Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian di Atas Hamparan Salju Merah
Halaman Paviliun Lanting kini bukan lagi sekadar pelataran istana, melainkan sebuah gelanggang maut di mana napas kehidupan dipertaruhkan. Salju yang turun semakin lebat seolah berusaha menutupi jejak-jejak kekerasan yang mulai tercipta, namun butiran putih itu justru berubah menjadi merah muda—diberi warna oleh percikan darah yang tersembur dari luka para pembunuh bayangan.
Qingran bergerak. Ia tidak menyerang dengan brutal seperti seorang prajurit yang kehilangan akal, melainkan meluncur dengan keanggunan seorang penari istana yang sedang membawakan lakon terakhirnya. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara seni dan maut. Teknik Qinggong yang ia miliki begitu halus, tubuhnya seolah menyatu dengan embusan angin dingin yang menderu, membuatnya tampak seperti hantu yang tidak dapat ditangkap oleh mata telanjang.
Sret!
Belati giok putihnya membelah udara, meninggalkan gurat cahaya yang menyakitkan mata. Seorang pembunuh yang mencoba menyerang dari sisi kiri merasakan dingin yang mematikan menembus kulit lehernya sebelum ia sempat menyadari bahwa pedangnya telah terlempar ke angkasa. Qingran tidak membuang tenaga; satu ayunan, satu nyawa. Gerakannya ekonomis namun mutlak.
Di tengah hiruk-pikuk pertarungan itu, Chun’er gemetar di balik pilar kayu, matanya membelalak tak percaya. Ia mengenal Qingran sebagai majikan yang lembut, yang sering menghabiskan waktu dengan merajut atau membaca buku sastra kuno. Namun wanita di depannya sekarang adalah sesosok entitas yang berbeda. Ada pancaran wibawa yang begitu kuno dan dingin di matanya—seolah-olah jiwa Qingran bukanlah jiwa seorang selir biasa, melainkan jiwa seorang pendekar legendaris yang telah melintasi ribuan medan perang.
Tiga orang pembunuh bayangan mengepung Qingran dalam formasi segitiga, senjata mereka berdentang serentak mencoba mengunci pergerakan wanita itu. Namun, Qingran justru memutar tubuhnya dengan gerakan berputar yang memukau—sebuah teknik kuno yang dikenal sebagai Tarian Angsa Melayang di Atas Permukaan Air. Ia melompat rendah, tubuhnya berputar di udara dengan belati yang berdesing membentuk lingkaran pelindung di sekelilingnya.
Cring! Clang!
Tiga senjata lawan terpelanting, retak oleh benturan energi murni yang dialirkan Qingran melalui belati gioknya. Sang pemimpin kelompok pembunuh, yang mengenakan topeng perak dengan motif ukiran naga kecil di dahinya, menyadari bahwa mereka telah meremehkan mangsa mereka.
"Siapa kau sebenarnya?!" gerak sang pemimpin sambil melompat mundur, suaranya parau dan penuh kecurigaan. "Rumor di istana mengatakan kau hanyalah selir yang tidak tahu apa-apa! Ilmu bela diri macam apa yang kau gunakan?!"
Qingran mendarat dengan ringan di atas salju, bahkan tidak ada jejak kakinya yang tertinggal dalam, menandakan kontrol tenaga dalam yang nyaris sempurna. Ia mengusap bercak darah tipis di ujung belatinya dengan sapu tangan sutra, lalu menatap sang pemimpin dengan pandangan merendahkan.
"Di istana ini, mereka yang banyak bicara biasanya adalah mereka yang paling cepat menjemput ajal," jawab Qingran dingin. "Mengenai siapa aku, tanyakanlah kepada mereka yang mengirimmu ke sini. Katakan pada Klan Mei, bahwa jika mereka ingin mengirim tamu ke Paviliun Lanting, setidaknya kirimkan mereka yang mampu bertahan lebih dari sepuluh jurus."
Amarah sang pemimpin meledak. Ia meraung, mengeluarkan senjata rahasia berupa rantai berduri dari balik punggungnya. Rantai itu melesat bagaikan ular berbisa, mengincar pergelangan kaki Qingran untuk menjatuhkannya ke tanah.
Namun, Qingran tidak menghindar. Ia justru melangkah maju. Dengan kecepatan yang mustahil, ia menangkap rantai tersebut dengan tangan kosong yang dibungkus oleh sarung tangan sutra tipis—sebuah teknik Menangkap Naga dengan Tangan Kosong. Dengan satu sentakan kuat, ia menarik rantai itu, menyeret sang pemimpin pembunuh hingga jatuh tersungkur di depannya.
Sebelum musuh itu sempat bangkit, Qingran sudah berada di atasnya, menodongkan belati tepat di bawah celah topeng peraknya.
"Katakan, siapa yang memberi perintah langsung?" desis Qingran, suaranya bagaikan bisikan kematian.
Sang pemimpin tertawa sinis di balik topengnya. "Kau pikir dengan membunuhku, kau bisa menang? Permaisuri Agung telah memastikan bahwa malam ini, kau akan menjadi tumbal bagi ketenangan istana! Pengawal-pengawal istana tidak akan datang kemari, karena mereka telah disuap untuk membiarkan paviliun ini dibakar rata dengan tanah!"
Mendengar itu, Qingran tidak merasa takut. Ia justru tertawa kecil—tawa yang meremehkan nasib. "Permaisuri Agung? Sangat baik. Ternyata ular itu akhirnya berani memunculkan kepalanya."
Tanpa ragu, Qingran mengayunkan belatinya. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk merobek topeng sang pemimpin, menyingkap wajah yang selama ini disembunyikan. Wajah itu adalah wajah seorang kasim senior yang seharusnya bertugas di dapur kekaisaran—seorang mata-mata yang selama ini berada di bawah kendali Klan Mei.
"Sudah cukup," suara berat yang menggelegar dari gerbang depan menghentikan pergerakan mereka semua.
Kaisar Tang Xuanze melangkah masuk, dikawal oleh pasukan pengawal pribadi yang bersenjata lengkap dengan zirah hitam pekat. Wajahnya begitu gelap, matanya memancarkan amarah yang siap meluluhlantakkan siapa pun yang berada di jalurnya. Di belakangnya, para pembunuh bayangan yang tersisa terdiam, menyadari bahwa rencana mereka telah gagal total karena kehadiran sang Putra Langit.
Kaisar berhenti tepat di hadapan Qingran. Ia melihat belati giok di tangan sang selir, melihat mayat-mayat pembunuh yang berserakan, dan akhirnya melihat raut wajah tenang Qingran yang tidak tersentuh rasa takut sedikit pun.
"Kau..." Kaisar memandang Qingran dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ada rasa hormat yang mendalam, sekaligus kewaspadaan. "Siapa sebenarnya dirimu, Mu Qingran? Selir dari Istana Ziyun, atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu?"
Qingran berdiri tegak, menyarungkan kembali belati gioknya dengan gerakan yang elegan. Ia membungkuk hormat kepada Kaisar, namun sorot matanya tetap tajam dan teguh.
"Hamba hanyalah seorang wanita yang ingin hidup dengan martabat, Yang Mulia," jawab Qingran singkat. "Jika martabat itu dianggap berbahaya oleh musuh-musuh istana, maka hamba bersedia menjadi bahaya yang paling menakutkan bagi mereka."
Tang Xuanze terdiam. Ia menatap ke sekeliling halaman yang kini dipenuhi darah dan mayat pembunuh, lalu beralih menatap Permaisuri Agung yang baru saja muncul di kejauhan dengan wajah pucat pasi.
"Malam ini," ujar Kaisar dengan suara yang menggetarkan seluruh kompleks istana, "adalah malam terakhir bagi siapa pun yang berani mengotori kedamaian harem dengan darah tanpa izin dariku. Bawa Permaisuri ke Ruang Pengadilan. Dan kau, Mu Qingran... ikuti aku ke Aula Utama. Kita perlu bicara banyak hal."
Pertempuran di halaman telah usai, namun perang sesungguhnya di atas takhta baru saja mencapai puncaknya. Qingran melangkah mengikuti Kaisar, meninggalkan hamparan salju merah dan kekalahan memalukan bagi faksi Permaisuri. Ia tahu, langkah berikutnya bukanlah lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.