"Kau hanyalah sebatas istri pengganti!"
Clara Lyman terpaksa mengubur keinginannya karena paksaan dari orang tuanya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan.
Calon kakak iparnya, Keenan Gibson, merasa ditipu dengan keluarga Clara!
Namun, karena pesta pernikahan sudah di depan mata dan tidak ingin mempermalukan keluarga, Clara dan Keenan akhirnya memutuskan menikah.
Setelah menikah, perlakuan Keenan dingin pada Clara. Namun, Clara tak gentar untuk membuat sang suami menerima dirinya. Masalah kian rumit ketika kakak Clara datang kembali dan ingin merebut Keenan. Di samping itu, benih-benih cinta sudah muncul di hati Clara pada Keenan.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Clara? Akankah Clara memperjuangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackCat61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Apakah Dia Berubah?
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Tak lama kemudian, sosok Clara keluar dari dalam mobil.
“Makasih yah, Ma! Mama hati-hati di jalan,” ucap Clara melambaikan tangannya pada Mama Maya.
“Kamu juga harus hati-hati yah. Jika saja terjadi sesuatu tolong langsung telpon Mama yah,” balas Maya yang ikut melambaikan tangannya.
“Iyah, Ma. Aku pasti akan melakukan hal itu,” ucap Clara dengan senyuman tipis di wajahnya.
Mobil yang membawa mertuanya itu sudah meninggalkan rumah. Untuk itu, Clara baru berjalan masuk ke rumahnya. Langkah Clara terhenti kala melihat pemandangan yang sangat membuatnya terkejut.
Bagaimana tidak, saat ini ia melihat Keenan yang sedang bermesraan dengan wanita yang tadi ia lihat di restoran.
Tapi ia tak mau terlalu lama di sana. Clara langsung pergi meninggalkan dua orang itu. Keenan melihat bagaimana Clara yang pergi begitu saja tanpa menegur dirinya. Entah kenapa hal itu membuatnya cukup kesal. Ia langsung mendorong wanita di depannya untuk menjauh.
“Kau pergilah!” sarkas Keenan
“Loh? Kok pergi sih? Kita belum bermain sayang,” ucapnya sambil kembali menggoda Keenan dengan mengelus dada pria itu.
Keenan menggenggam kuat tangan wanita itu dan menatapnya dengan dingin. “Aku sudah menyuruhmu pergi, Cherry. Apa kau tak mendengarnya?“ tegas Keenan
Cherry Calum, agak ketakutan kala melihat tatapan dingin dari Keenan. Langsung saja ia turun dari pangkuan Keenan.
“Okey, okey! Tapi, kenapa sih? Biasanya kau tak begini? Ada apa? Malu yah dilihat sama adikmu tadi?“ tanya Cherry
“Dia bukan adikku. Dia istriku,” jawab Keenan
Sontak Cherry melebarkan matanya atas apa yang dikatakan oleh Keenan. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Kau sedang bercanda bukan? Kau sedang ingin berbohong padaku bukan?“ tanya Cherry yang seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Keenan.
Keenan menghela napas kasar. “Aku sudah mengatakannya sekali padamu dan aku tak akan mengulanginya lagi. Lagian, kenapa kalau aku sudah menikah? Itu tak ada hubungannya denganmu bukan,” jawab Keenan dengan nada santai.
“Keenan! Apa kau tak menganggap apa yang aku lakukan padamu? Aku ini mencintaimu tau. Apa kau tak bisa melihat ke arahku?“ protes Cherry
Keenan tertawa sarkas. “Kau pikir aku peduli dengan perasaanmu itu? Kau sendiri yang mendekatiku. Aku tak pernah menganggapmu sebagai seorang wanita normal. Harusnya kau sadar aku menganggapmu seperti apa. Terus, bukankah kita sama-sama untung? Kau membantuku dan aku juga membantumu untuk bisa dikenal di dunia model. Jangan melupakan apa saja yang telah aku lakukan untukmu dan jangan berharap lebih dari apa yang aku lakukan padamu,” papar Keenan
Terlihat Cherry yang tertegun dengan apa yang dikatakan pria di hadapannya itu.
“Kau jahat, Keenan. Kau jahat!“ jerit Cherry seraya berlalu dari hadapan Keenan.
Sedangkan Keenan hanya diam saja tanpa ada keinginan untuk mengejar. Karena memang Cherry hanya untuk bersenang-senang saja baginya.
Keenan berjalan menaiki tangga dan menuju ke sebuah kamar. Bukan, bukan kamarnya. Melainkan kamar wanita yang tadi hanya melewatinya saja tanpa ada mengucapkan kata apa pun.
Ia membuka pintu kamar itu dan melihat Clara yang sedang mengobati tangannya yang terluka. Entah kenapa ia jadi agak merasa bersalah.
Haishh! Untuk apa aku merasa bersalah? Dia pantas untuk mendapatkan hal itu ~ batin Keenan
Ia berjalan mendekati Clara yang sepertinya tak menyadari jika dirinya masuk ke kamar. Hingga saat ia duduk di ranjang, baru Clara terlihat terkejut dengan kedatangannya.
“A-Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?“ tanya Clara yang mengalihkan pandangannya dari Keenan.
Keenan meraih tangan Clara yang terluka. Hal itu membuat Clara cukup tertegun kala pria itu membantunya mengobati tangannya itu.
“K-Kau tak perlu melakukan hal itu. A-Aku bisa sendiri,” tahan Clara yang ingin menarik tangannya.
“Diamlah!“ sentak Keenan yang kembali menarik tangan Clara untuk ia obati.
Jadinya Clara hanya diam saja memperhatikan tangannya yang diobati oleh Keenan.
“Jangan kira dengan aku mengobatimu saat ini, itu berarti aku merasa bersalah. Aku melakukan ini karena kau salah mengobati lukamu,” sahut Keenan
Clara berdecih pelan. “Aku tak memikirkan hal itu kok,” sanggah Clara
“Kenapa kau hanya diam saja tadi?“ tanya Keenan tiba-tiba.
Clara tahu ke mana arah pembicaraan suaminya itu. “Aku hanya tak ingin mengganggu kegiatanmu. Bukankah kau sendiri yang mengatakan aku tak boleh mengganggumu?“ tanya Clara balik.
“Aku bukan hanya menanyakan hal yang barusan,” timpal Keenan menatap wajah Clara.
Clara mengeryitkan dahinya. “Maksudnya?“ tanya Clara dengan tatapan bingung.
“Tadi di restoran, kau ada di sana dengan Mama. Kau melihatku dengan wanita lain. Tapi kau hanya diam saja. Kau bahkan tak langsung menghampiriku. Padahal itu kesempatan yang bagus untuk memberitahukan perbuatanku pada Mama,” jelas Keenan
Clara cukup terkejut karena nyatanya Keenan menyadari keberadaannya tadi.
“Seperti yang aku katakan tadi. Aku tak mau mengganggu urusanmu. Kau mengatakannya tadi pagi. Aku masih mengingatnya dengan jelas,” timpal Clara yang menundukkan sedikit wajahnya.
Keenan tersenyum miring. Ia bangkit dari duduknya. “Ternyata kau orangnya mudah nyerah yah,” balas Keenan seraya berlalu dari hadapan Clara.
Sedangkan Clara terdiam setelah Keenan mengatakan hal itu padanya.
“Apa maksudnya dia mengatakan hal itu?“ gumam Clara dengan wajah bingung.
Clara terbangun dengan tenggorakannya yang kering. Saat ia melihat ke arah teko di atas nakasnya ternyata isinya kosong.
Clara menghela napas kasar. Terpaksa ia harus turun ke bawah untuk mengambil air di dapur. Dengan langkah pelan ia berjalan ke arah dapur. Ia melihat lampu dapur yang menyala. Karena penasaran, dengan cepat ia berjalan ke arah dapur untuk melihat siapa yang ada di dapur saat ini.
Tatapan terkejut ia perlihatkan kala melihat sosok Keenan yang tengah duduk di meja makan dengan mangkuk di depannya. Keenan pun ikut terkejut karena melihat Clara di hadapannya saat ini.
“Kak Keenan?“ panggil Clara mendekati pria itu.
“Kau belum tidur?“ tanya Keenan
“A-Ah, aku haus dan teko ini kosong. Jadi aku ingin mengambil air. Hmm, apa kau lapar?“ tanya Clara
“Enggak! Aku sudah kenyang kok,” jawab Keenan
Clara mengulum senyum karena melihat Keenan yang sepertinya sengaja menyembunyikan kalau dirinya sedang lapar.
“Mana mungkin kenyang hanya dengan makan sereal. Aku buatkan makanan yah,” timpal Clara
“Kau tak perlu melakukan hal itu,” tolak Keenan
Namun, Clara tak menggubris penolakan itu. Justru ia berjalan ke arah kulkas dan mengambil beberapa bahan di sana. Ia akan membuatkan suaminya itu nasi goreng seafood.
Ia menggulung rambutnya jadi cepol hingga menampilkan beberapa anak rambutnya yang menjuntai ke bawah.
Ia mulai memasak makanan untuk Keenan. Sedangkan Keenan hanya diam saja di tempatnya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang. Ia terdiam melihat Clara yang memasak untuknya. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang.
Ada apa denganmu, Keenan?! Hanya karena melihat leher putih itu membuatmu terangsang? Oh c’mon! It’s crazy! ~ batin Keenan yang malah terus terpaku menatap Clara yang memasak.
Padahal saat para wanita yang mendekati dirinya hingga bertelanjang bulat di hadapannya pun tak membuat Keenan seperti ini. Tapi kenapa saat melihat leher jenjang istrinya itu membuat Keenan jadi cukup terangsang. Ini benar-benar aneh untuknya.
Harum masakan yang dibuat Clara tercium kuat. Membuat Keenan jadi ingin memakannya. Clara membawa makanan yang ia buat dan menaruhnya di atas meja makan.
“Aku buatkan nasi goreng seafood untukmu. Semoga cocok dengan seleramu. Kalau gitu, aku balik ke kamar dulu,” ujar Clara segera beranjak pergi dengan teko di tangannya.
“Clara!“ panggil Keenan tiba-tiba.
Clara langsung menolehkan wajahnya pada Keenan yang memanggilnya. “Hm? Ada apa?“ tanya Clara
“Bisakah kau buatkan aku sarapan besok?“ pinta Keenan dengan wajah yang agak malu.
Clara sedikit tertegun dengan permintaan Keenan yang tiba-tiba. “Tentu saja! Jika kau memintanya, aku akan membuatkannya untukmu. Selamat malam,” jawab Clara seraya kembali berlalu dari hadapan Keenan.
Sedangkan Keenan tersenyum tipis. Entah kenapa ia senang saat Clara menyanggupi permintaannya. Ia pun mulai memakan makanan yang dibuatkan Clara. Tatapan terkejut terlihat di wajahnya.
“Waw, ini benar-benar enak. Dia jago masak juga yah ternyata. Jadi nyesel buang sarapan tadi pagi,” gumam Keenan yang kembali memakan makanannya.
Clara terduduk di ranjangnya. Ia memegangi jantungnya yang berdegup kencang. Ia masih tak menyangka jika Keenan akan memintanya untuk membuatkan sarapan besok.
“Aku enggak mimpi kan?“ gumam Clara segala mencoba mencubit lengannya.
“Auw! Sakit! Ini tak mimpi berarti. Wahh, kenapa Tuan Muda Gibson itu tiba-tiba berubah yah? Apa mungkin dia kesambet kali yah?“ gumam Clara dengan wajah berpikir.
Sikap Keenan yang tadi benar-benar membuatnya bingung sekaligus heran. Kenapa pria itu tiba-tiba berubah secepat itu. Apa yang terjadi pada pria itu yang tiba-tiba mengeluarkan suara yang baik tak seperti biasanya?
“Hahh sudahlah! Ngapain aku pusing-pusing pikirkan hal itu. Mending sekarang aku tidur aja. Hoamm! Aku masih ngantuk banget,” ucap Clara seraya mulai menidurkan dirinya kembali di ranjang.
Diam-diam senyum lebar terbit di wajah cantiknya karena mengingat sikap Keenan yang lucu tadi.