Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Sealead Identity
"Apa ini Papa?" tanya Billby lirih, entah pada siapa.
Sampai detik ini, Billby belum pernah melihat sosok papanya sama sekali, bahkan hanya dari selembar foto.
Di dalam bingkai itu, tampak dua anak kecil—laki-laki dan perempuan. Untuk si anak perempuan, Billby tidak merasa asing. Itu adalah mamanya sewaktu kecil. Sedangkan si anak laki-laki? Ia sama sekali tidak tahu siapa.
Namun, ia pernah mendengar selentingan bahwa papanya adalah teman masa kecil mamanya. Jadi, kemungkinan besar dua anak kecil di foto ini adalah mama dan papanya, kan?
Ia memperhatikan detail foto tersebut. Di sana, sang mama dan anak laki-laki itu sedang bermain di tepi pantai dengan senyuman yang sangat alami. Mereka terlihat begitu bahagia.
"Mama dulu ceria banget. Sekarang dinginnya udah kayak Kutub Utara kalau lagi musim dingin," monolognya sedih.
Pandangannya beralih menatap si anak laki-laki. Ekspresi wajah Billby perlahan berubah sendu. Ia sangat yakin bahwa anak itu adalah papanya.
"Papa..." gumam Billby tanpa sadar.
"Billby udah besar. Papa gak pengen ketemu Billby? Billby pengen banget ketemu Papa," tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
Gadis itu mengelus permukaan foto dengan ibu jarinya. Ia selalu ingin tahu siapa papanya, seperti apa rupanya, dan di mana keberadaannya sekarang. Namun, ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi.
Jiza? Tidak mungkin. Yang ia dapatkan dari mamanya pasti hanyalah pengabaian.
Jack? Kemungkinan besar ia tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi kalau berani mengungkit hal ini pada omnya yang protektif itu.
Kakek dan neneknya? Nol besar.
Keluarga papanya? Sama saja, nihil.
Setelah puas memandang foto tersebut, Billby meletakkannya kembali ke tempat semula dengan posisi yang sama persis seperti saat ia mengambilnya tadi. Ia juga mengembalikan tiga novel yang sempat dipegangnya ke rak paling atas. Entahlah, kini ia sudah kehilangan minat untuk membaca novel dewasa tersebut.
Setelahnya, Billby kembali ke kamarnya sendiri dengan langkah gontai.
"Haaah..." desah Billby seraya membanting tubuh mungilnya di atas kasur.
Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Ia harus mencari tahu perihal papanya. Harus. Tapi, bagaimana caranya?
"Arghhh!" Billby mengerang frustrasi.
Google.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benaknya. Mungkin saja mesin pencari itu menyimpan informasi yang selama ini ia cari. Ck, kenapa gak dari dulu sih? rutuknya dalam hati.
Billby beranjak dari kasur untuk mengambil ponsel berlogo apel tergigit miliknya. Setelah mendapatkannya, ia kembali merebahkan diri di kasur empuk. Tiba-tiba saja dadanya berdegup kencang dibayangi rasa gugup.
"Tarik napas... buang napas..." ujar Billby menenangkan dirinya sendiri.
Setelah merasa cukup tenang, Billby mengetikkan kata kunci di laman pencarian: About keluarga Xanzho.
Dalam hitungan detik, muncullah serentetan berita yang langsung ia baca dengan sangat teliti.
“Keluarga Xanzho adalah pengusaha terbesar kedua di Indonesia…”
Billby terus menggulir layar ponselnya hingga akhirnya menemukan informasi yang dicari.
“Mereka memiliki tiga putra. Putra pertama bernama River Verrzana Xanzho.”
(dibacanya Raiver ya..)
"Jadi namanya River?" Billby menganggukkan kepalanya senang. Akhirnya, nama sang papa berhasil ia ketahui. Namun di sisi lain, ia juga menyesal karena baru sekarang kepikiran untuk mencari tahu lewat Google.
Kini Billby mengubah kata kuncinya menjadi lebih spesifik: About River Xanzho.
“River Xanzho adalah anak konglomerat Indonesia. Sejak 14 tahun lalu, ia dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Setelah momen itu, semua informasi tentangnya ditutup rapat oleh pihak keluarga.”
"Sialan!" umpat Billby kesal. Berita hoaks macam apa ini? Sia-sia saja ia meluangkan waktu kalau ujung-ujungnya hanya mendapatkan hasil zonk seperti ini.
Billby melempar ponselnya ke sembarang arah, lalu menarik selimut tebal untuk membalut tubuhnya yang sedang dilanda kegelisahan.
***
"Billby... ayo makan," panggil Jack dari balik pintu.
Billby memilih mengabaikan panggilan tersebut. Ia sedang kesal dengan semua orang saat ini.
Cklek.
Jack membuka pintu kamar Billby lalu melangkah masuk. Ia mendapati keponakannya sedang meringkuk di atas kasur dengan seluruh tubuh tertelan di balik selimut.
"Billby," panggil Jack lagi seraya menyingkap selimut tebal yang menyembunyikan gadis itu.
"Nghhh..." Billby melenguh terganggu.
"Ayo makan," ulang Jack.
Billby menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Gak mau."
"Kenapa?" tanya Jack meminta alasan.
"Gak mau aja."
Tanpa sepatah kata pun, tiba-kira saja tubuh mungil Billby sudah berada di dalam gendongan Jack. Laki-laki itu membawanya turun begitu saja menuju ruang makan. Billby tidak memberontak karena badannya memang sedang lemas dan kehabisan tenaga untuk berdebat.
"Duduk yang bener," perintah Jack setelah menurunkan Billby di salah satu kursi meja makan.
Gadis itu langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja, malas berinteraksi.
"Billby kenapa?" tanya Bolivia, neneknya. "Masih ngantuk?"
"Makan dulu. Nanti lanjut tidur lagi gak apa-apa," ujar Austen, kakek Billby, dengan suara beratnya yang khas.
"Jam berapa?" tanya Billby sambil mengangkat kepalanya sedikit.
"Jam tujuh," balas Jack setelah melirik jam dinding super besar yang terpajang di ruangan tersebut.
"Kamu habis nangis?" interogasi Bolivia dengan tatapan khawatir setelah menyadari mata Billby yang tampak sembab.
"Billby kenapa?" sahut Jack yang ikut panik.
"Aku tadi mau beli es krim dua, tapi sama Om cuma boleh satu," ujar Billby, memberikan alasan yang sama sekali tidak masuk akal.
Mendengar penuturan polos itu, semua orang di meja makan langsung tertawa. Jack menjitak pelan kepala Billby dengan gemas. "Kalau mau bohong tuh yang agak berotak dikit kenapa? Otaknya dipake."
"Aku gak bohong!"
"Waktu beli tadi kamu gak nangis, Billby. Masa nangisnya baru sekarang? Aneh," goda Jack lagi.
Billby menatap satu per satu wajah orang di sana. "Emang Billby bilang kalau Billby nangis karena gak dibolehin beli es krim dua? Enggak, kan? Billby cuman cerita kalau tadi sempat beli es krim, maunya dua tapi cuma boleh satu."
Benar juga, pikir mereka.
"Kalau gitu kamu nangis karena apa?" tanya Austen menengahi.
"Rahasia. Aku gak mau kasih tahu. Cerita aku yang tadi itu cuma buat alasan biar gak usah ngasih tahu penyebab aslinya. Eh, kalian malah sadar kalau itu cuma pengalihan," balas Billby dengan wajah tanpa dosa.
"Sok rahasia-rahasiaan nih bocil," komentar Jack ketus.
"Kalau aku kasih tahu juga Om gak bakal bisa bantu."
"Apaan emang?" tanya Jack yang tiba-tiba dirundung rasa penasaran.
"Mana makanan buat Billby, Nek?" Billby sengaja mengabaikan Jack dan beralih menatap Bolivia yang sedang menyiapkan piring untuknya.
"Om lagi ngomong sama kamu, Billby," tukas Jack jengkel.
"Gak penting," Billby melambaikan tangannya acuh tak acuh.
"Ya sudah, kalau Billby gak mau cerita gak usah dipaksa. Kasihan. Kita makan aja," lerai Austen dengan bijak.
Bolivia cemberut seraya menyerahkan piring. "Tapi kalau nanti kamu mau cerita, cerita aja sama Nenek, ya. Nenek bakal bantu."
Billby menggelengkan kepalanya pelan. "Gak bakal ada yang bisa bantu aku."
"Kenapa? Kita semua pasti bakal bantu apa pun yang Billby mau kok," Bolivia berusaha meyakinkan, meski tampaknya tidak berguna bagi Billby.
"Oke," hanya kalimat itu yang akhirnya keluar dari bibir Billby agar obrolan tidak bertambah panjang.
Setelah itu, mereka berempat menikmati makan malam bersama dengan tenang.
"Om... malam ini aku gak belajar dulu, ya," celetuk Billby setelah makanannya habis. Ia sedang benar-benar tidak berada dalam *mood* yang baik. Otaknya pasti tidak akan berfungsi dengan optimal saat ini. Yah, walaupun ia sendiri tidak tahu bisa tertidur atau tidak malam nanti, yang jelas ia sedang malas menguliti rumus fisika, matematika, dan kawan-kawannya.
"Ya udah... gak apa-apa," sahut sebuah suara. Bukan Jack yang menjawab, melainkan Austen yang langsung memberikan izin.
Setelah mendapat lampu hijau, Billby segera kembali ke kamarnya. Jujur, ia cukup terkejut saat Jack mengatakan bahwa ini sudah jam tujuh malam. Padahal, seingatnya saat ia mulai galau gara-gara foto di kamar mamanya tadi, hari masih siang.
Billby yakin ia tidak tertidur. Ia hanya melamun, namun tak disangka waktu berlalu secepat itu. Harapannya saat ini hanyalah bisa tertidur dengan pulas agar suasana hatinya bisa kembali membaik esok hari.
Good night, Billby. Sweet dreams.
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.
good story