Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
"katakan siapa yang berusaha melawanku!" Teriakan Arya menggemang di seluruh ruangan. Tak ada hiasan apapun hanya sepasang kursi dan meja kerja.
"Itu..." Rio membulatkan tekadnya." Yang menyebabkan kekacauan ini adalah orang-orang yang memihak pak Hermawan. Mereka sengaja membakar gudang sebagai balas dendam atas kematian pak Hermawan. Mereka tidak terima karena anda telah menyiksa atasannya bahkan sampai membuatnya meregang nyawa."
Arya menggeram, ia membanting komputer yang ada di atas mejanya ke lantai. Beberapa keping berserakan ke berbagai arah. Tak hanya itu, beberapa benda yang ada di meja ia lempar juga. Arya murka, dan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.
"Brengsek!" Arya berdiri, wajahnya merah padam, tangannya terkepal kuat karena marah. Emosinya tersulut setelah mendengar orang-orang itu sengaja mengusik kedamaiannya. Dan yang lebih membuatnya marah adalah semua yang terjadi masih ada hubungannya dengan Hermawan, manager keuangan kepercayaannya selama beberapa tahun terakhir.
"Bawa para pada pagi atau ke ruangan hitam! Aku ingin melihat kesaksian mereka dengan mata kepalaku sendiri!" Suara Arya menggema, menunjukkan bahwa laki-laki itu marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
Ruangan hitam adalah sebutan Arya dan para anak buahnya untuk ruangan rahasia yang difungsikan untuk menyiksa para pengkhianat.
"Baik." Rio pamit undur diri.
"Tunggu!"
Langkah Rio terhenti ketika tuannya kembali memanggil.
"Ada apa, tuan?" Rio berbalik kembali menghadap ke arah tuannya.
"Dimana dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan?"
Rio terdiam sepersekian detik. Otaknya berusaha mencerna siapa 'dia' yang di maksud tuannya. Laki-laki itu tidak pernah peduli pada siapapun sebelumnya.
Tapi dengan kemampuan otaknya, ia tau orang yang dimaksud oleh tuannya. Dia pasti wanita itu, wanita yang telah menyandang sebagai nyonya Dirgantara.
"Nona Nadia pergi ke tempat kerja. Dia sempat frustasi dan mengusir pelayan yang ada utus. Dan nona menyampaikan pesan untuk anda."
"Pesan untukku?" Seula senyum pipis tampak di bibir laki-laki itu. Dia membayangkan pesan yang akan hadiah sampaikan adalah ucapan terima kasih atau hal-hal romantis semacamnya. Itu membuat harga dirinya kian tersanjung.
"Dalam mengatakan bahwa dia akan segera mengembalikan uang yang diambil oleh ayahnya secepat mungkin. Dia..."
Arya menendang kursi yang dia duduki sehingga membuat benda itu terpental ke belakang. Emosinya kembali, padahal baru beberapa detik yang lalu benda yang ada di atas meja hancur begitu saja tanpa aba-aba. Tentu saja hal itu membuat Rio menutup mulut rapat-rapat.
"Bawa dia ke hadapanku. Aku ingin melihat seberapa tinggi harga dirinya sampai berani menentangku!" Arya berjalan menuju pintu keluar .
"Tapi, tuan..."
"Apakah kamu juga ingin membantahku?" Arya menghampiri Rio dan menamparnya dengan kerasa sehingga membuat pria itu terhuyung.
"Baik, saya akan segera menjemputnya."
....
Arya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan menuju sebuah tangga rahasia yang menghubungkannya langsung ke lantai bawah tanah. Di sana terdapat beberapa ruangan kedap suara, diantara ruangan itu adalah ruang hitam, tempat dimana ia menyiksa orang-orang yang mengamati dan karyawannya yang tidak patuh. Tak ada yang menyangka jika gedung yang di gunakan sebagai kantor tersebut memiliki ruangan rahasia yang sangat menyeramkan.
"Dimana mereka?!" Arya bertanya pada salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu.
"Mereka sudah di bawa ke ruang hitam, sesuai dengan permintaan anda."
Senyum miring terlihat di wajahnya, melihat orang lain tersiksa menjadi kesenangan tersendiri untuknya. Ia tidak peduli akan pandangan orang-orang mengenai hal ini. Bagi Arya, seorang pemberontak dan pengkhianat harus di hukum. Jika aturan tidak membuatnya patuh dan disiplin maka kekerasan adalah jalan terakhir.
Derit pintu yang terbuat dari besi terdengar memekakkan telinga. Arya masuk ke dalam ruang gelap di hadapannya. Hanya sinar temaram di belakang saja yang membantu indra penglihatannya. Di balik penglihatan terbatasnya, ia melihat lima orang yang masing-masing terikat di kursi dan mulutnya tertutup lakban. Mereka tidak bisa berbicara bahkan berteriak untuk meminta tolong.
"Jadi, kalian yang sengaja membuat masalah denganku?" Arya mendekat ke salah satu diantara lima orang itu. Dengan kasar, dia menarik lakban di mulutnya.
"Berani kalian bermain-main denganku? Seberapa jauh kemampuan kalian untuk melawanku, huh?! Apakah kalian ingin menyusul Hermawan?"
Detik berikutnya, Arya memukul cukup keras orang-orang itu. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang berterima kesakitan.
"A-ampun tuan, kami menyerah. Tolong maafkan kami." Salah satu dari mereka bersuara saat penutup mulut mereka di lepas paksa. Wajahnya yang sudah babak belur menunjukkan bahwa dia sudah mendapatkan siksaan sebelum Arya datang.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Arya menendang orang itu sehingga terjungkal ke belakang.
"Maaf? Apakah kamu pikir aku semudah itu memberi maaf?" Aura menyeramkan menyelimuti Arya." Jika pengkhianat seperti kalian begitu mudah di maafkan, lalu untuk siapa hukum di ciptakan?"
Kelima orang itu menelan ludah dengan susah payah, mereka tidak menyangka jika akan tertangkap begitu cepat.
"Harusnya kalian belajar, Hermawan menemui ajalnya lebih cepat karena uang yang dia bawa. Bagaimana dengan kalian? Bagaimana kalian akan menebus kerugian yang telah kalian perbuat,huh?"
Hening.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Arya. Jangankan untuk membayar seluruh kerugian, bahkan untuk mengganti sepuluh persen dari total kerugian saja mereka tidak akan sanggup.
"Manusia tidak tau diri!" Arya melampiaskan emosinya dengan menyiksa orang-orang yang tak berdaya itu. Mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima rasa sakit yang luar biasa. Ambisi mereka untuk menghancurkan Arya justru berbalik pada mereka sendiri. Mereka tidak berpikir jika kekuasaan dan pengaruh Arya tidak semudah itu untuk di hancurkan.
Namun nasib baik masih berpihak pada mereka ketika seorang laki-laki datang, membuat Arya mengakhiri penyiksa nya.
"Tuan, nona Nadia sudah berada di ruangan anda."
Arya berdecih, sebelum keluar dia melihat satu-persatu kelima orang itu dengan tatapan tajam, seolah memperingatkan jika ini belum berakhir. Arya belum merasa puas meskipun orang-orang itu sudah terlihat tidak berdaya di lantai.
"Jangan biarkan mereka mati dengan mudah. Aku masih ingin bermain-main dengan para bedebah ini."
Arya kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya dari ruangan hitam. Dia menaiki tangga menuju basement, dari sana ia menaiki lift menuju lantai paling atas untuk menemui istri kontraknya. Langkahnya terasa ringan, bersiap untuk melakukan kegiatan selanjutnya.
Di tempat lain Nadia masih terdiam, tak berbicara sepatah katapun dengan Rio. Dia terpaksa datang ke tempat yang membuatnya muak ini. Kalau saja ada pilihan lain, ia memilih untuk tidak datang ke tempat ini.
"Keluar!" titah seorang pria membuat, Nadia sedikit tersentak kemudian menoleh ke belakang.
Rio menoleh, kemudian mengangguk dan undur diri. Sedangkan Nadia, ia merasa angindingin seketika menghampiri tengkuknya, membuat romanya meremang. Dia tidak bisa melupakan apa yang telah laki-laki itu lakukan.
"Kita bertemu lagi, Nadia sayang."