Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 Dunia Bangsawan (Undangan Kekaisaran)
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar kamar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana di kediaman Duke Vareinne terasa jauh lebih tenang.
Tidak ada pelayan yang berani meremehkan putri keluarga utama lagi sejak kejadian waktu lalu.
Arcelia Vareinne menutup buku yang sedang dibacanya sambil duduk di dekat jendela. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak bukti racun berhasil ditemukan.
Dan setelah saat itu banyak hal yang berubah di mansion. Pelayan mulai menghormatinya dan para ksatria keluarga memberikan salam ketika berpapasan.
Bahkan beberapa bangsawan mulai mengirim surat untuk menjalin hubungan baik dengan Arcelia.
Perubahan yang dulu mustahil akan terjadi, namun Arcelia tahu semuanya belum berakhir. Karena akar masalah sebenarnya masih belum dicabut.
Di atas meja, Auriel sedang tidur sambil menggulung tubuhnya. Bulu putihnya berkilau lembut terkena sinar matahari sedangkan ekor merah mudanya sesekali bergerak pelan.
Kalau orang lain melihatnya, mereka mungkin mengira Auriel hanyalah rubah kecil biasa padahal kenyataannya jauh berbeda.
Telinga Auriel tiba-tiba bergerak kemudian kedua matanya terbuka. "Ada seseorang yang datang." katanya.
Arcelia mengangkat alis dan belum sempat bertanya—
TOK...
TOK...
Ketukan terdengar dari pintu.
"Nona Arcelia." Suara yang sangat dikenalnya.
"Lilian?" kata Arcelia
"Ya, Nona."
"Masuk."
Pintu perlahan terbuka dan disana Lilian berdiri kemudian berjalan masuk dengan ekspresi yang terlihat lebih cerah dibanding beberapa minggu lalu dan di tangannya terdapat nampan berisi teh dan beberapa surat.
"Selamat pagi, Nona." sapa Lilian dengan senyum yang sumringah
"Pagi." balas Arcelia.
Lilian meletakkan surat-surat tersebut di atas meja namun tatapannya terus melirik ke arah Auriel.
Auriel langsung mendongakkan kepala dengan bangga. "Lihat? Aku tampan."
Lilian berkedip. "Nona... dia benar-benar bicara?"
Arcelia menahan senyum. "Sayangnya iya."
"Apa maksudmu sayangnya?!" kata Lilian sambil tertawa kecil.
Suara tawa itu membuat suasana kamar terasa jauh lebih hangat, namun perhatian Arcelia segera tertuju pada surat yang berada paling atas.
Karena amplopnya berbeda dari yang lain karena lebih mewah yang dihiasi lambang matahari emas. Lambang keluarga kekaisaran.
Mata Arcelia sedikit menyipit. "Surat apa itu?" tanya Arcelia.
Ekspresi Lilian langsung berubah serius. "Itu baru tiba pagi ini."
Arcelia langsung membuka amplop tersebut secara perlahan dan Auriel ikut memanjat meja dan matanya membesar saat membaca isi surat.
"Oh." gumamnya pelan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, ini menarik."
Arcelia membaca setiap kalimat dengan tenang, namun semakin lama matanya semakin fokus.
Isi suratnya sangat singkat tetapi dampaknya besar.
Keluarga Vareinne secara resmi diundang menghadiri Festival Musim Semi Kekaisaran yang akan diselenggarakan satu bulan lagi di ibu kota.
Festival musim semi kekaisaran tahun ini adalah terbesar karena menjadi t¹empat seluruh bangsawan penting berkumpul.
Tempat hubungan politik akan dibangun dan tempat rumor lahir setiap hari.
Auriel langsung duduk tegak. "Kita akan pergi ke ibu kota!"
"Kita?" kata Arcelia.
"Tentu saja kita, tentu saja aku tidak akan membiarkanmu sendirian." katanya sambil memalingkan wajahnya dengan bangga.
"huuufff..." Arcelia menghela napas pelan, terkadang ia lupa bahwa rubah ini sangat suka ikut campur.
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar lagi,
Tok..tok..tok..
Namun kali ini suara ketukannya sangat keras dan cepat seolah sedang terburu-buru.
"Arcelia." Suara berat seorang pria datang dari luar.
Arcelia langsung mengenalinya karena itu adalah ayahnya.
"Duke Cedric." kata Lilian yang segera berlari kecil untuk membuka pintu,
Klik..!!
Suara pintu terbuka dan Duke Cedric Vareinne masuk dengan pakaian resmi keluarga sedangkan tatapannya langsung jatuh pada surat di tangan Arcelia.
"Kamu sudah membacanya." katanya pelan.
Arcelia mengangguk. "Festival Musim Semi."
Duke Cedric berjalan mendekat. "Benar."
Ada jeda beberapa saat meskipun hubungan mereka memang membaik, namun luka bertahun-tahun tidak mungkin hilang hanya dalam beberapa minggu.
"Ayah ingin aku datang di acara festival musim semi kekaisaran?" tanya Arcelia.
Untuk sesaat Duke Cedric terlihat bersalah, namun ia tetap menjawab jujur. "Ya."
Arcelia tidak berkata apa-apa, sementara Duke Cedric menarik napas pelan. "Dulu aku mungkin tidak akan mengajakmu."
Keheningan memenuhi ruangan bahkan Lilian menundukkan kepalanya sampai Auriel pun ikut diam karena semua tahu apa maksud kalimat itu. Dulu saat Duke Cedric masih mengabaikan putri kandungnya.
"Dulu aku melakukan banyak kesalahan." Tatapan Duke Cedric terlihat berat. "Tapi sekarang..." Ia berhenti sesaat. "...aku ingin memperbaikinya."
Arcelia menatap ayahnya cukup lama kemudian berkata dengan tenang. "Aku akan ikut."
Untuk pertama kalinya hari itu senyum kecil muncul di wajah Duke Cedric. "Bagus."
Auriel langsung melompat ke atas kepala Arcelia. "Festival! Gaun! Makanan! Kita harus pergi berbelanja!"
Arcelia langsung memijat pelipisnya, ternyata bagian tersulit bukan menghadapi musuh. Melainkan menghadapi rubah cerewet ini.
Di sisi lain... Di kamar mewah di sayap timur kediaman Duke Cedric, Marquise Elena Vareinne sedang membaca surat yang sama.
Tangannya perlahan mengepal. "Festival Musim Semi."
Marquise Elena sangat kesal karena acara yang selama ini selalu menjadi panggung bagi putrinya, namun tahun ini berbeda karena Arcelia Vareinne akan hadir di acara Festival musim semi.
Marquise Elena meremas surat itu perlahan.
Semakin banyak bangsawan mulai membicarakan Arcelia maka semakin banyak pula perhatian yang akan tertuju pada putri kandung Duke dan itu berarti kendali yang selama ini ia bangun mulai retak.
Matanya berubah dingin. "Tidak." Ia menatap keluar jendela. "Aku tidak akan membiarkan semuanya direbut begitu saja."
Di belakangnya, bayangan seseorang berdiri diam dalam kegelapan. Dan senyum Marquise Elena perlahan muncul, karena ia masih memiliki kartu yang belum digunakan.