10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEVEL AHLI
...----------------...
Aku belum pernah membuka chat global, meski dengan level 3 aku sudah bisa mengaksesnya.
Di dalamnya terdata ada 1 juta penyintas yang dapat mengaksesnya.
Dari 10 juta, baru 1 juta yang bisa masuk. Termasuk aku dan mas ben.
Berbagai bahasa saling bersahutan.
Didominasi menggunakan bahasa inggris.
Tapi system cukup baik, menyediakan kolom penerjemah. Jadi siapapun akan faham pembahasannya.
(A : kalian yakin bakal keluar hidup hidup dari sini? Dua hari lagi masa perlindungan habis. Bantuan minim. Mampu gak bertahan melawan mahluk mutan? Lawan mahluk non mutan aja belum tentu sanggup, apalagi yang udah berubah bentuk dan kemampuan nya.)
(B : buat senjata, upgrade, naikin skill tempur. Intinya kamu harus siap saat diserang. Kalau bisa serang duluan, tanya belakangan.)
(C : jangan bertindak bodoh! Kemarin aku hampir mati diserang beruang, aku punya skill hewan, aku mendekati beruang itu, lalu dia hampir menancapkan kukunya padaku! Untung saja masih dalam masa perlindungan, kukunya membentur pelindungku. Bahkan itu bukan mahluk mutan!)
(D : jangan hanya mengandalkan skill dan fisik. Kamu harus punya taktik. Itulah makanya kita yang terpilih harus cerdas, kuat, tangguh dan bisa adaptasi. Barikade wilayahmu. Pasang pengaman. Kuasai senjatamu. Kuasai skillmu. Pertinggi ilmu bela dirimu. Dan kamu harus tenang dalam kondisi apapun.)
Aku chat mas ben.
(Aku : mas udah cek chat global blum?)
(Ben : iya udah. Tadi juga mas baru liat lagi.)
(Aku : rame juga ya. Bagus sih. Pada ngasih opini harus gimana ngadepin situasi setelah 7 hari abis.)
(Ben : kamu jaga diri ya nayku.)
(Aku : Kamu juga jaga diri ya masku.)
(Ben : mas yakin kamu mampu, tapi mas gak tenang masih jauh dari kamu. Mas bakal usahakan secepatnya bisa bikin kapal dan nyari kamu.)
(Aku : mas, naikin level yuk ke 4. Biar dapet info dan lainnya lebih akurat. Mumpung masih masa banyak bantuan, upgrade dipermudahkan. Aku yakin abis ini bakal setengah gila mau naikinnya.)
(Ben : iya sayang. Bener. Namanya masa perlindungan dan bantuan, gak cuma box doang, tapi lain lain juga.)
(Aku : kayaknya kita perlu woro woro di chat regional. Biar beneran pada survive. Aku gak tega loh mas kalo tar banyak yang meninggoy karena salah strategi. Total orang pusaka cuma 1500. Harusnya bisa bertahan bareng.)
(Ben : ok. Abis naik ke lv4, kita ngomong sama mereka.)
(Aku : siap mas.)
...----------------...
"Celia, aku mau naik ke level 4, pakai poin system, gandakan rewards."
"Baik naya. Kali ini kamu harus lebih relax, ingat saat naik ke level 3, seperti apa pusaran energinya. Kali ini akan lebih kuat."
"Baik celia. Lakukan."
Aku duduk bersila di depan rumah. Menghadap lautan. Tehnik pernafasan yoga dan meditasi kuterapkan.
Aku menutup mata.
Siap gak siap. Harus siap.
Dari dalam tubuhku, aliran energi mulai berputar, makin lama semakin kencang, seperti puting beliung versi lokal, bahkan kurasakan rambutku berkibar kibar.
Sesekali pusaran energi hampir menghempasku, aku bertahan. Memberatkan tubuhku seperti batu.
Ditambah juga dengan getaran dari pulau yang semakin membesar. Getaran yang membuat nyaliku hampir ingin berteriak.
Mau teriak ke siapa juga? Minta tolong ke siapa? Lah aku kan sendirian.
Orang di bumi cuma nonton.
Suara deburan ombak besar bahkan terdengar olehku.
Tekanan energi yang berputar membuatku hampir tak sadarkan diri.
Aku serasa dicekik. Tak bisa bernafas. Peluhku mengalir deras melawan rasa sakit tersiksa oleh energi yang lahir dari dalam tubuh ku sendiri.
Aku menguatkan diri.
Aku bisa. Pasti bisa. Harus bisa.
Kuperbaiki lagi tehnik pernafasanku, ditengah tekanan pusaran energi yang nyaris menghilangkan pasokan oksigen ke paru paru.
Alam pikiranku kutenangkan dan kuarahkan.
Jantungku harus terus berdetak, memasok aliran darah ke seluruh tubuhku.
Aku membayangkan inti dari pusaran energi.
Lalu mengambil alih.
Kukendalikan energiku yang menggila. Meng singkron kannya.
Lalu aku melihatnya.
Warna warni energiku.
Sama seperti sebelumnya. Energi yang kuat nampak tebal, energi yang lemah nampak tipis.
Aku menjalin semua energi itu dalam pikiranku, harus selaras, tidak lagi bergerak sendiri sendiri. Tidak saling bertabrakan, tapi beriringan.
Setiap energi akan saling mendukung. Terikat kuat.
...----------------...
Entah berapa lama waktu berlalu.
Saat aku membuka mata, semua nampak lebih jernih dari sebelumnya.
Sudut pandangku melebar.
Aku bisa melihat ke kejauhan dengan lebih jelas.
Bahkan sirip hiu di tengah laut yang jaraknya lebih dari 500 meter dariku bisa terlihat!
"Selamat naya. Kamu berhasil mencapai tingkat ahli! Gak sia sia usahamu selama ini. Kamu membuktikan diri sebagai penyintas berpotensi bertahan hingga akhir."
Suara system di kepalaku jauh lebih manusiawi, lebih akrab, dan pastinya lebih informatif. Suara yang mirip suara yangti saat muda.
"Celia, aku bisa berbicara denganmu tanpa suara?" Tanyaku dalam hati.
"Tentu naya, kamu bisa ngobrol sama aku, dengan fikiranmu saja. Pastinya banyak hal yang gak perlu diucapkan bukan?" Sahut suara system di dalam kepalaku.
Aku mengiyakan.
"Tadi itu berapa lama prosesnya?"
"Dua jam 50 menit naya. Itu udah lumayan cepet loh. Kamu berhasil menemukan celah untuk menyelesaikannya. Penyintas lain ada yang sampai empat jam baru beres. Bahkan ada yang sampai gagal dan harus mengulang."
"Ada penyintas lain yang sudah ke level 4? Siapa? Dimana?"
"Tentu ada dong. Selain kamu dan mas ben mu, ada beberapa sudah di level 4. Mereka dari negara lain di bumi. Saat ini ada yang tinggal di pulau gurun, ada yang tinggal di pulau beku, ada juga yang tinggal di pulau gunung."
"Banyak jenis pulaunya ya?"
"Penempatan setiap penyintas umumnya disesuaikan dengan geografis di tempat tinggal asalnya di bumi, diharapkan agar mampu beradaptasi dengan lebih baik."
"Gimana dengan mereka yang di tempatkan di pulau batu seperti mas ben, atau di pulau rawa, seperti penyintas regional lainnya?"
"Di bumi, negaramu memiliki kondisi wilayah yang berbeda beda namun jadi satu.
Tempat tinggal keluarga mu di sana, adalah wilayah dengan beragam varietas tanaman. Tanahnya subur. Ada perkebunan.
Tempat tinggal mas ben, adalah wilayah berbukit dan berbatu yang diubah menjadi area tempat tinggal."
"Jadi yang ditempatkan di pulau rawa, tanahnya memang lahan rawa dan ada pertanian. Lalu yang tinggal di pulau gunung, tempat tinggalnya di bumi adalah dekat pegunungan aktif. Gitu kan?"
"Bener banget naya. Daya analisa mu emang mumpuni. Untuk info lebih akurat, kamu pelajari dari layar system, banyak data yang bisa kamu akses."
...----------------...
Chat mas ben.
(Aku : mas, udah beres?)
(Ben : sudah sayang. Berat banget ya. Gak kebayang ke tingkat master.)
(Aku : latihan pernafasan mas. Bisa ngebantu.)
(Ben : mas emang harus belajar yoga sama kamu sayangku. Mas kuat fisik tapi nafas belum bisa kontrol.)
(Aku : latihan meditasi mas. Sebelum tidur. Bisa minta system mu bimbing. Kan system nya lebih canggih sekarang.)
(Ben : suara system ku makin mirip suaramu nayku.)
(Aku : aaah.. Mas ini. Udah ah gombalnya. Hayuuh kapan mau ngasi info ke grup regional.)
(Ben : sekarang aja. Biar mas yang ngomong.)
(Aku : ok.)
...----------------...
Chat regional system.
(Ben : selamat siang semua. Dua hari lagi masa perlindungan dan bantuan akan hilang. Persiapan apa yang sudah dilakukan para penyintas dari negara pusaka? Ingat bahwa setelah dua hari lagi, kalian harus mampu menghadapi serangan, bukan dari manusia lainnya, tapi dari mahluk apapun di sekitar kalian. Bahkan tumbuhan pun bisa jadi berbahaya.)
(X : saya sudah naik ke level 3, lumayan berat usahanya, tapi saya berhasil. Saya akan berusaha lebih keras lagi.)
(Ben : saya yakin kalian yang punya basic penjelajah, tentara, polisi, damkar, olah raga outdoor, ilmu bela diri, lebih punya ilmu untuk bertahan hidup. Tapi bagi kalian yang tidak punya basic itu, mulai sekarang ditingkatkan. Fisik kuat, tanpa ilmu bertahan hidup, bakal sia sia.)
(Y : hei kamu siapa sih. Sotoy banget. Berapa level mu??)
(Ben : saya level 4.)
Chat senyap sesaat
...----------------...