"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Tomi dan Sonia kembali melanjutkan perjalanan pulang setelah Sonia selesai menikmati ice cream miliknya.
Setibanya di rumah, Sonia melihat keberadaan mobilnya di garasi. Sepertinya orang suruhan Abil yang telah mengantarkannya.
"Ini kunci mobil anda, Nona." Mang Didi menyerahkan kunci mobil Sonia yang tadi dititipkan padanya.
Sonia lantas menerima kunci tersebut. "Terima kasih, mang."
"Sama-sama, Non." Balas mang Didi sebelum pamit kembali melanjutkan tugasnya, berjaga di pos depan.
"Mungkin ini alasan Abil menghubungi Sonia tadi?." Dalam hati Tomi yang juga menyaksikan keberadaan mobil Sonia di garasi rumahnya.
Tomi berjalan menuju pintu masuk utama dan tak lama kemudian di susul oleh Sonia.
"Kenapa jam segini kalian baru pulang, nak? Kalian pasti belum makan malam, iya kan?." Tebakan ibunya menyadarkan Tomi akan sesuatu.
"Astaga.... sudah pukul sepuluh dan Sonia juga belum makan malam?." Dalam hati Tomi. Sekalipun pernikahan mereka hanyalah sebuah keterpaksaan demi mewujudkan permintaan terakhir dari Daddy-nya Sonia, akan tetapi sebagai seorang suami, ia tetap berkewajiban menafkahi istrinya.
"Sekarang kalian mandi dulu, setelah itu turunlah untuk makan malam! Mamah akan menyiapkan makan malam untuk kalian." Sambung ibunya Tomi.
"Baik, mah." Sonia dan Tomi kompak menjawab, sebelum pamit ke kamar untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu.
"Kamu mandi saja duluan!." Kata Tomi setibanya di kamar.
"Baik, mas." Jawab Sonia. Tak lupa sebelum ke kamar mandi Sonia mengambil jubah mandi miliknya, jangan sampai ketinggalan.
Sembari menunggu Sonia selesai mandi, Tomi memilih pergi ke ruang kerjanya sebentar.
"Bukannya semalam aku meletakkannya di sini, tapi kenapa berkasnya malah tidak ada." Gumam Tomi yang sibuk mencari keberadaan salah satu berkas di meja kerjanya. Tomi memeriksa satu-persatu berkas yang ada di atas meja kerjanya, namun tak kunjung menemukan berkas yang dimaksud.
"Bi.....bibi....." Tomi beranjak dari ruang kerjanya.
"Iya, Den." Bibi menghampiri Tomi.
"Apa bibi yang tadi merapikan meja kerja saya?." Tanya Tomi.
Bibi mengangguk, mengiyakan. "Memangnya ada apa, den? Apa ada barang yang hilang, den?." Bibi jadi tak enak hati.
"Itu loh bi, kemarin seingat saya berkas di map warna biru saya simpan di atas meja, tapi saat saya ingin melihat berkas tersebut malah tidak ada di sana. Jadi, saya pikir mungkin saja bibi memindahkannya." jelas Tomi.
"Bibi hanya merapikannya saja, bibi tidak memindahkan barang apapun dari meja kerja den Tomi." Jawab bibi.
"Begitu ya bi...Ya sudah, tidak papa, bi. Biar nanti saya cek rekaman CCTV saja, mungkin saya salah ingat, bi." Kata Tomi sebelum balik lagi ruang kerjanya.
Mungkin Tomi terlalu lelah sehingga untuk urusan kecil seperti itu bisa lupa. Untuk memastikan apakah ia salah simpan atau bagaimana, Tomi memutuskan melihat rekaman cctv di ruang kerjanya. Niat hati ingin membuka rekaman cctv yang terpasang di ruang kerjanya, yang tampil dilayar laptopnya justru rekaman cctv yang terpasang di kamarnya. Ya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya terkadang Tomi lupa menyimpan barang miliknya di mana, dan untuk memudahkan ia menemukannya, Tomi memutuskan memasang kamera pengintai di kamar pribadinya yang hanya dapat diakses olehnya seorang.
Deg.
Tomi langsung terdiam mematung saat rekaman cctv di kamarnya terputar dengan jelas di layar laptopnya. Rekaman cctv yang menampilkan tu-buh Sonia tanpa sehelai benangpun. Nampaknya gadis itu tengah mengenakan pakaiannya. Tomi langsung menutup laptopnya. "Astaga...." Gumam Tomi, merasa bersalah telah melihat rekaman tu-buh Sonia tanpa izin. Tomi langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Niatnya ingin mencari tahu keberadaan berkas yang dicarinya tadi pun seakan lenyap begitu saja. Dalam hati, Tomi berniat melepas kamera pengintai di kamar pribadinya tersebut, sangat beresiko menurut Tomi, mengingat kini kamar tersebut bukan lagi hanya dihuni oleh dirinya seorang melainkan ada Sonia juga.
Di kamar.
Sonia telah selesai mandi dan mengenakan pakaian lengkapnya. Ia menunggu Tomi, namun suaminya itu tak kunjung kembali ke kamar.
"Mas Tomi lama banget sih, mana perutku sudah keroncongan begini lagi." Lirih Sonia. Mau di bawa tidur pun rasanya akan sulit jika dalam kondisi perut lapar seperti ini.
Tak lama kemudian. "Ceklek." Suara pintu kamar dibuka dari arah luar dan di susul oleh langkah Tomi memasuki kamar.
"Jika mau ganti baju atau semacamnya, lakukan di sana!." Tomi menuding ke arah ruang ganti dengan dagunya. "Jangan berpikir yang aneh-aneh! Saya hanya sekedar mengingatkan saja, barangkali kamu sungkan untuk menggunakan ruangan itu." Tomi kembali menambahkan ketika melihat mimik wajah Sonia nampak bingung.
Sonia pun akhirnya mengangguk paham. "Baik, mas."
"Ohiya mas, apa boleh aku menggunakan lemari yang masih kosong untuk menyimpan pakaianku?." Pelan dan hati-hati Sonia berujar.
"Hm."
"Terima kasih, mas."
"Nanti saja mengerjakan itu, kita turun dulu untuk makan malam!." Kata Tomi melihat Sonia beranjak, hendak menarik kopernya ke arah lemari.
Sonia pun mengangguk. "Kebetulan perutku sudah lapar sekali." Lirih Sonia, namun masih dapat didengar oleh Tomi.
"Lain kali, jika kamu lapar, tidak perlu menungguku!." Tomi berjalan beberapa langkah di depan Sonia, keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
"Hm." Jawaban Sonia mampu menghentikan langkah Tomi. Seharusnya hanya dirinya yang boleh menjawab dengan cara seperti itu, Sonia tidak boleh melakukannya.
"Agh ....."Sonia merintih kesakitan, memegang dahinya yang terbentur punggung Tomi. Sonia menelan ludah, menahan rasa sakit pada dahinya menyadari Tomi kini telah berbalik badan menghadap padanya.
"Sakit....?." Tomi menyentuh dahi Sonia, dan tindakan Tomi tersebut terasa hangat hingga merayap masuk ke dalam hati Sonia. Namun sesaat kemudian Sonia langsung disadarkan oleh kata-kata Tomi.
"Makanya, kalau jalan itu pake mata! Apa kamu mau saya diamuk oleh Abil, kalau sampai kamu kenapa-napa?." Rupanya alasan Tomi mengkhawatirkan dirinya hanya karena Abil. Tomi tak ingin sampai mengecewakan sahabat baiknya, setidaknya itu yang ditangkap Sonia dari kalimat Tomi.
"Maaf, mas."
"Hm." Tomi kembali berbalik badan, dan melanjutkan langkahnya menuju ruang makan.
Sesampainya diruang makan, Tomi dan Sonia disambut oleh ibunya Tomi yang sudah menunggu sejak tadi untuk memastikan anak dan menantunya tidak sampai melewatkan makan malamnya.
"Kamu harus makan yang banyak, biar sehat dan juga bertenaga, nak!." Sonia terharu dengan perlakuan hangat ibu mertua terhadap dirinya. Wanita paruh baya tersebut bahkan mengisi piring Sonia dengan berbagai macam jenis lauk yang sengaja di masaknya untuk sang menantu.
"Terima kasih, mah." Ucap Sonia dengan menyematkan senyum di bibirnya.
"Sayang sih sayang, mah, tapi tidak begitu juga kali. Sonia itu manusia, bukan kerbau. Masa' mamah mengisi piringnya dengan nasi dan lauk sebanyak itu." Tomi jadi gemas sendiri pada ibunya.
"Sudah, kamu makan saja, tidak perlu memusingkan mamah, iya kan, Sonia!." Balas ibu.
Sonia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, padahal dalam hatinya, gadis itu pun bingung sendiri. Apakah tubuh langsingnya mampu menampung makanan sebanyak itu?.