NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18 takhta bayangan dan kedatangan sang merak penjajah surga

Musim semi tiba di Jinling, membawa kehangatan yang mencairkan sisa-sisa es di atap-atap bangunan kekaisaran. Meskipun udara terasa sejuk dan bunga persik bermekaran menyebarkan aroma manis, atmosfer di dalam jantung Benua Timur telah berubah secara permanen. Kekuasaan tidak lagi diukur dari seberapa banyak pedang yang dimiliki seorang kaisar, melainkan dari seberapa dalam kantong emas Sang Penguasa Menara.

Menara Teratai Emas menjulang membelah awan ibukota. Bangunan setinggi seratus lantai ini tidak dibangun menggunakan batu bata biasa, melainkan dari pualam spiritual putih dan kayu gaharu usia ribuan tahun yang memancarkan energi penenang jiwa. Setiap ujung atapnya dilapisi emas murni, memantulkan cahaya matahari layaknya mercusuar raksasa yang menyilaukan mata. Di sinilah letak markas tertinggi Jaring Bayangan, sekaligus singgasana sejati Benua Timur.

Di lantai puncak menara yang dibiarkan terbuka menghadap hamparan langit, Cang Qixuan berbaring malas di atas dipan sutra es. Matanya terpejam santai. Pakaiannya hari ini berupa jubah hitam legam dengan sulaman rasi bintang dari benang perak. Kesan pemabuk bodoh yang dulu melekat padanya telah luntur, digantikan oleh aura dominasi absolut. Di dalam tubuhnya, *Inti Emas Kegelapan* berdenyut pelan, memancarkan gravitasi spiritual yang membuat debu sekalipun tidak berani menempel pada jubahnya.

Putri Yan Ling berdiri dengan postur kaku di samping dipan. Gaun sutra putihnya yang dulu melambangkan keangkuhan klan kerajaan telah diganti dengan seragam ringkas berwarna biru tua—warna resmi pelayan tingkat tinggi Jaring Bayangan. Wanita yang dulunya memandang Qixuan layaknya serangga ini sekarang menundukkan pandangan, memegang sebuah gulungan titah kekaisaran bersampul naga emas.

"Tuanku," suara Yan Ling terdengar patuh, rasa hormat yang lahir dari ketakutan murni. "Sesuai perintah Anda, Ayahanda telah mengumumkan pengunduran dirinya dari urusan pemerintahan dengan alasan kesehatan yang memburuk. Dewan Menteri telah mengesahkan pengangkatanku sebagai Wali Penguasa Kekaisaran. Seluruh stempel perbendaharaan negara kini berada di bawah pengawasan langsung Departemen Keuangan Jaring Bayangan."

Qixuan membuka sebelah matanya, melirik mantan putri mahkota tersebut. Ia mengangkat tangannya sedikit. Yan Ling segera mendekat, menyerahkan gulungan titah kekaisaran itu.

Bukannya membaca dokumen sakral penyerahan kekuasaan tersebut, Qixuan justru melipat gulungan sutra emas itu menjadi empat bagian, lalu meletakkannya di bawah cawan araknya sebagai alas cangkir.

"Kaisarmu akhirnya belajar cara bertahan hidup yang cerdas," Qixuan meraih cawan araknya dan menyesapnya pelan. "Lalu, bagaimana dengan sepupumu dan pangeran-pangeran lain yang mencoba memprotes keputusan ini?"

"Wakil Jenderal Leng Yue telah menyelesaikan masalah tersebut tadi malam," Yan Ling menelan ludah, berusaha menjaga intonasi suaranya tetap datar. "Enam pangeran yang berniat menggalang pasukan pemberontak telah ditangkap. Seluruh aset klan mereka disita, tubuh mereka dikirim ke Perbatasan Utara untuk menjadi buruh kasar di tambang besi spiritual kita selamanya."

"Bagus," Qixuan menghela napas panjang, menikmati semilir angin musim semi. "Uang negara ini terlalu sering dihamburkan untuk membiayai gaya hidup pangeran-pangeran tidak berguna. Mulai hari ini, satu-satunya orang yang berhak menghamburkan uang di Benua Timur hanyalah aku."

Suasana hening sejenak. Yan Ling masih berdiri di sana, terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan laporan berikutnya. Gestur gelisah itu tidak luput dari panca indera Qixuan yang telah menajam hingga melampaui batasan manusia fana.

"Katakan saja, Yan Ling. Menyembunyikan kata-kata di hadapanku bisa membuat lidahmu membusuk," ancam Qixuan halus, nada suaranya selembut sutra beracun.

Yan Ling menarik napas dalam-dalam. "Tuanku... ini berkaitan dengan Benua Atas. Setelah Anda memulangkan Utusan Petir Gongsun Ze dalam keadaan cacat, mata-mata kita yang mengawasi pesisir timur melaporkan adanya anomali cuaca. Tidak ada serangan balasan langsung dari Istana Pedang Guntur Suci. Sebaliknya, sebuah kapal dagang raksasa bersimbol teratai bercahaya baru saja bersandar di Pelabuhan Mutiara Hitam. Kapal itu bukan berasal dari benua kita."

Mendengar hal itu, kelima elemen di dalam Inti Emas Kegelapan Qixuan merespons. Mata pemuda itu terbuka sepenuhnya.

Benua Surgawi terbagi menjadi beberapa wilayah. Benua Timur hanyalah daratan fana terluar. Jauh di seberang Lautan Kabut, terdapat Benua Atas—tempat bernaungnya sekte-sekte raksasa purba yang menganggap manusia biasa sebagai semut. Berbeda dengan sekte petarung, kapal bersimbol teratai bercahaya melambangkan faksi yang jauh lebih menarik bagi seorang Qixuan.

"Paviliun Fatamorgana Surga," Qixuan menyebutkan nama faksi tersebut sembari menyeringai. Ingatan masa lalunya serta informasi dari Jaring Bayangan segera terangkai. "Mereka adalah konglomerat pedagang lintas benua terkuat. Mereka biasanya tidak pernah melirik Benua Timur karena menganggap daratan ini terlalu miskin untuk membeli barang jualan mereka. Tampaknya, insiden dengan Utusan Petir itu telah menyebarkan rumor bahwa ada seorang 'Dewa Kekayaan' baru yang sedang berkuasa di sini."

Yan Ling mengangguk cepat. "Benar, Tuanku. Pemimpin rombongan dagang itu adalah seorang wanita bernama Shen Feiyan. Dia mengirimkan undangan perjamuan lelang eksklusif malam ini di Pelabuhan Mutiara Hitam, ditujukan langsung kepada 'Penguasa Bayangan Jinling'. Barang-barang yang mereka bawa konon merupakan pusaka alam kelas Surga dan material dari monster laut dalam."

Qixuan bangkit berdiri. Jubah hitamnya berdesir tertiup angin ketinggian. Sepasang matanya memancarkan rasa lapar yang absolut. Selama ini ia hanya menghamburkan emas fana, menguasai ekonomi tingkat kerajaan. Sekarang, pedagang dari dunia para dewa datang mengetuk pintunya.

"Pusaka kelas Surga?" Qixuan tertawa pelan. "Kebetulan sekali, Inti Emasku sedang meronta meminta asupan mainan baru. Mo Chen!"

Bayangan di sudut ruangan berdesir, memunculkan sosok pengawal setia berpakaian hitam legam. "Hamba, Tuanku."

"Siapkan seratus kereta terbang. Kosongkan seluruh perbendaharaan batu spiritual kelas atas dan menengah yang baru saja kita panen dari tambang utara," perintah Qixuan matanya berkilat penuh ambisi gila. "Malam ini, kita akan berangkat ke Pelabuhan Mutiara Hitam. Mari kita ajari para pedagang sombong dari Benua Atas itu cara berfoya-foya yang sesungguhnya."

Jauh di seberang lautan, di balik awan yang terus-menerus memuntahkan kilat biru, berdiri sebuah istana megah yang terbuat dari kristal guntur. Itulah Istana Pedang Guntur Suci, salah satu dari tiga sekte penguasa Benua Atas.

Di dalam aula utamanya yang dipenuhi pilar-pilar listrik menyambar, suasana terasa sangat mencekam. Empat ekor Naga Petir Bersayap meringkuk ketakutan di tengah ruangan, tubuh mereka dipenuhi luka cambuk. Di dekat monster-monster raksasa itu, tergeletak sebuah peti kayu murahan.

Patriark Lei Jiantian, penguasa tertinggi sekte yang telah mencapai ranah *Domain Bumi* tahap menengah, berdiri menatap isi peti tersebut dengan wajah yang berkedut menahan murka.

Di dalam peti itu, tergeletak Gongsun Ze. Utusan elit kebanggaan sekte tersebut kini hanyalah seonggok daging cacat. Tulang-tulangnya remuk total, Dantiannya hancur, dan meridiannya telah dikuras habis oleh suatu kekuatan penyedot yang sangat biadab. Utusan itu masih hidup, terus mengerang meminta kematian.

"Siapa..." suara Lei Jiantian menggelegar, membuat seluruh kristal guntur di aula beresonansi. "Siapa yang berani merusak murid intiku hingga seperti ini?!"

Seorang tetua penasihat melangkah maju dengan gemetar, menyerahkan secarik perkamen yang ditemukan tertancap di dada Gongsun Ze.

Lei Jiantian menyambar perkamen itu. Matanya menyapu tulisan tangan yang sangat elegan, dipenuhi arogansi tak terbatas.

*"Jinling tidak membayar upeti. Jika Benua Atas masih berani mengirim anjing-anjing kemari untuk menagih pajak, maka aku, Cang Qixuan, yang akan datang sendiri untuk menagih nyawa patriark kalian beserta bunganya."*

Kertas perkamen itu seketika hangus menjadi abu di tangan sang Patriark. Kilat menyambar dari matanya.

"Manusia fana dari Benua Timur menantang Istana Guntur Suci?!" Lei Jiantian meraung marah. "Kirim Pasukan Pembelah Langit! Ratakan Jinling malam ini juga! Jangan sisakan satu pun nyawa di benua kotor itu!"

"Tunggu, Patriark! Mohon tenangkan amarah Anda!" Tetua penasihat itu segera bersujud menghalangi jalan. "Mohon periksa luka pada tubuh Gongsun Ze. Energi yang meremukkan tulang-tulangnya mengandung tiga elemen mematikan secara bersamaan: Bumi pekat, Yin Kegelapan, dan Api Inti. Terlebih lagi, energi petir Gongsun Ze tidak dipantulkan, melainkan *ditelan* secara utuh!"

Lei Jiantian menghentikan langkahnya, keningnya berkerut tajam. Ia memfokuskan panca inderanya pada sisa-sisa luka utusan tersebut. Penasihatnya benar. Luka ini tidak dihasilkan oleh senjata fisik atau formasi biasa.

"Menelan energi petir murni..." gumam Lei Jiantian, amarahnya perlahan digantikan oleh kecurigaan tingkat tinggi. "Tidak ada manusia fana yang bisa melakukan hal itu tanpa meledak. Hanya monster purba atau iblis yang bereinkarnasi yang memiliki Dantian sekuat itu. Mungkinkah pemuda bernama Cang Qixuan ini adalah wadah reinkarnasi dari ahli kuno yang bersembunyi di Benua Timur?"

"Itulah yang hamba khawatirkan," angguk penasihat tersebut. "Sekte kita sedang dalam masa perang dingin melawan Sekte Teratai Darah. Jika kita mengirim pasukan besar secara sembarangan ke Benua Timur dan masuk ke dalam perangkap monster kuno, kekuatan kita akan terkuras. Lebih baik kita menggunakan taktik bayangan. Utus Tim Perburuan Bayangan untuk menyusup ke Jinling. Cari tahu asal-usul kekuatan dan sumber kekayaan pemuda ini. Jika dia memiliki warisan dewa, kita rampas secara diam-diam."

Lei Jiantian memejamkan mata, menimbang keuntungan dan kerugiannya. Rasa dendam harus mengalah pada keserakahan. Warisan yang mampu menelan elemen langit adalah godaan yang terlalu besar untuk diabaikan.

"Baiklah. Tahan pergerakan militer," perintah Lei Jiantian tegas. "Kirim tiga pembunuh bayaran ranah Jiwa Baru tahap awal. Misi mereka bukan menghancurkan kota, melainkan menculik Cang Qixuan hidup-hidup. Aku ingin membedah Dantiannya dan melihat rahasia apa yang ia sembunyikan di balik kesombongannya."

Sebuah konspirasi mematikan mulai dirajut dari langit, membidik sang penguasa Jinling tanpa menyadari bahwa mangsa yang mereka incar sesungguhnya adalah predator yang jauh lebih rakus.

Sementara itu, Pelabuhan Mutiara Hitam di pesisir pesisir Timur sedang bermandikan cahaya yang tidak wajar.

Malam itu, puluhan kapal perang dan kapal dagang lokal dipaksa menyingkir dari dermaga utama untuk memberikan ruang bagi sebuah kapal raksasa. Kapal itu tidak terbuat dari kayu, melainkan dipahat dari tulang rusuk monster Paus Awan berskala masif. Di sekeliling geladaknya, lentera-lentera yang terbuat dari mutiara laut dalam memancarkan cahaya berwarna-warni yang menerangi seluruh pelabuhan layaknya siang hari.

Inilah Kapal Lelang Paviliun Fatamorgana Surga.

Di dalam kabin lelang yang megah, ratusan kursi berlapis beludru merah telah ditata rapi. Para tamu yang hadir bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah patriark klan tersembunyi, tetua sekte independen, dan penguasa kota pesisir yang selama ini tidak pernah muncul di ibukota. Mereka berkumpul karena tertarik oleh barang-barang langka dari Benua Atas.

Di atas panggung pualam, berdirilah Nona Shen Feiyan. Pemilik sekaligus pelelang utama dari faksi pedagang tersebut sungguh merupakan mahakarya kecantikan yang mematikan. Ia mengenakan gaun sutra ketat berwarna merah keunguan yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Rambutnya dihiasi tusuk konde berbentuk burung merak dari emas murni. Sepasang matanya yang tajam bagai rubah menyapu seluruh tamu di ruangan itu dengan senyuman merayu yang sangat profesional. Di balik senyum itu, tersimpan kekuatan kultivasi ranah Inti Emas tahap puncak.

"Tuan-tuan yang terhormat dari Benua Timur," suara Shen Feiyan menggema merdu, membius pendengaran setiap pria di ruangan tersebut. "Paviliun Fatamorgana Surga merasa sangat terhormat bisa singgah di daratan Anda. Malam ini, kami membawa tiga puluh item pusaka alam yang bahkan sulit ditemukan di Benua Atas. Kuharap kantong spiritual kalian cukup dalam untuk memuaskan perjalanan jauh kami."

Para tetua dan patriark lokal menelan ludah. Mereka telah menyiapkan seluruh kekayaan klan mereka untuk malam ini.

Lelang pun dimulai. Suasana dengan cepat berubah memanas. Obat-obatan penyembuh tingkat Surga, zirah sisik naga laut, hingga pedang spiritual yang memiliki roh sendiri dilelang dengan harga selangit. Mata uang yang digunakan bukan lagi emas fana, melainkan batu spiritual tingkat menengah dan atas.

"Item kedua puluh lima," Shen Feiyan tersenyum manis, membuka sebuah kotak giok kristal di atas meja panggung.

Udara di dalam ruangan seketika berubah panas. Dari dalam kotak itu, melayang sehelai bulu berwarna merah menyala yang terus-menerus memancarkan percikan api abadi. Aroma keagungan menyebar, menekan jiwa kultivator berelemen api yang hadir.

"Ini adalah Bulu Ekor Phoenix Api Neraka," Shen Feiyan menjelaskan, matanya berkilat bangga. "Ditemukan di dasar Kawah Bintang Jatuh di Benua Atas. Bulu ini mengandung setitik darah murni Phoenix. Sangat cocok digunakan untuk memperkuat senjata elemen api tingkat tinggi atau diserap oleh kultivator untuk memperpanjang umur hingga lima ratus tahun. Harga awal, seratus ribu batu spiritual tingkat atas!"

Keheningan melanda seluruh ruangan. Seratus ribu batu spiritual tingkat atas?! Jumlah itu setara dengan total pendapatan lima provinsi selama sepuluh tahun berturut-turut! Para patriark lokal yang sebelumnya bersemangat kini tertunduk lemas. Harga barang dari Benua Atas benar-benar berada di luar nalar manusia Benua Timur.

Shen Feiyan mempertahankan senyumnya, menyadari bahwa daya beli daratan ini memang mengecewakan. Ia bermaksud menutup kotak itu dan menyimpannya kembali, menganggap lelang telah gagal.

Tepat pada detik tersebut, suara pintu utama kabin didorong terbuka dengan sangat kasar terdengar.

*Brak!*

Ratusan penjaga kapal bersenjatakan tombak air segera bersiaga, mengarahkan senjata mereka ke arah pintu.

Dari balik cahaya lampu pelabuhan, melangkah masuk sesosok pemuda berjubah hitam berlapis sulaman rasi bintang perak. Langkahnya gontai, kipas gioknya berayun malas. Ia diikuti oleh puluhan pria berpakaian hitam yang memanggul peti-peti kayu berat di pundak mereka.

Cang Qixuan masuk ke dalam ruangan lelang layaknya seorang pangeran yang memasuki taman belakang rumahnya sendiri. Mo Chen berdiri di sampingnya seperti malaikat maut tak bersuara.

"Maaf aku sedikit terlambat, Nona Shen," suara Qixuan menggema santai membelah kesunyian yang tegang. "Aku harus memutar sedikit karena cuaca pesisir tidak terlalu bagus untuk suasana hatiku. Kudengar kau menjual barang rongsokan dari Benua Atas dengan harga selangit? Menarik sekali."

Shen Feiyan menyipitkan matanya. Ia merasakan aura yang sangat unik dari pemuda ini. Kepadatan Inti Emas Kegelapan Qixuan disamarkan dengan sangat rapi, menghasilkan ilusi seorang manusia fana yang tidak memiliki meridian.

"Kau pasti Tuan Muda Cang Qixuan, Penguasa Bayangan Jinling yang sedang menjadi pembicaraan," Shen Feiyan tersenyum profesional, menahan rasa tersinggungnya. "Menyebut pusaka kami sebagai rongsokan adalah penghinaan yang cukup berani. Bulu Phoenix ini dibanderol dengan harga seratus ribu batu spiritual tingkat atas. Apakah kantong Tuan Muda cukup dalam untuk bermain di meja dewa?"

"Seratus ribu batu spiritual tingkat atas?" Qixuan tertawa terbahak-bahak. Tawa itu terdengar sangat arogan, menggema di seluruh kabin lelang. Ia menghentikan tawanya mendadak, menatap Shen Feiyan dengan tatapan meremehkan.

"Kau membuang waktuku dengan harga sekecil itu?" Qixuan menjentikkan jarinya ke arah Mo Chen.

*Brak! Brak! Brak!*

Sepuluh peti kayu raksasa dijatuhkan secara bersamaan di depan panggung lelang. Tutup peti-peti itu ditendang terbuka. Cahaya spiritual yang menyilaukan mata meledak memenuhi seluruh kabin.

Bukan batu spiritual biasa. Itu adalah inti kristal dari berbagai tambang spiritual raksasa di utara yang telah dikonversi dan dipadatkan menggunakan teknologi Jaring Bayangan. Ratusan ribu keping batu spiritual tingkat atas yang memancarkan aura langit tumpah ruah ke lantai pualam.

Seluruh tamu di kabin tersebut serentak berdiri. Napas mereka tercekat. Kekayaan yang terhampar di depan mata mereka cukup untuk membeli sebuah negara kecil di Benua Atas!

"Lima ratus ribu batu spiritual tingkat atas," ucap Qixuan dengan nada sedatar air telaga, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menaikkan harga lima kali lipat dari harga dasar. "Bungkus bulu burung itu, lalu bawa ke mejaku. Aku kebetulan membutuhkan benda panas untuk mengaduk arak musim semiku."

Shen Feiyan, wanita rubah licik yang telah berdagang dengan ahli-ahli abadi selama puluhan tahun, kini membeku di atas panggung. Matanya terbelalak menatap gunung batu spiritual di bawah kakinya. Menggunakan Bulu Ekor Phoenix yang legendaris... sebagai pengaduk arak?! Kegilaan macam apa ini?!

"L-Lima ratus ribu..." Shen Feiyan menelan ludah dengan susah payah. Pesona profesionalnya hancur oleh beban uang yang tidak masuk akal. Ia mengetukkan palu lelangnya dengan tangan gemetar. "T-Terjual kepada Tuan Muda Cang!"

Seorang pelayan bergegas mengantarkan kotak giok tersebut ke meja khusus yang langsung disiapkan untuk Qixuan di barisan terdepan.

Pemuda itu duduk, mengambil Bulu Phoenix yang memancarkan panas ekstrem tersebut dengan tangan kosong. Kekuatan Inti Emas Kegelapannya dengan mudah menetralkan panas api surgawi itu. Ia benar-benar mencelupkan ujung bulu legendaris tersebut ke dalam kendi araknya, mengaduknya beberapa kali, lalu mencium aromanya dengan ekspresi bosan.

Para patriark lokal meneteskan air mata darah melihat pusaka alam yang didewakan itu diperlakukan layaknya sumpit murahan.

"Nona Shen," Qixuan bersandar di kursinya, kakinya dinaikkan ke atas meja lelang dengan sangat tidak sopan. "Lelang dengan satu per satu barang terlalu lambat untuk seleraku. Waktuku sangat berharga. Aku masih harus kembali ke ibukota sebelum fajar untuk memancing di danau istana."

Shen Feiyan berusaha mengatur napasnya. Senyumnya yang kaku kembali terpasang. "A-Apa maksud Anda, Tuan Muda?"

Qixuan menyentak lengan bajunya. Puluhan anak buahnya kembali melangkah masuk dari luar kapal. Kali ini, mereka membawa lebih dari lima puluh peti raksasa tambahan.

*Brak! Brak! Brak!*

Batu spiritual tingkat atas, inti monster langka, dan tumpukan emas murni yang dilebur menjadi batangan seberat batu karang ditumpuk hingga membentuk dinding setinggi tiga meter di depan panggung. Energi spiritual yang menguar dari tumpukan kekayaan itu begitu pekat hingga membuat beberapa kultivator di ruangan itu pusing.

"Total ada sepuluh juta batu spiritual tingkat atas di tumpukan ini," Qixuan menguap panjang, melambaikan kipas gioknya. "Aku membeli sisa seluruh barang lelangmu malam ini. Obat-obatan, zirah, pusaka laut, budak wanita, apapun yang ada di dalam lambung kapalmu ini. Bungkus semuanya dan kirim ke Menara Teratai Emas. Sisa uangnya anggap saja uang tip untuk awak kapalmu agar mereka bisa minum-minum di pelabuhan."

Hening mutlak melanda kapal raksasa tersebut. Hanya suara deburan ombak yang terdengar.

Membeli *semua* barang dagangan dari konglomerat Benua Atas tanpa repot-repot melihat daftarnya? Ini bukan lagi sekadar pemborosan. Ini adalah proklamasi supremasi absolut. Cang Qixuan seolah sedang menampar wajah seluruh Benua Atas dengan tumpukan batu spiritual, memberi tahu mereka bahwa kekayaan fana dan ilahi tak ada bedanya di tangannya.

Shen Feiyan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasa sangat kerdil. Pesona kewanitaannya, latar belakang sektenya, dan keterampilan negosiasinya hancur lebur dihantam oleh beban kapitalisme telanjang milik pemuda ini.

"T-Tuanku... Anda sungguh-sungguh?" Shen Feiyan akhirnya menyebutnya dengan gelar penghormatan, membuang kesombongannya sebagai orang Benua Atas.

"Tentu saja," Qixuan bangkit berdiri, menepuk sisa debu dari jubahnya. Ia menatap Shen Feiyan dengan senyum miring yang menyimpan bahaya mematikan. "Setelah semua barang ini dipindahkan, aku punya satu pesanan khusus untuk paviliunmu, Nona Shen. Pesanan yang harganya jauh lebih mahal dari semua rongsokan ini."

Shen Feiyan melompat turun dari panggung, membungkuk dalam-dalam dengan belahan gaun yang tersingkap, berusaha memberikan penghormatan tertinggi. "Paviliun Fatamorgana Surga siap melayani segala permintaan Anda, Dewa Kekayaan Jinling. Apa pesanan khusus tersebut?"

Qixuan melangkah maju, membisikkan sesuatu tepat di samping telinga Shen Feiyan.

"Aku ingin menyewa seluruh armada kapal terbang raksasa milik paviliunmu bulan depan. Aku butuh transportasi untuk memindahkan Seratus Ribu Pasukan Naga Hitam menyeberangi Lautan Kabut. Sudah saatnya aku melebarkan bisnisku, dan Istana Pedang Guntur Suci di Benua Atas tampaknya membutuhkan sedikit perombakan arsitektur menggunakan api dan racun."

Mata Shen Feiyan membelalak ngeri. Pemuda ini tidak hanya menghamburkan uang, ia berencana menggunakan uangnya untuk mensponsori perang penaklukan lintas benua yang akan menghancurkan keseimbangan dunia selamanya!

Di bawah cahaya bulan merah pelabuhan, sosok Tuan Muda Pemboros itu tidak lagi terlihat seperti sekadar pedagang kaya. Ia telah menjelma menjadi penguasa kematian yang memegang kunci perbendaharaan neraka, siap mencairkan setiap sekte yang berani menghalangi jalannya dengan lautan emas mendidih.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!