinganya, memberikan rasa percaya diri yang jauh lebih dalam dan elegan. Jika Bumi menyembuhkannya dan Kenzo memberinya semangat, maka Ezra telah memberinya martabat.
Di dalam kamarnya yang sunyi, Lana berdiri di depan cermin besar. Ia menyentuh telinganya yang tadi terasa hangat karena bisikan Ezra. Ia melihat pipinya yang masih bersemu merah tipis alami, sebuah reaksi biologis yang bahkan tidak bisa dihasilkan oleh kosmetik termahal sekalipun.
"Memukau..." gumam Lana, mencoba merasakan kembali getaran suara Ezra.
Ia merasa sangat beruntung, sekaligus sedikit takut. Perhatian yang ia dapatkan malam ini begitu melimpah. Ia menyadari bahwa perubahannya bukan hanya tentang bagaimana ia memandang dirinya sendiri di cermin, tapi tentang bagaimana ia mulai menempati posisi yang berbeda di mata para pria ini. Ia bukan lagi sekadar gadis desa yang butuh dikasihani; ia mulai dipandang sebagai seorang wanita yang memiliki daya tarik tersendiri.
Lana mengganti pakaiannya dengan baju tidur sutra yang lembut. Saat ia berbaring di tempat tidurnya yang empuk, ia menatap langit-langit kamar yang tinggi. Ia merasa seperti sedang berada di tengah-tengah sebuah simfoni yang indah, di mana setiap pria di penthouse ini memainkan alat musiknya masing-masing untuk menciptakan lagu tentang dirinya.
Bisikan Ezra di telinganya menjadi penutup yang sempurna untuk harinya yang luar biasa. Itu adalah pengingat bahwa ia berharga, bahwa ia indah, dan bahwa ia memiliki standar baru yang harus ia jaga. Dengan perasaan yang dipenuhi oleh kehangatan dan rasa syukur, Lana akhirnya menutup matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam mimpi di mana ia tidak lagi berjalan di koridor kampus dengan ketakutan, melainkan dengan keanggunan seorang wanita yang tahu bahwa ia memukau.
Pagi esok mungkin akan membawa tantangan baru, tapi dengan bisikan Ezra yang tersimpan rapi di ingatannya, Lana merasa ia bisa menghadapi apa pun—bahkan badai sekalipun. Karena sekarang ia tahu, di mata orang yang paling perfeksionis di Jakarta, ia sudah dianggap sempurna.