Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sekawanan Babi
Aarav berjalan sambil tersenyum, dengan tangan kanan yang memegang sekantong koin emas yang ia dapatkan tadi. Nuril yang ada di sampingnya, dia hanya menggelengkan kepalanya seolah heran dengan tingkah laku Aarav.
"Uangnya mau kamu kasih ke ibu kamu?!" tanya Aarav sambil memberikan sekantong koin itu ke Nuril.
Nuril menerima kantong koinnya, "Pasti, biar ibu yang mengatur uangnya nanti. Paling aku minta dua koin!!" ucapnya.
Aarav mengangguk. Mereka berdua berjalan kembali ke rumah, setibanya di rumah. Nuril langsung memberikan uangnya ke ibunya.
Ibu Nuril menerimanya, wajahnya kaget, dan sangat bingung, "Uang sebanyak ini kamu dapat dari mana?!" tanya ibunya yang penasaran.
Nuril tersenyum, "Ada deh, bu. Ini berkat Aarav!!" ucapnya. Aarav tersenyum saat mendengarnya.
Mata ibu langsung melirik ke Aarav yang ada di belakang, dia langsung berlutut di depan Aarav.
Sambil berlutut, "Terima kasih, tuan!! Terima kasih, entah apa imbalan untuk membalas kebaikan ini!!" ujar ibu Nuril.
Wajah Aarav terkejut saat melihat ibu Nuril berlutut di depannya, "Sudah, bu. Ayo bangun!!" ujarnya.
Nuril yang melihat ibunya berlutut itu merasa lucu dan sedikit geli, ditambah dengan ekspresi wajah Aarav.
"Terima kasih, tuan. Apa imbalan yang pantas untuk kebaikan tuan ini?!" tanya ibu Nuril sekali lagi.
Aarav tersenyum, dia menyadari jika perutnya belum terisi sedari tadi, "Umm... Makanan?" ucapnya.
"Siap, tuan. Makanan enak akan segera datang!!" ujar ibu Nuril, ia lalu berjalan ke dapur
"Aku juga mau, bu!!" tambah Nuril.
"MASAK SENDIRI!!! SUDAH BESAR JUGA!!!" ujar ibu Nuril dari dalam dapur.
Aarav duduk sambil menahan tawa, Nuril yang melihat Aarav yang menahan tawa langsung bilang, "APA?!" ujar Nuril.
Aarav langsung diam seketika saat sedikit dibentak Nuril. Setelah beberapa saat, makanannya pun datang.
Ibu Nuril datang dengan membawa beberapa piring makanan, isinya juga sangat menggugah selera makannya.
"Selamat menikmati," ujar ibu Nuril sambil tersenyum.
Aarav mulai memakannya dengan sangat lahap, tapi saat dia di tengah-tengah makanannya. Pintu rumah Nuril tiba-tiba digedor dengan sangat keras.
"PERMISI!!!" ujar seseorang dari luar rumah.
Aarav masih makan, dia belum ingin untuk membuka pintunya. Sementara dari dapur, ibu Nuril berlari untuk membukakan pintunya. Saat pintu terbuka, terlihat seorang pria berdiri di sana.
"Ada apa, Pak?!" tanya ibu Nuril.
"Di mana penyihir tingkat S itu? Katanya ada di rumah mu, aku butuh bantuannya sekarang!!" ujar pria itu dengan napas yang memburu.
Aarav yang mendengar itu pun hampir tersedak, dia langsung menuju ke pria itu.
"Ada apa?!" tanya Aarav, Nuril lalu muncul dari kamarnya saat mendengar keributan itu.
"Tuan?" pikir sejenak pria itu, "Ini, ada kawanan babi hutan di ladang ku. Tolong tuan, nanti akan aku bayar!!" ujar pria itu.
Aarav berpikir sejenak, lalu berbisik sesuatu ke Nuril, "Nuril, jubah aku udah kering kan? Tolong ambi, mau aku pakai!!" bisik Aarav.
Nuril langsung mengambil jubah Aarav, dan Aarav langsung mengganti pakaian polosnya ke jubahnya itu di dalam kamarnya. Saat selesai, dia langsung kembali ke depan.
"Tunjukkan jalannya!!" ucap Aarav, "Nuril, ayo ikut!!" tambah Aarav.
Nuril langsung tersenyum, dia kemudian mengikuti Aarav dan pria itu dari belakang. Mereka bertiga berlari dengan cepat menuju ladang yang sedang diserang sekawanan babi hutan itu.
Saat tiba di ladang, dari kejauhan. Terlihat bukan babi, tapi sekelompok orang yang memakai topeng babi hutan di sana.
"Tunggu, pak. Itu babinya?!" tanya Aarav.
Sambil menghapus keringat, "Iya, itu babinya. Mereka ada di sana sepertinya sejak pagi, entah apa yang mereka inginkan dari ladangku ini!!" ucapnya.
Nuril merasa ketakutan saat melihat lima orang yang memakai topeng babi itu, terlebih mereka adalah lima orang pria yang sepertinya kekar.
"Aarav, kamu yakin mau hadapin mereka?!" bisik Nuril.
Aarav tersenyum sedikit, "Entahlah, tapi demi koin buat kamu. Aku bakal coba!!" bisik Aarav balik.
Aarav lalu berjalan mendekat ke lima orang pria itu, saat Aarav datang. Kelima orang itu saling pandang.
"Siapa kamu?!" tanya seseorang dari mereka.
Aarav menelan ludahnya, "Aku... Seharusnya aku yang tanya seperti itu ke kalian!!" ucap Aarav yang coba memberanikan dirinya.
Kelima orang itu sedikit tertawa, "Kami... Kami adalah The Pog. Sekelompok kriminal dengan kemampuan sihir tingkat B!!" ucap seseorang dari mereka sambil menyombongkan mereka sendiri.
Aarav sedikit ketakutan, karena dia masih menganggap dirinya itu bukan apa-apa dibandingkan lawan yang sedang dia hadapi.
"Mau apa kalian di ladang ini?!" tanya Aarav lagi.
Seseorang dari mereka maju satu langkah, "Kami tidak ingin banyak... Hanya ingin mencari barang curian kami yang kami kubur di tanah ini tiga hari yang lalu!!" ujarnya.
Aarav langsung penasaran, Nuril yang melihat dari balik semak pun ikut penasaran.
"Barang curian? Apa itu? Emas?!" tanya Aarav yang penasaran.
Dari balik topengnya, mereka tersenyum, "Bukan, lebih dari itu. Yaitu Troun!!" ucap seseorang itu.
Aarav memiringkan kepalanya, "Apa itu?!" batin Aarav.
Nuril yang mendengarnya langsung panik, "Troun? Batu sihir tingkat A? Yang katanya bisa untuk menyalin sihir di tingkat yang lebih tinggi untuk digunakan pemakai batunya, walau sihir salinan nggak bakal sehebat sihir aslinya!!" ujar Nuril lirih.
"AARAV!! JANGAN BIARIN MEREKA DAPETIN TROUN!!" teriak Nuril dari kejauhan.