NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Rintik hujan membasahi kaca jendela limusin hitam yang melaju kencang di jalan tol antarkota.

Wush.

Suara angin bergesekan dengan badan mobil terdengar cukup keras di telinga.

"Kita akan memasuki perbatasan distrik pusat dalam lima belas menit lagi, Tuan Sony."

Leo bersuara dari balik kemudi sambil terus menatap jalanan yang basah.

"Apakah tempat tinggal baru kita sudah benar-benar aman dari pengawasan, Leo?"

Nadhira bertanya dengan nada yang sedikit waspada dari kursi belakang.

"Saya sudah membeli seluruh lantai atas di sebuah apartemen mewah bernama Menara Zenith."

"Tidak ada satu pun kamera pengawas luar yang terhubung ke jaringan umum di sana."

Leo memberikan penjelasan yang sangat rinci dan menenangkan.

Nadhira menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi empuk.

"Baguslah, aku tidak mau tiba-tiba ada pembunuh yang mengetuk pintu kamarku saat sedang tidur."

"Distrik pusat ini adalah kandang singa yang sebenarnya."

Sony hanya tersenyum kecil mendengar gerutuan jurnalis wanita di sebelahnya itu.

"Kau terlalu banyak khawatir, Nadhira."

"Singa-singa itu yang seharusnya takut karena pemburu mereka sudah datang."

Sony mengambil sebotol air mineral dari kotak pendingin kecil di dalam mobil.

Krek.

Dia membuka tutup botol itu dan meminumnya perlahan.

"Kau ini benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali ya, Sony."

"Mereka pasti sudah mengerahkan semua pasukan elitnya untuk menyambut kita hari ini."

Nadhira melipat kedua tangannya di dada sambil cemberut.

"Biarkan saja mereka datang menemuiku."

"Itu justru akan menghemat waktuku untuk mencari markas mereka satu per satu."

Sony meletakkan kembali botol minumannya ke tempat semula.

Ting.

Tiba-tiba sebuah layar biru transparan muncul tepat di depan wajah Sony.

[Sistem Pemberitahuan: Deteksi Bahaya Tingkat Tinggi]

[Ada tiga titik laser penembak jitu yang mengarah ke kendaraan Tuan]

[Jarak ancaman: Delapan ratus meter dari arah depan dan samping kanan]

Mata Sony langsung menyipit tajam membaca peringatan darurat dari sistemnya itu.

Dia tidak menyangka sambutan dari markas pusat akan datang secepat ini.

"Leo, banting setir ke jalur kiri sekarang juga."

Sony berteriak memberikan perintah dengan suara yang sangat keras dan tegas.

Leo yang sangat terlatih langsung memutar kemudi ke arah kiri tanpa bertanya sedikit pun.

Ciiit.

Ban limousin itu berdecit nyaring bergesekan dengan aspal jalan tol yang basah.

Mobil panjang itu berguncang hebat dan berpindah jalur secara tiba-tiba.

Dor dor dor.

Tiga suara tembakan senapan laras panjang terdengar menggelegar dari kejauhan.

Trak trak trak.

Tiga peluru kaliber besar menghantam jalanan aspal tepat di tempat mobil mereka berada sedetik yang lalu.

Percikan api menyala terang saat peluru baja itu menghancurkan beton jalanan.

"Astaga, apa yang baru saja terjadi?"

Nadhira menjerit panik sambil memegangi sabuk pengamannya erat-erat.

"Ada penembak jitu yang mengincar kepala kita dari atas jembatan layang di depan sana."

Sony menunjuk ke arah sebuah jembatan beton yang membentang di atas jalan tol.

"Kaca mobil ini anti peluru kan, Leo?"

Nadhira bertanya dengan wajah pucat pasi menahan ketakutan.

"Kaca ini bisa menahan tembakan pistol biasa, Nona Nadhira."

"Tapi peluru senapan runduk yang mereka pakai barusan bisa menembus baja dalam dua kali tembakan."

Leo menjawab dengan nada yang masih sangat tenang meskipun situasi sedang genting.

"Sialan, mereka benar-benar ingin kita mati di jalanan ini rupanya."

Nadhira menundukkan kepalanya dalam-dalam mencoba berlindung di balik jok depan.

Brummm.

Tiga buah mobil SUV berwarna hitam pekat tiba-tiba muncul dari arah belakang.

Mobil-mobil besar itu melaju dengan kecepatan penuh mencoba mengepung limousin milik Leo.

"Tuan Sony, kita sudah dikepung dari segala arah."

"Ada tiga mobil yang mencoba memblokir jalan kita ke depan."

Leo melirik ke arah kaca spion tengah dengan tatapan yang sangat tajam.

"Jangan kurangi kecepatanmu, Leo."

"Tabrak saja mobil yang ada di depan sebelah kiri itu."

Sony memberikan instruksi gila tanpa ragu sedikit pun.

"Baik, Tuan."

Leo langsung menginjak pedal gas dalam-dalam hingga mesin limusin itu mengaum keras.

Brummm.

Limousin hitam itu melesat maju bagaikan banteng marah ke arah salah satu SUV musuh.

Brak.

Suara benturan logam terdengar sangat memekakkan telinga.

Mobil SUV musuh itu langsung oleng dan menabrak pembatas jalan hingga ringsek parah.

"Satu mobil berhasil disingkirkan, Tuan."

Leo kembali menstabilkan kemudi limousin yang sedikit penyok di bagian depan.

"Kerja bagus, sekarang pelankan mobilnya dan berhenti di bawah jembatan layang itu."

"Kenapa kita malah berhenti di sana, Sony?"

Nadhira langsung mengangkat kepalanya dan memprotes keras.

"Itu sama saja dengan menyerahkan diri kita pada penembak jitu tadi."

"Di bawah jembatan itu adalah titik buta bagi para penembak jitu yang ada di atasnya, Nadhira."

Sony menjelaskan strateginya dengan sangat tenang dan terukur.

"Dan aku harus turun untuk mengurus para cecunguk yang ada di dua mobil lainnya."

Ciiit.

Leo menginjak rem perlahan dan memberhentikan limusin itu tepat di bawah bayangan jembatan layang.

Dua mobil SUV musuh yang tersisa ikut berhenti tidak jauh dari posisi mereka.

Pintu mobil-mobil itu terbuka dan sepuluh orang pria bersenjata api melompat keluar.

Mereka semua memakai rompi anti peluru dan topeng kain berwarna hitam.

"Kalian tetaplah di dalam mobil apa pun yang terjadi."

Sony membuka pintu Limousin dan melangkah keluar menuju rintik hujan yang semakin deras.

"Hati-hati, Sony."

Nadhira berteriak cemas dari dalam mobil sambil menatap punggung pemuda itu.

Brak.

Sony menutup pintu mobil dengan rapat dan berdiri tegap menatap sepuluh musuh di depannya.

Salah satu pria bertopeng yang membawa senapan serbu melangkah maju.

"Kau berani sekali keluar dari cangkangmu, bocah."

"Komandan Bima mengirimkan salam kematian untukmu hari ini."

Pria itu berbicara sambil menodongkan moncong senjatanya lurus ke arah dada Sony.

"Komandan Bima?"

"Jadi itu nama anjing suruhan markas pusat yang datang menyambutku hari ini."

Sony menyeringai meremehkan tanpa merasa terancam sedikit pun.

"Tembak dia sekarang, jangan banyak bicara lagi."

Pria itu memberikan perintah pada kesembilan temannya.

Klak klak klak.

Sepuluh senjata api dikokang secara bersamaan bersiap untuk memuntahkan peluru panas.

[Sistem Pemberitahuan: Mata Dewa Diaktifkan]

[Memindai pergerakan sepuluh target dan arah lintasan tembakan]

[Gunakan celah waktu jeda saat mereka menarik pelatuk untuk menghindar]

Mata Sony langsung memancarkan kilatan cahaya biru yang sangat terang di tengah hujan.

Dunia di sekitarnya kembali berjalan dengan sangat lambat.

Dor dor dor dor.

Puluhan peluru melesat keluar dari laras senjata menembus tirai hujan menuju ke arahnya.

Wush.

Sony melentingkan tubuhnya ke samping kanan dengan gerakan yang sangat tidak masuk akal.

Dia melewati celah sempit di antara rentetan peluru itu seolah sedang menari di tengah badai.

Brak brak brak.

Peluru-peluru itu hanya mengenai tiang beton jembatan yang ada di belakangnya.

"Apa yang terjadi?"

"Ke mana perginya bocah itu?"

Para penyerang itu kebingungan mencari sosok Sony yang tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.

"Aku ada di belakang kalian, para amatiran."

Suara dingin Sony terdengar dari arah belakang barisan mereka.

Pria bertopeng yang bertindak sebagai pemimpin kelompok itu langsung membalikkan badannya.

Bugh.

Satu tendangan keras mendarat tepat di wajahnya sebelum dia sempat melihat apa pun.

Tubuhnya terpental jauh menghantam kap mobil SUV miliknya sendiri.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!