Di antara debu masa lalu dan dinginnya Jakarta, ada satu bangunan yang paling sulit direnovasi: Hati yang pernah patah.
Lima tahun lalu, Kaluna Ayunindya melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan Bara Adhitama—pria yang memujanya—dan cincin janji mereka di atas meja nakas tanpa sepatah kata pun penjelasan. Ia lari ke London, membawa rasa bersalah karena merasa tak pantas bersanding dengan pewaris tunggal Adhitama Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Tamu Tak Diundang
Grand Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place sore itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal dan basa-basi bisnis. Acara Annual Property & Hospitality Awards sedang berlangsung, tempat berkumpulnya para raja properti dan arsitek papan atas Jakarta.
Di bawah sorotan lampu chandelier, Bara dan Kaluna berjalan masuk. Tangan Bara melingkar di pinggang Kaluna—pose "Power Couple" standar mereka.
Di mata orang lain, mereka adalah definisi kesempurnaan. Bara yang gagah dengan setelan jas navy yang pas badan, dan Kaluna yang memukau dengan gaun koktail champagne yang membalut tubuh rampingnya.
"Senyum," bisik Bara pelan, nyaris tanpa menggerakkan bibir, saat melihat kilatan flash kamera wartawan.
Kaluna memasang senyum terbaiknya. Senyum yang sudah ia latih selama lima tahun menjadi Nyonya Adhitama. Senyum yang tidak mencapai matanya.
"Pak Bara! Bu Kaluna!" seorang wartawan menyodorkan mic. "Selamat atas masuknya Adhitama Resort Bali ke nominasi Most Anticipated Project. Apa rahasia kekompakan kalian dalam mengelola bisnis dan rumah tangga?"
Bara tertawa kecil, suara baritonnya terdengar renyah dan meyakinkan. "Komunikasi. Itu kuncinya. Kami selalu mendiskusikan segalanya, dari desain bangunan sampai menu makan malam."
Kaluna merasakan perutnya mual mendengar kebohongan itu. Komunikasi? Mereka bahkan tidak bicara pagi ini selain soal kopi dingin.
"Benar begitu, Bu Kaluna?" tanya wartawan.
"Tentu," jawab Kaluna diplomatis. "Suami saya adalah partner terbaik. Dia selalu mendukung karir saya."
Bohong lagi.
Mereka berlalu dari kerumunan wartawan menuju area VIP. Begitu menjauh dari kamera, tangan Bara di pinggang Kaluna melonggar, meski tidak dilepaskan sepenuhnya.
"Kamu aktingnya bagus," puji Bara datar.
"Belajar dari ahlinya," balas Kaluna sarkas, mengambil segelas air mineral dari nampan pelayan yang lewat.
Bara hendak membalas, tapi sapaan ramah dari rekan bisnis lain memaksanya kembali memasang topeng ramah. Mereka terjebak dalam putaran percakapan membosankan tentang suku bunga dan harga semen.
Tiba-tiba, kerumunan di dekat pintu masuk terbelah. Suara bisik-bisik terdengar lebih riuh.
Sesosok pria masuk. Ia berjalan dengan percaya diri yang tenang, mengenakan setelan jas abu-abu charcoal tanpa dasi, kerah kemejanya dibuka satu kancing—memberikan kesan santai namun berbahaya.
Elang Pradipta.
"Ngapain dia di sini?" desis Bara, tubuhnya menegang seketika.
"Dia CEO Elang Group, Bara. Tentu saja dia diundang," jawab Kaluna, jantungnya berdegup kencang. Ia teringat pesan email tadi pagi yang belum sempat ia buka, tapi sudah ia balas setuju untuk 'melihat'.
Elang menyalami beberapa orang, lalu matanya yang tajam menyapu ruangan. Tatapannya berhenti tepat pada Bara dan Kaluna. Senyum tipis terukir di wajahnya.
Ia berjalan lurus menghampiri mereka, mengabaikan tatapan penasaran orang-orang yang tahu tentang sengketa lahan mereka di Bali.
"Selamat sore, Bara," sapa Elang sopan, mengulurkan tangan.
Bara menatap tangan itu sejenak, lalu menjabatnya singkat dan keras. "Elang. Saya pikir kamu sibuk mengurus tembok ilegalmu di Bali."
"Oh, itu," Elang tertawa kecil, tidak terpancing. "Itu cuma masalah administrasi kecil. Tim legal kita pasti bisa menyelesaikannya sambil ngopi."
Elang melepaskan jabatan tangannya, lalu beralih menatap Kaluna. Tatapannya berubah total—menjadi hangat, lembut, dan penuh apresiasi.
"Halo, Kaluna," sapa Elang.
"Halo, Elang," jawab Kaluna kaku.
"Gaun yang cantik. Warna champagne cocok sekali dengan kulitmu," puji Elang. Ia tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman, melainkan hanya mengangguk hormat, seolah menjaga jarak sopan namun intim.
Bara bergeser sedikit, menutupi Kaluna separuh badan. Gestur posesif.
"Kalau kamu ke sini cuma buat basa-basi, mending kamu pergi. Saya sedang tidak mood bicara dengan orang yang membakar pos satpam saya," ujar Bara dingin.
Elang mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Tenang, Bara. Saya ke sini untuk menikmati acara. Lagipula, saya lebih tertarik bicara soal seni daripada sengketa tanah."
Mata Elang kembali menatap Kaluna, mengabaikan Bara sepenuhnya.
"Ngomong-ngomong soal seni... Data kontur tanah Uluwatu yang saya ceritakan di email tadi pagi, sudah masuk ke inbox pribadimu ya, Kaluna," ucap Elang santai, namun suaranya cukup keras untuk didengar Bara.
Jantung Kaluna berhenti berdetak.
Bara menoleh cepat ke arah istrinya. "Email? Email apa?"
Elang tersenyum miring melihat reaksi Bara. "Oh, Bara belum tahu? Saya sedang menawarkan proyek desain museum seni pada istrimu. Sayang sekali bakat sebesar Kaluna cuma dipakai untuk desain interior lobi hotel yang membosankan."
"Kaluna tidak menerima proyek luar," potong Bara tajam. "Dia eksklusif untuk Adhitama."
"Masa?" Elang menatap Kaluna menantang. "Sepertinya Kaluna punya pendapat sendiri. Dia bilang di balasannya tadi pagi kalau dia tertarik untuk 'melihat'."
Wajah Bara memerah padam. Ia menatap Kaluna dengan tatapan tak percaya. "Kamu membalasnya?"
Kaluna terpojok. Di depan rival suaminya, di depan umum, dia tidak bisa berbohong.
"Aku... aku cuma bilang akan melihat datanya, Bara. Secara profesional," jawab Kaluna membela diri.
"Profesional?" Elang tertawa kecil. "Apapun sebutannya, saya tunggu kabar baiknya. Tiket ke Bali juga sudah saya siapkan kalau kamu mau survei lusa. Open date."
Elang menepuk bahu Bara sekilas. "Jaga istrimu baik-baik, Bar. Aset berharga kalau tidak dirawat, bisa diambil orang yang lebih mengerti nilainya."
Setelah melempar bom itu, Elang berlalu dengan santai, mengambil segelas wine dan berbaur dengan tamu lain, meninggalkan Bara yang mendidih dan Kaluna yang pucat pasi.
Bara tidak menunggu acara selesai. Ia menarik tangan Kaluna kasar, menyeretnya keluar dari ballroom menuju lobi, mengabaikan sapaan orang-orang.
"Pak Udin, siapkan mobil sekarang!" bentak Bara ke telepon.
Di dalam mobil Alphard yang melaju pulang, keheningan pecah. Sekat kaca antara sopir dan penumpang belakang sudah dinaikkan, memberikan privasi untuk pertengkaran itu.
"Sejak kapan?" tanya Bara, suaranya rendah namun berbahaya.
Kaluna memijat pergelangan tangannya yang sakit bekas cengkeraman Bara. "Sejak kapan apanya?"
"Sejak kapan kamu komunikasi sama dia di belakangku? Email pribadi? Tiket ke Bali? Kamu gila, Kaluna?!" Bara meledak. "Dia itu musuh kita! Dia yang blokir proyek kita! Dan kamu malah mau kerja sama dia?"
"Aku nggak kerja sama dia! Aku cuma mau lihat potensi lahannya!" Kaluna balas berteriak. "Dia menawarkan tantangan desain yang nggak pernah kamu kasih ke aku! Museum di tebing, Bara. Struktur kantilever. Itu impianku sejak kuliah!"
"Persetan dengan kantilever!" seru Bara. "Kamu istriku! Kamu Arsitek Kepala Adhitama! Kalau kamu ambil proyek dari dia, itu sama saja kamu menampar mukaku di depan umum!"
"Kamu selalu bicara soal mukamu, reputasimu, perusahaanmu!" Kaluna menatap Bara dengan mata berkaca-kaca. "Kapan kamu mikirin aku? Aku bosan, Bara! Aku bosan cuma desain kamar hotel yang itu-itu saja. Aku bosan cuma dianggap 'Istri CEO' yang tugasnya senyum di depan kamera!"
"Jadi ini caramu balas dendam karena aku lupa anniversary?" tuduh Bara. "Main mata sama mantan gebetanmu?"
PLAK!
Tamparan itu tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan ocehan Bara. Kaluna menatap tangannya sendiri yang gemetar.
"Jaga mulutmu," desis Kaluna, air matanya jatuh. "Elang bukan mantan gebetanku. Dan aku bukan wanita murahan yang main mata. Aku cuma seorang profesional yang rindu dihargai karyanya."
Bara terdiam, memegang pipinya yang panas. Ia melihat air mata istrinya. Rasa bersalah dan cemburu bertarung hebat di dadanya.
Mobil berhenti di lobi apartemen.
"Aku harus pergi," ucap Bara dingin, mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Pak Hamengku menunggu jam tujuh. Rapat darurat soal Bali."
Kaluna tertawa hambar. Sangat hambar.
"Tentu saja. Pergilah. Rapatmu selalu lebih penting daripada menyelesaikan masalah kita."
Kaluna membuka pintu mobil. Sebelum turun, ia menoleh pada Bara untuk terakhir kalinya malam itu.
"Kamu tahu apa yang paling menyedihkan, Bar? Elang mungkin musuhmu. Tapi setidaknya, dia melihatku sebagai arsitek. Sementara kamu... kamu cuma melihatku sebagai milikmu."
Kaluna membanting pintu mobil, berjalan masuk ke lobi tanpa menoleh lagi.
Bara memukul jok kulit di depannya dengan frustrasi.
Sial! Sial! Sial!
"Jalan, Pak. Ke rumah Pak Hamengku," perintah Bara parau.
Mobil melaju kembali menembus malam. Bara tahu, malam ini dia mungkin bisa menyelamatkan proyek Bali di hadapan investor. Tapi dia baru saja kehilangan satu lagi pondasi rumah tangganya.
Dan Elang Pradipta tertawa di suatu tempat, karena rencananya berhasil lebih cepat dari dugaan.
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu komen dan share❣️