🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang bergeser
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Yura berdiri di hadapan cermin kecil di kamarnya, menatap pantulan wajahnya sendiri lebih lama dari biasanya.
"Hari ini akan berbeda," gumamnya lirih.
Ia pun menarik napas, merapikan rambut, lalu meraih tas kerja yang telah disiapkannya sejak malam sebelumnya.
Tangannya sempat terhenti ketika menyentuh sebuah kantong kain kecil berwarna cokelat yang tersembunyi di saku bagian dalam tas itu. Kantong tersebut masih terasa hangat, meski waktu telah berganti pagi.
Yura tersenyum tipis. Ada rasa percaya diri yang asing mengalir di dadanya. Bukan kepercayaan diri yang tenang, melainkan sesuatu yang berlebihan, seolah dunia akhirnya berpihak kepadanya.
Ia melirik jam dinding. Waktu masih menunjukkan pagi hari. "Pas," ujarnya singkat.
Tanpa ragu, Yura melangkah keluar dan menuruni tangga. Setiap anak tangga terasa ringan. Di kepalanya, ia sempat membayangkan Rendra membuka pintu, terkejut melihatnya pagi-pagi, lalu tersenyum dan mengucapkan sesuatu yang sederhana, namun bermakna.
Namun, pintu itu terbuka oleh tangan yang lain.
Nenek Rendra berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan blus berlengan panjang berwarna krem dengan potongan sederhana, dipadukan dengan rok panjang polos. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang, terikat rendah, memberi kesan khas wanita yang bersahaja dan tenang.
Wajahnya tampak terkejut sejenak sebelum berubah menjadi senyum heran. "Yura?" ucapnya. "Pagi-pagi sekali sudah ke sini."
Yura terdiam sesaat, lalu tersenyum sopan. "Selamat pagi, Nek. Nenek kapan pulangnya?"
"Sore kemarin. Oh ya, biasanya kamu berangkat tergesa-gesa karena takut terlambat," ujar sang nenek sambil melirik jam dinding. "Sekarang waktunya masih cukup longgar."
Yura terkekeh kecil, terdengar agak kaku. "Iya, Nek. Hari ini aku berangkat lebih awal."
Nenek itu mengangguk perlahan. "Ada keperluan apa datang ke rumah sepagi ini?"
Yura ragu sejenak sebelum bertanya, "Kak Rendra… masih ada di rumah?"
Senyum nenek itu meredup tipis. "Oh, Rendra sudah berangkat."
Yura berkedip. "Sudah?"
"Iya. Sejak tadi. Bersama Rose."
"Oh," ucap Yura terlalu cepat.
Nenek itu melanjutkan dengan nada santai, "Mereka kan memang begitu setiap hari. Selalu tepat waktu. Sepertinya sekarang, jika tidak berangkat bersama, rasanya ada yang kurang."
Yura mengangguk pelan. "Iya, Nek. Aku tahu itu." Yura juga merasa Rendra menganggap Rose juga adik kandungnya juga. Yura sangat tahu, Rendra anak semata wayang, dan pernah bercerita ingin memiliki seorang adik, mungkin itulah mengapa Yura tidak bisa memiliki hati Rendra.
"Kukira kamu ingin mengajak Rendra berangkat bersama," lanjut nenek itu sambil menatap Yura, seolah mampu membaca sesuatu yang tersembunyi. "Jarang-jarang kamu terlihat senggang seperti ini."
Yura tersenyum kembali, kali ini lebih tipis. "Niatnya memang begitu, Nek. Namun sepertinya aku terlambat."
Nenek itu terkekeh ringan. "Bukan terlambat. Mereka memang disiplin."
"Iya, sih," jawab Yura pelan. "Wajar."
Keheningan singkat tercipta. Yura menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat, lalu berkata, "Kalau begitu, aku pamit dulu, Nek. Aku tidak ingin benar-benar terlambat."
"Silakan," ujar sang nenek ramah.
"Hati-hati di jalan."
Yura membungkuk sopan. "Iya, Nek."
Saat Yura melangkah pergi, nenek itu kembali bersuara, "Yura."
Yura menoleh. "Iya, Nek?"
"Jangan terlalu memaksakan sesuatu," ucap sang nenek pelan, hampir seperti nasihat yang meluncur tanpa direncanakan. "Hal yang dipaksakan sering kali justru menjauh."
Yura tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Saya hanya mencoba, Nek."
Nenek itu mengangguk, lalu melambaikan tangan.
Di luar, Yura berhenti sejenak. Tangannya meraih kantong kain di dalam tas. Ia menarik napas panjang. "Tidak apa-apa," gumamnya. "Masih ada di kantor."
......................
Alexa duduk tegak di kursi belakang mobil mewah berwarna hitam pekat. Jemarinya memegang sebuah berkas berlabel proyek internal, matanya menelusuri baris demi baris tulisan dengan fokus penuh.
Wajah tampannya selalu rapi, garis rahangnya tegas, tanpa satu pun ekspresi berlebihan. Bagi banyak orang, wajah itu terlalu dingin untuk seseorang yang terbilang masih muda.
Mobil melaju stabil di jalanan pagi yang belum sepenuhnya ramai.
"Tuan," suara sopir terdengar sopan dari kursi depan, memecah keheningan. "Apakah hari ini kita perlu mampir membeli sesuatu sebelum ke kantor?"
Alexa tidak langsung menjawab. Pandangannya masih terpaku pada berkas di tangannya. Ia baru saja menemukan satu kesalahan penulisan yang seharusnya tidak terjadi pada laporan setingkat ini.
Alisnya berkerut tipis.
Beberapa detik berlalu, hingga tanpa sadar tangannya berpindah, menekan ringan bagian perutnya sendiri. Ada rasa lapar yang sangat halus, nyaris tak terasa, namun cukup untuk membuatnya berhenti membaca.
Ia baru menyadari, pagi ini ia benar-benar lupa sarapan.
Semalam, ia terjaga hingga larut. Bukan kebiasaan yang sering ia lakukan, namun akhir-akhir ini pekerjaan menumpuk tanpa jeda.
Terlalu banyak karyawan yang ceroboh, terlalu banyak detail yang terlewat, dan Alexa sangat membenci ketidaktelitian. Baginya, kesalahan kecil adalah awal dari kekacauan besar.
"Berhenti sebentar," ucapnya akhirnya, suaranya datar. "Belikan roti. Yang masih hangat."
"Baik, Tuan," jawab sopir itu sigap.
Mobil pun menepi di depan sebuah toko roti yang terlihat sederhana, namun bersih dan ramai. Sopir turun, meninggalkan Alexa sendirian di dalam mobil.
Alexa kembali menurunkan pandangannya ke berkas. Namun entah mengapa, kali ini ia tidak langsung melanjutkan membaca. Ada sesuatu yang mengganggu fokusnya, meski ia sendiri tidak tahu apa.
Pandangan matanya tanpa sengaja terangkat, menembus kaca mobil.
Di seberang jalan, ia melihat Rendra.
Asistennya itu berdiri di depan toko roti yang sama, mengenakan kemeja kerja rapi. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda. Cantik, dengan senyum yang tampak tulus, mengenakan seragam kerja toko roti.
Rambutnya terikat rapi, beberapa helai jatuh di keningnya.
Alexa tidak berniat mengamati lebih jauh. Namun pandangannya terlanjur tertahan.
Rendra mengatakan sesuatu, lalu mengangkat tangannya perlahan. Dengan gerakan lembut yang tidak biasa, ia merapikan rambut wanita itu yang jatuh ke keningnya.
Sentuhan itu singkat, namun penuh perhatian.
Wanita itu terlihat terkejut sejenak, lalu tersenyum. Matanya tampak berbinar.
Detik berikutnya, Rendra menunduk sedikit dan mengecup kening wanita itu dengan sangat singkat, hampir seperti kebiasaan lama yang dilakukan tanpa dipikirkan.
Wanita itu terdiam, lalu tersenyum lebih lebar. Ada rona haru yang jelas di wajahnya.
Alexa mengalihkan pandangan. Ia kembali menatap berkas di tangannya, seolah tidak pernah melihat apa pun barusan.
Tangannya membalik halaman dengan gerakan tenang, meski ada jeda yang tidak biasanya.
Sejak kapan ia memperhatikan urusan pribadi orang lain?
Ia sendiri tidak tahu.
Beberapa saat kemudian, pintu mobil terbuka. Sopir kembali masuk dengan sebungkus roti hangat.
"Ini, Tuan."
"Letakkan saja," ujar Alexa singkat.
Sopir itu mengangguk dan kembali fokus menyetir.
Alexa tidak langsung menyentuh roti itu. Ia masih membaca, meski pikirannya sesekali melayang tanpa alasan yang jelas.
Bayangan singkat tadi muncul sekilas, lalu menghilang.
Ia menutup berkas itu dengan tegas. "Berangkat ke kantor," katanya.
Mobil kembali melaju.
Alexa akhirnya mengambil roti tersebut dan menggigitnya pelan. Hangat. Sederhana. Tidak istimewa.
Namun entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang terasa berbeda pagi itu. Bukan pada rasa roti, bukan pula pada suasana jalanan.
Melainkan pada dirinya sendiri.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺