NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang mengecewakan

Siang itu matahari bersinar cerah di halaman Rumah Sakit Agung, tempat Hawa mengabdikan diri sebagai perawat selama hampir tiga tahun. Lorong rumah sakit yang biasanya ramai terasa berbeda hari ini. Langkah Hawa sedikit lebih pelan, dadanya terasa berat, seolah setiap tarikan napas mengandung keputusan besar yang sulit ditarik kembali.

Di ruang manajer, Hawa menyerahkan selembar surat pengunduran diri. Tangannya sedikit gemetar saat menaruhnya di atas meja.

“Hawa,” ujar sang manajer sambil membaca cepat surat itu, lalu menatapnya dengan raut serius namun hangat. “Katakan dengan jujur, apa alasanmu buru-buru mengundurkan diri? Terus terang, saya sangat menghargai kinerjamu. Motivasi kerjamu luar biasa, dan banyak pasien memberi penilaian bintang lima atas pelayananmu.”

Hawa menarik napas dalam-dalam. “Benar, Pak. Sebenarnya saya masih ingin bekerja. Pekerjaan ini adalah bagian dari hidup saya,” ucapnya lirih namun tegas. “Namun, saya khawatir tidak mampu membagi waktu untuk keluarga. Saya juga tidak tenang bekerja jika tidak mendapatkan izin penuh dari suami.”

Manajer itu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Baiklah, Hawa. Saya menghargai keputusanmu. Tapi ingat, kapan pun kamu ingin kembali, saya akan mengusahakannya.”

Mata Hawa berkaca-kaca. “Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih atas semuanya.” Ia membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan itu.

Hari itu Hawa tetap bekerja seperti biasa hingga jam tugasnya selesai. Namun kabar pengunduran dirinya cepat menyebar. Rekan-rekan sesama perawat menatapnya dengan campuran kaget dan sedih.

“Hawa, jangan lupakan kami,” ujar salah satu temannya sambil memeluknya erat.

“Aku tidak akan melupakan kalian,” jawab Hawa lembut, menahan air mata.

“Kalau suatu hari kamu butuh pekerjaan ini lagi, kembalilah,” sambung yang lain. Pelukan mereka seolah enggan dilepaskan, seakan belum siap kehilangan sosok yang selama ini menjadi penopang tim.

Sore pun tiba.

Hawa melangkah masuk ke rumah dengan langkah gontai. Keputusan besar itu terasa semakin berat saat kesunyian menyambutnya. Ia duduk di ruang keluarga, pandangannya tertuju pada sebuah foto keluarga besar Adam. Foto studio modern yang tertata apik, menampilkan Adam bersama Harun, Rani, Budi dan Sulaiman.

Tatapan Hawa berhenti pada wajah Adam. Kulit sawo matang, tubuh kekar, wajah tegas namun menyimpan keteduhan.

“Ini rumah Adam… dan Adam pula yang menafkahiku,” gumamnya pelan.

Lalu matanya beralih pada Harun. Kulitnya putih seperti ibunya, wajah tampan dengan kesan baby face yang selalu menjadi favorit banyak gadis.

“Tapi Harun… Harun yang menikahiku,” bisiknya lirih.

Pertarungan batin itu tak tertahankan lagi.

“Aaaaaaaaa!” Hawa menjerit pelan, membuang tasnya ke sofa. Air mata tumpah tanpa bisa dicegah. Ia merasa terombang-ambing di antara rasa aman, kewajiban, dan cinta yang tak pernah benar-benar utuh.

Pukul 19.06 WIB, menjelang azan magrib berkumandang.

Hari ketiga setelah pulang kerja, Harun justru berada di kantor butik milik Raisa. Di ruangan itu, Raisa memeluk Harun dengan manja, enggan melepaskannya.

“Aku belum mau kamu pulang,” rengek Raisa.

Harun mengelus rambut Raisa lembut. “Sayang, aku harus pulang dulu. Aku juga belum siap kalau Hawa atau keluargaku tahu tentang pernikahan siri kita.”

Raisa mendengus manja. “Janji besok kita bertemu lagi.”

“Iya,” jawab Harun sambil tersenyum. “Aku pastikan waktuku lebih banyak untuk kamu.” Ucapannya terdengar penuh keyakinan.

Tak lama kemudian, mobil sedan hitam Harun terparkir di halaman rumah Adam. Lampu rumah tampak redup, sebagian sudah dimatikan. Harun melangkah masuk dengan wajah datar.

“Mas, kamu sudah pulang?” sapa Hawa lembut sambil berdiri menyambutnya.

Penampilan Hawa membuat Harun terdiam sejenak. Ia tampak cantik dengan daster pendek kekinian, rambut bergelombang terurai, tubuhnya wangi, kulitnya bersih, bibirnya merah jambu alami. Aura hangat dan lembut itu membuat Harun menelan ludah tanpa sadar.

“Wah…” gumamnya lirih.

Hawa mengambil bawaan Harun. “Aku akan masak makanan kesukaanmu, Mas. Kamu mandi dulu saja, semuanya sudah aku siapkan di kamar,” ucapnya manja, penuh perhatian.

“Ba… baiklah,” jawab Harun gugup.

Di kamar mandi, Harun menatap bayangannya sendiri di cermin.

“Kenapa Hawa tidak kunikmati juga?” batinnya berbisik. “Dia juga istriku. Tidak ada yang salah….”

Senyum ambigu terukir di wajahnya. Dalam pikirannya, keinginan memiliki dua wanita yang sama-sama cantik dan memikat terasa semakin kuat.

Sementara itu, Hawa sibuk di dapur, menyiapkan makan malam dengan penuh semangat. Dalam hatinya, ia berjanji akan menjadi istri yang mampu membahagiakan suaminya, istri yang bisa membuat Harun jatuh cinta kepadanya, sepenuh hati.

Hawa tampak begitu bersemangat di dapur. Tangannya lincah menyiapkan makan malam berdua untuk Harun, sesekali bibirnya melengkungkan senyum kecil penuh harap. Di dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendir, ia akan menjadi istri yang menyenangkan, istri yang mampu membuat Harun merasa pulang, dan perlahan jatuh cinta kepadanya.

Meja makan tertata rapi. Lauk-pauk tersaji dengan apik, masih mengepulkan uap hangat. Aroma masakan memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah yang tenang dan intim.

Harun perlahan turun dari tangga, langkahnya melambat saat matanya menangkap kesibukan Hawa. Ia memperhatikan setiap gerak wanita dari cara Hawa mengaduk masakan, hingga caranya memastikan semuanya sempurna sebelum disajikan. Rasa lapar yang tadi sempat terabaikan kembali menyeruak, bukan hanya karena makanan saja, tetapi karena pemandangan di hadapannya.

“Lelaki mana yang tidak tergoda disambut seperti ini?” gumam Harun dalam hati, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum samar.

Hawa menoleh, menangkap ekspresi itu. Hatinya menghangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa Harun benar-benar melihatnya.

“Mari makan, Mas,” ajaknya lembut, suaranya penuh harap. Mereka duduk berhadapan. Suasana masih terasa kikuk. Harun makan dengan tenang, sesekali melirik Hawa. Ketertarikannya lebih didorong oleh fisik dan situasi, bukan cinta yang tulus, namun Hawa tidak tahu itu.

Hawa memainkan sendoknya pelan, wajahnya memerah. Ia menarik napas, mengumpulkan keberanian.

“Mas… kapan kita…” suaranya mengecil, hampir tenggelam. Kepalanya tertunduk, pipinya memanas.

“Kita apa?” tanya Harun santai, seolah tak menangkap kegugupan Hawa.

“Aku malu, Mas…” Hawa semakin menunduk. Ia bukan seperti Raisa yang berani dan agresif. Ia lembut, canggung, dan penuh keraguan.

“Maksudmu malam pertama?” tanya Harun akhirnya paham, nada suaranya datar.

Hawa mengangguk kecil. “Ehm…”

“Kamu sudah siap?” tanya Harun lagi.

“Insyaallah siap, Mas,” jawab Hawa lirih namun mantap.

Harun tersenyum tipis. “Ya sudah… boleh.”

Jawaban itu terdengar ringan, tanpa kehangatan cinta di dalamnya. Namun bagi Hawa, kalimat itu seperti cahaya. Dadanya berdebar, hatinya melompat kegirangan. Akhirnya, ia merasa diakui sepenuhnya sebagai istri Harun.

Setelah membereskan dapur, mereka naik ke lantai dua. Langkah Hawa terasa kaku, jantungnya berdetak tak karuan. Gugup dan tegang bercampur menjadi satu.

Saat mereka hampir memasuki kamar yang sama, tiba-tiba ponsel Harun berdering keras, memecah suasana.

Layar menampilkan panggilan video dari Felix.

“Ada apa kau menelpon malam-malam begini? Seolah tak ada waktu lain!” bentak Harun kesal.

Suara Felix terdengar tegang.

“Kalau kau ingin kakakmu selamat, malam ini juga terbang ke Australia. Aku sudah pesankan tiket. Lihat sendiri kondisi kakakmu sekarang.”

Layar ponsel diarahkan ke ranjang rumah sakit.

Harun terkejut melihat kondisi Adam, yang sudah terbaring tidak berdaya. Wajahnya pucat mengerikan, kelopak matanya menghitam pekat seolah kehilangan cahaya hidup. Matanya merah dan cekung, tubuhnya dipenuhi baret luka kecil. Rambutnya acak-acakan, brewok tumbuh liar, membuat sosok pria yang dulu berwibawa itu nyaris tak dikenali.

Adam tidak lagi tampak sebagai pria berkuasa dan elegan.

Tenggorokan Harun terasa kering. Ia menelan ludah dengan susah payah.

“Felix… apa yang terjadi dengannya?” tanyanya panik.

“Aku juga tidak tahu pasti. Aku sudah hampir gila mengurusnya sendirian di sini. Kalau kau tidak datang malam ini, bersiaplah mendengar kabar kematiannya besok pagi,” jawab Felix serius.

Panggilan terputus.

Tanpa berpikir panjang, Harun bergegas mengambil barang-barang pentingnya. Gerakannya tergesa, napasnya memburu

.

“Mas, ada apa?” Hawa panik, mengikuti dari belakang.

“Kak Adam sakit parah. Felix baru saja menelpon. Malam ini aku harus ke Australia. Sekarang juga,” ujar Harun cepat, lalu berlari menuruni tangga. Tak lama kemudian, suara mesin mobil menyala dan menghilang di malam hari.

Hawa berdiri terpaku. Beberapa detik kemudian, ia melangkah pelan kembali ke kamar. Tubuhnya lemas saat ia duduk di tepi ranjang. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pasrah.

Lagi-lagi, harapan itu sirna. Malam pertama yang ia impikan gagal ia raih.

Kesepian kembali memeluk Hawa dalam diam.

1
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
Paradina
seru kak, lanjut 😍
Qothrun Nada
setelah nikah jangan harap ada jatah,stok rasa sabar mu seluas samudra Adam 😀
Qothrun Nada
hooh orang pintarnya pak penghulu 😀
Qothrun Nada
andai bapaknya Hawa bisa seperti pak Joko, pasti ibunya Adam bisa menyeret Adam untuk tetap menikahi Hawa dulu
Qothrun Nada
😅😅😅
Qothrun Nada
jangan nyalahin Hawa dong, kasihan dia
Qothrun Nada
marah seperti kakek Sulaiman
Qothrun Nada
kapok, makanya jadi bapak itu yg tegas, kalau dulu dia menolak tentu Hawa gk nikah sama Harun karena gk ada walinya
Qothrun Nada
heem jadi adam 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!