Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Licik
Sementara Eva merasa mata dan hatinya panas menyaksikan apa yang sedang terjadi di meja sembilan. Melihat Ray lelaki incarannya sedang menatap dalam pada Celine, ia mengumpat kasar dalam hatinya.
Dasar perempuan licik, pura-pura lugu nggak taunya pintar menggoda. Sialaan, gue yang udah berbulan-bulan kenal ama Ray nggak pernah dia manggil gue buat ngobrol berdua gitu, ngobrol aja jarang, apalagi tidur bareng?
Celine tercengang melihat Eva yang sedang menatap tajam ke arahnya, "Va, lo kenapa? gue ada salah?" ia bertanya dengan sungguh-sungguh.
"Nggak," jawabnya jutek kemudian berbalik, melepas apron yang ia kenakan. "Gue pulang duluan, ini lo beresin ya!" titahnya seolah memberi hukuman untuk Celine.
"Semuanya gue yang beresin?" Tanya Celine tak percaya karena ada begitu banyak meja yang masih berserakan. Mengapa harus ia yang lakukan sendiri?
"Iya, kenapa lo mau protes? gue dan yang lain mau balik duluan, udah lo kerjain aja anggap aja latihan buat lo karena anak baru." Cerocos Eva, kemudian meninggalkan Celine begitu saja. Dan mengajak beberapa pekerja lain juga untuk pulang.
"Ya udah, gue beresin." Apalagi yang bisa ia jawab selain menurut.
Satu persatu meja yang berserakan dengan botol, gelas dan piring itu ia bereskan. Jam mulai menunjukkan pukul tiga dua puluh, namun pekerjaannya belum juga selesai. Bar juga sudah tutup tak menerima pelanggan lagi malam ini, dan semua pelanggan sudah pergi meninggalkan tempat itu, kecuali satu orang, yaitu Ray.
Lelaki itu terlihat masih berbicara dengan Erick, sambil sesekali pandangannya beralih kepada Celine. Setengah jam berlalu, akhirnya Celine menyesaikan semua tugasnya. Meski menggerutu kesal pada Eva, tapi ia tak bisa menunjukkan itu dihadapan gadis itu karena ia menganggap hanya Eva lah yang bisa ia ajak ngobrol di tempat ini.
---------------
Celine melangkah keluar pintu bar, dan mulai berjalan pelan di trotoar sambil menunggu taksi yang lewat. Sudah sepuluh menit ia menunggu namun tak juga ia temukan, sampai akhirnya sebuah mobil sport mewah berwarna hitam, berhenti tepat dihadapannya. Perlahan kaca terbuka dan tampaklah sosok Ray didalam sana, "Butuh tumpangan?" tanya lelaki itu dengan seulas senyum. Dengan cepat Celine menggelang, dan menolak ajakan itu. Ia memilih berjalan kaki lagi pelan-pelan, di depan sana ada dua orang laki-laki yang sepertinya sedang mabuk, berlawanan arah dengannya.
Sungguh dunia malam yang mengerikan, berkali-kali Celine memegang kedua lengannya karena kedinginan. Kemeja lengan panjangnya tak mampu memberikan kehangatan pada tubuhnya.
Disampingnya, mobil Ray masih setia mengikutinya perlahan. Seolah tak ada pilihan lain, Celine terpaksa masuk kedalam mobil itu, dengan perasaan tebal muka karena menahan malu, awalnya menolak kini memaksa masuk.
"Dimana rumah lo?" tanya Ray sambil melajukan mobilnya lagi setelah Celine berada disampingnya. Celine menjawab memberikan alamat kosnya secara detil.
"Lo ngekos? orang tua lo dimana?" Ray semakin penasaran dengan gadis itu.
"Iya Kak, Ibu saya udah meninggal, dan Ayah saya ... "
"Udah, nggak usah diterusin." sahut Ray yang seolah tahu saja jalan kisah hidupnya.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam, Celine merasakan lelah di sekujur tubuhnya. Dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di kos Celine.
"Makasih, Kak." tuturnya kemudian keluar dari mobil itu.
Ray mengangguk, "Tawaran gue tolong dipikir-pikir lagi, setidaknya kalau lo rusak, yang ngerusak lo cuma satu orang yaitu gue." menampilkan senyum anehnya. Dan Celine mengabaikan kalimat itu, segera masuk ke dalam pekarangan kosnya.
Celine masuk kedalam kamar, segera ia ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Untuk menyadarkan dirinya yang sejenak sempat terpikir untuk menerima tawaran Ray.
Sadar Cel
Sadar
Ibu disana pasti sedih dengan keputusan lo ini
Batin Celine sambil terus membasuh wajahnya berkali-kali.
----------------------
Jangan lupa pencet like, sama kasih komentar ya biar agak rame gitu. Hehe ☺