arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DELAPAN
Erika langsung pergi ke kamar mandi begitu sampai di rumah. Dia sudah merasa lebih baik setelah mandi.
Meskipun sebelumnya dia juga tinggal sendirian, tetapi dia tidak pernah merasa serileks sekarang. Sebelumnya, dia selalu memikirkan tentang Gardan, tetapi sekarang, dia bebas untuk mengembangkan karirnya sendiri. Namun, secara bersamaan, dia merasa sedikit tertekan ketika memikirkan tentang masa lalu. Kenapa aku membuang-buang energiku untuk si sampah itu?
Malam semakin larut, Erika tidur sangat nyenyak meskipun dirinya adalah tipe orang yang mudah terbangun ketika tidur.
Berbanding terbalik dengan Gardan yang masih bergulang-guling di tempat tidurnya.
Dia langsung pergi ke perusahaan setelah meninggalkan Mansion Wistam dan bekerja sebentar sebelum memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Sayangnya, dia tidak bisa istirahat dengan tenang. Begitu berbaring di atas tempat tidur, bayangan Erika yang tersenyum mengejek muncul di benaknya.
Gardan membuka mata dengan kasar. Ekspresinya dingin dan tegang.
Lalu, dia bangun dan memerintahkan asistennya mengumpulkan orang-orang untuk membahas pekerjaan lewat konferensi video.
Dia tidak tidur sepanjang malam dan tampak menyeramkan.
Semua orang tetap diam saat melihat betapa menyeramkannya penampilan Gardan di layar. Tidak ada satu pun yang berani menguap.
Mereka semua bertanya-tanya, siapa yang telah berani membuatnya kesal.
Keesokan paginya, Erika sedang membaca dokumen di rumah ketika menerima telepon dari Cindy.
"Ines, Wisnu Dikara ingin bertemu denganmu. Apakah... tidak apa-apa?"
Erika mempertimbangkan sebentar dan merasa dia tidak bisa selamanya menghindari Wisnu. Jadi, dia pun setuju untuk bertemu.
Setengah jam kemudian, Cindy datang menjemputnya dan merasa sedikit khawatir. "Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar siap bertemu dengan Wisnu?"
Erika duduk di sampingnya dan terlihat sangat tenang. "Aku sudah siap sejak lama."
"Apa... Apa kau yakin bisa meyakinkan Wisnu untuk percaya padamu? Apakah mereka tidak mempertanyakan identitasmu saat kau bertemu dengan orang dari departemen hukum perusahaannya? Apa dia masih belum tahu siapa dirimu?"
Erika menepuk bahu Cindy. "Jangan khawatir. Dia akan segera tahu."
Cindy tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia tidak punya pilihan selain berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama, Erika pun tiba di restoran dan melihat seorang pria tampan dudük di meja, sedang bermain game di ponselnya.
Dia mengenakan setelan yang dijahit dengan kualitas tinggi dan memancarkan aura kebangsawanan yang sangat dalam. Tatapan matanya tampak lembut, tapi banyak orang tidak tahu kekejaman yang tersembunyi dibalik mata itu.
Saat Erika mendekatinya, terdengar suara game dari ponsel pria itu, berbanding terbalik dengan penampilannya yang tampak profesional.
Wisnu mendongak saat mendengar suara langkah kaki.
Dia melihat seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing. Rambut panjangnya yang lurus disanggul dan menyisakan beberapa helai yang sedikit keriting di sisi wajahnya. Dia mengenakan gaun berkorset berwarna biru muda, memperlihatkan sosoknya yang menawan.
Dia bertubuh langsing dengan beberapa bagian tubuhnya yang berisi dengan pas.
Terlebih lagi, dia memiliki fitur wajah yang sangat cantik, khususnya matanya yang berbentuk seperti almond. Kedua mata itu bersinar seperti kristal dan memancarkan auranya yang memiliki kemampuan dan profesional. Siapapun pasti akan terpesona padanya.
Namun, Wisnu merasa heran saat melihat Erika. Dia log out dari game-nya dan tersenyum, "Nyonya Wistam, apakah kau salah masuk ruangan?"
Wisnu menghormati Ines dan tiba di sana lebih awal. Dia tidak mengira akan bertemu dengan istri musuhnya.
Sementara itu, Erika berjalan masuk dan tersenyum saat duduk di depan Wisnu. "Aku tidak masuk ke ruangan yang salah. Bukankah kau mengundangku?"
Wisnu melihat Cindy di belakang Erika dan langsung menyadari sesuatu.
"Kau Ines?"
Matanya berkilat heran. Tidak bisa dipungkiri bahwa Erika tampak sangat cantik. Siapapun tidak akan pernah bisa melupakan kecantikannya setelah melihat wanita itu.
Mereka membuat semua orang tampak tidak bersemangat karena kehadirannya.
Namun sayang, wanita cantik ini adalah istri Gardan.
Wisnu melihat ke arah Cindy dan tersenyum samar. "Nona Lesmana, bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi?"
Cindy berdeham dan berkata dengan canggung. "Tuan Dikara, sebelumnya aku masih belum jelas dengan situasi Ines, jadi aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Tetapi, karena kami sudah setuju untuk mengambil kasusmu, sekarang kami bisa menunjukkan beberapa hal padamu.
Wisnu menyipitkan matanya dan berhenti sejenak sebelum mengatakan dengan tanpa ekspresi, "Jadi, maksudmu adalah pengacara top yang aku tunjuk dengan melakukan segala cara adalah istri dari sainganku sendiri?"