Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Bencana Emoticon
Keesokan Paginya. Lyla sudah berdiri di depan pintu aula saat matahari bahkan belum naik tinggi. Udara masih sejuk, lorong sekolah sepi, dan langkahnya terdengar jelas di lantai.
Satu tangannya memegang tas, tangan lainnya sibuk gelisah sendiri—memainkan ujung lengan bajunya, lalu berpindah mengelus rambut, lalu kembali lagi memegang tas.
Dia belum tidur nyenyak semalaman.
Emoticon cinta.
Salah kirim.
Sudah dibaca.
Dan... tidak dibalas.
"Bodoh, bodoh, bodoh... kenapa malah jadi love... harusnya cuma senyum," gerutunya dalam hati. Dia menghela napas, lalu mencoba mengintip ke dalam aula.
Tiba-tiba
"Ngintip lagi?" bisik seseorang dari belakang.
"Ahkkk!!" Lyla melompat kaget.
Juliet tertawa puas. "Kamu tuh kagetan banget sih! Santai aja..."
Saat Juliet masih terkekeh. Noah muncul dari arah koridor. Ia mengenakan pakaian santai dan topi yang membuatnya terlihat keren tanpa usaha. Lyla spontan menunduk. Ia tak berani menatap Noah.
Jantungnya berdetak tak karuan, sementara Noah tampak segar bugar, seolah malam tadi tidak terjadi apa-apa. Tidak seperti Lyla yang semalaman nyaris tidak tidur karena memikirkan… emoticon hati.
“Selamat pagi, Lyla,” sapa Noah dengan senyum ramah.
“Ah… iya, selamat pagi…” balas Lyla terbata.
'Kok dia... biasa aja? Padahal semalam aku… Apa dia nggak peduli? Atau cuma aku yang lebay?' Pikiran Lyla makin semrawut.
“Hoaaam… Lyla, kamu kok datang sepagi ini?” Juliet tiba-tiba ikut nimbrung dengan wajah bantal “Apa kamu mau bantu kami piket?”
“Piket?” dahi Lyla berkerut.
“Yup, sudah diputuskan. Hari ini kamu piket bareng kita” ujar Juliet cepat. “Tapi… aku tiba-tiba sakit perut. Permisi!”
Tanpa menunggu reaksi, Juliet langsung kabur ke arah toilet. Sudah jelas dia cuma ngeles buat bisa tidur lagi
“Hei, ka…” gumam Noah sambil bengong melihat Juliet lari seperti atlet sprint menuju toilet.
“Dia pasti mau tidur lagi,” Noah menghela napas kecil lalu masuk ke dalam aula. “Ayo, Lyla. Sebelum yang lain datang, kita harus…”
Ia menoleh ke arah Lyla, dan nada suaranya tiba-tiba berubah—datar tapi mengandung sesuatu yang tidak biasa.
“…membereskan.”
Lyla berdiri kikuk di ambang pintu. Tangannya refleks memegang tali tas. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengangguk pelan tanpa berkata-kata, lalu melangkah pelan masuk ke dalam aula, mengikuti Noah.
Di dalam aula yang masih lengang, Noah mulai mengepel lantai dengan gerakan tenang. Sementara itu, Lyla sibuk merapikan properti latihan kemarin—kertas naskah, papan skenario, dan beberapa alat musik kecil yang berserakan.
“Ugh, kenapa jadi aku yang piket sih…” gerutunya dalam hati, sambil mengangkat sebuah dus besar berisi perlengkapan.
Langkahnya pelan, tapi karena pikirannya melayang-layang, ia tidak sadar bahwa lantai di depan telah basah—baru saja dipel oleh Noah.
Kakinya terpeleset.
"Aahhh!" jerit Lyla sambil kehilangan keseimbangan. Dus di tangannya terjatuh, properti berhamburan.
Dalam sekejap, seseorang menangkap tubuhnya sebelum kepalanya membentur lantai.
Brukk!
Keduanya jatuh bersama. Lyla telentang, tapi tidak merasakan sakit sedikit pun—karena sebuah lengan kuat melindungi bagian belakang kepalanya.
Noah.
Ia terjatuh bersamanya, tubuhnya menjadi pelindung di bawah, lengannya masih menahan kepala Lyla agar tidak terbentur.
Mereka terdiam. Nafas mereka berdekatan.
Wajah Lyla pucat, lalu memerah.
Mata mereka bertemu.
Hening.
Hanya detak jantung Lyla yang terasa makin cepat.
Tatapan Noah… berbeda. Ada sesuatu di sana .... bukan sekadar ramah atau basa-basi. Tatapan itu membuat Lyla tak bisa berpaling.
Tiba-tiba—
"HEY! Sedang apa kalian?!"
Suara Juliet membahana seperti petir menyambar langit cerah.
Lyla dan Noah refleks bangkit. Lyla panik, wajahnya merah padam, tangannya gemetaran.
Noah masih duduk, tangannya memegangi bagian belakang kepala—bukan karena sakit, tapi mungkin karena... bingung?
"Yang bener aja kalian! Bukannya cepat beres-beres, malah santai-santai kayak di taman!" Juliet mendekat sambil berkacak pinggang.
"Ahh maaf, Ka, aku tadi—"
"Iya, iya, bawel." Noah memotong, lalu berdiri dan menoleh ke arah Lyla.
Tatapannya kembali serius.
"Lain kali hati-hati."
Nada suaranya… hangat tapi tegas. Bukan
marah, tapi juga bukan basa-basi.
"I-iya..." Lyla menunduk, menatap ujung sepatunya yang basah.
Noah tak berkata apa-apa lagi. Dia mengambil pel, lalu kembali mengepel lantai seperti tak ada yang terjadi
Tapi bagi Lyla, pagi itu... terlalu banyak yang terjadi.