Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Pertarungan di Balik Gerbang
Malam semakin larut, tapi udara di luar terasa jauh lebih panas bagi Rey.
Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gerbang depan komplek perumahannya. Lampu sorot mobilnya menangkap sosok SUV hitam yang terparkir di bawah pohon rindang, tak jauh dari pos penjagaan.
Di sana, bersandar pada pintu mobil dengan gaya tenang yang sangat membosankan bagi Rey, berdiri Adrian. Pria itu tampak sedang menatap layar ponselnya, tidak menyadari bahwa badai sedang meluncur ke arahnya.
Rey menginjak rem dengan kasar, menciptakan suara decitan ban yang memecah keheningan malam. Rey keluar dari mobil bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Pintu mobil dibantingnya keras-keras.
"Mau apa kamu di sini?" bentak Rey. Suaranya menggelegar, penuh dengan otoritas yang terluka.
Adrian mendongak. Ia tidak tampak terkejut. Dengan gerakan perlahan, Adrian memasukkan ponselnya ke saku kemeja dan menegakkan tubuhnya. "Aku cuma mau memastikan kalau Tania baik-baik saja."
"Dia istriku! Baik atau tidaknya dia, itu urusan aku, bukan urusan laki-laki asing seperti kamu!" Rey melangkah maju, memperpendek jarak hingga mereka berdiri berhadapan.
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat lebih seperti ejekan di mata Rey. "Urusan kamu, Rey? Tiga tahun ini kamu sebut dia urusan kamu? Lalu kenapa dia sering menangis sendirian? Kenapa dia merasa seperti hantu di rumahnya sendiri?"
"Tahu apa kamu soal rumah tanggaku?" Rey mencengkeram kerah kemeja Adrian. "Jangan merasa paling tahu karena kamu cuma orang luar yang mencoba memanfaatkan celah di saat kami lagi ada masalah!"
Adrian tidak melawan. Ia membiarkan tangan Rey mencengkeram kemejanya yang rapi. Matanya tetap tenang, menatap tepat ke dalam manik mata Rey yang berapi-api. "Aku nggak perlu memanfaatkan celah, Rey. Kamu sendiri yang membukakan pintu itu lebar-lebar. Kamu yang membiarkan dia kedinginan sampai dia butuh kehangatan dari orang lain. Kamu yang menyia-nyiakannya, jadi jangan marah kalau sekarang ada pria lain yang sadar betapa berharganya dia."
"Bajingan!" Rey melepaskan cengkeramannya dan mendorong Adrian dengan kasar. "Pergi dari sini sekarang! Jangan pernah hubungi Tania lagi, atau aku nggak akan tinggal diam."
"Apa yang akan kamu lakukan, Rey? Mengurungnya? Memaksa dia untuk mencintaimu lagi?" Adrian tertawa kecil, suara tawa yang penuh dengan kepahitan. "Cinta itu bukan soal kepemilikan, Rey. Cinta itu soal bagaimana kamu membuat dia merasa 'ada'. Dan jujur saja, selama tiga tahun ini, kamu gagal."
Rey merasa dadanya sesak. Setiap kata yang diucapkan Adrian terasa seperti cermin yang dipaksa diletakkan di depan wajahnya. Ia benci karena apa yang dikatakan Adrian ada benarnya, tapi egonya jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya.
"Aku nggak peduli apa pendapatmu," desis Rey. "Tania tetap akan bersamaku. Dia menikah denganku, bukan denganmu. Dan sekarang, angkat kaki dari sini sebelum aku panggil keamanan."
Adrian menatap Rey lama sekali, seolah sedang menilai apakah pria di depannya ini masih punya harapan untuk berubah. "Aku akan pergi. Tapi bukan karena kamu menyuruhku. Aku pergi karena aku nggak mau menambah beban pikiran Tania malam ini. Tapi ingat satu hal, Rey..."
Adrian membuka pintu mobilnya, berhenti sejenak sebelum masuk.
"Hati perempuan itu bukan kayak benda yang kalau kamu taruh di lemari, dia bakal tetap di sana selamanya. Kalau kamu nggak jaga, dia bakal hilang. Dan saat itu terjadi, bahkan seluruh harta yang kamu punya nggak akan bisa membelinya kembali."
Mobil Adrian perlahan meninggalkan area komplek, meninggalkan Rey yang berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang remang-remang. Rey mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya memutih. Ia merasa menang karena berhasil mengusir Adrian, tapi di dalam hatinya, ada rasa hampa yang mulai merayap.
Rey kembali ke rumah dengan perasaan kacau. Saat ia masuk, rumah itu terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Ia berjalan melewati kamar tamu, tempat Tania mengunci diri. Rey berhenti sejenak, tangannya terangkat ingin mengetuk, tapi kemudian ia teringat pesan ibunya.
Makan malam besok. Program kehamilan.
Rey mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia masuk ke kamar utama mereka yang luas—kamar yang seharusnya menjadi tempat paling hangat, tapi kini terasa seperti gua es. Rey merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa terlalu besar tanpa kehadiran Tania di sampingnya.
Biasanya, jam segini Tania akan masuk membawa segelas air hangat, atau setidaknya merapikan selimut untuknya. Sekarang? Hanya ada keheningan yang memekakkan telinga.
Rey meraih ponselnya. Ia membuka galeri foto. Jauh di tumpukan foto yang tersembunyi, ada foto-foto Bianca. Tapi, saat ia melihat wajah Bianca, pikirannya justru melayang pada wajah Tania yang tadi menatapnya dengan penuh kebencian.
"Sampai hilang baru kau mengerti..."
Kalimat Tania tadi terus terngiang-ngiang. Rey mencoba memejamkan mata, tapi bayangan Tania yang tertawa bersama Adrian di restoran tadi siang kembali muncul. Ia merasakan panas di dadanya. Cemburu? Iya, dia cemburu. Tapi dia terlalu pengecut untuk mengakuinya.
Pagi harinya, suasana masih belum membaik. Tania keluar dari kamar tamu dengan pakaian olahraga, siap untuk pergi. Wajahnya terlihat lebih segar, meski matanya masih sedikit sembab.
"Tan, kita perlu bicara," ucap Rey, mencoba melembutkan suaranya. Ia duduk di meja makan, menatap kursi kosong di depannya.
Tania tidak berhenti. Ia sedang mengikat tali sepatunya. "Bicara soal apa lagi, Rey? Soal Adrian yang kamu labrak semalam?"
Rey tertegun. "Kamu tahu?"
"Adrian kasih tahu aku," jawab Tania datar. Ia berdiri dan menatap Rey dengan tatapan yang sulit dibaca. "Jangan pernah lakukan itu lagi, Rey. Kamu bikin aku malu."
"Aku cuma menjaga apa yang jadi milikku, Tania!"
"Aku bukan properti, Rey. Aku manusia," potong Tania cepat. "Oh ya, soal Mama yang mau datang nanti malam... aku sudah tahu. Aku akan masak. Tapi jangan harap aku akan bicara soal anak di depan Mama."
"Kenapa? Kamu kan tahu itu harapan Mama satu-satunya?"
Tania tersenyum getir, senyum yang membuat Rey merasa seperti orang paling jahat di dunia.
"Kamu mau aku punya anak dari laki-laki yang hatinya nggak pernah ada buat aku? Kamu mau anak kita nanti tumbuh melihat ibunya diabaikan sama ayahnya setiap hari?"
Tania menggelengkan kepala. "Nggak, Rey. Aku nggak sekejam itu pada calon anakku nanti. Aku pergi dulu."
Tania melangkah keluar, meninggalkan Rey yang kini benar-benar merasa kehilangan kata-kata. Ia menatap meja makan yang kosong. Pagi ini, tidak ada kopi. Tidak ada roti panggang. Hanya ada piring-piring bersih yang terasa dingin.
Rey merasa dunianya yang selama ini ia kendalikan dengan sempurna, perlahan-lahan mulai hancur berkeping-keping. Dan yang paling menakutkan adalah, ia tidak tahu bagaimana cara menyatukannya kembali.