Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — SUGUHAN KEDUA
Matahari terbit tidak membawa keselamatan; ia hanya menyingkap sisa-sisa kehancuran malam sebelumnya dengan kejujuran yang brutal.
Di ruang tengah Joglo yang luas, lima mahasiswa itu duduk merapat seperti kawanan ternak yang dikepung serigala. Tidak ada yang tidur. Mata mereka merah, bengkak, dan nanar. Di tengah lingkaran mereka, lilin terakhir telah lama padam, menyisakan lelehan stearin yang mengeras di lantai tegel seperti darah putih yang membeku.
Nara menatap pintu hitam di ujung lorong itu.
Pintu itu kini tertutup rapat.
Sekitar pukul tiga dini hari—saat ayam jantan pertama berkokok dengan suara serak yang tidak wajar—pintu itu terbanting menutup sendiri. Cepat. Keras. Seolah penghuni di dalamnya sudah bosan bermain cilukba dan memutuskan untuk kembali tidur.
Namun, benda itu masih ada.
Kepala boneka bayi yang menggelinding keluar dari sana masih tergeletak di dekat kaki meja. Plastiknya sudah kusam kecokelatan, pipinya retak, dan di bagian leher yang putus, darah yang semalam terlihat segar kini telah mengering menjadi kerak hitam yang dikerubungi semut.
"Kita harus keluar," bisik Raka. Suaranya pecah, kering kerontang. Ia masih menggenggam sapu ijuk dengan tangan yang kram saking kencangnya mencengkeram sepanjang malam. "Kita cari Bima. Terus kita jalan kaki keluar dari desa gila ini. Bodo amat sama barang-barang."
"Jalan ke mana, Rak?" sahut Dion lemah. Ia duduk memeluk lutut, jurnalnya tertekan di dada. "Lo liat sendiri semalem. Pager betis gagak itu. Hutan itu... hidup."
"Terus kita diem aja nunggu giliran?!" bentak Raka, emosinya meledak karena ketakutan yang terlalu lama ditahan.
"Diem!" desis Nara.
Ketua KKN itu berdiri perlahan. Kakinya kesemutan, sendi-sendinya kaku. Ia berjalan menuju pintu depan. Sinar matahari pagi menembus celah-celah kayu, menciptakan garis-garis debu yang menari.
Nara memutar kunci pintu. Klik.
Mudah.
Engselnya berputar lancar. Pintu terbuka lebar, membiarkan udara pagi yang dingin dan berkabut masuk. Bau tanah basah dan asap kayu bakar menyapa hidung mereka.
Di luar sana, Desa Wanasari tampak... normal.
Seorang ibu sedang menyapu halaman tetangga dengan sapu lidi. Srek, srek, srek. Iramanya tenang. Di kejauhan, seorang petani memanggul cangkul berjalan santai menuju sawah.
Kontras antara teror malam tadi dengan ketenangan pagi ini membuat Nara merasa mual. Ini adalah gaslighting dalam skala supranatural. Seolah desa ini berkata: Kalian cuma berhalusinasi. Tidak ada yang salah di sini.
"Bima..." panggil Siska lirih dari belakang Nara. "Sandal Bima nggak ada."
Nara menunduk. Di teras depan, hanya ada lima pasang sandal. Sandal gunung ukuran 43 milik Bima hilang.
"Kita cari Bima," putus Nara. "Bagi dua tim. Gue sama Dion cek sekitar rumah dan kebun singkong. Raka, lo sama Siska dan Lala cek jalan utama. Tanya warga, tapi jangan keliatan panik. Bilang aja Bima lagi olahraga pagi terus nyasar."
"Gue nggak mau sama Lala," tolak Siska cepat. Wajahnya pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah Lala yang sedang menyisir rambut panjangnya dengan jari di depan cermin hias ruang tengah.
Lala tampak... bercahaya. Kulitnya yang kemarin kusam karena perjalanan, pagi ini terlihat glowing, lembap, dan kenyal. Bibirnya merah alami tanpa lipstik. Ia bersenandung kecil, lagu yang sama dengan yang didengar dari balik pintu semalam. Lingsir Wengi.
"Kenapa, Sis?" tanya Lala, menoleh dengan gerakan leher yang luwes. "Takut gue gigit?"
"Udah," potong Nara. "Siska sama Raka. Lala sama Dion. Gue sendiri cek kebun belakang."
"Nar, bahaya sendiri," protes Dion.
"Gue bawa pisau dapur," Nara menunjukkan pisau berkarat yang ia ambil dari dapur tadi subuh. "Lebih bahaya kalau kita diem terus di sini."
Mereka berpencar dengan membawa sisa keberanian yang ada.
Nara berjalan menyusuri kebun belakang. Jejak kaki Bima semalam masih terlihat jelas di lumpur, mengarah lurus ke hutan jati. Namun, jejak itu berhenti mendadak di batas pagar bambu.
Setelah pagar, tanahnya rata. Tidak ada jejak kaki, tidak ada rumput yang terinjak. Seolah Bima terbang—atau diangkat ke udara—tepat di batas pagar itu.
Nara mendekati sumur tua. Baunya semakin menyengat di pagi hari. Bau lumut basah dan... logam.
Ia menengok ke dalam sumur. Gelap. Airnya tenang, seperti kaca hitam. Nara mengambil kerikil, menjatuhkannya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Plung.
Dalam sekali.
Saat Nara hendak berbalik, ia melihat sesuatu tersangkut di batu bibir sumur bagian dalam. Sebuah kain perca. Warnanya merah marun. Nara menyipitkan mata. Itu potongan kain dari kaos Bima.
"Dia nggak ke hutan..." bisik Nara, tubuhnya gemetar. "Dia masuk."
"Nak Nara?"
Nara terlonjak, nyaris menjatuhkan pisau di tangannya.
Bu Kanti berdiri di belakangnya. Wanita paruh baya itu mengenakan kebaya lurik hijau tua dan jarik cokelat. Wajahnya segar, bedaknya tebal, dan sanggulnya rapi. Tidak ada suara langkah kaki saat ia mendekat, padahal tanah di situ penuh ranting kering.
"Astaga, Ibu... kaget saya," Nara memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rusuk.
Bu Kanti tersenyum. Senyumnya hanya melibatkan bibir, tidak sampai ke mata. Matanya menatap tajam ke arah sumur di belakang Nara.
"Sedang cari apa di sumur tua? Airnya tidak bagus buat masak. Payau," kata Bu Kanti lembut.
"Saya... cari teman saya, Bu. Bima. Dia nggak ada di kamar dari semalam," jawab Nara, mencoba membaca ekspresi wanita itu.
"Oh, Nak Bima yang gagah itu?" Bu Kanti terkekeh pelan. "Mungkin sedang jalan-jalan. Anak muda kan kakinya panjang. Suka penasaran."
"Tapi sandalnya nggak ada, Bu. Dan semalam..."
"Semalam tidurnya nyenyak?" potong Bu Kanti. Ia tidak menunggu jawaban. Tangannya terulur, menyentuh bahu Nara.
Jari-jari Bu Kanti panas. Bukan hangat, tapi panas demam. Nara ingin menepisnya, tapi tubuhnya kaku.
"Ibu bawakan sarapan. Sama jamu khusus. Kasihan, kalian kelihatan pucat. Kurang darah," kata Bu Kanti. "Ayo masuk. Teman-temanmu sudah menunggu di depan."
Nara menurut, digiring masuk kembali ke Joglo seperti kambing yang dituntun gembala.
Di ruang tengah, semua sudah berkumpul kembali. Raka dan Siska pulang dengan tangan hampa; warga desa hanya menggeleng atau tersenyum misterius saat ditanya soal Bima.
Bu Kanti meletakkan bakul nasi dan sebuah kendi tanah liat di meja.
"Ini namanya Jamu Kunir Asem Sirih," jelas Bu Kanti sambil menuang cairan kental berwarna merah kecokelatan ke dalam gelas-gelas kecil. "Bagus untuk membersihkan darah kotor. Biar pikiran tenang, badan enteng."
Warnanya aneh. Terlalu merah untuk ukuran kunir asem. Dan teksturnya... kental, sedikit berlendir saat dituang.
"Diminum, ndhuk, le," perintah Bu Kanti halus. Ia berdiri mengawasi, tangannya bersedekap di perut.
Lala adalah yang pertama mengambil gelas itu. Tanpa ragu, ia menenggaknya habis dalam sekali teguk.
"Ahh..." Lala mendesah puas, menjilat sisa cairan merah di bibirnya. Lidahnya menjulur panjang, menyapu sudut bibir dengan gerakan yang terlalu sensual untuk situasi sarapan pagi. "Enak banget, Bu. Manis... tapi gurih."
Raka menatap gelas di depannya dengan jijik. Ia masih trauma dengan mimpi sumurnya.
"Ayo, Mas Raka. Biar lukanya cepat kering," ucap Bu Kanti tiba-tiba.
Raka tersentak. "Luka apa, Bu?" Ia sudah menutupi bekas cakar di dadanya dengan kemeja flanel yang dikancing rapat sampai leher.
Bu Kanti hanya tersenyum miring. "Luka hati. Atau luka mimpi. Sama saja."
Siska menyenggol lengan Nara di bawah meja. Matanya memohon agar Nara melarang mereka minum.
Nara mengambil gelasnya. Ia mendekatkannya ke hidung.
Aroma jamu itu kuat. Bau kunyit, bau asam jawa, bau sirih. Tapi di balik semua rempah itu, hidung Nara yang peka menangkap bau lain. Bau yang sangat spesifik.
Bau karat.
Bau koin tembaga yang diemut.
Bau darah.
Nara menatap cairan merah pekat itu. Ia melihat ada endapan kecil-kecil yang melayang, bukan seperti ampas parutan kunyit, melainkan seperti gumpalan hemoglobin yang rusak.
"Maaf, Bu. Saya lagi haid. Nggak boleh minum jamu sirih, takut kering," alasan Nara cepat. Ia meletakkan gelasnya kembali.
Bu Kanti menatap Nara lama. Tatapan itu menembus, seolah menguliti kebohongan Nara lapis demi lapis.
"Sayang sekali," desis Bu Kanti. Nada suaranya berubah dingin seketika. "Padahal Mbah sudah capek-capek meraciknya semalam suntuk."
"Saya minum punya Nara!" seru Lala tiba-tiba. Ia menyambar gelas Nara dan meminumnya lagi. Rakus.
Darah di wajah Bu Kanti kembali naik. Ia tampak senang melihat Lala. "Pintar. Cantik. Kamu memang cocok, Ndhuk."
Setelah Bu Kanti pergi—meninggalkan pesan bahwa nanti malam akan ada acara 'Selamatan Desa' dan mereka semua wajib hadir di Balai Desa—suasana di Joglo kembali mencekam.
"Lo gila ya, La?" semprot Raka. "Lo minum dua gelas! Lo nggak curiga itu apaan?"
Lala bersandar di kursi, wajahnya merah padam seperti orang mabuk. Matanya sayu, napasnya berat. Ia mengusap lehernya sendiri, turun ke dada.
"Badan gue enak banget, Rak..." racau Lala. "Anget. Kayak dipeluk."
Lala mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. "Panas... gerah..."
"Heh! Istighfar, La!" Siska panik, buru-buru menutupi tubuh Lala dengan jaket.
Tapi Lala menepisnya. Tenaganya kuat luar biasa. Siska terdorong sampai jatuh terduduk.
"Jangan munafik, Sis," kikik Lala. "Lo juga pengen kan? Desa ini... desa ini tau apa yang kita butuhin. Bima udah dapet bagian dia. Sekarang giliran gue."
Lala bangkit, berjalan sempoyongan menuju kamar. "Gue mau tidur. Jangan ada yang ganggu. Gue mau ketemu cowok ganteng di mimpi gue."
Pintu kamar terbanting.
Nara memandang teman-temannya yang tersisa. Raka yang ketakutan, Siska yang menangis, dan Dion yang sejak tadi diam membisu di pojok ruangan.
"Yon?" panggil Nara. "Lo kenapa?"
Dion mengangkat wajahnya. Ia pucat pasi, lebih parah dari mayat. Ia menyodorkan jurnalnya ke arah Nara.
"Gue baca lagi catetan yang muncul kemarin," suara Dion bergetar hebat. "Terus pas Bu Kanti dateng tadi... ada tulisan baru yang muncul sendiri. Di depan mata gue, Nar. Tintanya... tintanya merembes dari kertas."
Nara mengambil jurnal itu dengan tangan gemetar.
Di halaman 40, ada tulisan tangan Dion yang asli: Observasi hari ke-2. Warga tertutup.
Di bawahnya, tulisan miring kasar yang kemarin: Satu wadah retak (Bima).
Dan di bawahnya lagi, tulisan baru. Tintanya masih basah, berwarna merah kecokelatan—persis warna jamu tadi.
Suguhan kedua telah masuk.
Darah bercampur nafsu.
Si Cantik (Lala) sudah membuka kakinya untuk 'Suami Malam'.
Si Peragu (Raka) sudah ditandai dadanya.
Si Pendoa (Siska) imannya mulai goyah oleh takut.
Dan Nara...
Nara tidak minum.
Nara menolak berkah.
Nara harus dipaksa lapar.
Malam ini pesta dimulai. Jangan lupa pakai baju bagus. Kami tidak suka daging yang dibungkus kain jelek.
Nara melempar buku itu ke meja seolah benda itu membakar tangannya.
"Ini bukan orang iseng," bisik Nara. Air mata mulai menetes di pipinya, pertahanan logisnya runtuh. "Kita beneran dikurung buat... buat dimakan."
"Bukan dimakan, Nar," ralat Dion, matanya menatap kosong ke arah jendela di mana hutan jati tampak semakin gelap meski hari siang. "Tumbal itu nggak dimakan dagingnya. Tumbal itu diambil wadahnya."
"Maksud lo?"
"Lala..." Dion menunjuk ke arah kamar tidur. "Dia bukan cuma mabuk jamu. Dia lagi dikosongin. Jiwanya didorong keluar pelan-pelan, diganti sama hasrat, sama nafsu. Biar nanti pas ritual puncak... sesuatu bisa masuk dan make tubuh dia sepenuhnya."
"Kerasukan?" tanya Siska.
"Lebih parah," jawab Dion. "Inkarnasi. Penunggu desa ini butuh tubuh baru setiap sepuluh tahun. Tubuh muda. Tubuh yang kuat. Dan mereka lagi seleksi siapa yang paling cocok."
"Bima gagal karena dia ngelawan," lanjut Dion, naluri analisisnya bekerja cepat di tengah kepanikan. "Raka... Raka ditandai buat cadangan. Siska... pertahanan lo doa, makanya mereka teror lo pake suara bayi, biar lo takut dan lupa Tuhan. Lala... Lala udah sukarela."
"Gue?" tanya Nara.
Dion menatap Nara dengan pandangan iba sekaligus ngeri.
"Lo pemimpinnya, Nar. Lo yang paling rasional. Lo yang paling susah ditembus. Makanya lo disimpen buat yang terakhir. Lo itu... Main Course-nya. Hidangan utamanya."
Angin kencang tiba-tiba bertiup masuk melalui pintu depan yang terbuka, membantingnya hingga tertutup keras. BRAK!
Lampu ruang tengah yang bohlamnya sudah pecah semalam, tiba-tiba menyala. Terang benderang. Menyilaukan.
Padahal saklarnya posisi OFF.
Dan dari arah dapur, terdengar suara pisau dicincang ke talenan kayu. Tuk... Tuk... Tuk... Cepat. Berirama.
Nara menelan ludah. Rasa besi yang tadi ia cium dari jamu, kini terasa nyata di pangkal lidahnya, meski ia tidak meminum setetes pun.
Desa Wanasari tidak lagi menyembunyikan taringnya.
SEMENTARA ITU, DI DALAM SUMUR
Di kedalaman sepuluh meter di bawah tanah, di atas permukaan air yang gelap, tubuh Bima mengambang.
Wajahnya biru lebam. Matanya melotot menatap lubang cahaya di atas yang jauh.
Dia belum mati.
Bima lumpuh total, tapi sadar. Ia bisa merasakan air dingin merendam tubuhnya. Ia bisa mencium bau busuk bangkai di sekitarnya.
Dan ia bisa merasakan... sesuatu yang lunak, licin, dan banyak, sedang merayap naik dari dalam air.
Rambut.
Ribuan helai rambut hitam membelit kakinya, pinggangnya, lehernya. Menariknya pelan-pelan ke bawah.
Di telinganya, suara Rini—gadis desa yang pernah ia goda di jalan—berbisik mesra:
"Mas Bima kuat... Mas Bima benih unggul... Ibu Ratu pasti senang..."
Bima ingin berteriak, tapi mulutnya sudah disumpal oleh gumpalan rambut basah yang terus tumbuh dan memanjang, memaksanya menelan dosa desa ini bulat-bulat.