Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.
@KaryaSB026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 06
“Di beri peringatan tidak mau dengar,” menjambak rambut Feli.
Hampir saja Haselin menampar keras wajah Feli untungnya Shankara datang tepat waktu menghentikan tamparan itu.
“Shan,” nada takut langsung melepaskan tangannya.
Shankara membantu Feli bangun “Kamu terluka ?” mengusap wajah Feli.
Feli hanya mengangguk tanpa suara “Kamu sangat berani,” Shankara berbalik menghadap Haselin.
“Dia yang mulai duluan Shan,” Haselin tidak mau disalahkan terlebih lagi jika Shankara mengetahui dirinya yang salah pasti dia dalam masalah.
“Tanyakan saja pada mereka,” menunjuk para karyawan yang sudah di ajak kompromi olehnya.
“Katakan yang sebenarnya !!”
“Nyonya itu yang lebih dulu melihat jaket ini tapi Nona Haselin ingin mengambilnya,” ucap karyawan menunduk.
“Kalian !!!” Haselin tidak menyangka kalau karyawan itu memilih jujur.
“Jangan mempercayai mereka Bos, mereka sudah di sogok wanita jalang itu !!” dengan so nya pacar Haselin berkata.
Tonjokan Shankara melayang ke wajahnya “Wanita jalang itu istriku.”
“APA ISTRI ???” mereka berdua sangat-sangat terkejut.
“Shan kita sodara bukan aku tidak tau kalau dia adik ipar,” membujuk Shankara berharap mendapatkan maaf.
“Dika bawa Nina ke rumah sakit !”
“Baik Bos.”
“Karena kamu sodaraku kali ini aku memaafkan mu,” menggendong Feli lalu pergi dari sana.
“Dika hancurkan keluarga Anggara !” perintah Shankara sembari melewati Dika.
“Ray patahkan tangan mereka yang sudah menyentuh istriku !!”
“Siap Bos.”
“Apa yang kalian lakukan ?” Haselin panik.
Tidak lama setelah Shankara keluar dari toko jaket itu para anak buahnya memberi pelajar kepada bodyguard Haselin dan pacarnya, bukan hanya mereka pacar Haselin pun ikut terseret.
Nenek berjalan cepat “Apa yang terjadi ?”
“Nina dia kenapa ?” melihat Nina di gendong Dika ke mobil.
“Kita pulang saja Nek.”
“Ah iya ayo …”
“Sanaya Sayang apa yang terjadi ?” tanya Nenek di dalam mobil.
“Tidak apa Nek hanya kecelakaan kecil,” tersenyum lebar seakan tidak terjadi apa-apa.
Shankara membantu Feli memasang sabuk pengaman “Aww…” Shankara tidak sengaja menyentuh luka di lengan Feli akibat pertarungan tadi.
Shankara nampak acuh lalu memerintahkan Raymond menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Dia menekan nomer di ponselnya “Datang kerumahku segera !”
Tiba di rumah Shankara membuka pintu mobil “Terima kasih,” Feli berjalan lebih dulu.
“Bawakan air minum untuk Nyonya Muda !” perintah Nenek ke seorang pelayan wanita.
Di ruang tamu Feli duduk dengan tenang lalu menghabiskan segelas air minum, dibalik ketenangan Feli membuat Nenek Shankara semakin khawatir.
“Selamat siang Bos,” orang yang di telpon Shankara di mobil adalah dokter. Dokter datang menyapa Shankara terlebih dahulu lalu Shankara memintanya segera memeriksa luka Feli.
“Luka memarnya cukup parah, tolong untuk sementara jangan mengangkat benda berat ataupun melakukan aktivitas yang berlebihan. Obat penahan nyeri, obat antibiotic serta salep saya berikan sudah sesuai resep,” Dokter menyerahkan satu lembar resep.
“Cepat pergi ke apotek !” perintah Nenek ke pelayan.
Ponsel Shankara berdering “Hallo …” pergi keluar.
“Nek ada yang ingin aku tanyakan apa boleh ?”
“Tentu katakan saja.”
“Sudah berapa lama Nenek tidak berkomunikasi dengan cucu Nenek yang lainnya ?”
“Belum lama ini Nenek bertemu Haselin,” membuka ponsel untuk memperlihatkan foto saat bertemu Haselin.
“Apa hubungan Nenek dengannya baik ?”
“Sama seperti Ayahnya hanya baik di depan Shankara, sebelum mengetahui Shankara seorang Mafia besar di Negara ini mereka selalu merendahkan Nenek maupun Shankara tidak peduli di depan atau di belakang orang lain tapi setelah identitas Shankara di umumkan mereka bersikap 360 derajat.”
“Bermuka dua ?”
“Begitulah mereka tidak ada ketulusan di hati mereka, jika bukan karena mereka keluargaku sudah pasti tidak akan selamat dari tangan Shankara atas apa yang sudah mereka lakukan terhadap kedua orang tuanya hanya demi warisan menghancurkan keluarga kecil adik kandungnya sendiri.”
“Nyonya luka Anda sudah di balut, kalau begitu saya pamit.”
“Ola antarkan dokter kedepan !”
“Baik Nyonya besar.”
“Meski kaya tapi keluarganya berantakan,” gumam Feli.
“Kamu mengatakan sesuatu ?”
“Oh itu Nek bagaimana keadaan Nina ?”
“Dia baik-baik saja sebentar lagi pulang,” jawab Shankara.
“Nyamber aja.”
“Benda itu hanya hal kecil kenapa memperebutkan nya ?”
“Bukan masalah kecil atau besarnya tapi aku yang melihat lebih dulu jaket itu tentunya aku yang harus memiliki jaket itu bukan dia,” keluh Feli.
“Berapa harga jaket itu ?”
“Orang sepertimu hanya bisa menilai semuanya dengan uang yah ?” ketus Feli.
“Uang bisa membeli segalanya.”
“Benar uang memang bisa membeli segalanya tapi tidak dengan cinta dan ketulusan,” jawab Feli kena ke hati Shankara.
“Kemana ?”
“Mandi.”
“Sanaya lukanya masih basah,” cegah Nenek.
“Tidak masalah ini hanya luka kecil Nek, lagipula dokter tidak melarang ku untuk mandi kan,” mengedipkan mata.
“Sudah Nek biarkan saja dia,” Shankara mencegah Nenek melarang Feli.
“Kalian berdua sama saja,” kesal Nenek pergi ke kamarnya.
Shankara duduk di sofa sembari mengecek semua pekerjaan dimulai dari bentuk file yang ada di laptop serta dokumen yang perlu di tanda tangani.
“Tidak biasanya Tuan duduk di sofa tamu begitu lama,” pelayan wanita membicarakan Shankara dibelakang.
“Benar setahu aku Tuan Shan tidak mau mengerjakan pekerjaan di tempat lain,” membayangkan hal terakhir ucapan Shankara yang menyebutkan kalau dirinya hanya akan berkerja di ruang kerja.
“Bukan hanya itu setelah Nonya Muda datang ke rumah ini Tuan Shan lebih banyak tersenyum.”
“Nyonya Muda memiliki dampak yang sangat besar bagi Tuan Shan.”
“Aku harap Nyonya Muda dapat menghangatkan suasana rumah ini.”
Berselang waktu Dika datang membawa Nina dari rumah sakit “Bos …”
“Bagaimana keadaanmu ?”
“Tidak apa-apa Bos hanya pukulan ringan. Oh iya bagaimana Annya oh maksudku Nyonya Muda ?”
“Dia pergi mandi.”
“Apa dia terluka ?”
“Sedikit.”
“Syukurlah,” menghela nafas lega.
“Luka yang ada di lengannya seperti luka perkelahian.”
“Oh itu …” Nina ragu-ragu.
“Katakan !!”
“Anya bisa berkelahi, jika Bos tidak percaya ada kamera CCTV yang mengarah ke lokasi.”
Dika menelpon manajer toko untuk mengecek CCTV dan mengirimkannya “Sulit dipercaya dia bisa bela diri.”
“Dia bisa bela diri ? gadis lemah itu ?” Raymond mengerutkan kening.
“Nina ?” Feli menuruni tangga dengan cepat.
“Annya hati-hati !”
“Bagaimana keadaanmu ?”
“Aku tidak apa-apa,” tersenyum.
“Syukurlah, pukulan mereka cukup keras bukan pasti menyakitkan,” mengecek punggung Nina.
“Perban ?”
“Dokter mengoleskan obat,” melirik Dika.
“Mencurigakan ?” melirik Nina dan Dika tapi mereka berdua berpaling.
“Di Novel tidak di ceritakan dengan jelas kisah cinta Nina, Dika dan Raymond kali ini aku tidak akan melewatkannya.”
“Annya kenapa kamu senyum-senyum begitu ?”
“Tidak apa-apa hanya ingin banyak tersenyum aja.”
“Minum obatnya dulu,” Shankara membuka bungkus obatnya lalu mengambilkan air.
Semua orang melongo “Astaga itu Bos atau bukan ?”
“Haist rasanya pahit,” Feli hampir memuntahkannya kembali.
“Ini,” memberikan permen.
“Permen memang lebih baik.”
“Eh Nenek kemana ?” tanya Feli tidak melihat neneknya Shankara.
“Nenek pergi istirahat.”
“Oh ..”
“Bantu aku mengeceknya ! ” menyodorkan ipad.
“Apa itu ?” bisik Nina.
“Data keuangan.”
“Data keuangan ??”
“Keuangan pasar gelap milik dia bermasalah ada orang lain yang menggunakan uangnya.”
“Bagaimana bisa ?”
“Memanipulasi data,” Feli mengembalikan gambar yang sudah di edit menjadi asli.
“Tanda bukti adalah penguat pengeluaran dana yang di keluarkan setiap harinya jadi dia mengganti foto aslinya dan merubah harga sesuai uang yang akan di ambilnya,” menunjukan perbedaan nota asli dan hasil edit.
“Perbedaan harga uangnya sangat jauh.”
“Hebatnya lagi dia sudah melakukan berulang kali dan lebih parahnya lagi tidak ada seorangpun yang tau termasuk Bos hebat itu.”
“Annya nanti Bos dengar bagaimana ?”
“Tidak akan dia fokus berbincang dengan Dika dan Raymond tidak akan mendengar obrolan kita.”
“Apa kamu yakin ?”
“100 %,” tersenyum.
“Lihat total keseluruhannya berbeda.”
“Astaga bener-bener tuh orang gak takut apa kalau ketahuan oleh Bos dia bisa kehilangan semua uang dan juga nyawanya.”
“Dia sudah memikirkannya dengan matang, selain itu tidak semua orang bisa merubah foto itu menjadi asli. Bagian tersulit untuk mengetahuinya ada di bagian angka yang sama persis.”
“Wah dia pinter banget tapi masih kalah dengan Annya.”
Ketika Feli sedang mengobrol dengan Nina, Shankara sedang membicarakannya.
“Cari informasi lebih banyak lagi tentang Sanaya. Dia berbeda dari apa yang dikatakan kebanyakan orang, cara dia berbicara bukan seperti orang desa, kemampuannya seperti orang yang berpendidikan !”
“Gue curiga jangan-jangan dia mata-mata musuh.”
Dika memukul kepalanya “Jangan sembarangan berbicara, jika dia mata-mata musuh tidak mungkin membantu Bos segitunya.”
“Tapi yang loe kata kan bener juga, jangan-jangan dia …” melihat ke belakang.
“Loe udah mulai ngaco Rey.”
“Pastikan informasi yang didapatkan real !”
“Baik Bos.”
“Nina ?”
“Iya Bos,” Nina bergegas berdiri.
“Pergilah istirahat !”
“Ah ii iya Bos,” jawab Nina ragu.
“Pergilah nanti kita mengobrol lagi,” ucap Feli.
“Kalau begitu aku istirahat dulu.”
“Ray Ray hey Ray …”
“Apa an sih loe ganggu aja.”
“Ganggu ?”
“Loe sadar gak sih kalau tuh cewek cantik.”
“Loe kemana aja Raymond.”
“Hehe sebelumnya gue gak merhatiin,” menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tunggu sebentar loe tiba-tiba memuji Sanaya ???”
“Mana mungkin gue suka sama tuh cewek.”
“Gue gak bilang loe suka sama Sanaya.”
“Ah sudah lah…”
“Raymond loe gak mau ngaku ?” mengejar Raymond yang pergi.
“Ada apa dengan mereka ?” dari kejauhan Feli memperhatikan tingkah Dika dan Raymond.
“Kenapa ?”
“Bukan apa-apa.”
“Dokter bilang salepnya harus di oles 2 kali dalam sehari.”
“Kapan dokternya bilang ?”
“Tadi.”
“Hah ?”
“Mau buka disini ?”
“Apa nya ?”
“Baju kamu.”
“Eh sembarangan masa iya aku buka baju disini,” pergi dengan kesal diikuti Shankara dari belakang.
“Tutup matamu !” pinta Feli setibanya di kamar.
“Kita sudah suami istri tidak perlu takut.”
“Tapi kita tidak saling mencintai,” ucap Feli tanpa ragu.
Shankara mendekati Feli “Kalau begitu aku akan membuatmu mencintaiku.”
Feli menelan ludahnya sendiri lalu perlahan membuka bajunya agar Shankara bisa mengoleskan salep ke bagian luka lebam di tangannya itu. Detak jantung Feli berdetak sangat cepat dan hampir saja mau copot dari tempatnya, matanya terus memandang Shankara dari jarak dekat.
Shankara tersenyum lalu berkata “Aku belum memulainya tapi hatimu sudah mulai bergerak.”
“Emn sudah kan,” menghindari Shankara.
“Dia sangat manis,” batin Shankara tersenyum berkali-kali.
“Loh ko ?” membuka lemari baju yang sudah di penuhi baju wanita.
“Para pelayan sudah merapikannya, kamu jangan mengkhawatirkan apapun cukup jadi anak baik,” mengacak-ngacak lembut rambut Feli.
“Hey rambutku jadi berantakan.”
“Kalau berantakan bisa dirapihkan kembali,” jawab santai Shankara.
Feli bercermin dan merapihkan kembali rambutnya “Apa ini ?” Shankara memakaikan kalung.
“Jangan pernah melepaskan kalung ini.”
“Liontinnya berlian ?”
“Hemn …”
“Harganya berapa nih kalung ?” batin Feli menyentuh kalung itu.
Kalung yang dipakai Feli di desain khusus oleh Shankara, bahan kalung terbuat dari emas putih pilihan terbaik, bentuk rantai padat dengan ukuran kecil, liontin berbentuk tetesan air yang didalamnya terdapat berlian berwarna merah terang. Feli semakin cantik di hiasi kalung pemberian Shankara.
“Kalau aku jual dapat berapa duit yah ?” pikiran Feli melayang, membayangkan uang berjatuhan.
“Jangan berpikir sedikitpun untuk menjualnya.”
“Dia bisa membaca pikiran ?”
“Tidak lapar ?” tanya Shankara tapi Feli hanya diam.
“Jika kamu diam terus seperti itu aku akan membuatmu berteriak keras.”
“Maksudnya ?”
“Menurutmu,” mendekati Feli.
“Hehe sebaiknya jaga jarak,” Feli menjauh.
“Baiklah kali ini kamu aku lepaskan lain kali tidak akan aku biarkan,” ancam Shankara.
“Otak ku sepertinya bermasalah deh,” melamun.
Seseorang mengetuk pintu “Masuk !”
“Permisi Tuan makan malam sudah siap.”
“Kami akan turun sebentar lagi.”
Pelayan wanita itupun meninggalkan ruangan dan menutup pelan pintu “Huh selamat selamat.”
“Menurutmu apa isi pikiran pelayan tadi ?”
“Ada yang salah ?”
“Tidak hanya ingin tahu saja.”
“Kita harus turun sekarang Nenek dan yang lainnya pasti sudah menunggu,” ucap Shankara sambil berjalan ke depan pintu.
“Okey.”
“Rumah sebesar ini berapa bayar pajaknya ?”
“Pajak ?” Shankara mengerutkan kening karena selama ini dia tidak membayar pajak pada siapapun tapi hampir semua orang di Negaranya membayar padanya.
“Iya bukannya di setiap Negara ada pajaknya yah ? jumlah uang yang dibayar di sesuaikan dengan pendapatan dan berbagai hal yang dimiliki orang itu.”
“Tidak ada seperti itu disini.”
“Tidak ada pajak ?”
“Tidak.”
“Lalu Negara ini akan berkembang bagaimana ?”
“Mudah saja.”
“Terus siapa pimpinan di Negara ini ?”
“Suamimu.”
“Ohh, eh tunggu ?” menghentikan langkahnya dan menatap Shankara.
“Kenapa tidak percaya ?”
“Kalau begitu kamu presidennya dongs ?”
“Presiden ?” Shankara semakin sulit memahami Feli.
“Presiden adalah pemimpin sebuah Negara.”
“Bisa dibilang seperti itu,” melanjutkan langkahnya.
Sebelum Shankara menjadi Bos Mafia, Negara ini dipimpin seorang ketua untuk menjalankan system kenegaraan namun seorang Mafia membunuhnya lalu mengambil alih sehingga Negara ini berubah yang tadinya Negara biasa yang dipimpin orang biasa menjadi Negara Mafia.
Meski Negara ini berubah menjadi Negara Mafia setiap wilayah tetap memiliki system perkembangannya yang akan dipimpin oleh orang pilihan. Semakin kuat orang itu akan semakin kuat pula jabatannya, setiap seorang mafia memiliki daerah kekuasaannya masing-masing yang kini berada di tangan Shankara.