"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN LAGI OBJEK BELAS KASIHAN
Hujan mengguyur kota dengan intensitas yang kian lebat, membasuh jalanan aspal hingga menciptakan uap dingin yang menusuk tulang. Dina berdiri mematung di balik kaca kafe yang bening, menatap pemandangan di dalam sana dengan tatapan kosong. Di balik perlindungan dinding kaca itu, laki-laki yang selama ini ia cintai tengah menggenggam jemari seorang gadis dengan ketulusan yang nyata—sebuah pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa harapannya. Sesekali, pria itu mengusap puncak kepala sang gadis dengan gerakan posesif yang lembut, sebuah gestur yang selama ini Dina yakini hanya menjadi miliknya.
“Mengapa bukan aku? Mengapa ini harus terulang lagi?” bisiknya dalam hati, sebuah tanya yang bergaung perih di tengah gemuruh guntur.
Air matanya nyaris luruh, namun ia segera menarik napas dalam-dalam, mencoba mengais sisa-sisa harga diri yang masih ada. Dengan langkah yang terasa seberat timah, ia memaksakan diri bergerak. Pintu kafe didorongnya perlahan, menimbulkan bunyi lonceng yang biasanya terdengar manis, namun kini terasa seperti lonceng kematian bagi hubungan mereka. Ia melangkah dengan tenang—ketenangan yang mengerikan bagi seseorang yang hatinya baru saja hancur—menghampiri meja itu.
“Tawa kamu terdengar jauh lebih lepas saat bersama dia, bukan saat bersamaku,” ucap Dina dengan suara yang datar dan dingin.
Wajah pria itu seketika pucat pasi, matanya membelalak karena keterkejutan yang luar biasa. Berbeda dengan gadis di hadapannya yang tetap bersikap tenang, seolah sorot matanya yang tajam tengah memproklamirkan kemenangan.
“Dina, aku... aku tidak bermaksud seperti ini,” ucap pria itu terbata-bata. Ia mencoba meraih jemari Dina dengan tangan yang gemetar hebat, sebuah usaha yang sia-sia.
Dina hanya menatap tangan itu dengan pandangan kosong, merasa asing pada sentuhan yang dulu ia dambakan. “Tidak bermaksud, tapi terus terjadi. Sekali, lima kali... dan sekarang yang kesepuluh, bukan?”
Dina menarik napas pendek, lalu menghujamkan tatapannya langsung ke manik mata pria itu, tanpa ada lagi keraguan. “Cukup. Aku sudah lelah. Aku tidak bisa lagi melanjutkan ini.”
Hujan yang turun di luar jendela bis terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kaca, buram dan tak tentu arah. Dina menyandarkan keningnya pada dinginnya permukaan jendela, membiarkan getaran mesin bis merambat ke tulang pipinya. Di luar, siluet pria itu—pria yang baru saja ia tinggalkan di kafe—perlahan mengecil, tertinggal oleh kecepatan mesin yang menderu. Pria itu sempat mengejar, meneriakkan namanya di tengah rintik air, tapi Dina tidak menoleh. Tidak kali ini.
Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca bis yang gelap. Wajah itu tampak pucat, dengan mata yang lelah namun tak lagi mengeluarkan air mata. Bibirnya bergetar tipis saat ia berbisik pada bayangannya sendiri, "Kamu selalu dipilih untuk akhirnya ditinggalkan. Bahkan kamu nggak dikasih kesempatan buat memilih. Aku kasihan sama kamu, Dina." Kalimat itu bukan bentuk penghinaan, melainkan sebuah pengakuan jujur atas kepedihan yang sudah mengakar terlalu dalam.
Bis berhenti di halte dekat komplek perumahannya. Dina turun dengan langkah yang terasa hampa. Sepatu flatnya terendam genangan air, tapi ia tidak peduli. Pikirannya masih tertinggal pada genggaman tangan tulus yang ia lihat di kafe tadi—genggaman yang tidak pernah ia rasakan sepenuhnya karena selalu ada rasa "kasihan" yang terselip di antaranya. Ia berjalan menyusuri gang sepi menuju rumah yang seharusnya menjadi tempat berteduh, namun baginya, itu hanyalah sebuah bangunan penuh duri.
Saat pintu depan ia dorong perlahan, suara televisi yang bising langsung menyambutnya. Di sofa ruang tamu, ibu tirinya duduk bersandar dengan kaki terangkat, menatap layar dengan pandangan sinis yang langsung beralih ke arah Dina begitu gadis itu melangkah masuk. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada tanya apakah ia sudah makan atau bagaimana harinya. Yang ada hanyalah semburat kebencian yang sudah mendarah daging.
"Emang anak nggak tahu malu," suara wanita itu melengking, memotong keheningan malam. "Pulang malam begini mau jadi apa kamu? Keluyuran nggak jelas. Tapi ya wajar, sikapmu busuk karena memang aslinya kamu itu bukan anakku. Harusnya dari dulu aku bilang sama ayahmu buat buang kamu saja ke jalanan. Pantas saja ibu kandungmu dulu ninggalin kamu waktu masih bayi. Siapa juga yang betah ngurus anak pembawa sial kayak kamu?"
Dina mematung di ambang pintu. Kata-kata itu bukan hal baru, tapi entah kenapa malam ini rasanya jauh lebih tajam. Mungkin karena ia baru saja kehilangan harapan terakhirnya di sebuah kafe dingin, dan kini ia pulang hanya untuk disuguhi racun yang sama. Ia tidak membalas. Ia hanya menatap lantai, memperhatikan air hujan yang menetes dari ujung bajunya, membasahi ubin rumah yang bersih.
Ibu tirinya bangkit dari sofa, berjalan mendekat dengan langkah yang mengancam. "Kenapa diam? Merasa jadi korban lagi? Kamu itu cuma beban, Dina. Ayahmu kerja keras cuma buat kasih makan anak yang bahkan ibunya sendiri nggak mau. Kalau aku jadi perempuan itu, aku juga bakal lari sejauh mungkin supaya nggak perlu lihat wajahmu tiap hari."
Setiap kalimat itu seperti palu yang menghantam mental Dina yang sudah retak. Bayangan tentang ibunya, tentang alasan kenapa ia ditinggalkan, selalu menjadi lubang hitam dalam hidupnya. Dan pria di kafe tadi—pria yang katanya mencintainya—ternyata menggunakan lubang hitam itu sebagai alasan untuk mengasihaninya, seolah-olah Dina adalah sebuah barang rusak yang perlu diperbaiki, bukan manusia yang perlu dicintai.
Dina mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ketakutan di matanya sendiri, melainkan kekosongan yang sangat luas. "Mungkin Ibu benar," ucapnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam deru hujan di luar. "Mungkin aku memang pantas ditinggalkan. Tapi setidaknya, aku nggak perlu pura-pura jadi orang baik supaya bisa menyakiti orang lain."
Wanita itu tertawa remeh, sebuah tawa yang kering dan kasar. "Pura-pura? Aku nggak perlu pura-pura. Semua orang di rumah ini tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu itu cuma sampah yang kebetulan dipungut ayahmu. Masuk ke kamarmu sana, jangan bikin lantai ini makin kotor dengan air hujanmu yang bau itu."
Dina melangkah pergi, melewati ruang tamu tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke dalam kamarnya yang sempit, mengunci pintu, dan bersandar di baliknya. Kamar itu gelap, hanya ada cahaya remang dari lampu jalan yang menembus celah gorden. Ia merosot jatuh ke lantai, memeluk lututnya erat-hadapannya. Di ruangan ini, ia tidak perlu menjadi kuat. Di ruangan ini, ia bisa mengakui bahwa hatinya telah hancur berkeping-keping.
Ia teringat kembali pada pria itu. Bagaimana pria itu sering membahas masa lalunya dengan nada bicara yang lembut, seolah-olah dia adalah pelindung. "Dina, aku tahu kamu berat lewat masa lalu itu," atau "Aku di sini buat melengkapi luka kamu." Dulu, Dina mengira itu adalah cinta. Tapi sekarang ia sadar, itu adalah cara pria itu untuk merasa lebih berkuasa. Dengan menjadikan Dina "korban", pria itu merasa menjadi "pahlawan". Dan saat "pahlawan" itu bosan, dia akan mencari orang lain yang tidak memiliki beban masa lalu seberat Dina—orang yang bisa diajak tertawa lepas tanpa bayang-bayang kesedihan.
Dina memejamkan mata, membiarkan sunyi menyelimutinya. Ia sadar bahwa selama ini ia telah membiarkan orang lain mendefinisikan siapa dirinya. Ibu tirinya menyebutnya sampah, pria itu menyebutnya luka, dan dunia menyebutnya sebagai seseorang yang harus dikasihani. Tapi di tengah kegelapan itu, sebuah pemikiran kecil muncul. Jika ia adalah orang yang begitu buruk, kenapa ia masih bisa merasakan sakit yang begitu nyata? Bukankah hanya mereka yang memiliki hati yang bisa merasa hancur?
Ia teringat pada naskah-naskah lama yang pernah ia tulis, tentang tokoh-tokoh yang berjuang mencari jati diri di tengah badai. Ia sering menulis tentang keajaiban, tentang bagaimana luka bisa menjadi kekuatan. Namun, di kehidupan nyata, keajaiban terasa begitu jauh. Ia merasa seperti karakter yang terjebak dalam plot yang salah, di mana penulisnya lupa memberikan akhir yang bahagia.
Dina bangkit, berjalan menuju meja kecilnya yang berdebu. Ia mengambil sebuah buku catatan tua dan sebuah pena. Tangannya gemetar, tapi ia mulai menulis. Bukan tentang kesedihannya, bukan tentang penghinaan ibu tirinya, dan bukan tentang pengkhianatan pria itu. Ia mulai menulis tentang sebuah jalan keluar. Tentang seorang gadis yang memutuskan untuk berhenti menjadi penonton dalam hidupnya sendiri.
Malam itu, di bawah temaram lampu meja, Dina menyadari satu hal: ia tidak bisa memilih siapa yang menjadi keluarganya, atau siapa yang masuk ke dalam hidupnya untuk menyakitinya. Tapi ia bisa memilih untuk tidak lagi menjadi seseorang yang dikasihani. Ia bukan sebuah "aib" yang harus disembunyikan. Ia adalah sebuah cerita yang masih terus berjalan, dan meski bab ini terasa sangat menyakitkan, ia memegang pena untuk menuliskan bab selanjutnya.
Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk. Namun di dalam dada Dina, mulai tumbuh sebuah api kecil—sebuah tekad yang lahir dari rasa sakit yang sudah mencapai puncaknya. Ia tidak akan membiarkan kata-kata ibu tirinya menjadi kebenaran. Ia tidak akan membiarkan pengkhianatan pria itu menjadi akhir dari kisahnya. Ia akan pergi, entah kapan dan bagaimana, namun ia akan menemukan tempat di mana namanya disebut dengan rasa bangga, bukan dengan nada iba.
Dina menutup buku catatannya, menatap ke luar jendela yang kini mulai menampakkan sedikit cahaya bulan di balik awan. Esok akan menjadi hari yang sama sulitnya, namun ia tahu satu hal pasti: ia tidak akan lagi menunggu seseorang datang untuk mengubah hidupnya. Ia sendiri yang akan melakukannya.
Langkah pertama adalah melepaskan diri dari segala sesuatu yang menganggapnya beban. Ia mulai menyusun rencana dalam kepalanya, tentang pekerjaan yang harus ia cari, tentang tabungan yang harus ia kumpulkan, dan tentang sebuah tempat jauh di mana tidak ada yang mengenal masa lalunya sebagai sebuah kutukan. Ia akan membuktikan bahwa anak yang dianggap "pembawa sial" ini bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Dina menarik napas panjang, menghirup aroma tanah yang basah dari balik jendela yang sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa sesak di dadanya mulai berkurang. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia akhirnya berhenti melawan rasa sakit itu dan mulai menerimanya sebagai bagian dari kekuatannya. Ia bukan korban. Ia adalah penyintas. Dan penyintas tidak pernah menyerah pada badai, mereka hanya belajar bagaimana cara berdansa di tengah hujan.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib