Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Kenal Lebih Dekat
Citra mengunci pintu gerbang rumahnya setelah ia memarkirkan motor di teras rumahnya. Dia biasa menaruh motornya di sana karena pagar rumahnya cukup tinggi dan tak terlihat dari luar, sehingga aman tak memasukkan kendaraannya di ruang tamu.
"Assalamualaikum ..." ucap Citra seraya membuka pintu rumah.
"Waalaikumsalam ..." Ibu Nurul menyambut Citra. "Ibu sudah masak air, sebentar lagi matang. Kamu sudah makan Citra?" Sebelumnya Ibu Nurul sudah mendapat pesan dari putrinya itu jika sedang perjalanan pulang, sehingga ia menyiapkan air hangat untuk Citra mandi.
"Tadi sudah makan bakso ditraktir Mas Erwin, Bu." Citra menjawab seraya berjalan menuju kamarnya.
Ibu Nurul tak mengikuti langkah Citra. Dia memang belum sempat memberitahu Citra soal kedatangan Bima sore tadi di saat Citra mengirim pesan kepadanya. Tapi, dia tak ingin memberitahu Citra sekarang. Putrinya itu baru saja tiba dan pasti sangat lelah. Setelah Citra mandi, baru dia akan memberitahu Citra soal Bima.
Ibu Nurul memilih kembali ke dapur untuk melihat, apakah air yang ia masak sudah matang atau belum, agar Citra bisa segera membersihkan tubuhnya setelah seharian bahkan sampai malam beraktivitas.
Setengah jam kemudian, Citra sudah bersantai di kamarnya, melepas lelah karena sejak jam delapan pagi dia disibukkan dengan aktivitas di kantor.
"Cit, kamu belum tidur?" Dari luar kamar Citra, Ibu Nurul mengetuk pintu kamar anaknya.
"Belum, Bu. Masuk saja!" sahut Citra menoleh ke arah pintu, namun tetap berbaring dengan posisi telungkup.
Setelah mendapat izin sang putri, Ibu Nurul masuk ke kamar Citra dan menghampiri putrinya itu lalu duduk di tepi ranjang Citra.
"Ada apa, Bu?" tanya Citra mengubah posisinya dan terduduk.
"Tadi sore ada tamu yang cari kamu, Cit." Ibu Nurul sudah tak sabar ingin memberitahu putrinya tentang kedatangan pria asing yang mengaku sebagai relasi bisnis kantor Citra.
Sejujurnya, Ibu Nurul merasa aneh ada relasi bisnis tempat Citra bekerja datang ke rumah, apalagi seorang pria. Jika dilihat dari penampilan Bima yang perlente, sepertinya pria itu bukan hanya sekedar pegawai biasa seperti putrinya, itulah yang ada dalam pikiran Ibu Nurul.
"Tamu? Siapa, Bu?" Seketika dugaan Citra mengarah Bima, karena pria itu beberapa hari lalu meminta alamat rumahnya.
"Katanya sih relasi bisnis kantor kamu, namanya Bima." Ibu Nurul menjelaskan siapa tamu yang datang ke rumah mereka tadi.
Citra menelan saliva. Ternyata tepat seperti dugaannya, memang Bima yang datang berkunjung ke rumahnya tadi.
"Benar dia itu relasi bisnis kantor kamu, Cit?" tanya Ibu Nurul memastikan.
"Ummm, iya, Bu," jawab Citra, "Dia bicara apa saja, Bu?" Citra penasaran, sebab ibunya tak menyinggung kalau Bima adalah kakak tiri Bayu, sehingga ia menduga kalau Bima tak memberitahu statusnya sebagai kakak ipar Bayu.
"Dia tanya kerjaan kamu, jam berapa kamu pulang? Jadwal kamu lembur?Seperti itu saja," jawab Ibu Nurul, "Tapi, kalau dia relasi bisnis kantor, kenapa dia datang ke sini cari kamu, ya, Cit?" Ibu Nurul mulai merasakan kejanggalan dengan kehadiran Bima.
"Apa dia suka sama kamu, Cit?" Akhirnya Ibu Nurul dapat menebak niat hati Bima.
"Aahhh, Ibu ada-ada saja." Citra cepat menepis dan memalingkan wajahnya, karena pasti wajahnya saat ini sudah merona. Karena sang ibu menebak hal yang sama seperti Liza.
"Kalau Ibu lihat, sepertinya usia dia sudah matang, dia bukan pria beristri, kan, Cit?" Tentu Ibu Nurul tidak mau anaknya menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Dia akan menjadi orang paling depan yang menentang kalau Citra sampai berbuat seperti itu.
"Nggak, kok, Bu. Mas Bima masih single, belum menikah." Walau setelah ia bercerai, dia tak tahu kehidupan Bima, tapi dari Liza dan Erwin dia tahu Bima masih melajang.
"Ibu hanya berpesan ke kamu, Citra. Kalau kamu berniat mencari pendamping lagi, cari yang benar-benar bisa mengerti kondisi kamu dan keluarga kamu. Ibu nggak ingin kamu mengalami kegagalan lagi seperti yang lalu." Ibu Nurul mewanti-wanti Citra agar tak salah memilih suami lagi.
"Iya, Bu. Lagi pula sekarang ini aku nggak kepikiran ke sana dulu, Bu. Aku ingin Ambar selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan." Jika adiknya sudah bekerja, mungkin beban yang dipikul Citra akan terasa ringan. Selain tak ada pengeluaran untuk biaya kuliah, gaji yang diterima Ambar juga bisa membantu membiayai orang tua mereka.
Ibu Nurul mengusap pundak sang putri. Sejujurnya, dia ingin secepatnya Citra berumah tangga kembali, namun, dia juga khawatir anaknya akan mendapat tekanan dari calon mertuanya lagi jika Citra masih saja terus bekerja.
***
Citra menatap layar ponselnya. Dia mencari nama Bima di kontak alat komunikasinya itu, ingin menanyakan tujuan Bima datang ke rumahnya.
"Selamat malam, Mas. Maaf, tadi ke rumah ada apa, ya?"
Itu isi pesan yang Citra kirim pada Bima. Sebenarnya dia bisa saja mengabaikan kedatangan Bima. Tapi, lagi-lagi dia tak enak hati karena Bima relasi kantornya. Dia khawatir salah bersikap akan mempengaruhi kerjasama kedua perusahaan.
Ddrrtt ddrrtt
Notif pesan masuk tak lama terdengar di ponsel Citra dan ia segara membukanya.
"Kamu sudah di rumah?" Balasan pesan Andra berupa pertanyaan.
"Iya, dari sejam lalu." Citra pun membalas.
When marimba rhythms start to play...
Dance with me, make me sway ...
Citra dikejutkan dengan bunyi ringtone-nya. Ternyata Bima melakukan panggilan telepon padanya.
"Ya ampun! Kenapa malah telepon?" keluh Citra merasa canggung harus berkomunikasi via telepon dengan mantan iparnya itu. "Kenapa aku tadi mesti chat segala, sih!?" Kini dia menyesal telah mengirim pesan pada Bima. Kalau sudah seperti ini, mau tak mau, dia harus mengangkat panggilan masuk itu.
Citra menarik nafas dalam-dalam sebelum menerima telepon dari Bima. "Halo, Assalamualaikum ..." sapanya kemudian.
"Waalaikumsalam, kamu belum istirahat?" tanya Bima menyahuti sapaan Citra.
"Mungkin sebentar lagi," balas Citra.
"Kamu pasti lelah sekali karena lembur. Apa telepon saya mengganggu kamu?" Bima khawatir teleponnya mengganggu istirahat Citra.
"Oh, nggak, Mas. Oh ya, ada apa tadi Mas datang ke rumah?" Citra mengulang pertanyaan saat awal ia membuka komunikasi dengan mengirim pesan pada Bima.
"Hanya ingin memastikan kalau alamat yang kamu kirim memang benar rumah kamu," jawab Bima berkelakar.
Citra terperangah mendapat jawaban Bima. Dia sampai menjauhkan ponselnya dan menatap alat komunikasinya itu. Bisa-bisanya Bima menganggap dirinya berbohong.
"Saya hanya bercanda." Kalimat lanjutan dari Bima membuat Citra kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. "Saya hanya ingin kenal dengan orang tua kamu," sambungnya.
"Oh ya, kamu hanya lembur setiap Senin?" Bima kembali bertanya.
"Ya, memang lebih sering Senin," jawab Citra, "Memangnya kenapa, Mas?" lanjutnya.
"Apa kita bisa bertemu?"
"Bertemu? Ummm, apa ingin membahas masalah kerjaan, Mas?" Walaupun tak yakin, tapi Citra tetap bertanya.
"Tidak, bukan pekerjaan. Saya hanya ingin kenal lebih dekat dengan kamu."
Citra menggigit bibirnya mendengar jawaban Bima. Mengenal lebih dekat? Apa itu artinya Bima benar tertarik kepadanya. Citra kembali dilanda kegusaran.
"Ya Allah, gimana ini?" Citra membatin.
"Apa kamu keberatan kita bertemu lagi?" Bima tak mendapat jawaban Citra sehingga ia menduga Citra menolak permintaanya.
"Oh, ummm ... nggak, Mas. Memangnya Mas ada waktu kapan?" Sungguh, Citra sangat terpaksa menerimanya.
"Sabtu malam ini, apa kamu bisa?"
"Sabtu malam? Astaga! Apa dia mengajak berkencan?" gumam Citra karena Bima makin berani menunjukkan ketertarikan padanya dengan mengajaknya bertemu Sabtu malam yang notabene adalah malam Minggu.
♥️♥️♥️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best