Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 18:Perang Dingin
Pintu ganda dari kayu jati berukir rumit itu terbuka perlahan, ditarik oleh dua pelayan berseragam rapi yang menunduk dalam.
Udara di dalam mansion ini tidak terasa seperti udara sebuah rumah. Aromanya adalah perpaduan antara lilin aromaterapi mahal, lilin lebah pemoles furnitur antik, dan tekanan psikologis yang sangat pekat.
Begitu kami melangkah melewati ambang pintu foyer, aku bisa merasakan perubahan mikro pada otot lengan Rayan yang sedang kukait. Rahangnya yang tadinya hanya sekaku papan, kini berubah menjadi sekeras baja karbon. Ini bukan sekadar kunjungan keluarga baginya; ini adalah inspeksi di wilayah musuh.
Seorang kepala pelayan paruh baya mengarahkan kami menuju ruang makan utama.
Hak sepatuku tidak mengeluarkan suara apa pun karena karpet Persia tebal yang membentang di sepanjang lorong menyerap setiap resonansi. Sebuah desain arsitektur yang sangat bagus untuk mengendap-endap dan menguping, pikirku sinis.
Ruang makan itu luasnya mungkin setara dengan balai desa di kampungku. Di tengahnya membentang sebuah meja makan mahoni panjang yang bisa memuat dua puluh orang. Lampu chandelier kristal raksasa menggantung di langit-langit, memendarkan cahaya keemasan yang memantul di atas deretan piring porselen dan gelas kristal yang tertata presisi di atas meja.
Anggota keluarga Adristo sudah berkumpul di sana.
Sesuai dengan binder hitam yang sudah kuhafal luar kepala, aku langsung bisa memetakan posisi dan identitas mereka.
Di ujung kepala meja, duduklah sang matriark. Nenek Ratih. Rambutnya disanggul rapi dengan dominasi warna perak, mengenakan kebaya sutra bernuansa gelap. Wajahnya dipenuhi garis-garis penuaan yang tidak mengurangi ketajamannya sedikit pun. Ia menatapku dan Rayan dengan sorot mata yang bisa membelah intan.
Di sebelah kanannya, duduk Paman Haris dan istrinya, Tante Sonia. Wanita yang disebut Rayan hobi bermain racun alergi itu terlihat mengenakan gaun merah marun menyala, lehernya dililit kalung berlian yang menyilaukan mata. Di sebelahnya lagi, duduk Dika Adristo kakak tiri Rayan. Pria itu menatap kami dengan senyum miring yang meremehkan.
Dan di sebelah kiri Nenek Ratih, duduk seorang wanita paruh baya dengan fitur wajah yang sangat mirip dengan Rayan. Helena Adristo. Ibu mertuaku (di atas kertas).
"Ah, pengantin baru kita akhirnya tiba."
Suara Tante Sonia memecah keheningan, mengalun manis namun dilapisi bisa yang sangat transparan. "Kami pikir kalian lupa arah jalan ke rumah utama sejak pernikahan 'pribadi' kalian yang sangat mendadak itu."
Rayan tidak membalas sindiran itu. Ia membimbingku ke dua kursi kosong di seberang Tante Sonia dan Dika. Ia menarik kursi untukku sebuah gerakan mekanis yang sudah disepakati dalam kontrak (Pasal 5: Bersikap layaknya pasangan yang harmonis) lalu ia duduk di sebelahku.
"Malam, Nek. Maaf kami sedikit terlambat. Jalanan Sudirman padat," sapa Rayan datar kepada Nenek Ratih, sama sekali mengabaikan keberadaan Sonia.
Nenek Ratih menyesap air putih dari gelas kristalnya dengan perlahan. Ia meletakkan gelas itu, lalu matanya langsung mengunci wajahku.
"Jadi, ini perempuan yang membuatmu menolak semua kandidat dari keluarga Soeryadjaya dan Salim?" Suara Nenek Ratih berat dan berwibawa. Tidak ada basa-basi. "Nara. Siapa nama keluarga belakangmu?"
Ini dia. Tembakan pembuka.
Aku menatap lurus ke arah Nenek Ratih. Mengingat kembali latihanku di penthouse. Jangan menunduk. Jangan menghindar.
"Kusuma, Nyonya," jawabku dengan intonasi stabil dan volume suara yang terukur sempurna. "Nara Kusuma. Saya tidak memiliki afiliasi dengan nama keluarga besar atau konglomerasi mana pun. Latar belakang saya murni dari kalangan masyarakat sipil biasa."
Hening sejenak. Kejujuranku yang terlalu telanjang rupanya sedikit menyentak meja itu. Di lingkaran sosial mereka, orang biasanya berusaha menutupi asal-usulnya yang biasa saja dengan menyebut nama perusahaan atau kenalan jauh yang punya pangkat. Aku justru menyajikannya di atas nampan.
Dika Adristo terkekeh pelan. Ia bersandar di kursinya, memutar-mutar gelas wine di tangannya.
"Masyarakat sipil biasa," ulang Dika dengan nada mencemooh. "Rayan, seleramu benar-benar unik. Atau ini cuma caramu untuk mencari seseorang yang bisa dengan mudah kau kendalikan? Pernikahan ini terlihat sangat... efisien. Tidak ada media, tidak ada resepsi. Seperti transaksi bisnis kilat di pinggir jalan."
Aku merasakan otot rahang Rayan di sebelahku kembali menegang. Ia baru saja membuka mulutnya, bersiap menembakkan balasan sinis kepada kakak tirinya itu, sesuai janjinya di mobil bahwa ia yang akan menangani silsilah.
Namun, sebelum Rayan sempat mengeluarkan suara, aku memotongnya dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah. Terlalu ramah.
"Waktu adalah uang, Mas Dika," sahutku, menatap Dika dengan senyum customer service andalanku. Senyum yang tidak mencapai mata.
Semua kepala di meja itu kini menoleh ke arahku.
"Mengadakan pesta mewah berhari-hari, mengundang ratusan orang yang separuhnya hanya datang untuk bergosip, dan menghabiskan miliaran rupiah hanya demi validasi publik... secara matematis adalah pemborosan anggaran operasional yang sangat tidak masuk akal," lanjutku lancar, menggunakan diksi yang biasa kugunakan saat presentasi laporan keuangan di kampus. "Rayan dan saya sepakat bahwa anggaran tersebut jauh lebih efisien jika dialokasikan untuk instrumen investasi jangka panjang. Bukankah mengutamakan efisiensi dan Return on Investment (ROI) adalah pilar utama dari visi Adristo Group yang dipimpin Nenek Ratih?"
Hening kembali turun ke ruang makan itu.
Kali ini, keheningannya terasa jauh lebih pekat. Dika mematung, senyum miringnya luntur seketika. Tante Sonia mengerjapkan matanya, tampak kesulitan memproses fakta bahwa seorang perempuan antah-berantah baru saja menguliahi anak tirinya soal finansial korporat menggunakan nama Nenek Ratih sebagai tameng.
Di sebelahku, Rayan terdiam. Ia tidak menoleh, tapi dari sudut mataku, aku bisa bersumpah aku melihat jakunnya bergerak menelan ludah, menahan sesuatu yang sangat mirip dengan seringai.
Nenek Ratih menatapku selama lima detik penuh tanpa berkedip. Matanya yang tajam menyipit. Lalu, untuk pertama kalinya sejak kami datang, wanita tua itu menyentuh serbet di pangkuannya.
"Logika yang menarik," gumam Nenek Ratih pelan, sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. Ia memberi isyarat dengan tangannya. "Keluarkan hidangannya."
Para pelayan segera bergerak serempak seperti tentara terlatih, membawa masuk berbagai macam piring saji perak.
Tante Sonia, yang jelas tidak terima serangannya dipatahkan begitu saja, mulai mencoba mencari sudut serang lain. Matanya memindai gaun midnight blue yang kukenakan.
"Gaun yang cantik, Nara," kata Sonia dengan senyum palsunya. "Bahan sutranya terlihat cukup... lumayan. Keluaran butik mana? Saya tidak ingat melihat koleksi ini di katalog musim semi mana pun."
Terjemahan harfiah: Gaunmu terlihat murahan dan bukan barang bermerek.
Aku meletakkan serbet di pangkuanku dengan gerakan rapi yang sudah kupelajari dari YouTube kemarin sore.
"Terima kasih atas pujiannya, Tante Sonia," jawabku datar. "Sejujurnya, saya sama sekali tidak paham soal katalog musim perilisan pakaian. Bagi saya, parameter utama sebuah pakaian adalah fungsionalitas dan persentase kerapatan serat kainnya. Dan gaun ini secara teknis sangat efisien untuk menghalau suhu pendingin ruangan sentral di rumah ini tanpa harus mengorbankan mobilitas saya. Itu sudah lebih dari cukup."
Sonia membuka mulutnya, bersiap untuk memberikan balasan merendahkan, tapi otaknya kembali lagging. Aku tidak membalas sindirannya dengan amarah atau rasa malu. Aku meresponsnya layaknya seorang insinyur tekstil yang sedang mengevaluasi purwarupa baju pelindung. Itu membuat sindirannya tidak memiliki pijakan untuk ditertawakan.
Dua skor untuk Nara. Nol untuk faksi oposisi.
Piring-piring makanan mulai dihidangkan di depan kami.
Di sinilah peringatan Rayan di penthouse tadi mulai terbukti. Di depan Tante Sonia, terdapat sebuah mangkuk perak berisi hidangan Lobster Thermidor yang baunya sangat menggugah selera. Di depanku dan Rayan, dihidangkan sepiring daging Tenderloin Wagyu ukuran sedang.
Sonia mengambil capit perak, mengangkat sebelah daging lobster besar itu dengan senyum manisnya yang berbahaya.
"Nara sayang, kamu harus mencoba Lobster ini. Chef kami khusus menerbangkannya pagi ini," tawar Sonia, menyodorkan capit itu ke arah piringku. "Kamu mungkin jarang, atau bahkan belum pernah makan makanan laut sesegar ini. Jangan sungkan."
Taktik alergi. Ular ini mulai menyemprotkan bisanya.
Rayan sedikit menegakkan punggungnya, bersiap mengintervensi sebelum udang raksasa itu menyentuh piringku.
Tapi aku kembali mendahuluinya. Aku mengangkat tangan kananku sedikit, menahan capit Tante Sonia dengan gestur penolakan yang luar biasa sopan.
"Kelihatannya luar biasa menggugah selera, Tante Sonia. Terima kasih banyak atas tawaran baiknya," kataku dengan suara lembut yang mematikan. "Namun sayangnya, melihat padatnya jadwal adaptasi dan diskusi saya dengan Rayan malam ini, saya tidak berani mengambil risiko untuk memicu gastric distress atau lonjakan reaksi histamin yang tidak terprediksi dari protein laut."
Aku tersenyum menatap mata Tante Sonia.
"Saya rasa profil asam amino dari hidangan daging tenderloin ini jauh lebih stabil untuk mempertahankan tingkat konsentrasi dan sistem pencernaan saya. Silakan Tante nikmati sendiri lobsternya."
Tante Sonia mematung dengan capit perak menggantung konyol di udara. Mulutnya setengah terbuka. Rencananya untuk membuatku mual atau gatal-gatal di tengah acara keluarga gagal total, dihancurkan oleh argumen medis yang terdengar seperti jurnal biologi.
Dengan wajah sedikit memerah karena malu tawarannya ditolak mentah-mentah dengan cara yang terlalu pintar untuk dibantah, Sonia perlahan menarik kembali capit lobsternya.
"Tentu," gumamnya kaku, kembali fokus pada piringnya sendiri.
Aku mulai memotong daging wagyu-ku dengan pisau dan garpu, mengunyahnya dengan tenang. Rasanya enak sekali. Benar-benar sepadan dengan drama konyol ini.
Di sepanjang sisa makan malam itu, tidak ada lagi yang mencoba melemparkan pertanyaan jebakan atau sindiran kepadaku. Dika lebih banyak diam meminum wine-nya. Tante Sonia pura-pura sibuk mengobrol dengan Paman Haris soal saham pertambangan.
Dan Rayan?
Pria di sebelahku ini makan dengan ketenangan yang luar biasa. Ia sama sekali tidak ikut campur dalam obrolan, tapi setiap kali ia memotong daging di piringnya, aku bisa merasakan radiasi kepuasan yang menguar dari tubuhnya.
Dia baru saja menyadari bahwa ia tidak membawa seekor kelinci ke dalam kandang singa malam ini.
Dia membawa sebuah tank baja berlapis logika.
Menjelang hidangan penutup berupa panna cotta disajikan, sebuah suara lembut dari arah sebelah kiri Nenek Ratih akhirnya terdengar.
"Kamu punya cara bicara yang sangat... terstruktur, Nara," kata Helena, ibu kandung Rayan, memecah kesunyian.
Aku menoleh. Helena adalah wanita yang cantik dengan sorot mata yang teduh, sangat berbeda dari anggota keluarga Adristo lainnya. Sepanjang malam ia hanya diam mengamati.
"Maaf jika cara bicara saya terlalu kaku, Tante Helena," balasku, kali ini menurunkan sedikit tameng sarkasme-ku. "Latar belakang pendidikan saya di bidang analisis data membuat saya terbiasa mengutarakan sesuatu berdasarkan fungsi dan probabilitas, bukan estetika."
Helena tersenyum. Bukan senyum palsu ala Tante Sonia, melainkan senyum tipis yang tulus. "Panggil saya Ibu. Kamu istri anak saya sekarang."
Aku sedikit terkejut, namun segera mengangguk. "Baik... Ibu."
Nenek Ratih meletakkan serbetnya ke atas meja, tanda bahwa acara makan malam resmi berakhir. Semua orang langsung berhenti mengunyah, tak terkecuali aku.
"Rayan," panggil Nenek Ratih dengan suara beratnya. Matanya yang tajam menatap cucunya itu. "Kamu dan Pamanmu Haris, ikut saya ke ruang kerja. Ada laporan kuartal yang perlu kita bahas sebelum saya tidur."
"Baik, Nek," jawab Rayan patuh. Ia berdiri, mengancingkan jasnya, lalu menoleh sekilas ke arahku. Sebuah tatapan peringatan untuk tidak lengah selama ia meninggalkanku sendirian di ruang makan ini.
"Dan Helena," Nenek Ratih melanjutkan instruksinya. "Bawa istrimu ini ke ruang kaca. Beri dia teh. Sepertinya dia tidak terbiasa dengan menu berat kita."
"Baik, Ibu," jawab Helena dengan nada lembut.
Rayan, Dika, Paman Haris, dan Nenek Ratih berjalan meninggalkan ruang makan. Meninggalkan aku berdua saja dengan Helena, sementara Tante Sonia pamit ke toilet dengan wajah masam.
"Mari, Nara," ajak Helena sambil berdiri dari kursinya. "Kita mengobrol di ruang kaca. Udaranya lebih segar di sana daripada di ruangan penuh intrik ini."
Aku berdiri. Mengikuti langkah ibu mertua kontrakku itu melewati lorong-lorong mansion.
Otakku kembali masuk ke mode waspada penuh. Ujian pertama di meja makan memang berhasil kulewati dengan skor mutlak. Tapi aku tahu, percakapan empat mata dengan ibu kandung Rayan ini... mungkin adalah medan ranjau yang jauh lebih berbahaya daripada bisa racun Tante Sonia.