Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Suara pintu kamar yang tertutup rapat bergema di dalam ruangan yang luasnya tak seberapa itu. Begitu kunci diputar dari dalam, keheningan yang mencekam langsung menyergap. Isvara menyandarkan punggungnya pada daun pintu, matanya terpejam erat, berusaha menahan debaran jantungnya yang terasa seperti ingin meledak keluar dari rongga dadanya. Ia butuh oksigen. Ia butuh ketenangan. Namun, pria di hadapannya justru membawa badai.
Andra berdiri satu meter di depan Isvara. Ia melepaskan dasinya dengan kasar, seolah benda itu sedang mencekik lehernya sendiri. Matanya yang tajam dan merah padam menatap Isvara dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Hebat, Isvara. Benar-benar hebat," suara Andra rendah namun bergetar karena emosi yang tertahan. "Jadi ini alasan kamu menolak berangkat ke kantor bersamaku pagi tadi? Mengaku tidak punya tenaga, mengaku ingin kerja dari rumah, padahal agenda aslimu adalah melakukan perjalanan dua jam ke sini untuk bertemu dengan pria itu?"
Isvara tidak membuka matanya. Ia hanya diam, membiarkan setiap kata tajam Andra menghantamnya. Tenaganya sudah habis bahkan hanya untuk sekadar membela diri.
"Kenapa diam? Malu karena rencana picikmu ketahuan olehku?" Andra melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Bau parfum maskulinnya yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan bagi Isvara. "Sejak kapan kamu berkomunikasi lagi dengannya? Apa sejak dia kembali ke Indonesia? Atau jangan-jangan selama ini kamu memang tidak pernah putus hubungan dengan mantan kakak panti kesayanganmu itu?"
Andra tertawa sinis, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Aku hampir saja tertipu dengan wajah pucatmu di meja makan tadi pagi. Aku sempat berpikir, apa aku terlalu keras padamu? Tapi ternyata aku salah. Kamu memang penipu ulung, Isvara. Kamu menggunakan rasa sakitmu sebagai senjata agar aku melepaskan pengawasan, lalu kamu lari ke sini untuk bernostalgia dengan masa lalumu di belakang suamimu sendiri!"
Tuduhan itu begitu keji, begitu tidak berdasar, sehingga Isvara merasa ingin tertawa jika saja paru-parunya tidak terasa seperti terbakar. Bagaimana bisa Andra berpikir ia sanggup merencanakan pertemuan dengan Dewa di saat ia bahkan kesulitan untuk sekadar bangun dari tempat tidur?
Tepat saat itu, langit yang sejak tadi memang sudah menghitam seolah ikut merasakan ledakan amarah di dalam kamar. Suara guntur menggelegar hebat, disusul dengan guyuran hujan yang jatuh dengan intensitas sangat besar. Bunyi air yang menghantam genting panti asuhan terdengar begitu keras, menciptakan suasana yang semakin mencekam.
Andra sempat menghentikan ucapannya sejenak. Ia menoleh ke arah jendela kamar Isvara yang lebar. Di luar sana, pandangan tertutup oleh tirai air yang sangat lebat. Kilatan petir sesekali menerangi wajah Andra yang kaku.
Namun, jeda itu hanya sebentar. Andra kembali menatap Isvara, menumpahkan semua unek-unek yang selama ini ia simpan di balik egonya yang setinggi langit.
"Apa yang dia berikan padamu yang tidak bisa kuberikan, hah? Apa kamu merasa lebih aman di pelukannya daripada di rumahku? Jawab, Isvara! Jangan hanya diam seperti patung!" Andra mencengkeram bahu Isvara, memaksa wanita itu membuka matanya.
Isvara membuka matanya perlahan. Pandangannya sayu, bibirnya pucat pasi, namun ada kilat ketegasan di sana. Ia menatap Andra dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat seorang pria yang sedang melantur dalam kegilaan. Ia tidak melihat seorang suami, ia hanya melihat seorang pria yang sedang dikuasai kecemburuan buta namun terlalu angkuh untuk mengakuinya.
"Anda sudah selesai, Tuan Andra?" bisik Isvara, suaranya nyaris hilang ditelan suara hujan.
"Belum! Aku belum selesai!" Andra kembali berteriak. "Jangan pikir dengan diamnya kamu, aku akan luluh. Besok kita berangkat ke Bali, dan aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku sedetik pun. Kamu akan membayar semua drama yang kamu buat hari ini!"
Isvara tidak menanggapi ancaman itu. Ia merasakan pijakan kakinya semakin rapuh. Lantai di bawahnya seolah bergoyang. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Isvara melepaskan cengkeraman tangan Andra di bahunya. Ia berjalan dengan langkah terseret menuju tempat tidur kesayangan di panti yang masih tertata rapi.
Begitu pantatnya menyentuh kasur, Isvara mendesah lega. Ia segera membuka kancing teratas jas hitam yang ia pakai. Ia merasa sesak. Jas itu terasa seperti lilitan kawat berduri yang menghimpit pernapasannya. Setiap kancing yang terlepas memberinya sedikit ruang untuk menarik napas yang pendek-pendek.
Andra masih berdiri di tengah ruangan, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menuntut penjelasan, ia ingin Isvara memohon maaf, atau setidaknya menangis di depannya. Namun, apa yang ia dapatkan?
Isvara justru perlahan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia membelakangi Andra, menarik selimut tipis hingga sebatas dada, dan memejamkan matanya rapat-rapat.
"Isvara! Aku sedang bicara padamu!" seru Andra lagi, langkahnya mendekat ke sisi tempat tidur.
Namun, ketika ia melihat lebih dekat, kemarahan Andra seolah membentur dinding es. Ia melihat bagaimana tubuh Isvara gemetar hebat di bawah selimut. Ia melihat gurat kelelahan yang begitu mendalam di wajah istrinya, seolah-olah Isvara baru saja menempuh perjalanan ribuan mil dengan berjalan kaki.
Andra mengepalkan tangannya di samping tubuh. Amarahnya masih ada, namun melihat wajah lelah yang tampak begitu rapuh itu, entah kenapa ia kehilangan kata-kata. Keinginan untuk kembali menghujat Isvara mendadak hilang, digantikan oleh rasa sesak yang aneh di dadanya rasa sesak yang ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya.
"Terserah kamu, Isvara," gumam Andra, suaranya kini jauh lebih rendah, hampir kalah oleh suara hujan di luar. "Kita bicara lagi saat kamu tidak lagi menggunakan 'kelelahan' sebagai tamengmu."
Andra tidak pergi. Ia justru menarik kursi kayu di sudut kamar dan duduk di sana. Ia tetap berada di kamar itu, di tengah kegelapan yang hanya diterangi kilat petir, menjaga istrinya yang kini sudah tenggelam dalam tidur yang tampak begitu menyakitkan. Di bawah guyuran hujan yang kian intens, Andra hanya bisa terdiam, bertarung dengan kecemburuannya sendiri di tengah sunyinya kamar Isvara.
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan