Laura benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan Kakak angkatnya Haidar. Ini benar-benar petaka untuknya, kenapa bisa dia muncul lagi dalam hidupnya.
Ini sudah 5 tahun berlalu, kenapa dia harus kembali saat Laura akan menjalani kisah hidup yang lebih panjang lagi dengan Arkan. Ya Laura akan menikah dengan Arkan, tapi kemunculan Haidar mengacaukan segalanya. Semua yang sudah Laura dan Arkan rencanakan berantakan.
"Aku benci padamu Kak, kenapa kamu tak mati saja" teriak Laura yang sudah frustasi.
"Kalau aku mati siapa yang akan mencintaimu dengan sangat dalam sayang" jawab Haidar dengan tatapan dinginnya tak lupa dengan seringai jahatnya.
Bagaimana kah kisa selanjutnya, ayo baca. Ini terusan dari Novel Berpindah kedalam tubuh gadis menyedihkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak usah ikut campur
Arkan mengernyitkan keningnya saat melihat ada nomor yang tak dikenal menghubunginya. Pandangannya malah fokus kearah ponselnya tanpa melihat jalan. Padahal dirinya sedang menyetir.
Dari arah kanan datang sebuah mobil truk dan bruk mobil Arkan tertabrak dengan kencang sampai mobilnya berguling beberapa kali.
Mobil truk itu masih diam, menyorot kerah mobil Arkan yang terguling. Saat ada beberapa warga yang membantu mobil itu pergi dengan perlahan.
Arkan yang terjebak didalam mobilnya dengan kening yang mengeluarkan darah menatap kepergian mobil itu. Saat tadi mereka bertatapan, mata itu begitu tajam menatap dirinya seperti ada dendam saja.
Saat tubuhnya ditarik barulah Arkan sadar, ternyata tangannya sakit pasti patah. Lalu kakinya yang terjepit juga sama sakitnya. Padahal mau menikah tapi kenapa bisa kecelakaan seperti ini dirinya, pasti gara-gara penelpon sialan tadi makannya dirinya tak fokus.
Laura juga langsung di hubungi oleh Arkan saat dia masih ada didalam ambulance. Laura akan segera menyusulnya dengan Andi.
Semoga saja tak terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu. Selamat sampai tujuan dan ada disampingnya nanti.
Saat dirinya sudah diobati dan diberikan kamar datanglah Rayan yang tersenyum mengejek. Memang selama dirinya menjalin kasih dengan Laura Rayan tak pernah suka dan selalu menganggu saja.
"Lihat kaki dan tanganmu patah setelah berhubungan dengan Laura nanti apa lagi. Dia itu pembawa sial dia itu seorang pembunuh sudah, aku bilang kan Arkan jangan pernah mau sama dia. Nanti nyawamu yang akan melayang setelah ini"
"Diam lah tidak usah ikut campur tentang hidupku, ini bukan salah Laura juga jadi jangan sangkut pautkan hal ini dengannya. Jangan pernah usik hubunganku lagi dengan Laura" kesal Arkan. P
"Aku hanya ingin memberitahumu sebelum kalian menikah, hidupmu tidak akan pernah bahagia Arkan bersama Laura si pembunuh itu, hidupmu malah akan berantakan karirmu juga akan hancur. Laura itu bukan pembawa berkah"
"Rayan aku tidak suka dengan kata-katamu itu, aku tidak peduli apapun yang akan terjadi kedepannya itu adalah urusanku bukan urusanmu " marah Arkan tak terima pacarnya selalu saja di hina-hina oleh Rayan setiap ada kesempatan.
"Yang penting aku sudah memberitahu kamu. Jangan menyesal kawan" kembali sambil tertawa dan pergi dari sana.
Tak lama kemudian Laura dan juga Andi yang datang, wajah mereka begitu khawatir. Jangan tanyakan tentang kedua orang tuanya, mereka sibuk dengan bisnisnya sampai tak bisa menemui Arkan yang sedang kecelakaan seperti ini.
"Arkan kenapa bisa begini" ucap Laura dengan wajah yang begitu khawatir dan kesal juga "Kamu ini kebiasaan kalau menyetir mobil selalu tak fokus jadi begini kan, sudah aku bilang kalau menyetir itu jangan main ponsel"
Arkan tersenyum bahagia mendengarkan celotehan Laura, hidupnya pasti akan berwarna bila dengan Laura. Perhatian Laura yang seperti ini sangat disukai oleh Arkan.
"Malah senyum-senyum" kesal Laura tak lupa dengan cubitannya ditangan Arkan yang tidak patah.
"Sakit sayang, jangan tambah kesakitan ku lagi"
Andi yang mendengarnya rasanya ingin muntah saja, kalau sudah berhadapan dengan dua bucin ini membuat Andi selalu geli saja. Mungkin karena Andi tak pernah pacaran jadi seperti ini mungkin.
Andi yang tak mau menganggu mereka berdua segera keluar dari ruangan dan menunggu Laura diluar saja, di sana juga ada keluarga Arkan ya termasuk Rayan masih ada di sana dan belum pulang.
"Masih betah tinggal sama Laura"
Andi menatap Rayan dan mengangkat bahunya tak mau menggubris mantan pacar Laura yang menyebalkan ini. Kenapa juga Laura bisa suka dulu dengan laki-laki seperti ini.
"Padahal kan dia pembunuh handal, kalau saja keluarga kalian melakukan sedikit kesalahan pasti akan langsung dibunuh seperti orang-orang waktu itu" Rayan masih mengingat kejadian saat dulu Laura menghabisi laki-laki besar itu.
"Laura membunuh ada alasannya, dia ingin menolong saudaranya. Memangnya dirimu hanya bisa mengekor di belakang Laura, seperti laki-laki pengecut atau memang kamu laki-laki pengecut makanya tidak berani memakai senjata dan malah Laura yang menghabisi mereka. Kalau aku jadi dirimu aku yang akan mengambil senjata itu dan melindungi Laura bukan sebaliknya"
"Tetap saja, tak seharusnya dia membunuh banyak orang hanya dengan saudara"
"Anak tunggal tidak akan tahu bagaimana rasanya memiliki saudara, jadi rasa empatinya sudah hilang seperti dirimu. Jangan pernah urusi lagi kehidupan keluarga kami, meskipun Laura akan menjadi istri Arkan nantinya dan bersaudara denganmu bukan berarti kamu berhak mengusik hidupnya lagi" kesal Andi sambil menatap tajam kearah Rayan.
"Aku hanya ingin menyelamatkan saudaraku dari seorang pembunuh, kalau mereka jadi menikah yang ada anak-anaknya akan dibunuh oleh Laura nanti. Satu kesalahan yang Arkan lakukan akan menghilangkan nyawanya juga aku yakin itu"
Brak, Andi yang kesal sampai bangun dan membuat kursi sedikit mundur membuat keluarga Arkan yang memang sedikit jauh dari mereka tentu saja kaget, Andi menari kerah pakaian Rayan dan mendorongnya ke arah tembok.
"Ini peringatan terakhir kalinya jangan pernah urusi kehidupan keluarga kami. Laura bukan monster yang akan menghabisi anaknya sendiri, ingat itu. Aku tidak akan pernah tinggal diam saat kau mengusik dirinya aku orang pertama yang akan menyingkirkan mu jika sampai terjadi kerusuhan nanti di pernikahan Arkan dan juga Laura" brak sampai Rayan terjatuh.
Tante Anis segera membantu anaknya untuk bangkit dan menatap Andi dengan bingung.
"Kenapa kalian malah bertengkar saat keadaan seperti ini, apa sebenarnya yang kalian ributkan"
"Aku hanya memperingati Rayan saja untuk tidak terus mengusik kehidupan Laura. Dia juga ingin bahagia dan jangan rusak pernikahannya dengan omong kosong yang dia akan berikan pada Arkan. Aku minta tolong sama Tante untuk bisa memberitahu Rayan dan tidak usah terlalu ikut campur tentang hubungan Laura dan juga Arkan ke depannya"
Tanpa mendengarkan jawaban dari Tante Anis Andi segera masuk ke ruangan Arkan dan melihat Laura yang sedang memeluk tangan Arkan.
""Laura pulang sekarang yuk, ini sudah malam Anya dan Ayah hanya berdua di rumah takutnya ada orang asing itu lagi masuk rumah kita. Untuk Arkan kan banyak yang menunggu di sini ada dokter suster dan keluarganya kita harus pulang sekarang"
Laura menatap Arkan tak rela rasanya untuk meninggalkan Arkan sendirian. Ya meskipun memang ada keluarganya tapi Laura juga ingin menjaga di sini, tapi keadaan di rumahnya juga lebih genting.
"Benar apa yang dikatakan Andi sayang kamu pulang saja dulu, nanti pagi kamu bisa datang kemari lagi ya"sambil mengusap kepala Laura lalu mengecup keningnya.
Laura hanya bisa menganggukkan kepalanya, meskipun tak ada Ayah dan Ibunya Arkan masih punya keluarga yang peduli dan mau menunggunya.