Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAM TERTANGKAP
Bram terkena peluru dari si penembak. Entah siapa itu, apakah salah seorang pengawal dari Jendral Gondesh, ayah Belinda, ataukah kaki tangan raja yang membayarnya. Tangannya terkena satu tembakan. Begitu juga pengawal atau kaki tangan itu berjatuhan. dari balik pintu yang rusak, kaki tangan 1, kaki tangan 7, datang membantunya, menembaki pengawal atau kaki tangan lawan.
"Bos,..go. Bos, goooo!"
Mereka masuk ke dalam kamar mandi bersamaan. Mereka mendorong lemari di sana. mereka menahan pintu kamar mandi dengan lemari itu.
"Come on, Bos, kami akan melindungimu!"
Dilihatnya dua kaki tangannya terkena tembakan, apalagi kaki tangan 1, ada tiga peluru bersarang di badannya, dia tahan lukanya, ditekannya dengan tangan kiri, darah yang mengalir di tangan kanannya, sementara kaki dan perutnya juga mengeluarkan darah. Darah kental menetes di lantai membasahi kamar mandi hotel itu.
Sementara kaki tangan 7 terkena tembakan di telapak tangannya. Dia mencoba menahan lemari yang bergoyang diberondong peluru dengan badannya
"Ayo, Bos, kami akan melindungimu."
"Pergilah!"
"No man, we can do'it"
"Kita keluar bersama!"
Dia mencoba agar tampak tegar di depan kaki tangannya, tapi kaki tangannya hanya ingin melindunginya.
"Come on, Bos."
Kaki tangan 1 seakan memohon, dia sudah tak kuat lagi kelihatannya.
Akhirnya Bram terpaksa menurut permintaan kaki tangan, orang kepercayaannya. Dia terpaksa meninggal mereka.
"Thanks, Bro!"
Bram lalu naik ke atas jendela lalu keluar melalui jendela itu dia berusaha keras untuk menuruninya.
Di bawahnya tubuh Belida tergantung-gantung di seutas sprei tadi. Dengan usaha yang keras.
Ayo Belinda kamu bisa!"
"Turunlah cepat!"
Belinda setengah menangis menuruni tembok itu. kakinya sakit minta ampun.
Setelah susah payah menuruninya mereka melompat ke bawah tempat pembuangan sampah yang tingginya dua meter dari badan mereka. Badannya sakit sekali rasanya. Belinda mengaduh...
Bram mencoba berdiri, melompat dari tempat sampah itu, dan membantu Belinda turun. Darah mengucur deras dari balik kemejanya. Bram berdarah. Belinda menangis melihat Bram berdarah. Mereka berlari kencang meninggalkan tempat itu.
Bram memegangi tangan Belinda dengan tangannya yang tidak terluka. Bram melihat ke belakang, Dmmmm..masih ada musuh mengejar, ia melepaskan tembakan ke belakang.
Dia melihat sebuah mobil melaju kencang di belakang mereka.
Ada dua iring-iringan mobil yang mengejar mereka.
Dia berusaha keras untuk berlari membawa Belinda.
Dan..pertahanannya runtuh, Ia jatuh berguling-guling ke tanah.
Belinda pun terjatuh jatuh.
Dia pun tersungkur. Bram berusaha bangkit dan berusaha memegangi belinda.
Kakinya sakit ditahannya, apalagi tangannya terasa seakan patah.
Mobil itu pun berhenti tepat di depan mereka. Ada tiga mobil yang berhenti. Dia menodongkan senapannya pada mobil itu, dan saat pintu mobil terbuka, Bram mengurungkan niatnya.
Menteri Pertahanan, Jendral Gondesh, ada di dalam mobil itu beserta istrinya.
dia mengurungkan niatnya menembaki mobil itu.
"Belindaaa....."
Belinda terkesiap, kaget mendengar mommynya memanggil namanya.
"Mommyyyy...."
"Seorang perempuan glamour memakai baju stelan dress dan jas luarnya keluar berdiri di depan pintu. beberapa pengawal dari mobil 1 dan 2 turun. Mereka merebut senapan Bram dan memukuli Bram. Mereka menarik Belinda dan memaksanya ke mobil yang membawa Jendral Gondesh.
"Lepaskan!!!"
Belinda tidak mau, dia tidak mau dipisahkan dari Bram. Dia tidak tega melihat Bram diperlakukan demikian.
"Noooo!!!"
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆