Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7.
"Mark! apa yang telah kamu lakukan?!" tanya Ayah Mark, Frank Theodor, masuk ke dalam dapur.
"Aku sedang memasak, apa memangnya yang dilakukan di dapur kalau tidak memasak!" jawab Mark dengan santainya.
Ia memeriksa nasi di dalam periuk, yang airnya sudah mulai mendidih.
"Ada apa denganmu?! kenapa kamu yang memasak! bukankah seharusnya istrimu yang memasak?!!"
"Tubuh istriku lemah, dia tidak bisa memasak lagi untuk kalian! kalau Papa mau makan, suruh istri Papa yang memasak!" jawab Mark dengan acuh tak acuh.
Frank seperti salah mendengar, apa yang baru saja dikatakan Mark.
"Putra macam apa kamu ini?! istrimu yang seharusnya melayani keluarga kita! dia menjadi anggota keluarga Theodor, bukan bermanja diri bak putri bangsawan!!"
"Kenapa memangnya? dia istriku! terserah aku memperlakukannya seperti apa! Papa jangan ikut campur urusan rumah tangga ku! aku yang berhak memperlakukan istriku seperti apa! kalau kalian tidak senang melihat aku memanjakan istriku! lebih baik kita pisah rumah saja!!"
"Apa katamu?!!" mata Frank membulat memandang Mark.
Mark dengan begitu tenang memotong sayuran, untuk di masak bersama mie instan.
Ia tidak merasa bersalah sama sekali, dengan apa yang ia katakan kepada Ayahnya.
Ayahnya juga salah satu, yang membuat ia menjadi semakin membiarkan istrinya ditindas keluarga Theodor.
"Kenapa? kan lebih bagus kalau pisah rumah, jadi kalian tidak sakit jantung melihat aku memanjakan istriku!"
"Mark! ada apa denganmu? tadi pagi kamu tidak seperti ini! apa yang sudah dikatakan istrimu itu!!"
"Aku baru bangun dari tidurku, dan mataku terbuka dengan terang! aku tersadar sudah sangat jahat membiarkan kalian menindas istriku! mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan kalian menindasnya lagi!!"
Melina yang pura-pura menangis terduduk di depan pintu dapur, memasang telinganya dengan tajam, untuk mendengar pembicaraan suaminya dengan Mark.
Begitu juga dengan Alice, mendengarkan apa yang dikatakan Ayahnya kepada Mark.
Begitu mereka mendengar apa yang dikatakan Mark, mereka kemudian semakin menambah drama mereka.
Dengan suara tangis yang semakin terdengar menyedihkan, Melina memukul dadanya sembari mengencangkan suaranya tanpa air mata.
"Oh nasibku sebagai mertua, aduhh... !!" teriaknya memukul-mukul dadanya seakan ia menderita sekali, "Aku seharusnya hidup tenang setelah mendapatkan menantu, ternyata aku mendapat menantu yang jahat! aduhh... dia menghasut anakku, agar membenci orang tuanya.. hu hu huuu.. !!"
"Tubuh tua Ibuku sudah tidak sanggup berdiri lama, dan sudah sering sakit-sakitan! punya kakak ipar sungguh tega sekali membiarkan mertuanya bekerja keras.. hu hu huuu... Ibuku sudah banting tulang membesarkan kakakku, tapi dia menghasut kakakku menjadi anak yang tidak berbakti pada orang tuanya!!"
Alice juga menambahkan drama mereka, agar tetangga membantu mereka menyalahkan Ivana.
Dan menyadari, kalau Ivana ternyata setelah masuk ke dalam keluarga Theodor, menjadi menantu yang jahat.
"Istri Mark itu terlihat begitu rapuh, ternyata hanya topeng saja, agar kelicikannya tidak ketahuan!"
"Wanita yang pendiam biasanya sangat penurut, ternyata dia hanya pura-pura terlihat baik di depan saja, siapa tahu hatinya ternyata sangat jahat!"
"Menantu seperti begitu harus di ceraikan saja, buat apa dipertahankan! nanti semakin tidak tahu diri!!"
Terdengar perbincangan tetangga dibalik pagar menanggapi perkataan Melina, dan Alice yang masih terus berpura-pura menangis dengan sedih.
Sementara itu Ivana yang berada di dalam kamar, mendengar semua apa yang di teriakkan Melina, dan Alice sembari menangis.
Ia menelan ludahnya dengan kelu, karena ia merasa tidak pernah melakukan apa pun yang di teriakan mereka.
Terkadang Ivana berpikir, ingin pergi dari keluarga Theodor, tapi keluarganya sudah tidak perduli lagi padanya.
Sejak pertama kali Mark datang ke rumah orang tuanya, Ayahnya tidak setuju kalau ia memiliki hubungan dengan Mark.
Ayahnya mengatakan Mark bukanlah calon suami yang cocok untuknya.
Ivana kembali menelan ludahnya dengan gelisah, memikirkan apa yang pernah dikatakan Ayahnya.
Dalam hatinya ia membenarkan apa yang dikatakan Ayahnya, setelah ia masuk ke dalam keluarga Theodor.
Tapi, setengah jam yang lalu, Mark tiba-tiba berubah tidak seperti biasanya.
Mark terlihat seperti Mark, yang ia kenal saat mengejarnya dulu.
Ia pun merasa ragu, apakah suaminya itu memang benar Mark, yang ia kenal menjadi dingin setelah tiga bulan pernikahan mereka, masih Mark yang sama?
Bersambung.......
akhirnya up juga ya Thor,, sehat selalu ya
rasain Daniela