Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Tamu Tak Diundang Di Ruang Rapat
Pagi itu, gedung Winata Tower tampak lebih tegang dari biasanya. Di lantai paling atas, tepatnya di ruang rapat utama yang dindingnya terbuat dari kaca transparan menghadap langsung ke jantung Jakarta, Surya Winata duduk dengan wajah kuyu. Di sampingnya, Siska terus-menerus mengecek ponsel, tampak gelisah menunggu kabar dari bank yang tak kunjung memberikan kepastian.
"Pa, kenapa perwakilan PT Cakrawala belum datang juga?" bisik Siska dengan nada panik. "Mereka bilang sudah beli piutang dari Pak Johan. Artinya mereka sekarang punya sepuluh persen saham aku. Kita butuh mereka buat setuju soal suntikan modal baru, atau proyek pelabuhan itu bakal disita vendor!"
Surya cuma menghela napas berat, matanya memerah karena kurang tidur. "Sabar, Siska. Perusahaan itu misterius. Tapi setidaknya mereka mau membantu kita di saat Bank Capital Asia menutup keran kredit secara mendadak."
Tepat pukul sepuluh pagi, pintu kayu ek yang berat itu terbuka. Sekretaris masuk dengan wajah pucat, diikuti oleh seorang pria muda dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat pas di badan. Rambutnya tertata rapi, dan langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai marmer, menciptakan gema yang memenuhi ruangan yang sunyi itu.
Siska dan Surya serentak berdiri untuk menyambut "penyelamat" mereka. Namun, begitu pria itu melepas kacamata hitamnya, ruangan itu mendadak sunyi senyap seolah oksigen di sana baru saja disedot habis. Siska hampir saja menjatuhkan ponselnya, sementara Surya memegang pinggiran meja dengan sangat kencang sampai buku jarinya memutih.
"Arga?" suara Siska keluar dalam bisikan yang bergetar hebat. "Kenapa kamu ada di sini? Security! Kenapa gelandangan ini bisa masuk ke ruang rapat?!"
Arga tidak marah. Dia malah tersenyum tipis, jenis senyum tenang yang belum pernah mereka lihat selama tiga tahun Arga menjadi menantu yang tertindas di sana. Dia menarik kursi di ujung meja, kursi yang biasanya diduduki oleh pemegang saham utama, dan duduk dengan santai.
"Security yang kamu maksud tadi sedang sibuk menerima instruksi dari atasan baru mereka," ucap Arga pelan. Suaranya terdengar sangat manusiawi, tidak ada teriakan, tapi penuh penekanan yang dingin. "Dan Siska, tolong jaga bicaramu. Kamu sedang bicara dengan pemilik sepuluh persen saham Winata Group yang baru saja kamu gadaikan ke rentenir kemarin sore karena kebodohanmu sendiri."
Surya Winata menggebrak meja, wajahnya memerah padam. "Nggak mungkin! PT Cakrawala itu perusahaan besar yang punya koneksi internasional! Kamu cuma menantu miskin yang baru saya tendang keluar! Dari mana kamu punya uang buat beli saham itu?! Kamu pasti mencuri data perusahaan!"
Arga membuka map kulit hitam yang dia bawa. Dia melempar beberapa dokumen legal ke tengah meja. "Pak Surya, dunia ini lebih luas dari sekadar gedung kaca ini. Kakek saya, Pak Broto, punya banyak teman lama yang ternyata jauh lebih setia daripada keluarga Anda. Mereka tidak suka melihat cucu dari orang yang pernah menolong mereka diperlakukan seperti sampah di trotoar Sudirman."
Siska gemetar. Dia teringat bagaimana dia menghina Arga tempo hari, menyebutnya tidak akan bisa makan tanpa belas kasihan keluarga Winata. Sekarang, pria yang dia buang itu duduk di hadapannya sebagai pemegang nasib perusahaannya.
"Arga, kamu... kamu menjebak aku? Kamu tahu aku bakal ke Pak Johan?" tanya Siska dengan mata berkaca-kaca, mencoba menggunakan taktik air mata yang biasanya mempan pada Arga.
"Saya nggak menjebak kamu, Siska. Kamu sendiri yang lari ke lubang buaya karena kamu terlalu sombong untuk minta maaf," jawab Arga tanpa rasa benci, hanya ada rasa hambar. "Saya di sini bukan untuk reuni keluarga yang gagal. Saya di sini untuk bicara bisnis. Proyek pelabuhan itu sekarang macet total karena vendor Jerman menolak kirim barang kalau belum ada pelunasan. Dan karena saya yang menyusun kontrak aslinya, mereka cuma mau bicara dengan saya."
Arga menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah mantan mertuanya. "Pilihannya cuma dua: kalian serahkan sisa tiga puluh persen saham perusahaan sebagai jaminan utang ke PT Cakrawala, atau gedung ini bakal disita bank minggu depan. Dan saya yakin, Pak Surya nggak mau menghabiskan masa tua di penjara karena kasus gagal bayar, kan?"
Surya Winata terduduk lemas. Dia tahu dia kalah telak. Arga sudah memutus semua jalan keluar mereka bahkan sebelum mereka sadar ada masalah.
Di tengah ketegangan itu, ponsel Arga di atas meja bergetar. Ada panggilan masuk dengan kode area luar negeri. Arga melihat layarnya, dan seketika ekspresi dinginnya mencair sesaat. Dia memberikan isyarat agar mereka diam, sebuah perintah bisu yang sekarang harus mereka patuhi.
"Halo, El?" ucap Arga, suaranya mendadak sangat lembut, menciptakan kontras yang menyakitkan bagi Siska yang mendengarnya.
"Ga! Kamu lagi sibuk ya? Maaf ya ganggu, aku cuma mau kasih tahu kalau di Praha saljunya makin tebal. Aku baru saja beli cokelat hangat dan rasanya kangen banget sama kamu. Kapan kamu ke sini?" suara Elina terdengar ceria, membawa angin segar dari belahan dunia lain ke dalam ruangan yang penuh kebencian itu.
Siska yang mendengar suara perempuan lain di telepon Arga merasa hatinya seperti ditusuk. Dia dulu yakin Arga tidak akan punya siapa-siapa tanpanya. Ternyata, Arga punya seseorang yang begitu tulus mencintainya di tempat yang jauh, di saat Siska sendiri sedang hancur.
"Iya, El. Aku lagi rapat sebentar, urusan bisnis kecil. Nanti aku telepon balik ya. Jaga kesehatan di sana," kata Arga sambil tersenyum tipis.
Arga mematikan telepon dan kembali menatap Siska dan Surya. Wajahnya kembali menjadi batu. "Maaf, itu tadi urusan yang jauh lebih penting dari rapat ini. Jadi, bagaimana? Mau tanda tangan surat penyerahan saham ini sekarang, atau mau saya biarkan kalian bangkrut perlahan?"
Siska menangis sesenggukan. "Arga, tolong... jangan sejahat ini. Kita bisa mulai lagi kan? Aku bisa minta maaf sama kamu. Kita batalkan perceraiannya, aku janji bakal berubah..."
Arga berdiri, merapikan jasnya yang mahal. "Siska, ada jarak yang nggak bisa ditembus cuma dengan kata maaf. Jarak itu namanya martabat. Kamu sudah hancurkan itu tiga tahun lalu, dan sekarang saya cuma mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milik saya."
Dia berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Oh ya, Pak Surya. Saya beri waktu sampai jam lima sore. Kalau dokumennya belum ada di meja asisten saya, besok pagi Winata Group resmi jadi sejarah. Dan satu lagi, jangan coba-coba menghubungi Elina. Kalau seujung rambutnya tersentuh oleh orang suruhan kalian, saya pastikan kalian nggak akan punya tempat untuk sembunyi di kota ini."
Arga melangkah keluar dengan perasaan yang campur aduk. Dia menang, tapi dia tahu ini baru babak awal. Masih ada jarak ribuan kilometer antara dia dan Elina, dan masih ada rahasia kakeknya yang harus dia pecahkan.
Dia turun ke lobi, melewati para security yang kini membungkuk hormat padanya. Begitu sampai di depan gedung, Arga menatap langit Jakarta yang mendung. Dia merogoh koin perak di sakunya.
"Kek, satu tahap selesai. Tapi kenapa rasanya makin berat?" bisiknya pada angin.
Arga masuk ke dalam mobil SUV hitamnya. Dia tidak langsung ke bandara. Dia harus memastikan transisi kekuasaan ini bersih sebelum dia bisa menyusul Elina. Karena dia tahu, musuh yang terluka seperti keluarga Winata bisa menjadi lebih berbahaya daripada saat mereka berkuasa.