Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menculik wanita yang salah
BRAK!
Pintu mobil sedan hitam itu terbanting keras, memecah kesunyian malam. Sosok tinggi tegap seorang pria, berjas gelap yang tampak mahal, melangkah keluar.
Rambutnya yang sedikit basah karena hujan tampak rapi disisir ke belakang. Ia berjalan dengan langkah pasti menuju bagasi mobil, tangannya menyentuh gagang pintu dengan gerakan yang tenang namun penuh keyakinan.
Emh… emh… bugh! bugh!
Tubuh seorang wanita bergetar hebat. Tendangan-tendangan lemah mengenai dinding bagasi mobil, suara teredam yang mencoba menerobos kain yang membungkus mulutnya.
Gerakannya panik dan liar, menunjukkan keputusasaan yang terpendam. Bau anyir darah samar-samar tercium dari luka kecil di pergelangan tangannya yang terikat erat.
KRAK! Suara bagasi mobil terbuka, mengungkapkan pemandangan yang terlihat biasa bagi pria itu.
Di dalam bagasi yang gelap, terbaring seorang wanita. Tangan dan kakinya terikat erat dengan tali nilon yang tampak kuat.
Sebuah kain hitam tebal membungkus kepalanya, menutupi wajahnya sepenuhnya, hanya menyisakan sedikit rambut yang terlihat di bawahnya.
Suasana mencekam menyelimuti tempat itu, diselingi aroma hujan dan tanah basah yang menusuk hidung. Wanita ini merupakan targetnya.
Dengan gerakan cepat dan terampil, pria itu mengangkat tubuh wanita itu, seperti mengangkat karung beras yang berat.
Ia tak memperlihatkan rasa kasihan sedikit pun. Tubuh wanita itu memberontak, tangan dan kakinya menggeliat mencoba melepaskan ikatan, suara desahan dan erangan tertahan keluar dari balik kain penutup mulutnya.
Rambutnya yang terurai berantakan menambah kesan dramatis pada perjuangannya yang sia-sia.
Langkah kaki pria itu terdengar berat, menginjak tanah basah dan berlumpur di tengah hutan yang gelap. Rumah sederhana, di tengah hutan, tampak seperti noda gelap di tengah kegelapan hutan.
*
*
Maple Campbell, dua puluh lima tahun, merasakan jantungnya berdebar kencang. Kegelapan menyelimuti indranya, bau kayu lapuk dan debu memenuhi hidungnya.
Ia terbaring di lantai dingin, kain hitam yang membungkus kepalanya terasa menekan, menimbulkan rasa sesak dan panik.
Tangan dan kakinya masih terikat erat, membuatnya merasa benar-benar tak berdaya. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar di ruangan sempit dan pengap itu.
Emh… emh… emh…
Suara teredam keluar dari balik kain penutup mulutnya, suara yang penuh keputusasaan dan ketakutan.
Ia mencoba berbicara, mencoba memohon, mencoba mencari tahu siapa yang telah menculiknya dan apa tujuannya.
Namun, hanya keheningan yang menjawabnya. Kegelapan dan kesunyian menjadi saksi bisu atas kepanikan dan kesedihannya.
Ceklek…
Suara kunci pintu bergema di keheningan, menandakan kepergian penculiknya. Kegelapan semakin terasa mencekam. Maple meronta, mencoba melepaskan ikatannya, namun usaha itu sia-sia.
Harapannya sirna seiring dengan terkuncinya pintu, meninggalkannya sendirian dalam cengkeraman ketakutan yang tak terukur.
*
*
*
Pria itu, Rex, berjalan menuju dapur. Langkah kakinya berat, menunjukkan kelelahan yang teramat sangat.
Ia membuka kulkas, mencari sesuatu untuk menghilangkan dahaga yang menggigit tenggorokannya.
Bau dingin kulkas sedikit menyegarkannya, tapi tak cukup untuk menghilangkan rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya setelah berhasil menangkap wanita itu.
Ia meraih sebotol air mineral, meneguknya hingga habis dalam beberapa tegukan panjang dan dalam.
Drtttt… drtttt…
Getaran ponselnya memecah kesunyian. Rex meraih ponselnya dari saku celana jeansnya, jari-jarinya terkesan santai saat ia mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo,” suaranya berat, bariton yang dingin dan berwibawa, berbeda jauh dengan kelelahan yang ia rasakan.
“Rex… kau bilang sudah menangkap wanita itu?” suara di seberang terdengar tegas, menunjukkan nada yang sedikit tidak sabar.
“Apa maksudmu? Aku sudah katakan kalau wanita itu sudah aku tangkap dan sekarang dia bersamaku. Di mana sisa pembayarannya? Biar mereka bisa langsung mengambilnya,” Rex menjawab dengan nada sedikit geram, suara dinginnya menyimpan sebuah ancaman terselubung. Kelelahannya tak mengurangi ketegasannya dalam menuntut haknya.
“Kita sepertinya telah dibodohi oleh keluarga wanita itu, Rex. Wanita yang sekarang bersamamu bukanlah target yang diinginkan klien,” suara di seberang telepon terdengar datar, namun di baliknya tersimpan amarah yang terpendam.
“Apa? Bagaimana bisa? Kita sudah mengintainya selama seminggu! Bagaimana mungkin bukan wanita itu yang kutangkap?” Rex hampir berteriak, kepercayaan dirinya runtuh seketika. Ia merasa telah dipermainkan.
“Aku juga tak mengerti bagaimana kita bisa sampai tertipu. Sepertinya mereka mengetahui rencana ini dan sengaja membuat kita terkecoh. Saat ini klien kita sangat marah besar karena kita gagal. Wanita yang seharusnya kita tangkap sekarang sedang berada di pesta pertunangannya, dan kejadian itu bahkan disiarkan di beberapa media di Inggris,” nada suara di seberang telepon semakin dingin, menunjukkan betapa seriusnya situasi ini.
“Shit,” umpatan Rex keluar tanpa bisa dibendung. Ia merasakan hawa panas amarah dan frustasi membakar dadanya.
“Rex, kau harus pergi dari rumah itu sekarang juga. Klien kita akan membunuhkan kita karena kegagalan ini. Dan soal wanita yang kau tangkap… lebih baik kau menyingkirkannya. Hilangkan semua bukti,” perintah di seberang telepon terdengar tegas dan tanpa ampun, menunjukkan betapa kejamnya konsekuensi dari kesalahan mereka.
Rex membanting ponselnya ke meja dapur. Amarah membutakannya. Selama bertahun-tahun menjadi pembunuh bayaran, ia selalu berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna.
Tidak pernah sekalipun ia mengalami kegagalan seperti ini. Rasa frustrasi dan malu bercampur aduk dalam dirinya. Ia merasa telah dipermalukan, dipermainkan oleh keluarga targetnya.
*
BRAK!
Pintu ruangan tempat Maple berada terbuka dengan keras, menciptakan gema yang menggetarkan. Rex melangkah masuk, wajahnya memerah menahan amarah. Langkah kakinya berat, menunjukkan niatnya yang tak baik.
Maple, yang mendengar suara pintu terbuka dengan keras, mencoba memundurkan tubuhnya ke dinding. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, ketakutan yang amat sangat mencengkeram jantungnya.
Ia tak bisa melihat wajah pria yang menculiknya saat ini, namun ia bisa merasakan kehadirannya yang mengancam, langkah kaki yang semakin mendekat, menandakan bahaya yang semakin mengancam nyawanya.
Tanpa tahu apa yang akan di lakukan pria tersebut. Sebuah gengaman kuat menekan lehernya.
Jari-jari Rex mencekik leher Maple dengan kuat, menekan tenggorokannya hingga ia kesulitan bernapas. Mata Maple membulat, wajahnya memerah menahan sesak napas.
Ia mencoba memberontak, menggerakkan tangan dan kakinya yang terikat, namun cengkraman Rex terlalu kuat.
Ia merasakan hidupnya perlahan-lahan melayang. Bau anyir darah dari luka di tangannya kembali menusuk hidungnya, mencampur dengan aroma keringat dan napas Rex yang panas.
BRAK… BRAK… BRAK…
Suara keras pintu didobrak memecah ketegangan. Beberapa langkah kaki menyerbu masuk ke dalam rumah, langkah kaki mereka berat dan cepat. Rex menghentikan aksinya, menarik tangannya dari leher Maple.
Khuk… khuk… khuk…
Maple terbatuk hebat, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin. Kain penutup mulutnya masih membatasi pernapasannya, menambah rasa sesak yang luar biasa.
Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi wajahnya yang pucat pasi. Ia merasakan dirinya berada di ambang kematian, tak berdaya menghadapi situasi yang mengerikan ini.
Kegelapan menyelimuti pikirannya, ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Putus asa mencengkeram hatinya, menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih tersisa.