Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelegaan
David berdiri di depan Rio dengan senyum yang tidak ramah. Tatapan mereka saling mengikat, seperti dua predator yang baru sadar mereka berbagi arena yang sama. Tidak ada penonton, tidak ada peluit, hanya ketegangan yang merayap seperti asap di antara mereka.
"Rasakan ini!!."
Dan David lah yang pertama menghentikan keheningan itu.
Cross kanan David meluncur cepat, hampir terlalu cepat bagi manusia biasa. Namun kepala Rio sudah bergerak ke kiri, sebuah slip bersih yang muncul dari naluri yang semakin tajam. Teknik itu sederhana, hanya menggeser kepala, tapi ketika dilakukan Rio, angin bahkan sedikit berhembus.
David baru sadar bahwa ia kehilangan momentum.
Rio membalasnya dengan jab yang membidik rahang kanan David. Lawannya mundur cepat, mencoba meretas ulang jarak. Hook kiri David kemudian menyentak udara dan hampir menyerempet wajah Rio—serangan yang cukup kuat untuk mengakhiri duel bagi orang lain.
Rio menunduk ke kanan dan balasannya mendarat seperti palu.
Hook Rio menghantam rahang David dan membuat tubuhnya terpental ke samping. Bukan pukulan yang panjang, tetapi cukup untuk menunjukkan siapa yang memimpin tempo.
David melompat mundur, berusaha membuka ruang sebelum semuanya terlanjur terlepas dari kendalinya.
Tapi Rio tak memberi dunia kesempatan bernapas.
“Apa—!?”
Suara David bahkan tidak selesai keluar saat Rio menghilang dari pandangannya.
Dalam sekejap, Rio sudah berada tepat di depannya, gerakannya seolah memotong jarak seperti lembaran kertas. Jab Rio menghantam hidung David, dan suara dentumannya menggema di sebuah gang kosong.
Tubuh David terlempar beberapa meter.
"Aku tidak menyesal mengikutinya."
Riko yang menyaksikan dari kejauhan hanya tersenyum, bukan terkejut—lebih seperti seseorang yang melihat prediksi lamanya terbukti benar. Di antara semua orang, dialah yang paling memahami seberapa liar perkembangan Rio.
Dan sekarang ia melihat hasilnya langsung di depan mata.
David bangkit lagi, wajahnya menegang menahan rasa sakit. Ia mencoba memasang kuda-kuda sempurna, berharap postur bisa menutupi keterlambatannya. Namun sebelum ia sempat menyelesaikannya, hawa di belakangnya berubah. Rio sudah berada di belakangnya.
Rio sudah di sana, menerjang kurang dari beberapa detik lebih cepat.
"Kecepatan apa itu…? Aku datang untuk memburunya. Jadi kenapa seolah akulah yang dikejar? "Pikiran itu muncul hanya sekejap, cukup untuk memberi David rasa pahit akan kenyataan.
Tendangan hook berputar Rio datang, menyapu sisi kepalanya dengan tenaga yang tidak lagi bisa ia tangkis.
Dan dunia David ikut gelap.
Bugghh!
Tubuh David tercampak jauh, berguling beberapa puluh meter sebelum berhenti tersungkur. Pertarungan berakhir bahkan sebelum atmosfernya sempat berubah. Ketika Rio menatap Riko, ia mendapati temannya itu sudah menyingkirkan tiga lawannya sendiri.
Kemenangan cepat, tapi tetap mengesankan.
“Kau gila, Riko,” ucap Rio sambil mendekatinya. Ia masih sulit percaya Riko menghabisi tiga orang sekaligus. Bahkan dengan kemampuan mereka sekarang, itu tetap prestasi yang tidak main-main.
"hahaha padahal kau lebih kuat."
Riko hanya tertawa ringan, seolah hal itu tidak lebih dari pemanasan.
“Bagaimana bisa kau di kalahkan oleh David?” tanya Rio, sungguh-sungguh heran.
“Aku nggak kalah dari David,” Riko menjawab santai. “Yang ngalahin aku itu Rivaldo sendiri.” Kalimat itu jatuh seperti kebenaran yang Rio sebenarnya sudah curigai sejak awal.
Dan semuanya kini masuk akal.
“Pantas saja,” Rio mengangguk. “David terlalu lemah untuk ngalahinmu, apalagi dia orang dekat Rivaldo.”
Riko menggeleng pelan. “Kau salah paham. David baru direkrut. Dia bahkan belum pantas masuk 30 besar terkuat naraya”
Kebenaran itu memunculkan senyum tipis di bibir Rio.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Mereka berpisah di persimpangan, ditemani percakapan singkat yang mengembalikan sedikit kehangatan setelah adu pukul yang panas.
"Akhirnya tiba juga aku bisa hidup seperti ini.."
Rio berjalan seorang diri, dan pikirannya mulai terisi kenangan lama. tentang dirinya yang dulu selalu jadi sasaran.
Dan tentang dirinya yang sekarang.
Langit petang menampilkan warna oranye lembut yang menyapu atap rumah-rumah. Cahaya itu menyilaukan, tapi entah bagaimana membuat hati Rio terasa tenang. Semua perubahan ini… semuanya berawal dari sakit kepala itu.suara misterius yang muncul di dalamnya.
Air mata kecil muncul tanpa izin.karena ia tak pernah membayangkan hidupnya bisa bergeser sejauh ini. Semua berkat kemampuan barunya—King’s Sense. Tanpa itu, ia masih akan menjadi bayangan yang diinjak semua orang.
Rio menegakkan punggungnya.
Rumahnya akhirnya terlihat. Akhir pekan menunggu, dan ia sudah merencanakan membeli beberapa peralatan latihan. Hidupnya tak lagi berjalan membawanya—sekarang ia yang menarik hidup itu maju.
“Aku pulang…” ucapnya sambil membuka pintu.
Tapi tidak ada jawaban. Rani tidak terlihat di mana pun, padahal sepatunya ada di luar. Rumah sunyi, terlalu sunyi. Saat itu juga, getaran halus menjalar di tulang Rio, membuat napasnya tercekat.
King’s Sense berdenyut.
DUGG… DUGG…
Kepalanya bergetar hebat, seperti ada sesuatu yang merobek. “A-apa ini…!?” Rio kehilangan kendali, lututnya melemah. Rasa sakit yang tidak wajar menyambar seluruh tubuhnya.
Dalam sekejap, ia roboh di depan pintu.
BRUKK.
Rani keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah. Saat melihat Rio tergeletak tak sadarkan diri, matanya membesar panik.
"Kakak!!?."
Tanpa berpikir, ia langsung berlari ke arahnya—ketakutan yang tiba-tiba mencengkeram jantungnya.
Rio tidak bergerak.