Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Di bawah guyuran hujan,Yoga melajukan mobilnya menuju apartemen sahabatnya. Ia ingin melepaskan semua masalah di hatinya, dan malam ia ingin bebas dari bayang-bayang sang istri dan juga anaknya.
Kurang lebih dua puluh menit berkendara, Yoga memasuki pelataran lobby apartemen. Selesai memarkirkan mobilnya, Yoga bergegas menuju apartemen sahabatnya yang berada di lantai 10. Setibanya di sana, Yoga di sambut hangat oleh sahabatnya yang bernama Danu.
"Ada angin apa elo datang ke apartemen gue," kata Danu, sambil memberikan minuman kaleng kepada Yoga.
"Gue malas berada di rumah. Apalagi ngeliatin istri gue yang kucel dan jelek," ucap Yoga.
Danu tertawa mendengar perkataan Yoga. "Gitu-gitu juga istri elo, Ga," cibir Danu sambil menggelengkan kepalanya.
"BTW, malam ini gue mau tidur di mari. Boleh ya."
"Boleh. Tapi nanti istri elo nggak nyariin?"
"Bodo amat, mau nyariin mau kagak. Yang jelas malam ini gue mau happy happy," sahut Yoga, yang kini merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang dan empuk.
Yoga benar-benar tidak peduli jika nanti Kinanti mencemaskannya. Toh, Kinanti sendiri yang membuat hatinya malas berada di rumah. Jadi jangan salahkan dirinya jika ingin bebas malam ini.
"Elo mau happy happy, mending ikut gue, yuk," seru Danu.
"Kemana?" jawab Danu sedikit malas.
"Ada deh."
Yoga akhirnya ikut Danu dan ternyata Danu mengajaknya ke club malam.
Dentuman musik yang memekakkan telinga, menyambut kedatangan Yoga dan Danu. Keduanya duduk di depan meja bartender.
"Vodka nya satu." Pesan Danu. "Elo apa, Ga?"
"Gue bir aja deh," sahut Yoga.
"Sama bir nya satu, bro," sambung Danu memesankan minuman.
"Oke, bang," sahut sang bartender.
Sambil menunggu minumannya datang, Danu maupun Yoga mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, yang di penuhi kepulan asap rokok dan Musik DJ yang semakin meriahkan suasana tempat tersebut. Tidak ketinggalan, wanita-wanita cantik dan seksi, yang siap melayani para lelaki hidung belang.
Tidak lama minumannya sudah disorongkan oleh bartender.
"Thanks, bro," ucap Danu.
"Sama-sama, bang."
Danu dan Yoga segera meminumnya sedikit demi sedikit. Menikmati setiap tegukan minuman tersebut.
Ya ... Malam ini Yoga ingin menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang. Melupakan tentang anak dan istrinya yang sudah membuatnya emosi.
Waktu pun semakin bergulir, malam semakin larut. Tapi, semakin malam Yoga semakin nambah minuman. Kepalanya pun mulai berat dan pandangannya mulai mengabur. Yoga benar-benar terasa senang menghabiskan waktunya di club malam.
Walau Danu sudah minum beberapa kali, tapi tidak membuat Danu mabuk, berbeda dengan Yoga yang sudah teler. Karena Yoga jarang sekali meminum minuman beralkohol.
"Elo mau tambah happy nggak?" Ucap Danu menepuk pundak Yoga.
"Emang apalagi yang bisa buat gue happy," sahut Yoga, sambil menggoyangkan kepalanya, mengikuti alunan musik DJ.
Walau sudah mabuk, tapi Yoga masih sadar meski kepalanya sudah sangatlah berat.
Danu kemudian memanggil salah satu wanita seksi dan berbisik ke telinga wanita tersebut.
"Kamu tunggu di sini," tukas Danu, kepada wanita itu.
"Oke," jawabnya.
Danu menepuk lagi pundak Yoga, ia tengah menegukkan segelas bir.
"Noh, ada cewek yang bisa buat elo tambah happy," ujar Danu.
Yoga menautkan alisnya mendengar perkataan Danu. Lalu, Yoga ikut melirik wanita yang berdiri di samping Danu.
"Maksud elo, gue wik-wik sama nih cewek?"
"Iya lah, daripada sama bini elo yang jelek, mending sama nih cewek. Di jamin elo bakal klojotan dibuatnya," ucap Danu berapi-api.
Yoga menatap lekat wajah perempuan yang di tawarkan oleh Danu. Meski pun wanita itu sangat cantik dan seksi, tapi sedikit pun Yoga tidak tertarik.
"Sorry, Nu. Gue nggak tertarik," tolak Yoga.
Danu melongo mendengar penolakan Yoga. Biasanya laki-laki bakal senang bila disodorkan wanita seksi, tapi kenapa Yoga tidak mau.
"Apa dia kurang cantik?" Tanya Danu heran.
Yoga menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau aja. Gue nggak mau sama cewek yang sering di celup sana sini," terang Yoga.
"Oh ... Jadi elo nggak mau nih," ucap Danu meyakinkan Yoga.
"Iya," jawab Yoga, menganggukkan kepalanya.
Karena Yoga menolak wanita itu, akhirnya Danu yang menginginkannya dan memang Danu sudah lama tidak melakukan hal menyenangkan di atas ranjang.
"Elo bisa pulang sendiri kan ke apartemen gue," ucap Danu.
"Emang elo mau kemana?" Jawab Yoga yang tak tahu kalau Danu mau kencan dengan wanita itu.
"Gue mau wik-wik sama nih cewek."
"Oh ... Iya, sana pergi." Sambil mengibaskan tangannya.
"Oke, kalau gitu gue pergi dulu."
Danu pun pergi meninggalkan Yoga yang masih setia meminum bir.
Selepas Danu pergi, Yoga pun beranjak dari duduknya. Yoga melangkah sempoyongan meninggalkan club malam.
Walau dalam keadaan mabuk, Yoga tetap mengendarai mobilnya dan berusaha tidak hilang kendali. Dan Yoga pun berhasil mengendarai mobilnya dengan selamat.
Sesampainya di parkiran apartemen, Yoga berjalan menuju lift dan menekan lantai apartemen Danu. Sesampainya di lantai tersebut, Yoga melangkah ke nomor 999, yaitu nomor apartemen Danu. Karena pandangannya yang mengabur, Yoga salah mendatangi nomor apartemen.
Yoga menekan password apartemen Danu, tapi pintunya tak kunjung terbuka.
"Kenapa pintunya nggak bisa kebuka, sih," gerutu Yoga.
Berapa kali Yoga menekan password apartemen Danu, tapi lagi-lagi tidak bisa di buka.
Kesal karena pintunya nggak kebuka-buka, Yoga akhirnya menendang pintu tersebut.
"Dasar, pintu rese!" Umpat Yoga.
Lagi, Yoga menendang pintu tersebut dengan perasaan kesal.
Bugh... Bugh...
"Pintunya cari masalah sama gue," racau Yoga Penuh emosi.
Capek karena pintunya tidak bisa di buka, Yoga akhirnya memilih duduk dan lama kelamaan tertidur.
Selang beberapa menit, seorang perempuan berparas cantik menatap heran melihat seorang lelaki duduk tertidur di depan pintu apartemennya.
"Ngapain nih orang tidur di sini?"
Perempuan itu mencoba membangunkan Yoga. "Mas ... Mas, bangun."
Akan tetapi Yoga tak bergeming.
Perempuan itu mendengus, susah sekali membangunkan Yoga.
Bingung, karena tak tahu lagi, gimana caranya ngebangunin Yoga. Perempuan itu mencari-cari ponsel milik Yoga. Ia berniat menelpon keluarganya atau temannya. Perempuan itu tersenyum, saat berhasil menemukan benda yang di carinya.
"Susah juga ngambil hapenya." Sungut perempuan itu.
Tangan perempuan itu semakin masuk ke dalam saku celana Yoga, dan mengeluarkannya dari dalam saku celana Yoga.
"Eh, ini kebawa lagi."
Benda persegi panjang ikut keluar dari dalam celana Yoga dan benda itu adalah name tag milik Yoga.
Perempuan itu melihat name tag milik Yoga, lalu perempuan menaikkan satu alisnya.
"Nih cowok kerja di perusahaan Belindo Corp. Perusahaan terbaik dan terbesar di negara ini?" Ucapnya tak menyangka. "Pasti nih cowok banyak duitnya."
Seketika perempuan itu tersenyum smrik, lalu Yoga di bawa masuk ke dalam apartemennya.