"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Buat nyenengin Adea ><
Malam minggu.
Lampu-lampu warna-warni menerangi pelataran pasar malam yang terletak di lapangan terbuka dekat pantai. Suara musik dangdut bersaing dengan teriakan pedagang dan tawa anak-anak yang berlarian. Aroma bakaran sate, jagung manis, dan kembang gula bercampur jadi satu, menciptakan bau khas yang hanya ada di malam-malam seperti ini.
Angga mengajak Adea bermain ke pasar malam.
"Serius? Lu ngajak gue ke pasar malam?" Adea melompat-lompat di ruang tamu saat Angga menyampaikan rencana itu sore tadi.
"Iya. Lu gak mau?"
"MAU BANGET!"
Dan sekarang mereka sudah di sana.
Angga mengenakan jaket kulit hitam kesayangannya meski malam Lombok tidak sedingin itu, jaket itu sudah seperti identitas. Adea memakai sweater oversized berwarna krem dengan gambar beruang di dadanya, rambutnya diikat dua kepang lucu.
Cumi ditinggal di rumah. Kucing itu diberi jatah makan malam ekstra sebagai kompensasi.
"Jagain rumah ya, Cum," pesan Adea sebelum pergi, mengecup kepala Cumi yang hanya diam dengan mata setengah malas.
---
"DEA! MASUK SINI!"
Angga berdiri di depan pintu masuk Rumah Hantu, sebuah bangunan seng berwarna hitam dengan gambar tengkorak dan tulisan "Horror! Berani Masuk?" di atasnya.
Adea berlari kecil menghampiri.
"Rumah hantu? Serius? Lu gak takut?"
"Gua yang takut atau lu?" balas Angga sambil tersenyum miring.
"Gue gak takut!"
"Buktikan."
Angga membayar dua tiket. Pintu kayu bergerak terbuka dengan bunyi berderit dramatis. Gelap. Angin dingin buatan menyembur ke wajah mereka.
Adea masuk lebih dulu. Angga mengikuti dari belakang.
---
Dua menit kemudian.
"ASTAGAAAA~~ TUHAAANNN!!!"
Adea berteriak sekencang-kencangnya ketika sesosok hantu berpakaian putih tiba-tiba melompat dari balik pintu, wajahnya hijau menyala di bawah lampu ultraviolet.
Tapi sedetik kemudian, ia tertawa.
"HAHAHAHA LIAT TUH MUKANYA LUCU BANGET!"
Hantu itu kebingungan. Biasanya orang teriak lalu lari. Gadis ini teriak lalu tertawa.
Adea mengeluarkan ponsel dari saku sweater-nya.
"Mbak, mbak! Selfie dulu!"
Hantu perempuan di depannya terdiam sejenak, lalu mengangkat topengnya sedikit untuk memastikan dia mendengar dengan benar.
"Selfie?" suara hantu itu pelan, bingung.
"Iya! Cepetan, nanti hantunya ilang!"
Hantu itu akhirnya mengangkat bahu, merangkul Adea yang badannya hanya sampai bahu si hantu, dan berpose dengan lidah menjulur.
Klik.
"MAKASIH MBAK KEREN BANGET!" seru Adea sambil melambaikan ponselnya.
Hantu itu tersenyum di balik topengnya. Ini mungkin kali pertama ia dipuji habis-habisan setelah berusaha menakuti orang.
Angga yang berdiri di belakang hanya menggeleng. Tangannya di saku jaket, senyum kecil tidak bisa disembunyikan.
Sepanjang perjalanan di dalam rumah hantu, Adea bertemu dengan setidaknya tujuh hantu. Setiap bertemu, ia berteriak kaget, lalu tertawa, lalu meminta selfie.
Dan setiap kali kaget, ia memeluk Angga.
Bukan peluk takut. Tapi peluk kaget, tiba-tiba, reflek, lalu dilepaskan sambil tertawa.
"Lu kayak koala," komentar Angga setelah Adea memeluknya untuk ketiga kalinya.
"Gue kaget tau!"
"Ya elu yang minta masuk rumah hantu."
"TAPI GUE TETEP KAGET, BANGKE!"
Angga tertawa kecil. Adea jarang melihatnya tertawa seperti ini. Lepas, tanpa beban. Matanya menyipit, garis di pipinya muncul, dan untuk sesaat, ia terlihat seperti anak laki-laki biasa, bukan pria dewasa yang selalu memikul tanggung jawab.
Ganteng juga kalau ketawa, pikir Adea.
Tapi ia tidak mengatakannya.
---
Keluar dari rumah hantu.
Adea masih tertawa-tawa sendiri membayangkan ekspresi hantu terakhir yang wajahnya penuh lendir palsu.
"Itu mah bukan lendir, itu lem," ucap Angga.
"TETAP AJA LUCU!"
Mereka berjalan menyusuri deretan gerobak. Lampu-lampu pasar malam berkedip-kedip. Aroma khas kembang gula mulai menyengat.
"BELI KAPAS!" teriak Adea sambil menarik tangan Angga menuju gerobak penjual kapas berwarna merah muda.
Angga membelikan dua gulung kapas, satu merah muda untuk Adea, satu biru untuk dirinya. Adea melahap kapasnya seperti anak kecil, dagu dan pipinya ikut terkena serat-serat manis.
"Muka lu belepotan," ucap Angga sambil mengambil tisu dari saku.
Ia mengusap sudut bibir Adea dengan gerakan kasar namun hati-hati. Adea diam. Matanya menatap Angga yang sedang fokus membersihkan wajahnya.
"Done." Angga membuang tisu. "Jangan makan kayak babi."
"Babi juga lucu," balas Adea.
Mereka melanjutkan perjalanan.
---
Minum soda. Adea pesan soda gembira. Soda merah dengan bola-bola jelly dan es krim vanila di atasnya. Angga pesan teh botol biasa.
"Lu gak pernah cobain yang manis-manis," protes Adea.
"Gua gak suka manis."
"Cobain dulu!"
Adea menyodorkan sedimenya ke depan mulut Angga. Pria itu menatap sedotan itu, lalu menatap Adea.
"Itu sedotan udah lu pake."
"Terus? Udah gue cuci kok."
"Pake deterjen?"
"Ya iyalah pake air! Cepetan!"
Angga menghela napas. Ia menunduk, menyedot sedikit soda gembira dari sedotan yang baru saja dipakai Adea.
"Manis banget," komentarnya.
"Kan enak," Adea tersenyum puas, lalu melanjutkan minum dari sedotan yang sama seolah tidak terjadi apa-apa.
Angga menatapnya.
Dia gak sadar atau pura-pura gak sadar?
Ia memilih tidak bertanya.
---
Main lempar bola.
Angga membeli sepuluh koin untuk melempar botol susu. Tujuannya satu: menang boneka besar untuk Adea.
"Lu yakin bisa?" Adea berdiri di sampingnya, memegang sisa kapas yang belum habis.
"Tonton aja."
Bola pertama: meleset.
Bola kedua: kena satu botol, tapi tidak jatuh.
Bola ketiga: tiga botol jatuh sekaligus.
Bola keempat sampai kesembilan: konsisten.
Bola kesepuluh: Angga mengambil napas, mengatur posisi, lalu melempar dengan gerakan mulus. Tumpukan botol paling belakang runtuh sempurna.
"DUA PULUH BOTOL! YANG PUNYA USAHA TUMBANG!" teriak penjaga stan.
Adea bertepuk tangan sambil melompat-lompat.
"BONEKA BESAR! BONEKA BESAR!"
Angga memilih boneka beruang coklat seukuran tubuh Adea. Gadis itu langsung memeluknya erat-erat.
"Ini adiknya panda!" seru Adea bahagia.
"Itu beruang."
"Beruang adiknya panda. Sama-sama keluarga beruang."
Angga tidak membantah lagi.
---
Mereka mampir ke stan capit boneka. Adea ngotot mau mencoba sendiri.
"Lu gak bakal dapet, capit itu nipu," peringatkan Angga.
"Tunggu aja!"
Adea memasukkan koin pertama. Tangannya yang kecil menggerakkan tuas capit dengan hati-hati. Target: boneka kelinci putih kecil di pojok.
Capit turun. Mengangkat. Dan... boneka kelinci itu jatuh tepat ke lubang keluaran.
"HAH? GUE DAPET?" Adea tidak percaya.
"Cuma keberuntungan," ucap Angga.
Koin kedua. Adea mencoba lagi. Target: boneka kucing oren. Capit bergerak, menjepit ekor boneka itu, dan berhasil mengangkatnya ke lubang keluaran.
"DUA KALI! DUA KALI GUE DAPET!" Adea hampir menangis bahagia.
Penjaga stan hanya bisa tersenyum kecut. Biasanya stan ini sulit dimenangkan.
Adea keluar dengan dua boneka. Kslinci putih dan kucing oren. Ditambah boneka beruang besar dari Angga.
Tiga boneka. Dua tangan. Ia kesulitan membawa semuanya.
"Sini." Angga mengambil boneka beruang besar itu dan menjinjingnya dengan satu tangan, seolah membawa karung beras.
"Boneka itu bukan buat elu, kenapa lu yang bawa?"
"Biar lu bisa pegang dua boneka kecil."
"Tapi-"
"Udah. Jalan."
Adea menurut. Berjalan di samping Angga dengan kelinci di tangan kiri, kucing di tangan kanan, dan senyum lebar yang tidak bisa dihapus dari wajahnya.
---
Pasar malam mulai sepi.
Mereka duduk di bangku panjang dekat area bermain anak-anak. Adea meletakkan boneka-boneka di sampingnya. Angga duduk di sebelah, sedikit memberi jarak.
"Angga."
"Hmm?"
"Ini seru banget. Makasih ya."
"Biasa aja."
"Gak biasa buat gue." Adea menatap langit malam yang gelap. Sedikit bintang terlihat di antara awan tipis. "Gue gak pernah diajak ke pasar malam sama siapa pun. Dulu gue cuma bisa liat dari rumah. Atau lewat."
Angga tidak menjawab. Ia tahu. Bibi Era memang merawat Adea dengan baik, tapi tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini.
"Jadi..." Adea menoleh, matanya berbinar di bawah lampu pasar malam. "Ini salah satu alasan lu semangat cari uang di sela kuliah?"
Angga tersenyum kecil.
"Bukan."
"Terus apa?"
Angga menatapnya. Lurus. Dalam.
"Buat menyenangkan lu."
Adea terdiam.
Detak jantungnya berubah menjadi tidak beraturan.
"Jago banget sih lu hari ini," ucap Adea akhirnya, memilih untuk berpura-pura tidak mendengar dengan benar. "Ngerayu pake acara ginian."
"Gua gak ngerayu."
"Iya-iya. Gue tau. Elu gak pernah ngerayu." Adea berdiri. "Udah yuk, pulang. Cumi nunggu."
Angga berdiri, mengambil boneka beruang besar itu lagi.
Mereka berjalan berdua menuju parkiran motor, melewati lampu-lampu yang mulai satu per satu dimatikan.
Adea di depan, melompat-lompat kecil dengan kelinci dan kucing di tangannya.
Angga di belakang, tersenyum pada dirinya sendiri.
Buat menyenangkan lu.
Ia tidak berbohong.
(Jangan tanya cara pulangnya gimana, boneka gede, boneka kecil.... Author gk mau bingung~)
---
Bersambung...