Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 Hari Yang Ditentukan
Tamara tiba di rumahnya, ia melangkah cepat memasuki area luas ruang tengah. Tumit sepatunya menghantam lantai tegas, tergesa—pertanda dunianya sedang tidak baik-baik saja.
Pesan yang dikirim oleh papanya, terus berputar di kepalanya.
Hanya kalimat singkat soal rencana penentuan tanggal pernikahan, tapi mampu mengguncang seisi kepalanya sepanjang perjalanan pulang tadi.
Suara gemerisik air kolam ikan besar langsung menyambutnya, begitu langkahnya sampai di area teras samping.
Tamara berdiri di tempat, pandangannya jatuh pada Rudi yang duduk rileks di kursi rotan.
Sorot matanya menatap tak percaya. "Pa... Ini serius? Aku belum bilang kalau aku bersedia, loh," suaranya rendah, tapi jelas terdengar protes.
Rudi sedikit mendongak, menatapnya dengan wibawa.
"Memang niat Papa sesegera mungkin menikahkan kamu. Keluarga Arvin sudah setuju, dan Arvin juga bersedia."
Pria itu menegakkan punggung sebelum ia melanjutkan, "Mereka akan secepatnya melamar kamu secara resmi, dan Papa sudah siapkan tanggal untuk pernikahan kalian, dua minggu lagi."
Tamara lantas duduk di sampingnya. "Dua minggu lagi? Seriously? Itu bahkan terlalu cepat, Pa... " keluhnya, setengah pasrah.
Rudi menatapnya dengan tatapan tak menerima penolakan. "Lebih cepat lebih baik. Itu waktu yang cukup untuk persiapan pernikahan," suaranya tegas, jelas bukan hanya asal ambil keputusan.
Tamara mengatup bibir rapat, bahunya merosot lemas. Tubuhnya terasa berat, seolah seluruh beban pikirannya ikut menarik ke bawah.
Rudi mengusap punggung tangan putrinya, sorot matanya melembut. "Tata, tolong jangan anggap ini cara Papa mengekang kamu. Papa lakuin ini juga demi kebaikan kamu."
Tamara masih terdiam, mendengarkan tanpa memotong.
"Kamu satu-satunya yang paling berharga, yang Papa miliki di dunia ini, Ta. Papa hanya mau yang terbaik buat kamu. Tolong kali ini penuhi permintaan Papa," pinta Rudi dengan suara lirih di ujung kalimat.
Kata-kata itu menggantung di udara, menyisakan hening di antara keduanya. Hanya suara gemerisik air yang terdengar lebih jelas, namun tak lebih berisik dari isi pikiran Tamara.
Ia menunduk, jemarinya tergenggam di atas lutut. Kalimat dari papanya tadi jatuh menghantam dadanya, lebih keras dari yang ia duga.
Tamara menatap papanya lagi, bagaimana ia bisa menolaknya?
Permintaan itu terdengar tulus, apalagi diucapkan oleh seorang yang selama ini sudah memberikan hampir seluruh hidupnya bagi Tamara.
Ia menarik napas panjang, seolah mencari keberanian untuk mengambil keputusan. "Oke... Kalau hanya dengan ini bisa bikin Papa senang, aku akan lakuin."
Rudi menggenggam erat tangan putrinya, mengusap lembut. "Terima kasih, ya, Tata," ucapnya, dengan senyum yang lebih terlihat sampai ke mata.
Tamara mengangguk, lantas berdiri. "Aku ke kamar dulu, Pa," pamitnya.
Kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya terdengar sayup, lebih pelan, seperti mencari bagian sesuatu yang hilang dari dirinya.
Sementara itu, Rudi masih duduk di tempatnya. Tangannya mengusap wajah yang menyimpan garis-garis lelah—seorang pria yang selama bertahun-tahun berusaha tegar sendirian.
Ia menyandarkan punggung. Tatapannya mengawang, sampai kilasan sebuah ingatan terlintas begitu saja.
Satu hal yang baru-baru ini ia simpan rapat, sekaligus yang selalu membuat napasnya lebih berat setiap kali memikirkannya.
Pria itu menoleh ke arah pintu kaca besar di dekatnya, jejak putrinya sudah menghilang di balik sana.
Mungkin lebih baik, Tata tak perlu tahu soal ini, pikirnya.
...
Hari berganti. Siang itu cahaya matahari jatuh di atas gedung Lunara, kilaunya memantul pada fasad kaca.
Tamara duduk di ruangannya, baru menutup dokumen terakhir, setelah menit panjang bergelut dengan susunan laporan.
Di antara jeda hening yang tercipta, pikirannya kembali sibuk memikirkan rencana pernikahannya.
Sejak tahu kepastian soal rencana itu, setiap detik terasa menekan, meski ia banyak menghabiskan waktu untuk bekerja.
Tamara menggigit jari, hal yang bahkan jarang ia lakukan di meja kebesarannya, kecuali sedang berpikir keras.
Rencana pernikahan itu—makin ia pikirkan, makin terasa membebaninya.
Ia tidak benar-benar siap, meski sudah menyatakan bersedia di depan papanya waktu itu.
Tangannya mengambil kartu nama Arvin dari laci meja, memandangi nama itu sebentar.
Tamara bahkan belum tahu banyak tentangnya, juga tak pernah mencari tahu.
Hubungan mereka terlalu dingin, untuk dua orang yang akan segera membina rumah tangga dalam waktu dekat.
Sudah beberapa hari sejak pertemuan pertama itu, tak pernah ada komunikasi yang terjadi. Tidak ada kabar, pesan, selain kepastian rencana pernikahan.
Tamara meletakkan kartu itu di atas meja. Alisnya terangkat, pikiran iseng tiba-tiba terlintas begitu saja di benaknya.
Ia mengambil tablet, jemarinya cekatan membuka satu situs. Tujuannya menemukan satu nama, yang akhir-akhir ini memenuhi isi kepalanya: Arvin Wicaksono.
Layar menampilkan foto Arvin, formal, berwibawa sekaligus menawan. Ia mendadak penasaran tentang sosok calon suaminya itu.
Di baris bawah, terdapat beberapa informasi data pribadi, riwayat pendidikan, sampai deretan prestasi.
"Oke... Masih tiga puluh tiga tahun, lulus pendidikan doktoral di usia muda. Punya posisi penting di fakultas... " bisiknya, setengah kagum.
Sorot matanya melebar. "Sudah jadi profesor di usia tiga puluh tahun?" suaranya meninggi, hampir tak percaya.
Jarinya terus bergerak menggulir layar semakin jauh, seolah tak ingin melewatkan informasi apapun.
Namun semakin banyak tahu, Tamara justru semakin syok. Ia hanya bisa melongo, melihat daftar informasi kiprah Arvin di dunia akademik.
Mulai dari pengisi seminar nasional, aktif di berbagai forum ilmiah, penulis buku best seller, hingga menerbitkan banyak jurnal penelitian—yang bahkan tiga di antaranya mendapat penghargaan internasional.
Tamara meletakkan tablet di atas meja. "Apa manusia kayak gini masih punya waktu buat bersantai?" gumamnya heran.
Bahkan setelah melihat semua informasi tentang Arvin, tak lantas membuatnya berhenti mengkhawatirkan hidupnya jika menikah nanti—entah apa ia bisa hidup berdampingan dengan laki-laki itu nantinya.
Seseorang mengetuk pintu ruangannya, mengalihkan perhatian Tamara. "Masuk," titahnya.
Jenna muncul dari balik pintu, lalu melangkah masuk dengan membawa tumpukan kecil dokumen di tangannya.
"Ini data-data yang sudah ditinjau ulang, sesuai arahan Ibu... " ujar perempuan itu, diiringi senyum ceria khasnya yang sudah terlalu akrab bagi Tamara.
" ... dan ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani," tambah Jenna.
Tamara mengangguk. "Taruh aja di meja," ujarnya. Tangannya kembali meraih tabletnya.
Jenna langsung meletakkan dokumen itu sesuai perintah, lalu tak sengaja melihat sebuah kartu nama di atas meja.
Pandangannya langsung tertuju pada gelar profesi di paling ujung nama Arvin. Sorot matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.
"Ibu pergi ke psikolog?" tanya Jenna spontan, polos seperti biasa.
"Enggak," jawab Tamara tanpa menoleh. Ia mematikan layar tablet, lalu meletakkannya kembali.
Jenna manggut-manggut. "Oh... Kirain. Tapi nama ini, kok kayak nggak asing ya?" Jenna mencoba mengingat sesuatu.
Tamara melirik ke arahnya, baru sadar sekretarisnya itu sedang memikirkan tentang nama Arvin.
Hingga Jenna tiba-tiba menjentikkan jari, mengejutkan Tamara. "Saya baru ingat. Ini Prof. Arvin!" serunya heboh.
Wajahnya antusias, seperti orang yang menemukan gosip baru. "Saya sering nontonin video-video seminarnya. Orangnya pinter banget, masih muda, ganteng loh, Bu."
Dahi Tamara berkerut halus. "Terus?" tanyanya, datar.
Jenna melirik ke arah meja bosnya itu. "Hmm. Melihat ada kartu nama Prof. Arvin di meja Ibu... kali aja terkait program rutin tim HR, Ibu mau kerjasama atau semacam kolaborasi gitu," tebaknya, diiringi cengiran polos.
Tamara mengambil ponselnya di sudut meja. "Kolaborasi rumah tangga, yang ada," katanya pelan, terdengar samar.
Namun pendengaran Jenna yang sensitif, mendorong rasa penasarannya. "Hah? Apa saya salah dengar, Bu?"
"Ya. Kamu salah dengar," jawab Tamara cepat, sadar telah keceplosan.
Sebelum perempuan itu sempat bersuara lagi, Tamara mengangkat wajah dan menatapnya dengan wibawa.
"Kamu boleh keluar sekarang, Jen," titahnya, nada suaranya rendah namun tegas.
Jenna yang selalu hafal itu bentuk pengusiran halus, segera permisi untuk kembali ke ruangannya.
Setelah memastikannya keluar, Tamara menghela napas panjang.
Tatapannya beralih ke layar ponsel, jarinya menekan menu panggilan.
Ia berpikir keras, menimbang-nimbang sesuatu ketika melihat nomor telepon Arvin.
"Aku harus bicara dengannya... " gumamnya.
BERSAMBUNG...
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺