NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: TURUNNYA NIHILUM

Langit tidak meledak.

Tidak ada suara dentuman yang memekakkan telinga. Tidak ada api yang menyambar-nyambar. Tidak ada gempa bumi yang mengguncang fondasi Istana Celestia.

Namun justru keheningan itulah yang membuat kengerian itu terasa seratus kali lipat lebih mematikan.

Retakan raksasa di cakrawala itu merekah semakin lebar, bukan seperti benda material yang robek, melainkan seperti selembar kain realitas yang ditarik hingga tipis, lalu akhirnya… tembus.

Dan dari celah itu, sesuatu mulai turun.

Awalnya hanya berupa kabut hitam yang sangat pekat, lebih gelap daripada malam tergelap sekalipun. Kabut itu tidak melayang, tidak juga jatuh karena gravitasi. Ia merambat, merayap turun dari celah langit seolah memiliki kehendak sendiri, menutupi gradasi ungu dan biru yang indah dengan selimut ketiadaan yang menyesakkan.

“Lihat…” bisik seseorang, suaranya tercekat di tenggorokan.

Di tengah gumpalan kegelapan yang terus membesar itu, sebuah bentuk mulai terbentuk. Bukan wajah, bukan anggota tubuh yang jelas, melainkan sebuah massa yang padat namun cair, bergerak-gerak tak menentu seperti lautan tinta yang hidup.

Dan kemudian, sebuah tangan muncul.

Bukan tangan dalam arti sebenarnya, melainkan perpanjangan dari massa hitam itu yang memanjang ke bawah, membelah udara dengan gerakan lambat dan anggun namun penuh ancaman. Ujungnya runcing, namun terus berubah bentuk, seolah sedang meraba dunia baru yang akan ditelannya.

Tangan raksasa itu bergerak menuruni langit, hingga akhirnya… menyentuh hamparan awan putih yang biasanya kokoh menjadi lantai bagi istana mereka.

Tidak ada benturan.

Tidak ada percikan air.

Saat ujung tangan hitam itu menyentuh awan, awan itu… hilang.

Seolah-olah tidak pernah ada di sana.

Area seluas berhektar-hektar awan putih yang indah itu lenyap dalam sekejap mata, digantikan oleh ruang kosong yang menampakkan kehampaan angkasa luar di bawahnya. Tidak hancur berkeping-keping, tidak meleleh, tidak menguap. Hanya… lenyap. Dihapus dari eksistensi.

Nihilum telah masuk.

Di dalam Aula Cahaya, keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh penjuru. Para Seraph yang sedari tadi bersiap bertempur, yang penuh dengan api keberanian dan keyakinan akan kekuatan mereka, kini berdiri terpaku.

Mata mereka membelalak, napas mereka tertahan di dada.

Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun keberadaan mereka, para penguasa langit ini merasakan sesuatu yang asing yang menjalar di dalam urat nadi mereka.

Ketakutan.

Bukan ketakutan akan rasa sakit atau kematian biasa. Ini adalah ketakutan primordial, insting paling dasar yang berteriak memperingatkan bahwa apa yang ada di hadapan mereka adalah musuh dari kehidupan itu sendiri. Adalah lawan dari segala sesuatu yang memiliki bentuk, nama, dan makna.

Elyndra menggigil, meski udara di sekitarnya tidak dingin. Ia bisa merasakan bagaimana energi kehidupan di sekitarnya tersedot, ditarik menjauh, seolah ada lubang raksasa yang menyedot segala hal positif dan membiarkannya kering.

“Ini…” suaranya bergetar, hampir tak terdengar. “Ini bukan kekuatan penghancur…”

Altharion menoleh perlahan, wajahnya pucat pasi di balik rambut peraknya. “Apa itu, Elyndra?”

“Ini adalah kekuatan pembatalan,” jawab Elyndra pelan, matanya tak lepas dari sosok mengerikan di luar sana. “Jika kita menghancurkan sesuatu, benda itu berubah bentuk menjadi energi atau puing. Tapi Nihilum… ia mengembalikan segalanya ke keadaan sebelum ada apa-apa. Ia membatalkan fakta bahwa sesuatu pernah ada.”

Kaelthar, sang jenderal perang yang paling berani, menggenggam gagang tombaknya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tangannya bergetar hebat. Bukan karena lemah, tapi karena adrenalin dan ngeri yang meluap-luap.

“Dia… dia menelan ruang,” gumam Kaelthar tak percaya. “Setiap gerakannya, dunia menjadi lebih sempit.”

Nyxarion, yang sebelumnya menjadi musuh mereka, kini berdiri diam di sudut ruangan. Ia tidak lagi tersenyum sinis. Wajahnya datar, namun matanya menyala dengan campuran antusiasme dan kekaguman yang ekstrem. Baginya, apa yang terjadi di depan mata bukanlah bencana, melainkan seni. Pembersihan agung yang ia dambakan.

“Lihatlah,” bisik Nyxarion, suaranya terdengar seperti desiran angin dari kubur. “Sempurna, bukan?”

“Diam!” bentak Altharion, namun suaranya kehilangan sebagian wibawanya, tertelan oleh skala kehebatan dan kengerian yang sedang terjadi di luar.

Di luar sana, tangan raksasa Nihilum kini telah sepenuhnya turun, diikuti oleh tubuh utuhnya yang semakin membesar, memenuhi separuh langit Elarion. Ia tidak memiliki mata, namun semua orang merasa seolah-olah sedang diawasi. Diawasi oleh miliaran pandangan kosong yang haus.

Awan-awan di sekitarnya lenyap satu per satu. Bangunan-bangunan kecil di pinggiran istana mulai menghilang, dimakan oleh kegelapan yang merambat seperti penyakit. Tidak ada api, tidak ada asap. Hanya ketiadaan yang menyebar.

“Kita harus bertindak!” seru Seraphel, berusaha mengumpulkan keberaniannya. Tongkat waktunya berputar kencang, menciptakan perisai pelindung di sekitar aula. “Jika kita membiarkannya terus turun, ia akan mencapai permukaan dunia! Segalanya akan hilang!”

“Tapi bagaimana?” tanya Isriel dengan putus asa. “Kita tidak bisa menyerang sesuatu yang tidak memiliki wujud! Pedang akan lenyap sebelum menyentuhnya! Sihir akan padam sebelum sampai di sana!”

Itulah kenyataan pahit yang harus mereka hadapi.

Mereka adalah para dewa, para penguasa elemen dan hukum alam. Namun musuh mereka kali ini bukanlah elemen. Musuh mereka adalah ketiadaan. Bagaimana caranya melawan sesuatu yang bahkan tidak “ada”?

Nihilum berhenti sejenak di ketinggian istana mereka. Massa hitam itu berputar pelan, seolah sedang mengamati, sedang mengecap rasa dari dunia yang baru dimasukinya.

Dan kemudian, sebuah suara bergema.

Bukan suara yang masuk ke telinga melalui getaran udara. Suara itu muncul langsung di dalam pikiran setiap makhluk yang bernyawa di seluruh Elarion. Suara yang dalam, bergema, tanpa nada, tanpa emosi, namun mengandung satu pesan tunggal yang jelas:

“KEMBALI.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Turunnya Nihilum bukan hanya sebuah invasi. Itu adalah penghakiman. Dan hukuman bagi seluruh realitas adalah dihapuskan dari catatan waktu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!