Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Ranjani
Di keheningan ruang Direktur Rumah Sakit Medica ER, Liam terpaku pada tumpukan berkas pasien, hingga dering ponsel memecah konsentrasinya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis saat nama 'Zoe si Lugu' berkedip di layar. Namun, kehangatan itu menguap seketika saat suara di seberang sana memotong sapaannya dengan ketegasan yang mendinginkan atmosfer.
"Satu menit. Datang ke lobi sekarang juga," perintah Zoe singkat, lalu memutus sambungan tanpa kompromi. Ada nada otoritas yang asing bagi Liam, sebuah frekuensi suara yang tak pernah ia dengar dari gadis itu sebelumnya. Tanpa membuang waktu, Liam menyambar jas putihnya dan berlari, membelah koridor rumah sakit dengan jantung yang berdegup tak tentu arah.
Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk lobi, Dokter Bastian masih berdiri dengan angkuh, menatap Zoe dengan tatapan merendahkan seolah gadis di hadapannya hanyalah kerikil pengganggu. "Kau pikir kau siapa, berani menghentikan prosedur di tempatku? Jika ingin bermain drama, silakan angkat kaki. Atau kau punya cukup uang untuk membayar biaya operasi ibu temanmu ini secara tunai?" ejek Bastian dengan nada sinis yang menyakitkan telinga.
Zoe melangkah maju, sorot matanya yang biasanya tenang kini berkilat tajam. "Kau akan segera tahu siapa aku, Dokter...." Zoe melirik nama yang tercantum di jas dokternya."... Bastian. Dan saat kesadaran itu menghantammu, aku hanya berharap kau sudah menyiapkan surat pengunduran diri karena penyesalanmu tidak akan cukup untuk menyelamatkan kariermu," bisik Zoe, tenang namun penuh penekanan yang mematikan.
Nindi, yang berdiri gemetar di sampingnya, tiba-tiba menepis tangan Zoe saat gadis itu mencoba menyentuh bahunya. "Untuk apa kamu di sini?! Kita sudah tidak punya hubungan apa pun! Orang yang dulu kupanggil sahabat, justru yang dengan tega menghancurkan hidupku!" teriak Nindi dengan mata yang memerah karena amarah dan duka.
Zoe terdiam, memejamkan mata sejenak saat belati kata-kata Nindi menghujam nuraninya. Bayangan masa lalu saat ia bertekuk lutut pada rasa takut terhadap saudara tirinya melintas cepat. Namun, saat ia membuka mata, keraguan itu telah sirna. "Kita bicara nanti, Nindi. Caci maki aku sepuasmu, tapi biarkan aku menyelamatkan ibumu lebih dulu," sahut Zoe lirih, tepat saat langkah terburu-buru Liam terdengar mendekat.
Bastian, yang semula bersiap melontarkan hinaan baru, mendadak membeku. Tubuhnya secara refleks membungkuk hormat dengan wajah yang memucat seketika saat melihat sosok yang sangat ia segani muncul dengan napas tersengal. "Di-Direktur Liam? Ada apa Anda sampai turun ke sini?" tanya Bastian terbata-bata, sementara Liam sama sekali tidak menoleh padanya, melainkan langsung berdiri tegak di samping Zoe dengan sikap patuh.
Belum sempat Bastian menyelesaikan kalimatnya, tatapan Liam langsung terkunci pada Zoe. "Ada apa, Zoe? Kenapa kau meneleponku? Apa ada masalah serius?" tanya Liam, matanya mencari jawaban di wajah Zoe.
Zoe bersedekap, dagunya terangkat menantang. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, Liam. Bagaimana standar perekrutan di rumah sakit ini? Bagaimana bisa tempat yang seharusnya menjadi benteng terakhir kemanusiaan justru mempekerjakan seorang dokter yang lebih memuja lembaran uang daripada nyawa pasien yang sedang sekarat?"
Liam tersentak. Ketegasan dalam suara Zoe terasa asing sekaligus mengagumkan. Ia menyipitkan mata, menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi Zoe yang rapuh. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," tuntut Liam serius.
"Ada pasien darurat yang butuh operasi segera. Namun dokter ini—" Zoe melirik sinis ke arah pria itu, "—Dokter Bastian, menolak melakukan tindakan apa pun sebelum administrasi dilunasi. Katakan padaku, sejak kapan rumah sakit ini berubah menjadi pasar? Pecat dia sekarang juga."
Bastian yang merasa harga dirinya diinjak oleh wanita yang ia anggap orang asing, maju selangkah dengan wajah merah padam. "Kau pikir kau siapa, hah?! Berani-beraninya kau mendikte cara kerjaku dan menyuruh Direktur memecatku!" bentaknya kasar.
Bugh!
Sebuah pukulan telak mendarat di wajah Bastian hingga pria itu tersungkur. Liam berdiri dengan kepalan tangan yang mengeras dan juga kaget. "Kau tanya siapa dia? Dia adalah putri tunggal dari pemilik rumah sakit ini. Dan jika dia bilang kau dipecat, maka detik ini juga kau bukan lagi bagian dari Medica ER!"
Dunia seolah runtuh bagi Bastian. Matanya melotot, keringat dingin membanjiri dahinya. "T-tidak mungkin... Dia..."
Belum sempat drama itu berlanjut, seorang suster berlari terengah-engah dari arah bangsal. "Dokter! Pasien di kamar Kamboja nomor tiga mengalami kejang hebat! Kondisinya kritis!"
Nindi, yang sedari tadi mematung, mendadak tersentak. "Ibu!" teriaknya histeris. Ia langsung berlari sekencang mungkin menuju kamar tersebut, disusul oleh Zoe dan Liam yang raut wajahnya kini berubah penuh kepanikan.
Sementara itu, Bastian hanya terduduk di lantai yang dingin, menyadari bahwa kesombongannya baru saja menghancurkan seluruh kariernya.
•
•
Di dalam Kamar Kamboja Nomor 3...
Pemandangan memilukan tersaji. Ranjani, ibu Nindi, tengah berjuang melawan maut. Tubuhnya berguncang hebat di atas ranjang akibat kejang yang tak terkendali. Nindi bersimpuh di samping ranjang, tangisnya pecah memenuhi ruangan.
"Ibu! Bertahanlah, Bu! Jangan tinggalkan Nindi!" teriaknya histeris.
Liam segera mengambil kendali. Wajahnya mengeras, mencoba tetap profesional di tengah kemelut. "Cepat, berikan data medis pasien sekarang juga!" titahnya pada suster.
"Dokter Bastian yang menangani pasien ini sejak awal, Direktur! Saya akan ambilkan berkasnya segera!" sahut suster itu sambil berlari keluar.
Zoe berdiri di sudut ruangan, jemarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dalam dadanya. Tak lama kemudian, suster kembali membawa rekam medis atas nama Ranjani. Liam menyambarnya dan dengan cepat memindai setiap baris catatan medis tersebut.
Tangan Liam terhenti saat memeriksa bagian perut pasien yang mulai membiru dan membengkak. Wajahnya berubah kelabu. "Terjadi pendarahan hebat pada organ dalam... pembengkakannya sudah sangat parah," bisik Liam, suaranya berat karena keputusasaan. "Meskipun kita melakukan operasi sekarang... sepertinya semua sudah terlambat. Kondisinya sudah terlalu jauh untuk ditangani secara medis."
Tangis Nindi semakin menjadi-jadi, sebuah jeritan pilu yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Di sisi lain, Zoe perlahan memejamkan mata. Ia bisa merasakan denyut aneh di telapak tangannya—sebuah getaran yang hanya ia yang tahu.
"Kekuatan ini..." batin Zoe bertanya dalam diam. Matanya menatap telapak tangannya sendiri yang mulai berpendar tipis. "Apakah kekuatan ini juga mampu menyelamatkan nyawa manusia?"
Zoe membuka matanya. Sorotnya tajam dan dingin. "Keluar."
Semua orang di ruangan itu menoleh terperangah.
"Aku yang akan menyelamatkan nyawanya," tegas Zoe tanpa ragu sedikit pun.
"Apa yang kau katakan, Zoe?! Kau bukan dokter, kau tidak punya izin untuk menyentuh pasien!" seru Liam mencoba menghentikannya.
Zoe menatap Liam dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Jangan sampai aku harus memerintahmu untuk kedua kalinya, Dokter Liam. Keluar dari sini."
Liam terpaku. Zoe yang berdiri di depannya bukan lagi Zoe yang lembut yang ia kenal dulu. Ada otoritas absolut yang tak terbantahkan dalam suaranya. Sebelum Liam sempat membalas, Zoe sudah menariknya dan suster keluar, lalu mengunci pintu dengan bunyi klik yang final.
Nindi gemetar hebat di sudut ranjang. "Zoe! Apa yang akan kau lakukan?! Jangan bermain-main dengan nyawa ibuku!"
Zoe berjalan mendekati ranjang, mengangkat tangannya yang mulai memancarkan aura aneh tepat di atas tubuh Ibu Ranjani. "Aku tidak bermain-main, Nindi. Aku sedang mengambil kembali apa yang seharusnya tidak diambil hari ini."
Zoe memejamkan matanya, menarik napas dalam seolah memanggil sesuatu dari kedalaman jiwanya. Detik berikutnya, sebuah cahaya perak yang dingin namun murni mengepul dari telapak tangannya, menerangi ruangan yang temaram itu.
Nindi mundur beberapa langkah, melotot tak percaya. "Cahaya... apa itu? Zoe, kau... siapa kau sebenarnya?"
Zoe membuka matanya. Tidak ada lagi warna hitam di sana--- yang ada hanyalah sepasang cakrawala perak yang berkilat tajam. Tanpa ragu, ia mengarahkan telapak tangannya ke tubuh Ranjani yang semakin melemah.
Seketika, sisa-sisa es yang membeku di nadi Ranjani mencair. Ranjani yang tadinya kejang - kejang mulai tenang. Perutnya yang membiru seketika hilang di gantikan dengan kulit normal. Tubuhnya yang semula sedingin mayat perlahan-lahan mengeluarkan uap tipis, berubah menjadi hangat dan dialiri rona kehidupan kembali. Nindi hanya bisa terperangah, kehilangan kata-kata melihat mukjizat yang mengerikan sekaligus indah itu.
Di tempat yang jauh...
Steven mendadak tersungkur. Ia mengerang saat merasakan tulang-tulangnya seperti dihantam palu godam dari dalam. Urat-urat di lehernya menonjol, matanya berkilat liar menahan derita yang asing.
Suara Steven parau, terputus-putus. "Argh... apa... apa yang sebenarnya gadis itu lakukan?!"
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘