Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.
Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.
Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.
Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerombolan Gagak Abang 2
Gagak Abang menatap ke arah Mahesa Sura dari ujung rambut hingga ujung kaki. Melihat penampilan Mahesa Sura yang mirip gembel pasar, rasa meremehkan orang lain pun muncul di hati pimpinan gerombolan pengacau keamanan ini.
"Huuhhhh, seorang gembel saja berani bicara tentang keadaan masyarakat. Apa kau pikir kau layak hah?!"
Segera Gagak Abang merogoh balik bajunya dan mengeluarkan beberapa kepeng perak. Lalu dengan penuh penghinaan ia melemparkan kepeng kepeng perak itu ke arah Mahesa Sura.
"Itu cukup untuk mu makan selama sepekan. Minggir sana... ", usai berkata demikian, dia melangkah maju. Tetapi saat ia hampir dekat dengan Parwati di belakang Mahesa Sura, tubuhnya tak bisa bergerak karena Mahesa Sura memegang bahunya.
" Lepaskan tangan mu, gembel! Kau tidak layak untuk menghentikan ku! ", teriak Gagak Abang seraya berusaha untuk melepaskan cekalan tangan Mahesa Sura. Tetapi meskipun ia berusaha keras untuk melepaskan diri, tetapi ia tak jua bisa melakukan nya.
Geram dengan hal ini, Gagak Abang mencabut pedang nya dan langsung mengayunkan nya ke arah lengan Mahesa Sura secepat kilat.
Shhhrreeeeeeeetttttt!!!
Mahesa Sura dengan cepat menarik tangannya lalu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras ke perut Gagak Abang.
Dhhiiieeeeeeessshhhhh..
Oooouuuuuuuuuggggggghh!!
Keras nya tendangan Mahesa Sura membuat Gagak Abang terhuyung-huyung mundur sambil memegang perut. Beberapa orang pengikutnya sigap menahan tubuh Gagak Abang agar tidak jatuh.
Danghyang Resi Siwamurti segera menarik lengan Parwati untuk mundur karena tahu sebentar lagi akan terjadi pertarungan.
"Gembel busuk!! Berani sekali kau memukul ku..!
Kalian semua, cincang pengemis itu untuk makanan anjing...!!!!! ", teriak Gagak Abang penuh murka.
Puluhan anak buah Gagak Abang segera mencabut senjata masing-masing sebelum bergerak maju.
Mahesa Sura cepat membuat kuda-kuda ilmu beladiri nya dengan merendahkan tubuhnya dan menancapkan kedua jari jemari tangannya ke tanah. Setelah itu dengan gerakan cepat ia melompat ke arah para pria berbaju merah itu dengan mengayunkan jari jemari tangannya.
Shhrrrraaaaaakkk shhrrrraaaaaakkk!!!
Dua orang anak buah Gagak Abang harus tewas dengan tubuh tercabik-cabik jari jemari tangan Mahesa Sura yang memiliki kuku hitam tajam selayaknya kuku seekor serigala. Tak berhenti sampai disitu, Mahesa Sura mengamuk seperti sedang kesurupan, membantai setiap lawan yang mencoba untuk mendekat.
Kebrutalan Mahesa Sura ini membuat orang orang yang menyaksikan langsung pertarungan antara ia dan gerombolan Gagak Abang langsung bergidik ngeri. Belum pernah mereka melihat pendekar dengan kemampuan semengerikan itu.
"Adhi Manikmaya, darimana kau kenal orang ini? ", tanya Danghyang Resi Siwamurti segera.
" Aku baru bertemu tadi pagi dengan nya, Kakang Siwamurti. Dia juga dengan kejam membantai Dua Pendekar Gunung Lawu murid Maharesi Jaladara yang mencoba merebut Kitab Ajian Waringin Sungsang yang aku bawa saat aku berada di kaki Bukit Kemangga.
Namun meskipun kejam, ia tidak berusaha untuk merebut benda pusaka di tangan ku Kakang. Oleh karena itu aku meminta nya untuk mengantarkan ku kemari ", terang Resi Manikmaya segera.
" Tunggu dulu, tadi pagi kata mu? ", Resi Manikmaya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan pimpinan Pertapaan Gunung Pegat ini.
" Bagaimana caranya kau bisa sampai kemari? Bukit Kemangga hingga kesini jaraknya ribuan tombak. Perjalanan tercepat menaiki kuda saja butuh 3 hari perjalanan", lanjut Danghyang Resi Siwamurti kemudian.
"Terbang, Kakang Resi, terbang.. "
Danghyang Resi Siwamurti terdiam mendengar jawaban dari kawan lamanya itu. Dia tahu ada beberapa maharesi ataupun pertapa tersembunyi dengan kemampuan linuwih bisa melakukan hal-hal yang dianggap mustahil bagi kebanyakan orang. Seperti berpindah tempat dalam kejap mata, menghilang, menghancurkan gunung dan terbang.
Tetapi Mahesa Sura bukanlah seorang pertapa berusia lanjut seperti mereka. Sekilas saja ia masih berusia sekitar 20 an tahun. Jika ia bisa terbang, maka pasti ia memiliki ilmu ataupun benda pusaka yang membuatnya bisa melakukannya.
Di tambah lagi, jurus-jurus ilmu silatnya sangat buas dan kejam. Orang seperti ini jelas merupakan ancaman menakutkan bagi dunia persilatan Tanah Jawa. Ia harus memikirkan cara untuk meredam keganasan Mahesa Sura.
Chhrrraaaaasshhh chhrrraaaaasshhh..
Aaaaarrrrrrrrgggggghhhh!!!
Orang terakhir dari pengikut Gagak Abang meraung keras dengan dada robek dan hancur. Ia mengejang hebat sebelum akhirnya tewas bersimbah darah.
Melihat itu, Gagak Abang pun keder nyalinya. Sekalipun ia memiliki kemampuan beladiri yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pengikutnya, tetapi ia tidak akan sanggup untuk membunuh mereka semua secepat itu. Dia langsung memikirkan cara untuk melarikan diri.
Dia langsung merogoh balik bajunya. Beberapa bola kecil berwarna hitam yang ia pegang, langsung ia banting ke tanah.
Bllaaarrr bllaaarrr bllaaarrr!!!
Ledakan beruntun terdengar dan Gagak Abang segera melesat menuruni tangga menuju ke kaki gunung. Saat ia sudah merasa bahwa ia lolos dari pengejaran Mahesa Sura, tiba-tiba..
Jllleeeeppppp!!
Uuuuuuggghhhhh..!!
Gagak Abang melihat ujung sebuah benda tajam mencuat keluar dari dada kirinya usai merasakan sesuatu menghantam punggung kiri. Sesudah itu ia merasa hilang keseimbangan dan jatuh di sisi kanan anak tangga.
Sesaat kemudian ia merasakan rasa dingin seiring darah yang menyembur keluar dari luka di dada sebelah kiri. Dia tidak mengerti bagaimana akhirnya dia masih harus kehilangan nyawa setelah yakin bahwa Mahesa Sura tak mengejar nya.
Parwati menepuk-nepuk telapak tangannya usai melemparkan sebuah tombak milik salah seorang anak buah Gagak Abang yang tergeletak di tanah. Mahesa Sura memang tak mengejar Gagak Abang, tetapi Parwati yang lama tidak suka dengan orang itu lah yang menghabisi nyawa sang kepala perusuh keamanan wilayah sekitar Gunung Pegat ini.
"Pendekar Mahesa Sura, akan lebih baik kau beristirahat dulu disini. Besok aku akan meminta Parwati dan beberapa orang murid ku untuk menemani mu belanja di pasar.
Aku melakukan ini untuk membalas kebaikan mu karena sudah melenyapkan para perusuh itu. Mohon tidak menolak permintaan ku", ujar Danghyang Resi Siwamurti penuh harap.
Tak enak untuk menolak permintaan ini, Mahesa Sura mengangguk setuju.
"Baiklah, Pak Tua. Aku juga butuh istirahat untuk memulihkan diri. Sekarang tunjukkan tempat untuk ku istirahat"
"Mari pendekar.. "
Bersama dengan Tunggak, Mahesa Sura diantar ke salah satu bangunan pondokan yang biasa digunakan sebagai tempat istirahat para tamu Pertapaan Gunung Pegat. Disanalah Mahesa Sura mengistirahatkan tubuh nya malam itu.
******
Braaaaakkkkk!!!!
Suara keras meja hancur terdengar di seisi ruangan. Beberapa muka penuh ketakutan tak berani mendongak saking takutnya. Ini adalah kali pertama orang tua itu marah besar.
Seorang laki-laki sepuh dengan janggut putih panjang hingga sedada, dengan pakaian berwarna putih selayaknya seorang pertapa sedang merah padam wajahnya. Gelang bahu dari emas melingkar di lengan atas kedua tangannya menjadi simbol dari tingkat kedudukan orang tua ini. Belum lagi, ikat rambut berhiaskan emas semakin menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan.
Di lantai ruangan yang lapisi ubin dari batu gunung yang dingin, Pusparini bersimpuh sembari menundukkan pandangan. Perempuan cantik itu tak sekejap pun berani menatap ke arah lelaki tua yang sedang marah besar ini.
"Jadi orang yang membunuh Gagak Rimang dan Jalak Aren itu masih muda, Rini? ", tanya lelaki tua itu dengan suara bergetar.
" Benar, Guru. Usianya mungkin sepantaran dengan ku, tapi ilmu kanuragan nya benar-benar luar biasa. Mirip dengan cerita guru tentang pendekar yang menggunakan serigala sebagai tiruan geraknya. Bahkan jurus Tusuk Konde Kematian yang aku gunakan, tidak bisa sedikitpun menyentuh kulitnya", sahut Pusparini segera.
Ya, lelaki sepuh berjenggot panjang ini adalah Maharesi Jaladara, pimpinan Padepokan Gunung Lawu yang memiliki nama besar di dunia persilatan. Julukan sebagai Pertapa Sakti dari Gunung Lawu bukanlah isapan jempol belaka. Orang tua ini memang benar-benar pendekar pilih tanding.
Hemmmm....
"Jika bocah ini dibiarkan begitu saja, sudah pasti ia akan menjadi ancaman besar di dunia persilatan. Bukan hanya Padepokan Gunung Lawu, tetapi juga seluruh pendekar golongan putih karena aku yakin ia masih ada hubungannya dengan si Sesat Serigala Awu... ", gumam Maharesi Jaladara lirih.
" Lantas apa yang harus kita lakukan, Guru?", Pusparini menatap wajah tua Maharesi Jaladara. Dia sungguh sangat berharap, gurunya membalas dendam atas kematian kedua kakak seperguruan nya.
"Jika aku sendiri yang turun tangan memburunya, itu akan merendahkan martabat ku. Sementara ini, biar saudara seperguruan mu yang lain yang akan bertindak.
Kuda Sembrani, Banyak Cemeng...!! "
Dua orang yang sedari diam saja di sudut ruangan, langsung bangkit dan berjongkok menyembah Maharesi Jaladara.
"Ada tugas untuk kami, Guru?"
Maharesi Jaladara melepaskan tasbih biji genitri pada salah seorang diantaranya lalu berkata,
"Pergilah ke Istana Bhre Keling. Berikan tasbih itu pada Arya Danaloka, Bhre Keling. Minta bantuan pada pemerintah Keling untuk menangkap bocah itu,
Hidup atau mati..!!"
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
SMG upnya jgn di tunda trs