NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Balik yang Tak Terduga

Setelah Raina berani menghadapi gosip di depan santriwati, suasana di pesantren mulai berubah. Bukan lagi bisikan di belakang punggung, tapi ada rasa hormat yang baru — meski masih campur dengan rasa penasaran. Beberapa santriwati mulai menyapa Raina dengan lebih ramah, dan Lila bahkan bilang bahwa gosip itu justru membuat orang-orang melihat sisi Raina yang lebih kuat.

Tapi Raina tahu, perubahan itu belum selesai.

Pagi itu, saat ia sedang membantu membersihkan halaman masjid, seorang ustadz muda mendekat dengan wajah serius.

“Mbak Raina, Kyai Zainuddin ingin bicara dengan kamu dan Gus Haris di rumah belakang. Sekarang.”

Raina merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mencuci tangan dengan cepat dan berjalan ke rumah kyai. Gus Haris sudah menunggu di sana, wajahnya tenang tapi matanya waspada.

Di ruang tamu, Kyai Zainuddin dan Bu Nyai duduk dengan ekspresi yang tidak biasa. Kyai langsung bicara tanpa basa-basi.

“Ada surat dari orang tua kamu di Surabaya,” katanya sambil menyerahkan amplop tebal. “Mereka bilang Dika datang ke rumah mereka lagi. Kali ini dia bawa bukti foto-foto lama kamu saat balap motor malam. Mereka khawatir kamu sedang ‘dipengaruhi’ dan meminta kamu pulang sebentar untuk bicara.”

Raina membuka surat itu dengan tangan gemetar. Isinya panjang dan penuh kekhawatiran. Orang tuanya menulis bahwa Dika menunjukkan foto-foto Raina yang dulu sedang naik motor dengan jaket kulit, tertawa lepas di tengah malam, dan bahkan ada foto Raina sedang memeluk Dika di pinggir jalan.

Di akhir surat, orang tuanya menulis:

“Kami tahu kami yang memaksa kamu mondok. Tapi kalau kamu benar-benar tidak bahagia, kami siap jemput kamu pulang. Kami tidak mau kamu menyesal seumur hidup.”

Raina duduk lemas di kursi. Air mata jatuh ke kertas.

“Gue… nggak pernah tidur sama Dika,” katanya dengan suara pecah. “Foto itu cuma pelukan biasa saat foto bareng geng. Gue nggak bohong.”

Bu Nyai memegang tangan Raina dengan lembut.

“Kami percaya kamu, Nak. Tapi orang tua kamu khawatir. Mereka minta kamu pulang sebentar ke Surabaya untuk bicara langsung.”

Gus Haris yang selama ini diam akhirnya bicara dengan suara tenang.

“Kalau Raina mau pulang, aku ikut. Aku tidak ingin dia pergi sendirian.”

Raina menggeleng kuat-kuat.

“Gue nggak mau pulang. Gue takut kalau gue pulang, gue akan ragu lagi. Gue takut gue akan kembali ke kebiasaan lama. Gue mau stay di sini. Gue mau buktikan ke orang tua gue bahwa gue bahagia di sini.”

Kyai Zainuddin mengangguk pelan.

“Kalau itu pilihanmu, kami dukung. Tapi kamu harus bicara dengan orang tua kamu. Biarkan mereka mendengar langsung dari mulut kamu.”

Raina mengangguk. Malam itu, ia menelepon orang tuanya dengan tangan yang gemetar. Percakapan itu panjang dan penuh air mata. Raina bercerita tentang hari-harinya di pesantren, tentang kesabaran Gus Haris, tentang bagaimana ia mulai suka shalat berjamaah, tentang bagaimana ia mulai merasa “rumah” di sini.

“Ma, Pa… gue nggak bohong,” katanya dengan suara bergetar. “Gue lagi bahagia. Gue lagi jatuh cinta sama Haris. Gue mau stay di sini. Tolong percaya sama gue.”

Orang tuanya diam lama di ujung telepon. Akhirnya ayahnya bicara dengan suara berat.

“Kalau itu pilihan kamu, kami akan coba percaya. Tapi kami minta kamu pulang sebentar bulan depan. Kami ingin lihat kamu langsung.”

Raina mengangguk meski mereka tidak bisa melihat.

“Baik, Pa. Gue akan pulang sebentar.”

Setelah telepon selesai, Raina duduk lemas di kursi. Gus Haris mendekat dan memeluknya dari belakang.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Raina menggeleng.

“Gue takut pulang ke Surabaya. Gue takut gue akan kangen kebebasan lama. Tapi gue juga tahu gue harus lakuin ini. Gue harus tunjukkan ke orang tua gue bahwa gue bahagia di sini.”

Gus Haris memeluk Raina lebih erat.

“Aku akan ikut. Kita pulang bareng. Aku akan berdiri di samping kamu.”

Malam itu, Raina tidur dengan hati yang gelisah, tapi juga penuh tekad. Ia tahu perjalanan ini belum selesai. Ada kunjungan ke Surabaya yang menanti, ada gosip yang masih beredar, dan ada ketakutan di hatinya yang belum sepenuhnya hilang.

Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa ia tidak lagi berjalan sendirian.

Ia punya Gus Haris.

Dan ia mulai percaya bahwa ia bisa menghadapi masa lalunya tanpa kehilangan masa depannya.

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!