NovelToon NovelToon
Forensik Adalah Seorang Antagonis

Forensik Adalah Seorang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Psikopat / Antagonis / Balas Dendam / Bad girl
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gdc Hb vl

Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.

Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.

Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?

Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?

Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.

cerita ini hanya fiksi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

satu bulan berlalu sejak penelitian kasus di lakukan.

Karena tak ada petunjuk sama sekali akhirnya para polisi departemen roves memutuskan untuk menjadikan kasus ini sebagai kasus dingin.

(Kasus dingin adalah kasus kejahatan yang belum terpecahkan atau tidak ada kemajuan signifikan dalam penyelidikannya dalam jangka waktu tertentu, sering kali karena kurangnya bukti atau petunjuk, tetapi tetap terbuka dan dapat dibuka kembali jika muncul informasi baru atau teknologi baru seperti analisis DNA memungkinkan penyelesaiannya.)

***

Ziel sedang duduk di meja kerjanya menulis laporan tentang penelitian kasus pembunuhan mirza gevano kemarin.

Di meja ziel, tersusun rapi beberapa tumpuk lembar berkas serta buku-buku.

karena meja ziel meja kantor seperti umumnya yang memiliki panel privasi di hadapannya, di sanalah ziel meletakkan foto kasus pembunuhan mirza sebagai kasus yang ziel perlu tuntaskan.

Sejujurnya ini di lakukan ziel karena kebiasaan di masa lalu di mana ketika dia belum menyelesaikan kasus, dia akan menempelkan nya ke panel sebagai kasus yang perlu dia tuntaskan.

Hal ini tentu ziel lakukan agar tidak mendapatkan kecurigaan dari orang yang biasa melihat kebiasaan nya, terutama aksa.

"Huh selesai!" Ucap ziel, ia dengan lega bersandar pada sandaran kursi sambil mengangkat tangannya ke atas untuk peregangan.

"Kak ziel apa kau sudah selesai!" Dari belakang ziel mika tiba-tiba berbicara membuat ziel menoleh ke arahnya sebentar.

"Ya tentu, ada apa" tanya ziel sambil membereskan berkasnya.

"Kak aska bilang kita akan makan malam bersama di tempat biasa, apa kau ikut!" Ucap mika di belakang ziel.

"Tentu saja, kita akan makan bersama kan!, ayo!" Mika tersenyum ketika mendengar jawaban ziel, ia segera mengikuti ziel yang meninggalkan meja kerjanya.

***

Di sebuah restoran yang terlihat biasanya saja, tempat nya tak terlalu luas juga tak terlalu sempit.

Duduklah 5 orang pada salah satu meja restoran yang berhenti persegi panjang.

Ziel dan mika duduk di bagian kiri meja, arzi dan davis duduk bersama di bagian kanan meja, sedangkan aksa duduk sendirian di antara davis dan mika.

"Ayo kalian makan sepuasnya,aku yang traktir" Ucap aksa pada rekan-rekannya yang bisa di bilang junior semua selain ziel.

Para junior mengangguk sambil mengambil beberapa makanan di meja.

Seperti sushi, dumpling, dan lain-lain.

"Kak aska kau baik sekali, sebagai junior mu aku sangat menghormati mu!" ucap Davis sambil mengangkat tangan memberi hormat, seperti orang yang mau upacara.

Melihat tingkat laku davis mika menaikkan sudur bibirnya mencibir "giliran makan gratis kau menghormati nya, cih dasar penjilat!"

"Aku bukan penjilat, aku mengatakan fakta, benarkan zi"

"Hmm" arzi hanya berdehem mengangguk menanggapi ucapan davis, ia hanya fokus makan dan melirik ziel sebentar.

"Kemarin saat kau di beri tugas oleh kak aska kau_

" ayo makan, ini enak" Sebelum mika berbicara davis lebih dulu menyumpal mulutnya dengan beberapa dumpling menggunakan sumpit agar mika tak melanjutkan perkataannya.

Mata mika langsung melotot ketika dua dumpling masuk ke mulutnya, ia segera menjulurkan tangannya ingin menjambak davis namun gerakannya di hentikan oleh suara aksa.

"Sudah-sudah jangan berkelahi, ayo kita makan!" Tegur aksa membuat kedua orang duduk diam di kursinya.

"Hati-hati loh nanti cinta!" Ucap arzi mengoda davis dan juga mika yang sedang bertengkar.

"Gak mungkin!!" Tegas keduanya sambil saling tatap sinis.

Aksa yang melihat tingkah keduanya hanya bisa tersenyum lucu mendengar godaan dari arzi.

tatapannya kini tertuju pada ziel tak menyentuh sedikit pun makanan di meja.

"Ziel, ada apa" tanya aksa saat melihat ziel melamun.

Mendengar aksa ziel menegakan bahunya dan tersenyum ke arah aksa sambil berkata: "tidak, tidak ada" Ucap ziel.

"Kak ziel, kita pasti menemukan pelakunya jangan terlalu khawatir, lebih baik kakak makan dulu mengisi perutmu"

Mika meletakkan beberapa dumpling ke piring makan ziel agar ziel mau makan, karena dia mengenal ziel.

"Benar ziel, kau tak perlu terlalu khawatir, kita pasti menemukan pelakunya" ucap aska menambahkan ucapan mika, karena ia pikir ziel sedang memikirkan kasus yang belum terungkap ini.

"Kak ziel, makan saja dulu nanti kita cari lagi" arzi ikut bicara agar ziel mau mengisi perutnya.

"Kak ziel, jika kau tak mau, aku akan menghabiskan semuanya" ucap davis sambil menguyah makanan.

"Makasih ya semuanya!" Ziel tersenyum ke arah mereka semua sambil mengucapkan terimakasih seolah mereka telah menenangkan ziel.

Tanpa mereka ketahui hati ziel terasa geli dengan ketidaktahuan rekan-rekannya tentang dirinya.

Ziel kemudian mengambil beberapa sushi untuk di makan, senyuman tak pudar saat memakan makanan tersebut.

"Enak!" Puji ziel saat menguyah beberapa sushi.

Mendengar pujian dari ziel davis segera mengeluarkan suaranya pada mereka semua

"Tentu saja enak, ini restoran langganan saya, pilihan ku tak perna salah bukan!" Ucap Davis memuji dirinya sendiri.

"Ya, ya pilihan mu emang yang terbaik, tukang makan" mika mengambil beberapa makanan sabil menangapi ucapan davis.

Mendengar jawaban mika davis tak terima segera mencibir.

"Cih dasa tak tau terimakasih!"

Tak

Mika dengan kesal berdiri meletakkan sumpitnya ke meja dan menghasilkan yang keras membuat suasana di restoran segera hening.

Para pelanggan restoran menatap mika dengan heran, mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya gadis muda itu lakukan.

"Maaf semuanya"

Merasakan tatapan para pelanggan, mika duduk kembali ke kursi dengan pelan sambil menampilkan senyuman yang di paksaan.

Melihat tingkat mika, ziel dan yang lainnya menahan tawa tak mau mempermalukan mika lebih jauh atau bisa di bilang tindakan mereka sedikit mengejek mika.

Hal ini membuat mika cemberut sambil menundukkan kepalanya, rasa malu menghampiri dirinya ketika dia melakukan hal yang mengundang perhatian tadi.

"Pak tolong satu steak sapi"

Senyuman ziel tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara seorang wanita dari pintu masuk.

Suara yang begitu familiar bagi ziel, ziel segera menoleh sebentar menatap wanita yang telah duduk di kursi pelanggan.

Saat dia memastikan bahwa itu benar, gerakan nya langsung dia hilangkan dengan tersenyum dan membaur kembali agar tak ada yang curiga pada nya.

Di tengah-tengah tawa dalam menikmati hidangan restoran pikiran ziel kini, sedikit tertuju ke masa lalu.

Di mana seseorang pernah berkata padanya. 'Azna tenang saja aku akan melindungi mu' gadis itu berbicara pada azna yakni ziel di masa lalu, dia berbicara sambil menjulurkan tangannya ke arahnya.

Mengingat hal itu ziel tersenyum, sudah saatnya ia membalas kebaikan yang telah gadis itu berikan padanya bukan.

Senyuman ziel semakin mengerikan saat sebuah rencana hinggap di pikiran nya.

Namun ziel segera mengubah ekspresinya seperti biasa agar tak di kenali orang lain.

"kak ziel bisa kikita mabar malam ini!" ucap arzi memita izin pada ziel.

mendengar ucapan arzi aksa segera menimpal "heh kalian ini, kalian tak lelah apa, malamnya masih begadang main game, aku peringatkan ya, jangan sampai mengangu pekerjaan"

"tenang saja, kapten kami pasti melakukannya, tentu tapi seperti biasa" jawab ziel sambil memankan beberapa dumpling.

"tentu, kak ziel" azri segera memberikan cap jempol pada ziel pertanda setuju.

"memang ziel main seperti apa sampai berkata seperti itu" tanya aska dengan heran.

"ah itu kak ziel jika main tak perna mau nyalakan mikrofon atau berbicara dalam game, biasanya ia menggunakan pesan dan mendengar Player lain saja" azri menjawab pertanyaan aska dengan jelas.

kini tatapan aska beralih ke ziel meminta penjelasan.

"bicara akan membuang energi ku saat bermain" ucap ziel dengan singkat karena mengerti tatapan aska.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!