Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen
Turnamen
Beberapa bulan kemudian, akademi mengadakan turnamen tahunan yang diikuti oleh ratusan murid dari berbagai tingkat. Dari siswa baru yang baru saja masuk, hingga senior yang akan segera lulus. Pengumuman-pengumuman sudah terpampang di setiap sudut akademi, menyatakan bahwa turnamen ini bertujuan untuk mengasah kemampuan para murid dan mencari bakat-bakat muda yang menjanjikan. Hadiah utamanya sungguh menggiurkan: buku teknik kultivasi langka yang hanya satu salinan di akademi dan batu spiritual tingkat tinggi yang bisa meningkatkan kecepatan kultivasi hingga dua kali lipat.
"Sangat bagus jika kamu mendaftar, Ze Kai," ujar Master Li ketika mereka sedang berlatih di halaman belakang akademi. "Turnamen ini adalah kesempatan yang baik untuk menguji kemampuanmu dan melihat sejauh mana perkembangan kultivasimu. Selain itu, hadiahnya akan sangat membantu untuk mempercepat pertumbuhanmu."
An Qi yang sedang duduk di sisi mereka mengangguk dengan antusias.
"Betul sekali, Ze Kai! Aku akan selalu datang menyemangatinmu dari tribun. Kau pasti bisa mencapai babak akhir!"
Ze Kai tersenyum, merasa sedikit tertekan namun juga bersemangat.
"Aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk bersaing dengan senior-senior yang sudah lama berlatih. Tapi jika Master Li dan kau berpikir itu baik untukku, aku akan mencobanya."
Setelah beberapa hari mempertimbangkannya, Ze Kai akhirnya mendaftarkan namanya di panitia turnamen. Namun tidak disangka, berita bahwa Ze Kai akan berpartisipasi segera sampai ke telinga Zhang Wei yang sangat membenci Ze Kai.
"Sangat bagus jika bocah itu mau ikut turnamen," kata Zhang Wei dengan senyum sinis saat sedang berkumpul dengan tiga senior akademi tingkat atas di kamar mereka. Ia meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja, membukanya untuk menunjukkan batu spiritual berwarna hijau mengkilap di dalamnya. "Ini adalah Batu Bumi Harmonis yang bisa meningkatkan kemampuan mengendalikan Elemen Tanah. Aku akan memberikannya kepada kalian berdua, ditambah dengan tiga ratus koin emas jika kalian bisa membuat Ze Kai terluka parah hingga tidak bisa melanjutkan kompetisi."
Salah satu senior bernama Liu Jin mengangkat alisnya, melihat batu itu dengan mata yang penuh hasrat. "Batu itu memang berharga, Zhang Wei. Tapi Ze Kai bukanlah orang yang mudah diatasi. Aku pernah melihat dia mengalahkan senior-senior lain dengan mudah."
"Jangan khawatir," jawab Zhang Wei dengan suara rendah yang penuh dendam. "Kalian bisa mencelakainya selama pertandingan. Serang dia dengan lebih keras dari biasanya, cari kesempatan untuk menyerangnya di titik vital yang tidak terlihat oleh wasit. Jika perlu, kalian bisa bekerja sama untuk membuatnya kewalahan. Aku sudah menyetujui dengan panitia bahwa kalian tidak akan bertemu di babak awal, jadi kalian bisa menyerangnya satu per satu atau bersama-sama jika ada kesempatan."
Senior lainnya bernama Chen Tao mengangguk perlahan, sudah tergiur dengan imbalan yang ditawarkan.
"Baiklah, Zhang Wei. Kami akan melakukan apa yang bisa kami lakukan. Tapi kau harus memastikan, bahwa kita tidak akan terkena hukuman jika ada yang tahu."
"Jangan khawatir tentang itu," ucap Zhang Wei dengan senyum kejam. "Keluargaku memiliki hubungan dengan beberapa anggota panitia. Jika ada yang mengajukan pertanyaan, aku akan menjaganya. Yang penting, bocah itu harus keluar dari turnamen dan kehilangan wajah di depan seluruh akademi!"
Ketiga senior itu saling melihat, kemudian mengangguk setuju. Mereka mulai merencanakan strategi untuk menghadapi Ze Kai di setiap babak turnamen, mencari celah untuk menyerangnya dengan cara yang tidak terlihat jelas oleh pengamat dan wasit. Sementara itu, Genesis yang sedang mengawasi tanpa mereka bisa melihat mendengar seluruh percakapan itu dengan jelas, dan segera mempersiapkan diri untuk memberitahu Ze Kai tentang rencana jahat mereka.
-
-
-
Pada babak pertama, Ze Kai menghadapi Wang Cheng, senior tingkat tiga yang sudah menguasai Elemen Api tahap menengah dan dikenal sebagai salah satu pejuang paling kejam di akademi. Saat lonceng pertandingan berbunyi, Wang Cheng langsung menyerang dengan penuh kekerasan. Kedua tangannya membara dengan nyala api berwarna jingga kemerahan yang mampu mencairkan batu biasa dalam hitungan detik.
"Siapa bilang kamu bisa mengalahkan aku, bocah baru!" teriak Wang Cheng sambil melemparkan bola api berukuran besar ke arah Ze Kai.
Ze Kai dengan cepat melompat ke belakang, menggunakan energi tanah untuk membuat dinding batu tipis di depannya sebagai perisai sementara bola api menghantamnya dengan suara "BOOM" yang membuat percikan api terbang ke segala arah. Sebelum asap menghilang, Wang Cheng sudah muncul di sebelahnya dengan tangan yang membentuk pisau api tajam, menyergap Ze Kai dari sisi yang tidak terduga.
Dengan refleks yang luar biasa cepat, Ze Kai menoleh dan menggunakan tangan kirinya yang diperkuat dengan energi tanah untuk menghadang serangan itu. Nyala api berwarna jingga membara menyala dengan kuat saat bersentuhan dengan batu yang dibentuknya, mengeluarkan suara "ZZZZZZT" yang menggema dan percikan api yang terbang ke segala arah. Namun Ze Kai tetap tenang, fokus mengendalikan aliran energi tanah untuk mendinginkan permukaan batu secara perlahan, mencegahnya runtuh terlalu cepat akibat panas yang luar biasa.
Sambil masih menghadang serangan dengan kuat, Ze Kai merasa terpaksa mengambil langkah yang tidak diinginkannya. Udara di sekitar arena cukup lembap akibat kolam yang berada di dekatnya. Tanpa banyak pilihan untuk membuat lawannya bingung, ia menggunakan kekuatan tambahan dengan mengeluarkan tangan kanannya dan mengendalikan uap air dari udara sekitar untuk membentuk tirai kabut tebal yang perlahan menyelimuti seluruh area pertempuran. Ia berusaha menyembunyikan sumber energi yang digunakan, namun kecepatan dan cara ia membentuk kabut sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengendalikan lebih dari sekadar Elemen Tanah.
Ketika Wang Cheng mulai bingung mencari posisinya di tengah kabut yang padat, Ze Kai muncul dari belakang dengan cepat dan memberikan pukulan lembut namun tepat pada titik vital di punggung Wang Cheng. Sentuhan itu cukup untuk membuatnya kehilangan kekuatan untuk mengendalikan energi api dan terpaksa menjatuhkan tangan dengan ekspresi penuh kaget.
"Kau... kau menguasai Elemen Air juga?!" bisik Wang Cheng dengan napas tersengal-sengal, tubuhnya sudah sangat lelah karena terlalu memaksakan diri.
Meskipun menang, Ze Kai tetap mendekat dan membantu Wang Cheng berdiri, bahkan memberikan sedikit energi air untuk membantu menstabilkan napasnya yang tidak teratur. Ketika tirai kabut akhirnya menghilang dan kebenaran terkuak, suara heboh menyebar seperti badai di seluruh tribun penonton.
"Bagaimana mungkin?! Dia bisa mengendalikan dua elemen sekaligus!" teriak salah satu penonton dengan suara penuh kagum.
"Elemen Tanah yang kokoh dan Elemen Air yang lincah... padahal dia baru saja masuk akademi beberapa bulan yang lalu!" ujar seorang senior dengan mata terbengkalai.
Para pengamat mulai berbisik-bisik dengan penuh kekaguman. Meskipun jelas bahwa kemampuannya dalam mengendalikan Elemen Air masih berada di tahap awal, namun sudah cukup luar biasa bagi seorang siswa baru untuk menguasai dua elemen sekaligus. Bahkan beberapa guru yang menyaksikan pertandingan mulai menunjukkan ekspresi terkejut dan kagum, termasuk Master Li yang tersenyum dengan bangga dari kejauhan.
Ze Kai hanya mengangguk dengan sopan kepada Wang Cheng sebelum berjalan keluar dari arena, merasa sedikit khawatir karena telah tidak sengaja membuka rahasia kemampuannya. Namun pandangan penuh rasa hormat dari sebagian besar penonton membuatnya merasa bahwa mungkin tidak semua orang akan melihat kekuatannya sebagai ancaman.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊