NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Anak Genius
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”

Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Tamparan di Pemandian

Area pemandian umum asrama terletak di bagian belakang bangunan utama, sebuah kompleks sederhana yang terdiri dari deretan bak kayu besar yang disekat oleh dinding bambu tipis. Uap panas membubung ke langit-langit, menciptakan kabut tipis yang biasanya membawa ketenangan di tengah malam bagi para calon murid yang kelelahan. Namun saat ini, ketenangan itu robek oleh suara tawa parau yang kasar dan bunyi bantingan kayu yang beradu dengan daging.

“Bocah udik! Kau pikir kau siapa berani membantahku? Tuan mudamu si Ma Liang itu mungkin kaya, tapi di pos asrama ini, otot yang berkuasa, bukan pundi-pundi emas!”

Zhu Da, seorang remaja bertubuh gempal menyerupai beruang sirkus dengan kepala setengah botak yang mengkilap terkena uap air, tertawa terbahak-bahak hingga lemak di perutnya berguncang. Kaki kanannya yang besar, kasar, dan dipenuhi daki hitam sedang menginjak punggung Jin Tianyu yang tengkurap tak berdaya di atas lantai kayu yang basah licin. Dua kaki tangan Zhu Da berdiri di sampingnya dengan wajah miring yang menyebalkan, ikut mendaratkan tendangan-tendangan kecil ke pinggang Jin Tianyu sambil mengeluarkan ejekan bernada tinggi.

Jin Tianyu meringis kesakitan, giginya gemeletuk menahan perih, namun ia tidak mengeluarkan satu pun suara tangisan yang diharapkan para perundungnya. Tangannya mencengkeram erat pinggiran bak kayu yang air hangatnya kini sudah mulai keruh, bercampur dengan setetes darah merah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tubuhnya masih sangat rapuh dan kelelahan setelah dipaksa Li Fan membuka gerbang pertama secara instan; ia seperti sebuah mesin yang baru saja dipaksa beroperasi di atas batas kemampuannya, sehingga saat ini, ia tidak memiliki sisa tenaga bahkan untuk sekadar menepis kaki Zhu Da.

“Cepat bersujud dan jilat sisa air kotor di sepatuku ini sampai mengkilap, lalu kau boleh pergi mandi di sungai es sana bersama ikan-ikan beku!” bentak Zhu Da sambil menekan tumitnya lebih keras, membuat Jin Tianyu terbatuk kecil.

Namun, tepat sebelum Jin Tianyu dipaksa merendahkan martabatnya lebih jauh, sebuah suara yang sangat tenang, melodius, namun membawa nada sarkastik yang tajam menggema dari arah pintu masuk pemandian yang remang-remang.

“Aku selalu penasaran dengan misteri biologi, terutama tentang kotoran jenis apa yang sanggup menyumbat otak orang-orang yang gagal dalam Upacara Penerimaan Murid sampai tiga tahun berturut-turut. Sekarang aku mendapatkan jawabannya. Ternyata otak kalian tidak hilang, hanya saja kalian pindahkan ke dalam sepatu kotor itu agar bisa kalian injak-injak sendiri setiap hari.”

Zhu Da dan kedua temannya langsung menegang dan menoleh serentak. Di ambang pintu, Li Fan berdiri dengan postur yang luar biasa santai, bersandar pada pilar kayu sambil merapikan lengan jubah sutra putihnya yang mahal seolah-olah ia sedang bersiap menghadiri perjamuan teh bersama kaisar, bukan sedang berada di tempat pemandian yang kumuh.

“Ma Liang!” geram Zhu Da, matanya menyipit karena benci. Ia mengangkat kakinya dari punggung Jin Tianyu, menciptakan bunyi ‘plok’ yang menjijikkan dari lantai yang basah, lalu berjalan mendekat dengan dada dibusungkan hingga nyaris menyentuh dagunya sendiri. “Bagus kau datang, Tuan Muda Sampah. Pelayanmu ini tidak tahu aturan dan butuh pelajaran. Kau harus membayarku lima koin perak sebagai biaya kompensasi karena wajah jeleknya telah merusak suasana hatiku untuk menikmati air hangat!”

Li Fan tidak langsung menjawab. Ia melirik Jin Tianyu yang perlahan bangkit sambil memegangi perutnya yang memar. Melihat sahabat setianya terluka oleh tangan-tangan kasar tersebut, seulas senyum yang luar biasa manis—tipe senyum yang biasanya dimiliki oleh malaikat maut sebelum mencabut nyawa—terbentuk di wajah tampan Li Fan.

“Lima koin perak? Oh, Zhu Da, kau merendahkan dirimu sendiri. Itu terlalu murah untuk sosok ‘berbakat’ sepertimu yang memiliki spesialisasi dalam bidang perundungan pelayan,” ucap Li Fan sambil melangkah maju, kakinya melangkah ringan di atas air yang menggenang tanpa memercik sedikit pun.

Zhu Da menyeringai lebar, mengira bahwa gertakannya berhasil dan tuan muda manja di depannya ini ketakutan setengah mati. “Hahaha! Kau memang pintar bernegosiasi, Tuan Muda Ma! Kalau begitu, karena aku sedang baik hati, berikan aku sepuluh koin perak sekarang juga, dan aku akan mempertimbangkan untuk tidak membuangmu ke bak air dingin!”

PLAK!

Suara tamparan yang luar biasa keras dan nyaring memutus kalimat Zhu Da seperti guntur yang membelah keheningan malam. Saking dahsyatnya momentum tamparan itu, tubuh gempal Zhu Da yang beratnya setara dua karung beras itu berputar dua kali di udara seperti gasing kayu yang diputar paksa, sebelum akhirnya wajahnya menghantam lantai kayu yang basah dengan bunyi ‘debuk’ yang sangat menyakitkan. Tiga buah giginya yang kuning terlempar keluar dari mulutnya, berdenting di lantai kayu sebelum masuk ke selokan pembuangan.

Beberapa murid lain yang sedang mencuci kaki di sudut ruangan tersedak air, mata mereka nyaris keluar dari kelopaknya. Penonton yang tadinya bersembunyi di balik bilik bambu mulai melongokkan kepala, tidak percaya bahwa tuan muda yang terkenal lembek, manja, dan hanya tahu cara menghamburkan uang klan itu baru saja menerbangkan seorang preman asrama hanya dengan satu gerakan tangan.

Li Fan mengibaskan tangan kanannya dengan ekspresi sangat jijik, seolah-olah ia baru saja menyentuh bangkai tikus yang sudah membusuk seminggu. “Astaga, wajah berminyakmu itu benar-benar merusak pemandangan air mandi pelayanku. Sungguh polusi visual yang tidak bisa dimaafkan oleh hukum alam mana pun. Tanganku rasanya ingin mandi kembang tujuh rupa sekarang juga.”

Zhu Da merintih parau, mencoba bangkit dengan gemetar sambil memegangi pipinya yang kini bengkak kemerahan dan tampak seperti bakpao yang gagal dikukus. Matanya merah menyala penuh amarah yang primitif. “Kau... kau benar-benar berani memukulku?! Aku akan mencincangmu, bocah sialan! Serang dia!”

Ia meraung dan menerjang ke arah Li Fan seperti babi hutan yang sedang mengamuk setelah sarangnya dihancurkan, melayangkan tinju besarnya yang sudah dilapisi lapisan tipis Qi spiritual yang belum sempurna. Dua temannya pun ikut bergerak, mencoba mengepung Li Fan dari sisi kiri dan kanan dengan gerakan yang mereka anggap hebat.

Namun, bagi Li Fan yang telah membuka sembilan gerbang nadi surgawi, dunia di sekitarnya seolah bergerak dalam gerakan lambat. Gerakan ketiga remaja fana itu terlihat tidak lebih dari siput yang sedang merangkak di atas genangan lumpur yang pekat.

Li Fan menghela napas panjang penuh kekecewaan, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang sangat garing. Ia memiringkan kepalanya sedikit, hanya seujung rambut, untuk menghindari tinju Zhu Da yang hanya menghasilkan angin kosong. Kemudian, dengan keanggunan seorang penari istana, ia melangkahkan kaki kirinya ke depan dan memutar pinggulnya menggunakan teknik bela diri Langkah Bangau Menari.

Plak! Plak!

Dua tamparan beruntun, cepat seperti kilat, mendarat mulus di wajah kedua kaki tangan Zhu Da. Kecepatan tangan Li Fan membuat penonton hanya melihat bayangan putih sekilas. Kedua kaki tangan itu langsung berputar sinkron dan menabrak deretan bak mandi di sebelah kanan hingga hancur berantakan. Air hangat tumpah ruah membanjiri lantai, menciptakan kekacauan yang estetik.

Zhu Da yang serangannya meleset total langsung kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan. Li Fan tidak menyia-nyiakan momen komedi itu. Dengan gerakan yang terlihat malas, ia meraih kerah baju belakang Zhu Da, mengangkat tubuh besar itu dengan satu tangan seolah sedang mengangkat seekor anak kucing yang basah kuyup, lalu membantingnya telentang ke lantai kayu yang keras.

Bruk!

“Uhuk! A-apa... kekuatan apa ini?” Zhu Da memuntahkan lebih banyak darah. Tulang rusuknya terasa seperti habis ditabrak kereta kuda yang melaju kencang.

Li Fan berjongkok di samping wajah Zhu Da yang kini dipenuhi ketakutan murni. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Zhu Da yang masih utuh dengan ujung jarinya. “Kau tahu, Zhu Da? Air hangat di bak ini harganya sangat murah di mataku. Aku bisa membeli seluruh fasilitas pemandian di gunung ini hanya dengan sisa uang jajanku kemarin sore. Tapi, yang membuat air ini menjadi barang mewah yang tak ternilai harganya adalah karena pelayanku yang ingin menggunakannya.”

Plak! Satu tamparan ringan namun menyengat mendarat lagi.

“Ini kompensasi karena kau berani menendang punggungnya yang berharga.”

Plak! “Ini sebagai biaya tambahan karena kau menyuruhnya mandi di sungai es. Kau pikir dia itu beruang kutub yang sedang migrasi?”

Plak!

“Dan yang terakhir ini khusus untuk pribadiku, karena kau membuat tanganku yang suci ini menjadi kotor akibat menyentuh pori-pori wajahmu yang jelek.”

Zhu Da kini tidak lagi menggeram; ia menangis tersedu-sedu dengan ingus yang mulai mengalir. Preman pemandian yang biasanya ditakuti oleh murid-murid baru itu kini tampak seperti bayi besar yang kehilangan mainan kesayangannya. “A-ampun, Tuan Muda Ma... tolong ampuni saya... saya salah... saya benar-benar buta mata karena tidak mengenali Gunung Tai yang berdiri di depan saya!”

Para penonton di balik dinding bambu berbisik-bisik heboh. “Lihat itu! Ma Liang benar-benar berubah! Apakah dia memakan obat terlarang?”

“Bodoh, obat mana yang bisa membuatmu secepat itu? Dia pasti menyembunyikan kekuatannya selama ini!”

Li Fan berdiri tegak kembali, memandang ketiga orang yang terkapar mengerang di atas lantai basah dengan tatapan yang sedingin es di puncak pegunungan utara. Auranya saat ini begitu menekan hingga uap air di ruangan itu seolah membeku.

“Tianyu, kemari,” panggil Li Fan tanpa menoleh sedikit pun.

Jin Tianyu berjalan tertatih mendekat, matanya masih membelalak lebar, antara tak percaya dan kagum melihat betapa mudahnya Li Fan menumbangkan tiga penguasa kecil asrama itu hanya dengan modal tamparan tangan kosong yang terlihat santai.

“Mulai detik ini,” suara Li Fan menggema berat di seluruh area pemandian, sengaja ia keraskan agar setiap telinga yang mengintip di balik kegelapan mendengarnya dengan jelas, “Jika ada anjing kurap mana pun yang merasa ototnya terlalu besar dan berani mengganggu waktu mandi pelayanku, atau waktu makannya, atau bahkan sekadar mengganggu waktu tidurnya... aku tidak akan berbaik hati hanya dengan menampar kalian. Aku akan mencabut nadi spiritual kalian satu per satu dan menjadikannya tali jemuran untuk mengeringkan jubahku. Paham?!”

Zhu Da dan kedua temannya mengangguk panik berulang kali, gerakan kepala mereka begitu cepat hingga tampak seperti ayam yang sedang mematuk beras dengan gila. Mereka bahkan tidak berani menatap mata Li Fan.

Li Fan mendengus ringan, lalu berbalik menatap Jin Tianyu. Ekspresi wajahnya yang menyeramkan seketika menghilang, digantikan oleh wajah santai yang penuh dengan aura kemalasan yang familiar. “Nah, Tianyu, air hangat di bakmu masih cukup, kan? Mandilah dengan bersih, hilangkan bau daki orang-orang ini dari sekitarmu. Jangan lupa pakai sabun aromatik bunga lavender yang kubeli di kota kemarin. Aku akan kembali ke kamar duluan; terlalu banyak mencium bau pecundang di ruangan pengap ini membuat selera makanku menurun drastis.”

Dengan gaya angkuh yang kembali terpasang sempurna seolah tidak terjadi apa-apa, Li Fan melangkah keluar dari area pemandian sambil bersiul ringan. Ia meninggalkan Jin Tianyu yang hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya, sementara tiga preman malang di lantai masih terus meratapi gigi-gigi mereka yang berserakan di atas kayu basah. Sejak malam itu, tidak ada satu pun orang di asrama bawah yang berani bicara keras jika melihat Jin Tianyu sedang membawa handuk menuju pemandian.

1
dinozzo
tokoh yg menggemparkan dunia, dapat menghancurkan musuh yg menghalangi jalannya dan membalas kembalikan dengan kebaikan.
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
RisOne Harahap
mantap,lanjut,thor
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
Hasss 🔥
Dian Pravita Sari
gak TST lagi smjong
Dian Pravita Sari
memang novelmtoon gal kompeten dikelilingi prketks yg makan gaji buta semua depstyrmrnnys lah
Bahari: gk ngerti ngomong apa ka🙏
total 1 replies
Jojo Shua
👍
RisOne Harahap: joss,lanjut jangan kasih kendor
total 1 replies
Jojo Shua
Menghibur....
Cerdas...
Lucu...
Bahari: Xie xie🤭
total 1 replies
gempi
j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!