NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:765
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — Buku dari Loteng

Hujan turun sejak sore, menyisakan aroma tanah basah yang merayap masuk ke dalam rumah tua milik nenek Raka.

Rumah itu kini sunyi, terlalu sunyi, sejak kepergian pemiliknya seminggu lalu.

Tidak ada lagi suara radio tua di ruang tengah, tidak ada langkah pelan di dapur saat pagi. Hanya jam dinding yang berdetak, seolah menghitung waktu yang terasa lebih lambat dari biasanya.

Raka berdiri di depan tangga menuju loteng.

Sejak kecil, tempat itu selalu dilarang untuk dimasuki. Neneknya pernah berkata dengan nada serius, “Tidak semua yang disimpan di atas sana ingin ditemukan.”

Namun larangan itu justru menumbuhkan rasa penasaran.

Dengan langkah ragu, Raka menaiki tangga kayu yang berderit pelan. Pintu loteng terbuka dengan sedikit dorongan, memperlihatkan ruangan berdebu dengan cahaya redup dari satu jendela kecil. Bau lembap langsung menyergap hidungnya.

Ia mulai membuka satu per satu kotak lama—pakaian usang, foto hitam putih, hingga buku-buku dengan sampul pudar. Sampai akhirnya, tangannya berhenti pada sebuah buku yang berbeda.

Sampulnya gelap, nyaris hitam, dengan tulisan yang tampak seperti tergores:

“10 Cara Melihat Hantu”

Raka mengernyit. “Serius?” gumamnya, setengah tertawa.

Namun saat jemarinya menyentuh permukaan buku itu, ada sensasi dingin yang menjalar. Bukan dingin biasa—lebih seperti… sesuatu yang hidup.

Ia membuka halaman pertama.

Kertasnya menguning, tetapi tulisannya masih jelas. Di bagian atas, terdapat catatan kecil dengan tinta merah:

Jangan lakukan semua cara. Berhenti sebelum mereka menyadari kehadiranmu.

Jantung Raka berdegup sedikit lebih cepat.

“Cuma cerita horor lama,” katanya mencoba menenangkan diri.

Ia membalik halaman berikutnya.

Cara pertama: Menatap cermin pada pukul 12 malam dalam keadaan gelap total. Jangan berkedip terlalu lama. Jangan menoleh, apa pun yang terjadi.

Raka menutup buku itu cepat-cepat.

Suara petir menggelegar, membuat jendela loteng bergetar. Angin tiba-tiba masuk, meski jendela tidak terbuka. Kertas-kertas di sekitarnya beterbangan pelan.

Dan di antara suara hujan, Raka seperti mendengar sesuatu.

Seseorang… berbisik.

Sangat pelan.

Seolah berasal dari belakangnya.

“Sudah… kau temukan…”

Raka menegang. Ia menoleh cepat.

Tidak ada siapa pun.

Hanya bayangan dirinya sendiri di lantai kayu yang berdebu.

Namun saat ia melihat kembali buku di tangannya, satu hal berubah.

Buku itu kini… terbuka sendiri.

Dan halaman yang terbuka bukan lagi halaman pertama.

Langkah Raka terdengar pelan saat ia menuruni tangga loteng. Buku itu masih berada di tangannya, terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah menyimpan sesuatu yang tak kasatmata.

Hujan di luar belum reda. Malam semakin pekat, dan rumah tua itu terasa… berbeda.

Ia mencoba mengabaikan perasaan itu.

“Cuma buku aneh,” gumamnya, meski suaranya terdengar tidak meyakinkan.

Raka masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat. Ia meletakkan buku itu di atas meja, tetapi matanya terus tertarik kembali ke halaman yang terbuka.

Cara pertama: Menatap cermin pada pukul 12 malam dalam keadaan gelap total. Jangan berkedip terlalu lama. Jangan menoleh, apa pun yang terjadi.

Jam dinding menunjukkan pukul 11:47.

Masih ada waktu untuk berhenti.

Namun, rasa penasaran mulai mengambil alih.

“Kalau cuma lihat cermin… apa yang bisa terjadi?” bisiknya pelan.

Tanpa sadar, Raka sudah berdiri di depan meja, mengambil cermin kecil dari laci. Tangannya sedikit gemetar, tetapi ia tetap menunggu. Detik demi detik berlalu, terasa lambat dan menekan.

11:59.

Napasnya mulai tidak teratur.

12:00.

Lampu kamar dimatikan.

Kegelapan langsung menyelimuti ruangan.

Hanya kilat dari luar jendela yang sesekali menyinari wajah Raka di dalam cermin. Ia menatap pantulannya sendiri—mata yang mulai lelah, wajah yang pucat.

Satu menit berlalu.

Tidak ada apa-apa.

Dua menit.

Masih sama.

Raka hampir tertawa kecil. “Tuh kan, cuma—”

Tiba-tiba, pantulannya… terlambat bergerak.

Ia mengangkat tangan kanan.

Pantulan di cermin mengikutinya—namun sepersekian detik lebih lambat.

Raka membeku.

Jantungnya berdetak semakin keras.

Ia mencoba berkedip.

Pantulannya tidak langsung berkedip.

“Ini… nggak mungkin…” bisiknya.

Lalu, sesuatu muncul di belakang pantulannya.

Sosok gelap.

Berdiri tepat di belakang Raka.

Rambut panjang menutupi wajahnya, tubuhnya diam tanpa suara. Air menetes dari ujung rambutnya, membasahi lantai—namun tidak ada suara tetesan yang terdengar.

Raka menahan napas.

Ia ingat aturan itu.

Jangan menoleh.

Tangannya mulai gemetar hebat.

Sosok di cermin itu perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya masih tertutup rambut, tetapi kini… semakin dekat.

Terlalu dekat.

Hampir menyentuh bahu Raka.

“Jangan…” bisik suara serak dari cermin.

Raka memejamkan mata sejenak.

Dan itu kesalahan.

Saat ia membuka mata kembali—

Pantulannya tersenyum.

Padahal ia tidak.

Lampu kamar tiba-tiba menyala sendiri.

Raka langsung menjatuhkan cermin itu ke lantai. Pecahannya berserakan, memantulkan bayangan kecil yang terdistorsi.

Ia menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa pun.

Namun dari arah meja…

Buku itu kembali terbuka.

Halamannya bergerak sendiri, berhenti pada tulisan berikutnya:

Cara kedua: Memanggil nama mereka tiga kali di tempat sunyi. Pastikan kamu sendiri… atau kamu tidak akan tahu siapa yang menjawab.

Raka mundur perlahan.

Untuk pertama kalinya, rasa penasarannya berubah menjadi ketakutan.

Dan sesuatu di dalam dirinya mulai sadar—

Ia mungkin sudah… memulai sesuatu yang tidak bisa dihentikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!