Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Kekaisaran
Beberapa hari telah berlalu dengan sangat cepat, kondisi Arcelia semakin membaik dan kediaman Vareinne perlahan menjadi tenang.
Langit pagi di atas mansion keluarga Vareinne masih diselimuti awan tipis setelah hujan semalaman. Udara terasa dingin, sementara suasana mansion jauh lebih baik dari hari-hari yang lalu.
Namun banyak perubahan yang telah terjadi didalam mansion. Para pelayan mulai berjalan dengan kepala tertunduk.
Semua orang yang ada didalam mansion mulai membicarakan perubahan Arcelia yang begitu terlihat nyata.
Sedangkan di dalam kamar, Arcelia duduk di depan cermin sambil memandang pantulan dirinya sendiri.
"Kulit pucat, bola mata merah anggur yang terlihat lebih tajam. Dan aura berbeda yang keluar dalam tubuh ini." gumam Arcelia.
"Tubuh ini benar-benar berubah sedikit demi sedikit." lanjut gumamnya.
Di atas meja dekat jendela, Auriel sedang tidur melingkar seperti rubah biasa.
Namun telinganya bergerak pelan begitu Arcelia berdiri.
“Pagi.” sapa Auriel.
“Kamu tidak tidur?” tanya Arcelia
Auriel membuka satu mata malas. “Makhluk sistem tidak benar-benar tidur.” katanya. “Aku hanya suka bermalas-malasan.” lanjut Auriel.
Ucapan Auriel membuat Arcelia hampir tertawa. Makhluk ini benar-benar berubah semakin seperti makhluk hidup.
Tok.
Tok.
Suara ketukan terdengar dari pintu.
“Nona, saya masuk.” kata Lilian masuk sambil membawa nampan sarapan.
Namun wajahnya terlihat tampak tegang.
“Ada apa?” tanya Arcelia sambil mengerutkan dahi.
Lilian sedikit ragu-ragu sesaat sebelum menjawab,
“Undangan Festival kerajaan dari istana sudah tiba.” kata Lilian sambil menyodorkan undangan.
Mata Arcelia langsung menyipit. "Festival Kekaisaran. Cepat sekali." gumam Arcelia.
Lilian menyerahkan amplop hitam bersegel emas dengan hati-hati. Lambang keluarga kerajaan tercetak jelas di permukaannya.
Auriel langsung melompat mendekat. Bulunya sedikit berdiri.
“Undangan itu mengandung Aura sihir.” kata Auriel.
“Sihir?” tanya Arcelia bingung.
“Undangan resmi kerajaan biasanya sangat dilindungi.” kata Auriel menjelaskan.
“Supaya tidak bisa dipalsukan.” sambung Auriel.
"Menarik sekali." kata Arcelia.
Arcelia membuka surat itu perlahan.
Tulisan elegan berwarna emas memenuhi kertas putih mahal tersebut.
Kepada keluarga Duke Vareinne,
Keluarga kerajaan mengundang Anda menghadiri Festival Kekaisaran yang akan dilaksanakan tujuh hari lagi di Istana Astrael.
Kehadiran seluruh anggota keluarga diwajibkan.
Tatapan Arcelia berhenti pada satu kalimat terakhir. Seluruh anggota keluarga.
"Berarti Elena dan Lunaria juga akan hadir dipesta festival kerajaan nanti." gumam Arcelia pelan.
"tentu saja Marquise Elena dan nona Lunaria akan hadir juga." kata Lilian mendengar gumaman Arcelia.
Arcelia hanya melirik Lilian sekilas. "Dan kalau benar ada percobaan pembunuhan terhadap Putra Mahkota maka festival itu akan menjadi medan perang tersembunyi." batin Arcelia, ekspresi wajahnya perlahan berubah.
“Nona…” Lilian terlihat gelisah. “Saya mendengar Festival Kekaisaran tahun ini berbeda.” kata Lilian.
“Apa maksudmu?” tanya Arcelia penasaran.
“Festival tahun ini akan ada banyak bangsawan asing yang datang.” kata Lilian menjelaskan.
“Bahkan keluarga kerajaan dari negara lain juga hadir.” lanjut Lilian.
Ucapannya membuat Auriel langsung menoleh cepat. “Itu akan jadi lebih buruk dari dugaan.” kata Auriel.
“Kenapa bisa menjadi lebih buruk?." tanya Arcelia sambil mengerutkan dahinya.
Rubah kecil itu melompat ke meja. “Semakin banyak tamu penting, semakin besar kekacauan kalau sesuatu terjadi.” Auriel mengingatkan Arcelia.
Arcelia memejamkan mata sebentar. "Berarti siapa pun dalang di balik semua ini mereka merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar membunuh seorang bangsawan." gumam Arcelia pelan.
Tok.
Tok.
Tiba-tiba pintu kamar mendapatkan ketukan lain terdengar.
Kali ini ketukan terdengar seperti buru-buru. Dan sebelum Lilian sempat menjawab pintu langsung terbuka.
Duke Cedric Vareinne masuk ke dalam kamar. Tatapannya langsung jatuh pada surat di tangan Arcelia.
“Kamu sudah menerimanya.” tanya Duke Cedric.
“Ayah juga?” tanya Arcelia.
Cedric mengangguk pelan. Wajahnya terlihat lebih lelah dibanding biasanya. Mungkin karena semalaman ia tidak bisa tidur.
“Aku ingin bicara.” kata Duke Cedric tiba-tiba.
Lilian langsung membungkuk. “Kalau begitu saya permisi.” kata Lilian kemudian pergi meninggalkan Arcelia.
Begitu pintu tertutup, suasana kamar menjadi sunyi.
Auriel melompat kembali ke sofa dan mengamati Cedric diam-diam.
Menariknya Cedric tampak sedikit menyipit ke arah Auriel. Seolah samar-samar bisa merasakan keberadaannya.
“Ayah bisa melihatnya?” tanya Arcelia tiba-tiba.
Cedric mengernyit. “Melihat apa?” tanya Duke Cedric curiga.
“Tidak apa-apa.” kata Arcelia.
"Berarti hanya Leonard yang benar-benar bisa melihat Auriel." batin Arcelia.
Kemudian Duke Cedric berjalan mendekat perlahan. “Aku sudah menginterogasi Sandra pagi tadi.” katanya.
Mata Arcelia langsung berubah serius. “Dan?” tanya Arcelia penasaran hasil interogasi yang dilakukan ayahnya.
Wajah Duke perlahan mengeras. “Dia mengaku menerima perintah dari seseorang di luar mansion.”
Auriel langsung berdiri ketika Duke Cedric bilang, “Black Serpent.”
“Dia menyebut nama organisasi itu dengan sangat mudah?” tanya Arcelia cepat.
Cedric mengangguk pelan. “Dia bilang ular Hitam yang memberi dia perintah.” kata Duke Cedric.
"Jadi benar. Organisasi itu memang terhubung langsung dengan keluarga Vareinne." batin Arcelia.
“Ayah sekarang percaya dengan ucapan Sandra?” tanya Arcelia.
Tatapan Cedric bertemu dengan mata merah anggur milik putrinya.
Dan kali ini tidak ada lagi keraguan di dalamnya. “Aku percaya.” katanya.
Kalimat sederhana itu membuat dada Arcelia terasa aneh.
"Tubuh ini bereaksi lagi terasa hangat namun sesak sekali didalam dada." batin Arcelia.
Karena mungkin untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama Arcelia asli akhirnya dipercaya oleh ayahnya sendiri.
Namun Cedric belum selesai bicara. “Tapi ada hal lain yang ingin ayah bicarakan.” lanjut Duke Cedric.
“Apa ayah?." tanya Arcelia penasaran.
Ekspresi Duke Cedric itu berubah lebih serius. “Nama Black Serpent pernah muncul dalam penyelidikan keluarga kerajaan bertahun-tahun lalu.”
Auriel langsung terkejut dan tatapan birunya berubah tajam mendengar ucapan Duke.
“Dan penyelidikan itu…” Cedric mengepalkan tangannya perlahan. “…berhubungan dengan kematian ibumu.” kata Duke Cedric.